Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
70


__ADS_3

Pernikahan diadakan sesederhana mungkin. Tidak ada dekorasi apalagi pelaminan. Hanya sisediakan kursi-kursi plastik yang dibungkus kain satin berwarna putih serta meja bundar besar di halaman rumah yang cukup luas.


Akad dilangsungkan di masjid dengan sangat khidmat. Menggunakan bahasa indonesia prosesi ijab kabul itu terucap dari bibir Yudis. Dengan mas kawin seperangkat alat sholat, kini Siti Rikhamah alias Lili telah resmi menjadi istrinya setelah kata SAH menggema di seluruh ruangan masjid yang sedang dalam masa perbaikan itu.


Binar-binar kebahagiaan terpancar dari seluruh wajah kedua belah pihal keluarga. Setelah kata sah resmi terucap itu, sang mempelai wanita dipersilahkan bertemu dengan sang mempelai lelaki. Setelah mendengar arahan dari penghulu, keduanya menandatangani surat nikah. Tidak ada prosesi memakaikan cincin.


Sungguh Lili adalah cerminan wanita sholehah. Tak memberatkan apa-apa pada Yudis. Walimatul ursy yang sederhana inipun adalah permintaannya. Bagi Lili kemaslahatan dan kehiduoan selanjutnya lah yang lebih penting.


Tentang pernikahan, sah saja sudah cukup. Begitu kira-kira perkataannya saat ditanyai tentang mahar dan konsep pernikahan yang diinginkan olehnya.


Setelah selesai dengan urusan administrasi surat pernikahan, seluruh keluarga dipersilahkan memberi ucapan selamat pada kedua mempelai.


Tampak para orangtua dulu yang memberi selamat sekaligus membisikan nasihat-nasihat bagi kedua mempelai. Di mana sang mempelai akan mengangguki seraya memohon do'a untuk keberkahan pernikahan mereka.


Bumi tak luput memberi selamat juga. Dengan bangga Yudis memperkenalkan Bumi pada Lili. Keduanya berpelukan, saling menyatakan senang bisa berkenalan.


"Jadi ini yang bernama Bumi?" tanya Lili, mengusap pipi Bumi. Bumi mengangguk.


"Cantik sekali, sudah bertemu dengan Hafidz?" tanya Lili.


Bagai api yang disiram air, senyum Bumi padam seketika. Menyisakan lipatan bibir ke arah dalam. Buru-buru Yudis membawa istrinya itu dari hadapan Bumi, berdalih agar menemui keluarga lain.


"Jangan dilipat gitu mukanya," ucap Akash yang sedari tadi berdiri tak jauh dari Bumi.


Sementara Laut dan Ayesha sedang memisahkan diri karena bau hidangan masakan membuat perut Ayesha kembali mual.


"Aku tahu sekarang gimana rasanya dijodohin, nggak enak banget." Ujar Bumi, tanpa semangat sedikitpun.


"Ujian cinta kita berat sekali, ya?!" keluh Akash.


"Semoga di akhir nanti kita bisa bahagia bersama," harap Akash.


"Mungkin Allah sedang menyiapkan sesuatu yang indah untuk kita," kalimat itu masih berlanjut dari bibir Akash.


"Semoga Kak Akash selalu bahagia," ucap Bumi. Dengan ataupun tanpa aku, lanjutnya dalam hati.


"Kamu juga harus bahagia," Akash mendo'akan hal yang sama.


"Do'akan saja Aku istiqomah, agar suatu saat bisa pantas bersanding denganmu."


"Aku juga bukan laki-laki sholeh." Ujar Akash.

__ADS_1


"Tapi kamu rajin mengaji, sholat sunat, ke masjid." Ralat Bumi.


"Laki-laki sholeh tidak ada yang berani memandangi wanita cantik lebih dari satu detik." Ucap Akash, menyesali perbuatannya.


Berkali-kali Ummi mengingatkannya untuk jangan terlalu sering menemui Bumi, tapi selalu dilanggarnya. Ummi sampai mengucapkan arti dari Qur'an surah An-nur:30 yang isinya katakanlah kepada laki-laki yang beriman, 'hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara ***********. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.


Tetap saja hal itu tidak mengurungkan niat Akash menjauhi Bumi. Dia diam-diam selalu menatap lekat pada wajah cantik Bumi saat berdekatan. Tak jarang menyentuhnya walau akhir-akhir ini Bumi sendiri juga terlihat menghindari kontak fisik dengan Akash.


Bumi mengulum senyum seraya menunduk. Entah mengapa hatinya selalu mencelos saat Akash berkata manis seperti itu. Dia pun kembali berkata tanpa menaikan wajahnya.


"Aku juga pernah baca sebuah hadist tentang pandangan juga merupakan zina,"


"Hadist Riwayat Imam Ahmad?" tebak Akash.


