Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
126


__ADS_3

Apa kabar kak, jangan baca doang dong. Like juga, jangan like doang dong, komen juga. Aku dibayar pakai begitu udah seneeeng banget. Jadi bisa tahu kalean masih ada buat aku seperti aku yang selalu ada buat kalean.


Thor kenapa iklannya ditaro di atas?


Biar dibaca ama kakak-kakak cantek, siapa tahu dikomen trus disemangatin terus difollow deh ig nya, anisa_harir jangan lupa. 😁


Ok, selamat membaca.


~♥♥♥♥♥~


Akash dengan langkah buru-buru memasuki kafe. Benar saja, si cantik menggemaskan Alisha sedang merajuk pada Ummanya.


"Assallamualaikum." Sapa Akash dan langsung memeluk tubuh Umminya yang sedang duduk.


"Kangen banget sama Ummi." Ucapnya dalam pelukkan Ummi.


"Ummi juga kangen, makanya kemari." Ummi mengelus kepala Akash penuh sayanga.


Akash merasa kaosnya ditarik oleh seseorang, membuatnya melerai pelukannya. Melirik ke arah belakang dan menemukan pelakunya adalah Alisha.


Gadis itu wajahnya sudah belepotan dengan es krim coklat. Dia tersenyum seraya menampakkan giginya yang rapi. Bagaimana bisa gigi itu masih terawat sedangkan si pemiliknya gemar makan es krim?


"Onti manah?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Salam dulu, cium dulu Oomnya. Baru tanya onti," protes Akash seraya membawa tubuh gadis kecil itu ke dalam gendongannya.


Akash kembali melirik Ummi dan mencium punggung tangannya, kemudian beralih pada Zahra yang sedang memberikan ASI pada bayi kecilnya.


"Bumi ke mana?" kali ini Zahra yang bertanya.


"Lagi senam hamil, Kak." Sahut Akash seraya mencium pipi bulat gadis yang berada dalam gendongannya. "Ini baru datang apa gimana?"


"Iya, baru datang banget." Sahut Zahra seraya melepaskan bayinya dari tubuhnya. Bayi mungil itu menggeliat, Zahra cepat-cepat mengelap bibir bayinya yang baru menyusu.


"Disupirin siapa, Kak?" Akash menurunkan Alisha karena gadis itu meronta minta dilepaskan dari gendongan Akash.


"Abang, tuh orangnya habis dari kamar mandi." Zahra menunjuk dengan dagu pada Ilham yang baru saja kembali dari kamar mandi.


"Kash, apa kabar?" Ilham ramah menyapa. Kini dirinya bisa bersikap lebih hangat dan bersahabat.


"Baik, Bang. Abang gimana?" Akash balik bertanya, ditepuknya bahu kakak iparnya itu.


"Alhamdullillah, tempatnya bagus, Kash." Ilham mengomentari keadaan kafe, menyapukan pandangan ke sekeliling.


"Itu ide siapa pasang banner seperti di depan?" tanya Zahra, dia semenjak tadi penasaran dengan banner mencolok itu.

__ADS_1


"Bumi, siapa lagi?" seloroh Akash membuat semuanya tertawa.


"Ada-ada saja anak itu," gumam Ummi. "Jam berapa selesai senamnya?" Ummi sepertinya sudah tak sabar ingin bertemu menantunya.


"Dua jam biasanya, Mi." Jawab Akash, perhatiannya beralih pada bayi dalam gendongan Zahra.


"Ya sudah, ayok ke bawah. Ada Mama di bawah." Ajak Akash kembali menggendong Alisha lalu menggandeng tangan Ummi.


***


Selesai senam, instruktur yang merupakan bidan itu memberikan tips bagaimana caranya agar proses bersalin lancar. Semua yang dijelaskannya sama persis dengan apa yang sudah Bumi dengar dari dokter kandungannya.


Bumi mengambil ponsel dalam tasnya saat sedang menunggui Akash di ruang tunggu sanggar itu. Ia membuka layar ponsel, nampak wajah tampan suaminya memenuhi layar.


"Uuh pelit," gumamnya seraya mulai membuka pesan suara yang dikirim oleh Akash. Dia mendengarkannya dengan seksama. Hatinya mencelos. Tiba-tiba dialiri perasaan hangat.


"Kok tiba-tiba jadi kangen, sih?" gumamnya, seraya mengulang voice note tersebut.


"Mbak, boleh ikut duduk?" tanya seorang wanita hamil yang juga anggota sanggar tersebut.


"Silahkan, Kak." Bumi menggeser sedikit tubuhnya agar wanita tersebut dapat duduk dengan leluasa.


"Lagi nunggu dijemput?" tebak wanita itu, kira-kira usianya 30 tahun.


"Enggak, saya hanya sedang mengulur waktu." Jawab Wanita itu terlihat sendu. "Suami saya selingkuh semenjak saya hamil," ungkap wanita itu.


Dalam sorotnya terlihat jelas luka yang dialaminya. Ia seperti seseorang yang kesepian dan nyaris putus asa.


"Alasannya sepele, karena menurutnya saya tak lagi menarik." Ungkapnya dengan tawa kecil seolah mengejek dirinya sendiri.


"Dia terang-terangan selingkuh, padahal ini anak kedua kami yang sangat kami nantikan kehadirannya." Wajah sendu itu berubah sedikit riang, tangannnya mengusap perut buncitnya.


