Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
110


__ADS_3

Inilah aku yang sering kau sebut si batu yang diberi nyawa. Sayangnya aku adalah suamimu.


( ̄3 ̄)( ̄3 ̄)( ̄3 ̄)


"Kak, kan biar nggak ngerepotin kamu terus," elak Bumi.


"Di saat aku tidak direpotkanmu, di saat itulah aku mulai tidak dibutuhkan. Aku inginnya kamu selalu membutuhkanku, seperti aku yang selalu membutuhkanmu."


Alih-alih menjawab Bumi malah memeluk suaminya itu dan berkata, "Kakak belajar dari mana sih gombalin aku terus, nanti kalau aku baper gimana?" dalam pelukkan itu air matanya mengalir.


"Siapa yang gombal sih, hm?" Akash mendorong pelan tubuh istrinya, dia angkat dagu itu agar dapat leluasa menatapnya. "Kamu adalah tanggung jawabku, kamu bukan beban yang merepotkan. Kamu adalah sebaik-baiknya tempat pulang, tempat aku mencurahkan kasih sayang dan aku mau jangan pernah lagi bibir ini bilang kalau kamu merepotkan. Mengerti?" Akash mengusap dagu itu dengan ibu jarinya.


"Aku baper, Kak...." Bumi semakin menangis dibuatnya. Akash tarik lagi tubuh itu kedalam pelukkannya.


"Kamu itu dari kecil emang cengeng, makanya kadang aku suka malas ajak kamu main. Sedikit-sedikit nangis," Akash mengusap kepala bagian belakang istrinya berulang-ulang hingga tangisan itu reda.


"Udah nangisnya?" Akash kembali mendorong pelan tubuh itu.


"Udah, ah. Capek," Bumi merajuk mengusap sendiri air matanya. "Ayok berangkat, aku ada janji sama Sofi sebelum dhuhur." Seraya mengambil tas slempang yang sedari tadi disimpan di tepian tempat tidur kemudian berjalan lebih dulu keluar dari kamar.


"Bumi....Bumi," gumam Akash segera mengekori dan mensejajarkan langkah dengan istrinya yang sudah sampai tangga. Berjalan saling berpegang tangan, persis orang akan menyebrang jalan.


********


Siang menjelang dhuhur Sofi datang ke restoran tepat waktu dengan janji yang sudah mereka buat. Diam-diam ternyata gadis itu akan menikah dengan Lundra, temab satu profesinya. Sebelum menanyakan hal yang menjadi tujuannya mengajak bertemu Sofi, Bumi sengaja berbincang yang lain agar tak terkesan memanfaatkan Sofi.


"Jadi kamu udah nikah sama Bang Akash?" Sofi memandang tak percaya lawan bicara yang duduk berhadapan dengannya.


"Perlu aku panggil orangnya?" Bumi meyakinkan, Sofi lekas menggeleng.


"Dokter Guntur kan gosipnya pindah ke rumah sakit di Cisarua karena ditinggal nikah sama pacarnya, nah nikahnya itu sama Bang Akash. Kenapa sekarang jadi sama kamu?" Sofi bicara panjang lebar sampai akhirnya Bumi mengetahui sendiri hal yang ingin dia tanyakan.


"Jodoh nggak ke mana," sahut Bumi seraya menyesap kopi buatannya sendiri. Rasanya lebih enak jika Nina yang buat.


"Maksudnya kamu jadi pelakor? Istighfar Bumi, malu sama kerudung!" seru Sofi menunjuk hijab Bumi,


Bumi terkekeh mendapati respon Sofi, terlalu jauh imajinasi teman semasa kerjanya itu. Atau jangan-jangan sudah termakan oleh gosip yang sedang beredar akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Apa sih, kamu. Kakak sama Rere udah cerai, udah deh aku cerita juga kamu nggak bakal ngerti," Bumi memutar bola mata jengah.


"Harusnya Dokter Guntur dikasih tahu, nih." Gumam Sofi namun masih dapat Bumi dengar.


"Kasih tahu aja, Sof. Kamu lumayan deket kan sama Dokter Guntur?" Bumi mengompori Sofi, yang merasa dikompori mulai berfikir keras.


"Bingung jelasinnya, harus datang langsung ke sana." Ujar Sofi semakin membuat Bumi penasaran.


"Emang di mana, Sof?" selidik Bumi.


"Di Cisarua, ada rumah sakit khusus paru di sana." Jelas Sofi sepertinya memang tidak sadar dengan apa yang diucapkannya.


Bumi mengangguk senang, dia bisa Membantu Rer dengaj informasi ini. Setelah menghabiskan minumannya Sofi pamit karena sudah mulai masuk kerjanya. Rupanya gafis itu masuk dibshif dua


Sumringah wajah Bumi membawa cangkir bekasnya dan gelas bekas Sofi ke dapur. Ia tak sabar untuk cepat-cepat ceritakan hal ini pada suaminya yang sedang sibuk dan serius berbincang dengan Rino di meja kasir.


