
"Bumi kamu panggil saya nama saja, jangan pakai embel-embel dokter."
"Eh, nggak enak dong. Nanti kasihan orangtua Dokter, sudah mahal-mahal biayain kuliah pas sudah jadi dokter gelarnya nggak disebut."
Guntur hanya tertawa kecil mendengar jawaban Bumi. Disesapnya kopi yang mulai hangat kuku. Sementara Bumi malah menenggak habis.
"Minum kopi seperti minum air putih saja," komentar Guntur melihat tingkah Bumi.
"Sedikit-sedikit atau sekaligus diminum juga akhirnya habis juga kan?" ucap Bumi. Guntur berfikir sejenak dan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Akash yang sedari tadi tak memalingkan pandangannya dari Bumi yang terlihat akrab dengan Guntur mendapatkan perhatian dari Guntur.
"Pemilik restoran ini dari tadi memperhatikan Kamu terus, ada hubungan spesial? tapi kan itu calon suami Rere?" tanya Guntur. Bumi yang memang menyadari hal itu dari awal tidak menanggapi. Dia tidak ingin lebih banyak lagi orang yang tahu kisahnya.
"Tuh lihat, lama-lama bola matanya bisa loncat," membisik dengan sedikit mendekatkan kepalanya ke arah Rain.
"Serem ih kaya di film horror kalau bola mata bisa loncat." Bumi bergidik memukul bahu Guntur.
"Kalian saling suka dan nggak bisa meneruskan karena Mereka sudah dijodohkan, benar kan tebakanku?"
"Sok tahu!" Bumi melemparkan tisu bekas ke wajah Guntur. Berani sekali Dia.
"Eeh jorok sekali, Kamu!"
"Reflek, sudah malam. Aku pulang duluan, terimakasih!" Bumi menyambar ransel di meja lalu menuju Laut mengajaknya pulang. Damar dan Lila sudah pulang sedari tadi.
"Tunggu, Aku antar." Guntur masih sempat menghabiskan kopinya sampai cangkir kosong sebelum menyusul Bumi.
"Kak, ayok pulang!" Bumi berusaha tak balas memandang Akash.
"Eeh tunggu, Bumi. Biar Aku yang antar." Guntur menarik pergelangan tangan Bumi, Bumi reflek menepisnya kasar.
"Biar Aku yang antar, Aku yang ajak Kamu ke sini!" Guntur memperjelas kalimatnya. Bumi menggeleng.
"Aku pulang bersama Kakakku, sekali lagi makasih sudah traktir. Dokter kan harus kembali ke rumah sakit. Kalau sakit nanti Aku yang disalahkan," Bumi berusaha menolak secara halus.
__ADS_1
"Kamu khawatir Saya sakit?" tanya Guntur dengan tatapan menyelidik.
"Iya, kasihan Nenek Karina nanti jadi ikut-ikutan sakit." Bumi menutup bibirnya saat membisik pada Guntur.
"Makasih ya, Bumi. Sampai jumpa besok. Kita pasti sering bertemu setelah ini," Guntur mengerlingkan matanya. Setelah berpamitan pada yang lain dan membayar di kasir Guntur segera pergi meninggalkan tempat itu.
Bumi lebih dulu pergi ke parkiran saat Laut pergi ke toilet sebelum pulang. Bumi benar-benar membatasi diri dengan Akash. Setelah ini Bumi bertekad untuk mengabaikan Akash dan perasaannua. Bahkan sapa saja tidak akan Dia biarkan ada di antara Mereka. Bumi akan mengubur segala rasa dalam hatinya. Biarlah Dia menjadikannya kiblat cinta. Seperti yang sering orang-orang katakan, cinta tak harus memiliki.
Lain Bumi lain Akash. Dia benar-benar tak terima dengan sikap Bumi. Berkali-kali mengirimi pesan pada Bumi dan tanpa dibaca apalagi dibalas. Masih beruntung tidak Bumi block kontak yang masih Dia namai dengan Kiblat cintaku itu.
*****
Hari berlalu, benar-benar tidak ada sapa bagi Akash dari Bumi saat bertemu. Bahkan saat acara lamaran Ayesha minggu lalu, tak sepatahpun ucap yang Bumi berikan pada Akash padahal mereka duduk berdampingan saat prosesi lamaran itu. Pandangan Akash tak pernah lepas dari Bumi sedangkan Bumi selalu menatap ke arah lain.