"Sabar ya, Kak. Semoga suaminya cepat berubah." Hibur Bumi, dia semakin merindukan Akash. Hatinya diliputi rasa bersalah karena sudah kasar.


"Maaf, saya jadi curhat. Kalau boleh tahu, mbak siapa namanya?" Wanita itu mengalihkan pembicaraan.


"Saya, Bumi." Bumi tersenyum ramah mengulurkan tangan membuat wanita itu segera menerima uluran tangan Bumi seraya menyebutkan namanya, "Evelin, saya seorang mualaf, Mbak."


Pintu sanggar terbuka, nampaklah sosok yang sudah Bumi nantikan kehadirannya. Dialah Akash, senyum hangat di bibirnya tercipta manakala pandangannya menangkap sosok wanita kecintaannya itu.


Akash berjongkok di hadapan Bumi, tanpa rasa malu pada wanita yang duduk di sebelah Bumi ia mengecup perut buncit istrinya.


"Dedek lama ya nunggunya?" Akash sengaja bicara pada calon buah hatinya karena khawatir Bumi masih dalam keadaan marah.


Namun di luar perkiraannya, Bumi dengan lembut mengusap lembut kepala suaminya dan berkata, "nggak kok, Ayah. Kita baru selesai."

__ADS_1


Akash mengalihkan pandangan pada wajah istrinya, senyum hangat terukir dari bibirnya. Sudah dipastikan ia tak lagi marah.


"Ya sudah, pulang sekarang yuk. Jidda udah nunggu," ajaknya seraya berdiri.


Wanita tadi menatap takjub pada pasangan muda tersebut.


"Eeh iya, Kak kenalin ini suami saya." Bumi baru sadar bahwa sedari tadi ada Evelin duduk di sampingnya.


Akash tersenyum seraya mengatupkan kedua tangan di bawah dagunya, "Akash," ucapnya singkat.


"Evelin," sahutnya ramah. "Senang bisa bertemu kalian," ungkapnya seraya mengusap lengan Bumi.


"Kami duluan, ya, Kak." Pamit Bumi.


Setelah mengucap salam keduanya segera bergegas pergi. Bumi menolak masuk ke dalam mobil saat Akash membukakakn pintu untuknya. "Ngobrol bentar di kursi belakang, boleh?" pintanya.


Akash mengangguk dengan sejuta tanya dalam hati. Apalagi yang akan dikatakan istrinya itu? apa dia akan kembali merajuk soal kucing?


Akash mengangguk, beralih membuka pintu mobil bagian belakang. Perlahan Bumi masuk dan duduk dengan posisi ternyaman. Begitupun dengan Akash.


Tanpa patahan kata sebelumnya, Bumi langsung memeluk tubuh suaminya itu. Mendapati perlakuan seperti itu, Akash kaget dibuatnya.


"Maaf tadi udah marah-marah, maaf ya?" ungkap Bumi, kepalanya mendongak menatap ke dalam manik hitam suaminya. Akash tersenyum seraya mengusap pipinya.


"Iya, nggak apa-apa. Maaf juga, kali ini nggak bisa turuti mau kamu."


"Nggak apa-apa, aku yang salah dan egois." Aku Bumi seraya melerai pelukannya.


Tanpa aba-aba Bumi menyentuhkan wajahnya ke wajah suaminya. Dengan lembut ia memulai kegiatannya, Akash tentu menyambutnya senang. Cukup lama kegiatan keduanya berlangsung hingga Bumi merasakan kedua janin dalan perutnya menendang begitu keras dan Akash yang sedang memegangi perut itupun dapat merasakannya.


Awalnya keduanya tak terganggu, tapi nyatanya kedua calon buah hatinya semakin tak mau diam hingga akhirnya Bumi melepaskan diri, dia takut janinnya merasa tak nyaman dengan posisi duduknya.


"Dedek kenapa?" Akash segera mencondongkan kepalanya ke hadapan perut Bumi. Tak lagi ada pergerakan, kembali tenang membuat Akash dan Bumi tertawa.


"Mereka mungkin cemburu?" tebak Bumi dan diangguki oleh Akash. Keduanya kembali tertawa, malu sendiri dengan kegiatan yang baru saja dilakukan.


"Pulang sekarang, ya?" ajak Akash, Bumi tak menjawab.


"Mau apa? mau beli sesuatu?" tanyanya hati-hati, khawatir Bumi akan tersinggung.


"Mau peluk lagi," ungkap Bumi malu-malu membuat Akash tertawa seraya memeluknya erat. Ia ciumi pucuk kepala istrinya berkali-kali. Lagi-lagi calon buah hati Mereka membuat keduanya melepaskan pelukannya.


"Ini kayaknya benar-benar cemburu nih?" seloroh Akash seraya kembali mengusap perut buncit itu. Bumi hanya tertawa, dalam hati bersyukur memiliki suami yang begitu sayang dan perhatian padanya


"Ya sudah, pulang sekarang, ok?" Akash meminta persetujuan Bumi. Bumi mengangguk, keduanya segera pindah ke kursi depan. Dengan perasaan lega karena istrinya tak lagi marah, Akash segera melajukan mobil dan meninggalkan halaman sanggar senam itu.

__ADS_1


__ADS_2