Bumi memilih masuk ke dalam ruangan yang sering Akash gunakan untuk beristirahat. Ruangan itu nampak berdebu seperti sudah lama tak ditempati. Meski rapi tetap bau apek.


Bumi membuka jendela dan menyibak gorden membiarkan cahaya matahari yang hari itu lumayan terik masuk ke dalam ruangan. Dia duduk di sofa yang terletak dekat jendela. Memperhatikan rumah yang belum saja Akash isi sampai sekarang.


Tak mungkin terus menerus tinggal di rumah Ummi atau rumah Sang Mama. Mereka sudah menikah. sepatutnya memisahkan diri dari keluarga agar bisa mandiri. Terlebih Akash inginnya selalu berdua, tak enak pada keluarga yang lain jika masih serumah namun lebih banyak berdiam di kamar.


Atau memang pengantin baru seperti itu? Tiba-tiba hatinya digerayangi rasa takut yang tak beralasan. Takut jika besok lusa sikap Akash akan berubah, takut jika nanti Akash akan berpaling jika di mata suaminya dirinya tak menarik lagi.


Bumi segera merogoh cermin dari dalam tas slempang yang sedari tadi tidak ia lepaskan. Dia amati sendiri wajahnya, belum ada tanda-tanda penuaan itu. Wajahnya masih cantik, begitu pikirnya.


Hingga suaminya masuk, dirinya masih saja berkecamuk dalam rasa takut yang tak beralasan itu.


Akash memandanginya yang sedang melamun, dia memicingkan mata mendekati Bumi.


"Hei, kok melamun?" Akash duduk di samping istrinya yang masih mematut wajah pada cermin kecil.


"Kenapa lagi?" tanyanya meraih kedua pipi mungil itu.


Bumi hanya menggeleng. Dalam pikirnya tidak mungkin menceritakan apa yang ada dalam pikirannya. Kemungkinannya hanya dua Akash akan kegeeran atau bahkan akan terus meledeknya.


"Nggak mau cerita?" desak Akash, "boleh aku tebak?" Akash menunggu jawaban atau sekedar anggukan. Bumi akhirnya mengangguk.

__ADS_1


Akash melepaskan kembali pipi yang ditangkupnya, dia berdehem sebelum melanjutkan bicara.


"Kamu bingung kita mau tinggal di mana?"


Mata Bumi membola, kenapa suaminya itu tahu apa yang sedang dipikirkannya.


"Kok Kakak tahu?" Bumi balik bertanya, cerminnya ia masukkan kembali ke dalam tas.


"Aku juga mikirin itu," ujar Akash. Tubuhnya ia putar agar duduk berhadapan dengan Bumi yang sedari tadi duduk menyamping. "Kamu mau tinggal di mana?"


Bumi tertegun, diberi pilihan seperti itu apa Akash akan terima bila Bumi mengatakan ingin tinggal bersama Sang Mama. Tapi dia juga tidak bisa egois, kini hanya Akash satu-satunya orang yang patut ia patuhi.


"Aku di mana saja, yang penting nggak numpang." Kalimat itu Bumi akhiri dengan senyuman manis dan tatapan hangat membuat suaminya terkekeh.


"Aku juga di mana saja, yang penting sama kamu." Seloroh Akash membuat Bumi tersipu yang justru mengakibatkan Akash menenggelamkan wajahnya pada wajah yang sedang bersemu itu. Lama mereka bermain di sana hingga sebuah getaran dalam tas Bumi terpaksa membuay keduanya mengakhiri kegiatan menyenangkan itu.


Adalah Nadia pelakunya, Bumi segera menerima panggilan adik iparnya itu.


"Assallamuallaikum, Dek."


Bumi sengaja menekan loudspeaker pada layar agar Akash bisa ikut mendengar apa yang dibicarakan Nadia.


"Waalaikumsalam, Kak. Aku mau tanya. tasbih aku yang kakak pakai ditaruh di mana?"


"Ooh di kamar Kakak, Dek. Maaf ya. Kakak lupa kembalikan."


"Iya, Kak. Aku ambil ya."


Kemudian Nadia mengakhiri panggilan tanpa mengucap salam. lupa sepertinya.


Akash dan Bumi saling pandang kemudian menertawakan diri masing-masing. Karena sebuah telpon tidak penting membuat keduanya menghentikan kegiatan menyenangkan itu.


"Mau dilanjut?" tawar Akash yang langsung mendapat pukulan di lengannya dari Bumi.


"Ini istri sukanya mukul-mukul terus," protes Akash mengusap lengannya yang tak sakit.


"Ini juga suami yang sukanya nyosor terus," cibir Bumi memalingkan pandangannya. Membuat Akash semakin gemas untuk tak menggodanya.

__ADS_1


__ADS_2