Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
147


__ADS_3

Aku hanya ingin menciptakan kenangan indah bersamamu. Kelak saat kita mengenangnya, hanya akan ada senyum tanpa sesal. Meskipun itu hanya sebuah senyuman di pagi hari.


***


"Teteh kenapa nggak jadi anaknya Mama Ayesha aja sih?" Bocah bernama Atar yang masih memakai seragam sekolah dasar itu terus saja mengekor langkah kakak perempuannya yang sedang memasak mie instan seraya bolak-balik ke arah kulkas, kemudian ke depan kompor, lalu ke meja makan.


"Kenapa tanya aku?" Ara, si gadis malang yang kini sudah beranjak remaja itu balik bertanya. Tumbuh menjadi gadis cantik yang membuat siapa saja selalu jatuh hati padanya, kecuali Aro.


"Ya sudah, aku mau tanya ke Bunda aja." Attar berlari hendak menemui bundanya yang sedang bersantai di ruang televisi.


"Bunda ... Bubun ... dada!" teriaknya seraya langsung berhamburan ke pangkuan Bumi yang sedang asyik menonton acara berita.


"Berisik banget sih, Dek," protes Aro, merasa terganggu karena sedang konsen bermain game pada ponselnya.


"Iya sih, Dek. Kamu udah gede, nggak pantes manja-manja terus sama Bunda." Akhza yang sedang membaca buku tulisnya ikut menimpali protesan Aro.


"Kenapa sih, Dek?" Bumi mengusap rambut putra bungsunya penuh sayang.


Atar membetulkan posisi duduknya dengan pindah ke samping Bumi. Sambil senyum-senyum ia berucap, "dulu kenapa harus Bunda yang angkat Teh Ara jadi anak? kenapa nggak Mama Ayesha aja?"


"Karena Bunda sayang sama Teteh, Adek sayang nggak sama Teteh?" Bund balik bertanya dengan tatapan menyelidik.


"Justru karena aku sayang sama Teteh, aku maunya Teteh jadi anak Mama Ayesha aja," sahut Atar.


"Emang kenapa sih, Dek?" tanya Akash yang baru saja ikut bergabung. Ayah 4 orang anak itu baru selesai membantu Lina mengemas katering.


"Aku kayaknya jatuh cinta sama teteh, aku maunya teteh jadi pacar aku."


Perkataan bocah kelas 6 sekolah dasar itu tentu disambut gelak tawa anggota keluarganya, termasuk Aro yang biasanya enggan menanggapi hal-hal yang berhubungan dengan Ara. Atar berdecak kesal, dia serius dengan perkataannya. Namun, malah merasa diejek oleh keluarganya.


"Ayaaah ?" teriak Ara dari arah dapur. Memangkas kegaduhan tawa yang memenuhi ruang televisi.


"Iya, iya, Ayah datang." Akash beranjak dan menghampiri suara nyaring Ara yang memanggilnya.

__ADS_1


"Ini, Yah. Bawain ke sana, aku nggak bisa bawanya." Ara menunjuk pada mie yang baru saja matang. Ditaruh dalam mangkuk besar, dengan isian sayuran bakso dan sosis.


"Kenapa ngga pakai pancinya aja?" tanya Akash membuat Ara tertawa.


"Nanti Mas Ar nggak mau makan kalau langsung pakai panci. Ayah lupa siapa anak Ayah yang satu itu?" todong Ara.


"Dia artis, Ayah suka lupa kalau punya anak seorang artis." Bisik Akash dihadiahi kekehan oleh Ara.


Aro adalah artis remaja yang penuh pesona. Bunda sempat protes berkali-kali saat putranya itu memutuskan terjun ke dunia hiburan. Berawal dari menjadi model iklan sebuah produk susu peninggi badan saat usianya 9 tahun. Aro mendapat banyak tawaran bermain sinetron dan film.


"Cepat bawa, Yah! keburu dingin nggak enak." Ara mendahului langkah Akash dengan membawa beberapa sendok di tangannya.


Ara duduk di samping Bumi, menghadap langsung ke depan meja persegi. Di hadapannya duduk Aro yang masih bermain game dan Akhza yang baru selesai membaca buku catatannya.


"Bun, Adek mana?" tanya Ara saat tak melihat keberadaan adiknya.


"Ngambek karena diledekin, merajuk deh sekarang. Paling ke kafe," papar Bumi membuat Ara mengangguk.


