
Mengingat sifat manjanya saat hamil, Ayas dibuat takjub oleh Bumi yang justru sangat cekatan mengurusi kedua buah hatinya. Dia tak lagi mengandalkan suaminya dalam urusan rumah.
"Kamu cari duit yang banyak," begitu kata Bumi saat Akash bertanya kenapa tak minta tolong jika ingin mencuci pakaian. "Anaknya cepet benget gedenya, tiap bulan harus dibelikan pakaian."
"Bundanya juga boleh kalau mau beli." Sahut Akash membuat Bumi tersenyum.
"Ayahnya cari duit yang banyak, Bunda nanti mau beli sama tokonya." Seloroh Bumi seraya memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci.
"Ayah baru tahu kalau Bunda maruk." Canda Akash seraya berlalu sambil mencium pipinya sekilas.
"Dasar ... " dengus Bumi tapi tersenyum juga mengusap pipi yang dicium suaminya.
***
Kini kedua bayi kembar itu sudah berusia 7 bulan. Sudah semakin banyak tingkahnya. Apalagi sang adik, Aro. Sikapnya yang selalu mengintimidasi sang Abang selalu menjadi hal lucu mengundang tawa.
Aro tak mau jika apa-apa didahului oleh Akhza. Alhasil, hal itu membuat Bumi dan Akash selalu mendahulukan Aro dalam hal apapun.
"Nanti udah gede rebutan cewek, nggak ya?" seloroh Akash saat sedang menyuapi kedua bayi itu memakan buah melon kesukaannya.
"Masih kecil, Kak." Protes Bumi seraya mendelik.
"Kan aku bilang kalau udah gede ... Bunda nih salah paham." Cibir Akash seraya menyuapkan potongan kecil buah melon pada Akhza.
"Anak Bunda nggak boleh pacaran." Ralat Bumi.
"Ya, Mas Ar. Udah besar jangan main pacar-pacaran. Abang juga, nggak boleh .... " Ucap Bumi pada kedua jagoannya.
Aro mengacung-acungkan tangan seraya berkata. "Uh ... uh ... uh .... "
"Apa? Mas lihat apa?" tanya Bumi mengikuti arah telunjuk Aro. Aro menunjuk pada botol minumnya yang tersimpan di meja makan.
"Mas mau mimi?" tanya Bumi seraya mengambil botol minum itu. Ia buka tutupnya dan mengeluarkan sedotan dari dalamnya. Bayi itu sudah pandai menyesap.
Sekali sesap memang ditelan. Tapi, dua kali sesap air itu malah ia sembur-semburkan hingga mengenai tangan Bundanya. Bumi tentu tertawa dengan kelakuan putranya itu.
"Eh ... eh ... jangan dong, Sayang!" cegah Bumi saat Aro akan kembali menyemburkan air dalam mulutnya.
"Uh ... uh ... uh ...." Kini giliran Akhza meronta-ronta menunjuk botol minumnya juga.
"Mau mimi juga, Sayang?" tanya Bumi, kemudian mengambilkan botol minum milik Akhza.
Berbeda dengan Aro, Akhza tak menyemburkan air yang disesapnya. Bayi itu malah menyodorkan botolnya pada Ayahnya.
"Abang mau kasih Ayah mimi?" Akash menunjuk wajahnya sendiri. Akhza terus saja menyodorkan botol minumnya.
__ADS_1
"Udah, Kakak minum saja. Itu anaknya nawarin juga." Titah Bumi.
Ragu-ragu Akash menyesap sedotan itu. Wajahnya meringis saat menelan cairan yang sudah tak karuan rasanya itu.
"Tuh lihat, Abang. Bukan disemburin tapi malah nawarin Ayah minum." Ujar Akash pada Aro.
"Kak, nggak boleh gitu. Jangan dibanding-bandingkan!" protes Bumi menggeram kesal seraya memukul lengan suaminya.
"Kamu juga jangan pukul-pukul," protes Akash. "Nanti mereka ngikutin." Imbuhnya seraya kembali menyuapi Akhza melon.
"Enggak, ya. Bunda bukan mukul. Itu tadi ada nyamuk." Elak Bumi, tapi Aro malah mengikuti gerakan tangan Bumi saat memukul tadi. Ia ikut mwmukulkan tangannya pada lengan Bumi.
"Tuh, kan jadi ikut-ikutan dia." Akash menyalahkan Bumi. Bumi ingin sekali membalas Akash namun sura Lina yang memanggil namanya membuat ia urung berucap.
"Ada apa, Teh?" tanya Bumi heran saat melihat Lina menghampirinya dengan nafas terengah-engah.