Tidak ada hati yang tak patah saat harus mengabaikan sapa dari orang yang sangat dicintai. Tapi jika sapa dan tatap datang hanya sementara, untuk apa?
Bumi pagi ini diantar Laut yang tiga minggu lagi akan melepas masa lajangnya.
"Kamu mau beli baju baru buat acara nanti, Dek?" tanya Akash melirik adiknya yang sedang bersenandung mengikuti musik yang Dia dengarkan dari ponselnya.
Laut menepuk jidatnya, pura-pura lupa. Laut hanya ingin berbincang saja dengan adiknya itu. Adiknya yang terlihat selalu ceria padahal hatinya menyimpan sejuta luka. Tidak ada hati yang tak patah saat takdir tidak dapat menyatukannya dengan yang dicinta.
"Kemarin diantar lagi sama Dokter Guntur?" tanya Laut. Sudah beberapa kali Guntur mengantar Bumi pulang.
"Iya, Aku bantu bujuk pasien Dia yang aneh. Minta cium pasiennya Kak. Mana bilangnya tuh gini Abang Aku mau tiyum peyuk," cekikikan mengingat pasien seorang Ibu paruh baya.
"Terus dicium?" Laut penasaran.
"Iya, Aku yang cium. Si Ibu memejamkan matanya jadi tidak tahu kalau Aku yang cium." Bumi merasa geli mengingat kejadian itu.
Laut hanya tertawa kecil. Hatinya merasa kecil tidak bisa membuat adiknya bersatu dengan lelaki yang dicintainya.
"Bumi, maafkan Kakak. Kakak tidak bisa membantu Kamu untuk bersama Akash." Laut mengelus kepala Bumi.
"Kak, jangan dibahas. Aku sudah tidak apa-apa," Bumi menggenggam tangan Kakaknya.
__ADS_1
"Apa yang Allah takdirkan untukku tidak akan melewatkanku, jadi Aku anggap Dia bukan takdirku." Bumi melepas genggamannya.
"Kamu ikhlas?"
"Ikhlas tidak perlu diucapkan, Kak. Nanti jatuhnya jadi riya," jawab Bumi melipat bibirnya.
Obrolan itu berakhir seiring mobil yang mulai sampai di depan rumah sakit. Bumi keluar setelah mencium punggung tangan Kakaknya. Hati Akash terasa sakit saat melihat punggung Bumi menghilang di pintu masuk. Merasa tidak berguna menjadi Kakak. Sebelum pergi Dia melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu beberapa menit.
Laut membalikan kemudi menuju restoran Akash. Kesibukan mulai terlihat. Beberapa pegawai menyapa, terlihat Akash sedang mencatat beberapa bahan yang harus dibeli hari ini.
"Kash, Gue tunggu di ruangan Lo!" Seru Laut setelah mengucap salam. Sorot mata Laut yang sendu diyakini Akash sedang tidak baik-baik saja. Setelah menjelaskan beberapa hal pada pegawainya Akash segers menyusul sahabatnya itu.
Laut didapatinya sedang duduk di sofa panjang dengan kedua mata terpejam.
"Ada apa?"
"Gue kasihan lihat Bumi, Gue nggak bisa ngapa-ngapain. Gue nggak gagal bikin hidupnya bahagia." Laut mengacak rambutnya frustasi.
"Ini semua salah Gue, maaf." ujar Akash menepuk bahu Laut.
Laut menggeleng, menatap nanar Akash. Untuk pertama kalinya Akash melihat Laut menangis walau tanpa suara. Laut menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, bahunya berguncang hebat.
"Gue kawin lari ya sama Bumi?" Akash memeberikan usul. Laut menggeleng.
"Gue bingung caranya menghibur laki-laki yang menangis, tapi ini sebentar lagi udah masuk jam kantor. Lo bisa diamuk Rere kalau telat."
Laut menarik nafas panjang, diusapnya wajahnya. Dia beranjak dan mencuci wajahnya di kamar mandi. Setelah dirasa segar dia berpamitan pada Akash.
"Ke sini numpang mewek doang?" Akash mengerutkan kening.
"Ya tuan rumahnya nggak peka, kasih minum keq."
"Gue kira mau nyuruh Gue membatalkan pernikahan, Gue bahkan udah nggak punya ide agar lolos dari permainan ini."
"Terima kenyataan, belajarlah merelakan seperti Bumi." Laut menepuk bahu sahabatnya itu dan berlalu meninggalkannya tanpa menjawab.
__ADS_1
Akash menghembuskan nafas kasar. Tidak bisakah kali ini Dia menang?