"Iya, bunyinya *mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata adalah dengan melihat (yang diharamkan), zina hati adalah dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara ******** membenarkan atau mendustakan semua itu."


"Wallahu A'lam Bishawab*" ucap keduanya yang memiliki makna dan Allah Yang Maha Mengetahui atau arti lainnya menyebutkan dan Allah lebih tahu.


"Semoga Aku bisa segera menghalalkanmu," ujar Akash tanpa Amiin dari Bumi.


"Amiinkan dong," protes Akash.


Bumi hanya mengulum senyum, aamiinya dalam hati sudah sangat panjang. Hanya Akash tidak tahu saja.


Akash mengangguk. Lili pasti wanita berhati lembut yang sudah sangat paham ilmu agama.


"Adakan sebuah kalimat yang berbunyi sebaik-baiknya perempuan adalah yang paling memudahkan maharnya?" tanya Bumi, takut-takut kalimatnya salah.


"Iya, dalam Hadist Riwayat Imam Ahmad dari Aisyah ra bahwa sesungguhnya Rasullullah saw bersabda: paling besarnya berkah dalam pernikahan adalah yang paling memudahkan dalam mahar."


"Wallahu A'lam Bishawab" ucap keduanya kemudian tertawa bersama.


Dan lihatlah, Bumi menutup mulutnya dengan telapak tangan saat tertawa. Jika biasanya dia akan memukul bahkan mencubit orang di sebelahnya saat tertawa, kali ini tidak.


Akash yang menyadari banyak perbedaan dalam diri Bumi diam-diam mendo'akan dalam hati semoga istiqomah, Bumi.


Diam-diam dari kejauhan interaksi keduanya dipandangi oleh Hafidz. Senyuman kecil terukir di bibirnya. Entah siratan apa yang dipancarkan matanya.


Yang Dia tahu dari Lili, bahwa orangtuanya sedang gencar mencarikan jodoh dan Bumi menjadi salah satu kandidatnya. Hafidz sendiri hanya bisa menurut. Soal perasaan dia sendiri belum yakin. Yang dia tahu hanya satu, wanita yang akan dijodohkannya adalah Bumi.


Bumi yang sedang tersenyum dan tertawa bersama lelaki lain. Tak dalamkah korekan kedua orangtuanya tentang Bumi sehingga mau menjodohkannya dengan dirinya. Jelas-jelas mata Bumi penuh cinta saat berinteraksi dengan Akash.

__ADS_1


****


Dirasa selesai menghadiri walimatul ursy Yudis, Bumi dan yang lain pamit pulang terlebih dahulu. Bagaimanapun mereka harus banyak mengistirahatkan tubuh agar sore nanti memiliki tenaga cukup untuk perjalanan pulang.


Menjelang siang mual Ayesha berangsur menghilang. Mulai bisa makan walau harus dengan sayur berkuah dan harus hangat. Wanita hamil memang ada-asa saja keinginanya.


Bumi kembali merapikan pakaian ke dalam tasnya. Tak lupa ayam serundeng disiapkan Ayas. Ayas juga memberi ayam serundeng itu dalam bungkusan lain pada Akash. Namun, Akash menyarankan agar Bumi sendiri saja yang memberikan pada Ummi.


Awalnya Bumi menolak, hatinya selalu menciut jika memasuki rumah besar Ummi.


"Aku belum bisa menemui Ummi," alasan Akash.


"Besok mau ke Bogor, lagi ngurus perizinan membuka kafe di sana." Lanjutnya memperkuat alasan.


"Bisa pakai jasa kan biasanya mengurus surat izin?" tanya Bumi, takut jika itu hanya alasan Akash.


"Aku juga pakai jasa, tapi pengen lihat juga perkembangannya."


"Susah ya?"


"Susah susah gampang, beruntung tanahnya memang atas nama aku bukan sewa."


"Koq bisa beli tanah di Bogor?"


"Awalnya iseng aja, ditawari teman. Ternyata prospeknya bagus buat bikin kafe gitu."


"Nanti yang datang kebanyakan dari Jakarta juga." Tebak Bumi.


"Do'akan lancar ya," pinta Akash.


"Aamiin"


"Aku mau kita nanti tinggal di sana," ucap Akash lagi membuat Bumi membulatkan mata. Namun kemudian tersadar, jangan sampai berharap lebih. Cukup aamiinkan dalam hati.


Maaf jika ada kalimat yang salah mengenai hadist dan terjemahan surat. Otor bukan orang shaleh, hanya pendosa ulung yang aibnya ditutup rapat oleh Allah. Ingatkan Aku jika salah agar aku tak tersesat. Makasih semuanya


.


.


baca juga karyaku yang ini ya. sudah tamat, dalam proses revisi kepenulisan. makasih. kalau mau vote dan kasih hadiah di Bumi saja ya. Ayo dong semangatin otor biji stoberi ini. 😁

__ADS_1



__ADS_2