"Ada Celin dan teman-temannya." Jawab Lina panik.
"Ya terus kenapa? kan biasanya juga mereka datang." Sahut Bumi.
"Temannya mau melahirkan." Papar Lina dengan menggerak-gerakan tangannya.
Bumi dibuat kaget oleh perkataan Lina. Ia langsung teringat mungkin Vanya yang akan melahirkan. Gadis itu kan sedang hamil.
"Mau ke mana Kak?" tanya Bumi saat suaminya itu ikut berlari mengekori Lina.
"Panggil bidan, aku nggak mau ada kejadian buruk di rumahku." Jawab Akash menoleh sebentar kemudian kembali berlari.
"Kak ... kamu kadang bisa sebaik itu." Bumi memuji suaminya.
Tak lama Lina sudah kembali memapah Vanya bersama Celin. Diikuti beberapa temannya yang lain termasuk Nazhia di sana.
"Di kamar anak-anak saja, Teh!" seru Bumi. Sementara itu Bumi segera memanggil Ayas yang sedang di halaman belakang untuk menjaga kedua buah hatinya.
Bumi ingin berada di samping Vanya saat gadis itu melahirkan. Ia tahu bagaimana sakitnya menjalani proses itu.
Sampai di kamar, Bumi segera menggelar kain-kain di atas kasur sebelum Vanya dibaringkan. Vanya terus saja merintih seraya mengaduh.
"Jangan mengaduh! istighfar, Vanya!" seru Bumi seraya membantu Vanya berbaring.
"Vanua non muslim, Kak." Ralat Nazhia membuat Bumi membelalakan matanya.
"Ya sudah, tapi jangan mengaduh!"
"Kamu jangan mengejan, kita belum tahu ini bukaan berapa?" Bumi memperingatkan.
__ADS_1
"Air ketubannya sudah pecah?" tanyanya pada Nazhia dan Celin.
Kedua gadis itu saling berpandangan. Teman-temannya yang lain saling berbisik. Tak tahu apa itu ketuban pecah. Bumi sampai gemas dibuatnya.
"Iya, Vanya udah mengeluarkan cairab belum?" selidik Bumi.
"Kalau sudah keluar pasti merembes, basah. Sudah belum?" desak Bumi.
Celin dan kawan-kawannya mengangguk. Mulai paham apa yang Bumi tanyakan.
"Udah, Kak. Tadi Vanya mengadu katanya ada seauatu yang merembes keluar. Lalu perutnya terus saja sakit. Seperti mau buang air besar tapi bukan." Celin menjelaskan panjang lebar.
Bumi mengangguk mengerti, ia merasa kasihan pada Vanya. Meski begitu, anak itu nampak tegar dan berusaha kuat.
Beruntung Akash segera datang membawa seorang Bidan dan asistennya.
"Sudah dari tadi terasanya?" tanya Bidan bernama Wiwit itu.
"Dari semalam sudah mengeluh sakit perut, Bu." Sahut Celin.
Bidan terlebih dahulu memereiksa tensi Vanya. Beruntung semuanya normal. Bahkan saat pemeriksaan dalam, Vanya sudah tiba di bukaan 10.
"Siap ya, Vanya?" tanya Bidan itu.
Dengan posisi setengah duduk Vanya dibimbing untuk segera melahirkan. Bumi memegangi punggung Vanya bahkan Nazhia ikut memegangi kaki Vanya. Sementara teman yang lainnya sibuk merapalkan do'a. Berharap semoga Vanya dan bayinya sehat dan tidak kurang satu apapun.
Akhirnya bayi itu berhasil dilahirkan. Tubuhnya sangat mungil dengan rambuy yang lebat.
"Allhamdullillah, bayinya perempuan. Sehat dan tidak kurang satu apapun." Ujar Bidan Wiwit seraya menyerahkan bayi itu pada asistennya.
"Allhamdullillah ...."
"Kak, aku boleh minta tolong?" tanya Vanya pada Bumi yang masih berdiri di sampingnya.
"Tolong, apa?" selidik Bumi.
"Tolong Kakak rawat anak aku. tolong jadikan dia anak Kakak." Pinta Vanya penuh harap.
"Aku nggak mau keluargaku tahu, aku masih ingin sekolah. Aku nggak bisa merawatnya." Papar Vanya seraya menggenggam tangan Bumi erat.
Bumi diam tak menjawab. Ia bingung harus bagaimana. Biar bagaimana bayi mungil itu tidak salah. Akan sangat berdosa bila Bumi menolaknya.
"Kak, gimana?"
"Aku harus bicara dulu pada suamiku." Jawab Bumi, memberi sedikit harapan Pada Vanya.
__ADS_1