
"Pantas Mama ingat terus sama Kamu, jangan lupa sering dioles lukanya pakai salep ya Sayang." Adalah suara Ayas yang berbicara lewat telepon pagi itu.
"Iya Mam, lagian nggak parah koq. Aku kangen sama Mama."
"Sama Uti kangen, nggak?" di seberang sana Uti ikut bicara.
"Kangen juga dong, nanti paman Yudis menikah Aku pulang."
"Ya sudah, hati-hati liburannya. Hati-hati, Mama nggak mau lagi dengar Kamu kenapa-napa."
"Iya Mama Sayang,"
Setelah Ayas mengucap salam dan Bumi menjawab salamnya, Ayas mematikan panggilan teleponnya. Bumi segera memakai sneaker dan memakai cardigan yang selalu jadi favoritnya. Tas besar berisi baju ganti Dia jinjing dan tas selempang kecil ia sampirkan di pundaknya. Langkahnya begitu malas keluar dari kamar, perlahan ia menuruni anak tangga.
Melihat keberadaan Akash dan Rere di ruang tamu membuat langkah Bumi semakin berat. Beruntung Ayesha sedang ada di ruang makan memotong-motong melon dan memasukkannya ke dalam wadah bekal.
"Kak, Aku nggak jadi ikut ya?" Bumi menarik salah satu kursi dan mendudukinya.
"Kamu mau bikin Kakak sedih?" ucap Ayesha tanpa menoleh pada Bumi dan masih sibuk memindahkan potongan melon ke dalam wadah bekal.
"Nggak sanggup lihat Mereka," ucap Bumi menunjuk Rere dan Akash dengan dagunya. Keduanya sedang asyik menonton sebuah video dalam satu ponsel milik Rere.
"Tapi, Kakak lebih nggak sanggup ninggalin Kamu sendiri."
Bumi hanya menghela nafas, pasrah. Suasana bertambah ramai dengan kedatangan Damar dan Lila yang sebentar lagi juga akan melepas masa lajang. Lila dan Damar menggangguk ramah pada Bumi yang masih enggan ikut kumpul di ruang tamu.
"Sayang, sudah belum?" adalah Laut yang berteriak dari arah ruang tamu. Personil sudah lengkap semua, mataharipun beranjak tinggi. Seharusnya mereka sudah berangkat.
"Iya sebentar lagi, Bang." Ayesha menjawab suaminya seraya memasukan wadah bekal pada tas besar yang memang dirancang khusus sebagai wadah alat piknik.
"Ayo Bumi!" Ayesha menepuk bahu Bumi agar segera mengikuti langkahnya. Bumi dengan sangat terpaksa dan masih dengan perasaan cemburunya ikut beranjak.
Rere tampak anggun dengan dress bermotif bunga yang menampakkan pundak putihnya. Rambutnya yang panjang digerai indah. Memang sangat cocok bersanding dengan Akash. Bumi tak berani menatap Rere ataupun Akash. Dia lebih memilih berinteraksi dengan Damar dan Lila.
"Jadi siapa yang ikut mobil siapa nih?" tanya Damar.
__ADS_1
"Kita bawa dua mobil aja cukup, biar nggak saling tunggu kan?" Laut memberi usul.
"Ya udah kalau gitu pengantin baru ikut mobil Gue. Gimana?" Damar memberi saran dan diangguki Laut dan juga Ayesha.
"Kalau gitu, Bumi bertiga aja sama Gue dan Akash," ucap Rere dan tentu saja mendapat gelengan dari Bumi.
"Aku nggak jadi ikut ya, Kak. Aku nggak enak badan. Kayaknya lukanya meradang deh Kak. Badanku demam," Bumi menyentuh lehernya sendiri. Badannya memang benar-benar tidak enak. Tiba-tiba saja.
"Lho nanti di rumah sendirian, Kakak khawatir." Lautbtidak setuju.
"Aku bisa jaga diri koq Kak," Bumi memasang wajah memelas.
"Udah ikut aja, lagian kan tinggal duduk di mobil. Bisa tiduran juga. Nggak usah manja!" Akash sedikit meninggikan suaranya. Bumi membelalakan mata, pasalnya baru kali ini Akash bicara dengan nada setinggi itu.
Bumi akhirnya mengalah, Dia ikut di mobil Akash. Duduk sendiri di kursi belakang dengan melihat pemandangan menyesakkan. Matanya ia pejamkan namun telinganya masih dapat mendengar dengan jelas setiap perkataan dua insan di depannya.