Ara membagikan sendok yang dipegangnya. Dan hanya Aro yang menerimanya dengan kasar. Tapi, tetap dibalas senyuman oleh Ara. Akhza bahkan sempat iri, sebab hanya pada Aro, Ara akan tersenyum semanis itu.


"Tungguuu!" teriak Atar yang kembali lagi membawa satu buah sosis panggang berukuran besar lengkap dengan saus dan mayones.


"Kalian jangan mulai makan mienya tanpa aku dong," protes Atar.


Bocah itu segera mengambil posisi duduk dekat dengan Ara. Senyum semanis mungkin sambil menaik turunkan alisnya.


"Buat Teh Ara yang paling Atar sayang," ujar Atar seraya memberikan sosis bakar yang memang jadi makanan kesukaan Ara.


"Makasih Atar, Sayang." Ara mengambil sosis itu dengan binaran mata bahagia.


"Teh Ara sayang sama aku?" tanya Atar.


"Sayang dong," jawab Ara membuat Atar tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Sayang juga sama Bunda, sama Ayah, sama Abang, sama Mas Ar," tambah Ara membuat senyum manis di bibir Atar memudar.


"Ini sebenernya makan mienya jadi nggak?" Aro mulai jengah dengan hal-hal yang menurutnya tak penting itu.


"Jadi, bismillahirrahmanirrahim."


Dan terjadilah saling berebut bakso, sosis dan saling senggol siku saat hendak akan menyuap. Ara biasanya yang paling gesit. Meski badannya paling kecil, bahkan dibandingkan dengan Atar, Ara masih kalah besar.


Kegiatan sederhana yang membuat keluarga itu selalu kompak dan harmonis. Meski, Aro masih tak bisa bersikap baik pada Ara entah apa penyebab pastinya. Ara tak mempedulikannya. Ia tetap berlaku manis pada Aro.


Setelah selesai menghabiskan mie, giliran Akhza yang bertugas mencuci mangkuk dan sendok. Sementara Aro kembali sibuk dengan gamenya. Atar memilih ikut dengan ayah dan bunda mengantarkan katering.


"Ngapain masih duduk di sini?" sentak Aro saat melihat Ara masih duduk di tempatnya.


"Lihatin Mas Ar, kapan lagi lihat artis sedekat ini," ujar Ara dengan seringai jahil.


"Gue nggak konsen main kalau dilihatin cewek jelek," ejek Aro membuat Ara terkekeh.


"Berisik dodol, suara ketawa lo bikin kuping gue sakit!" umpat Aro melempar Ara dengan botol kosong bekas air mineral yang dia minum.


Ara sigap menangkap botol itu, dia beranjak lalu mendekati Aro. Sedikit membungkukkan badan lalu berbisik,"jangan marah-marah terus, akunya tambah suka."


Ara kemudian pergi pura-pura tidak mendengar ledekan Aro yang mengatainya Upil. Aro sedari kecil memang sudah menunjukan sikap tak suka pada adiknya itu. Terlebih saat tahu Ara hanyalah anak angkat saat usia mereka 9 tahun. Saat itu, bunda dan ayah menjelaskan pada mereka bahwa Ara memang bukan anak kandungnya.


Kedatangan Vanya yang sering membawakan hadiah untuk Ara penyebabnya. Juga atas desakan dari keluarga besar agar Ara tahu siapa dirinya. Bunda dengan berat hati menceritakan siapa diri Ara.


Sejak saat itu Aro semakin kasar dengan Ara. Dia memanggil Ara dengan sebutan upil. Sesuai dengan diri Ara, kecil, kotor dan tak bermanfaat sama sekali.


Tapi Ara lain, dia selalu suka saat Aro marah padanya. Ara berpikir mungkin itu cara Aro menyayanginya. Lain Aro lain Akhza. Semenjak kecil Akhza memang selalu menyayangi adiknya itu. Bahkan saat tahu bahwa Ara bukan adik kandungnya, Akhza lebih bisa menjaga perasaan Ara.


Sempat bunda bertanya pada Aro mengapa selalu tak suka pada Ara? Aro hanya menjawab tak ada alasan yang membuatnya harus suka pada anak yang sudah merebut kasih sayang ayah dan bundanya.


Dia selalu protes mengapa gadis yang menurutnya jelek itu harus jadi adiknya?

__ADS_1


__ADS_2