"Lo pasti bohong ya soal sakit perut waktu itu sama Bu Restu?" tanya Akash pada Rere. Keduanya sedang asyik bernostalgia membicarakan masa putih abu mereka.
"Enggak bohong juga, beneran sakit perut tapi kalau sampe nggak diizinin balik sih Gue mau pura-pura pingsan saat itu."
"Lebih parah dari Gue ternyata,"
"Kamu yakin nggak ikut Mereka?"
"Iya, Kamu bawel deh pak dokter."
"Ya sudah sana ambil barang-barang Kamu, Kita berangkat di mobil Aku aja."
Rere hanya menganguk seraya berjalan kembali menuju mobilnya. Dua tas besar Dia pindahkan dari mobil Akash ke mobil Guntur. Setelah Rere berganti mobil, Akash memanggil Bumi untuk pindah ke depan. Namun, tak ada sahutan dari gadis itu. Bumi benar-benar tidur. Akash keluar dari balik kemudi dan membuja pintu mobil perlahan.
Bumi tidur dengan wajah tenggelam di balik novel yang dibacanya beberapa jam yang lalu. Akash mengambil novel itu, Dari covernya saja sudah dapat disimpulkan bahwa tadi itu Bumi tidak benar-benar membaca.
"Bumi, bangun! "
Akash mengusap lembut pipi Bumi, merasa ada sesuatu yang menyentuhnya Bumi mengerjapkan mata dan kaget saat wajah Akash begitu dekat dengan wajahnya.
__ADS_1
"Maaf, Aku ketiduran."
"Pindah ke depan, yuk!"
Bumi tak langsung menjawab, Dia melihat ke kursi depan sudah tak ada Rere di sana. Telapak tangannya berdenyut nyeri. Menjalarkan rasa panas ke seluruh tubuh. Bumi meringis mengangkat telapak tangannya dan meniupinya.
"Sakit lagi?" Wajah Akash tampak panik, terlebih saat melihat Bumi berkali-kali meringis dengan peluh di dahi.
"Perih, Kak."
Akash melihat wajah Bumi yang memucat. Di rabanya kening gadis itu dan terasa panas.
"Kamu benar-benar sakit?"
Bumi hanya mengangguk, tubuhnya merasakan dingin yang amat. Padahal cuaca sedang panas-panasnya. Akash membuka jaketnya dan menyelimuti tubuh Bumi.
"Kamu masih sanggup kan melakukan perjalanan, Aku beli obat sebentar. Tunggu ya!"
Akash segera turun dari mobil. Beruntung terdapat apotik di seberang jalan. Membeli beberapa bungkus roti dan air mineral lalu kembali menghampiri Bumi.
"Kamu makan roti dulu, ya!"
"Pusing, Kak."
Bumi mulai menceracau, suhu badannya semakin panas. Luka di tangannya juga terlihat merah dan membengkak. Sambil terpejam, Bumi menerima suapan roti dari Akash. Hanya mampu menelan tiga suapan Bumi sudah menutup mulutnya. Sambil masih memejamkan mata, Bumi meminum air mineral. Akash memberikan satu butir paracetamol sesuai petunjuk yang tertulis pada bungkusnya.
Perlahan Bumi memasukan obat itu ke dalam mulut dan menggiringgnya dengan air untuk menelannya. Tubuhnya menggigil, merasakan dingin di sekujur tubuhnya.
"Aku nggak kuat Kak. Tolong kabari Kak Laut kalau Aku sakit. Aku mau pulang lagi saja."
Bumi menaikan kedua kakinya ke atas jok, memeluknya erat. Akash mengirim pesan singkat pada Laut, menyuruh Laut pergi saja tanpa Bumi. Biar ia yang menemani Bumi.
"Duduk di depan, ya?"
Tawaran Akash diangguki Bumi. Meski enggan, Dia melangkah juga setelah Akash membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
Bumi sedikit sempoyongan berpindah tempat duduk, tubuhnya benar-benar merasakan sakit di setiap sendi. Setelah Bumi duduk pada posisi yang nyaman Akash kembali menutup pintu mobil. Berjalan mengitari mobil menuju kursi kemudinya. Tangan Bumi kesusahan saat memasang sabuk pengaman, Akash dengan sigap mengambil alih.
Nafas Bumi berhembus sangat panas mengenai pipi Akash saat dirinya memakaikan sabuk pengaman. Bumi ingin bicara walau hanya ucapan terimakasih namun tak kuasa. Bibirnya terasa berat. Dia memilih memejamkan mata kembali menaikkan kedua kaki ke atas jok dan memeluknya erat.