
Sebelumnya terimakasih yang sudah mampir dan membaca, minta LIKE, KOMEN dan VOTE nya dong Kakak-kakak sholehah.
*********
"Aku harus bagaimana agar dimaafkan?"
"Menikahlah denganku!"
Akash megikis jarak diantara Mereka, Bumi hendak mundur namun lengannya segera ditarik.
"Andai itu ucapan bukan keluar dari mulut seorang pria yang sudah dijodohkan, Aku pasti jadi wanita yang berbahagia." Bumi berusaha menepis tangan Akash yang memegang lengannya.
"Tikung Aku di sepertiga malammu Bumi, Kamu harus berdo'a agar pernikahanku dengan Rere tidak pernah terjadi." Akas semakin menguatkan cengkraman pada lengan Bumi.
"Aku bahkan malu pada Allah saat memintanya, Kak." Bumi menatap nanar lelaki yang ada dihadapannya itu.
"Kalau gitu, jadilah kekasihku!"
"Memangnya anak kiayi boleh pacaran?"
"Jadi harus bagaimana?" Akash balik bertanya.
"Sudahlah, Kita jalani seperti biasa. Aku tidak akan menghindar. Setidaknya Aku lebih beruntung dari Rere karena memiliki tempat di hatimu." Bumi berhasil melepaskan cengkraman Akash pada lengannya.
"Aku cuci panci dulu, Kamu lebih baik pulang. Kalau hanya berduaan nanti yang ketiganya itu setan." Bumi berlalu meninggalkan Akash yang mematung. Dia melihat gadis itu sudah berada di dapur mencuci panci dan peralatan masak lainnya.
Tidak ingin bertanya kenapa tiba-tiba sikapnya berubah setelah pergi dengan Guntur, Akash memutuskan untuk kembali ke restorannya. Ingin rasanya mengajak Bumi tapi melihat gadis itu berkali-kali mengual rasanya tidak tega.
"Istirahtlah, Aku pergi. Kunci pintunya!"
Bumi hanya menangguk, tangannya masih bahas sehabis merapikan dapur.
"Hati-hati, Kak!"
Akash menghentikan langkah, kembali mendekat pada Bumi.
"Jangan lagi mengacuhkanku," ucap Akash.
"Tidak akan!"
"Jangan tidak menyapaku," lanjut Akash penuh permohonan.
"Kenapa?"
"Sebab apalah arti bertemu jika tidak ada sapa didalamnya," Akash mengacak rambut Bumi lalu pergi membawa senyuman lebar.
Bumi memegangi dadanya yang berdebar, beberapa hari tidak saling bertemu saja sudah pandai bicara Akash itu. Bumi segera menutup gerbang juga mengunci pintu. Tak lupa Dia menutup gorden dan menyalakan lampu. Hari mulai petang, sebentar lagi maghrib. Saatnya Bumi memberanikan diri berdo'a meminta agar cintanya dengan Akash dipertemukan dalam akhir yang indah.
__ADS_1
****
Sementara di rumah Rere, Guntur baru menyadari bahwa tadi Dia datang bersama Bumi. Saat memasuki kamar Nenek Karina, Bumi tidak ada di sana.
"Kamu kenapa sih?" tanya Rere yang masih menggulung rambutnya dengan handuk putih.
"Bumi nggak ada!" seru Guntur menyapukan pandangan ke seluruh ruang tamu.
"Mungkin sudah pulang, coba Kamu cek ponsel. Siapa tahu Dia mengirim pesan?"
Guntur mengambil ponsel dari saku celananya, benar saja ternyata sudah dari satu jam lalu Bumi pamit pulang.
"Dia sudah pulang sejak satu jam lalu," ucapnya seraya menjatuhkan tubuh di atas sofa.
"Sana mandi dulu, Aku udah suruh Bibi siapkan makan untuk Kita."
Guntur hanya mengangguk lalu pergi menuruti perintah Rere. Rere tersenyum melihat punggung Guntur yang menghilang dari pandangannya. Dibanding Akash Guntur memang tidak lebih tampan. Tapi sikapnya yang hangat membuat Rere selalu ingin dengannya. Yang paling penting, Guntur mencintainya.
Cara makan sudah selesai, tapi Guntur maupun Rere enggan meninggalkan ruang makan.
"Bantuin dong gimana caranya supaya pernikahannya gagal,"
"Kapan sih acaranya?"
"Masih dua bulan lagi, sih."
"Yakin banget bakal berhasil?"
" Yakin, asal Kamu jangan jauh-jauh dari Aku."
Keduanya saling melempar senyum. Rere sudah tidak ingin lagi mengingat Akash. Berumah tangga dengan Akash pasti akan membuatnya harus banyak berubah terutama dalam penampilan. Lebih baik hidup dalam cemoohan tapi bersama orang yang mencintai. Daripada hidup penuh sanjungan dengan orang yang sama sekali tidak memiliki cinta.
"Aku balik ke rumah sakit, ya!" Guntur segera beranjak setelah membaca pesan dari Ayahnya yang juga seorang dokter.
"Hati-hati, ya!" Rere sekilas mengecup pipi Guntur.
"Jaga Nenek, jadikan agar posisinya mendukung Kita."
Guntur memeluk Rere lalu segera pergi meninggalkan Rerw yang tersenyum lebar dan melambaikan tangan padanya.
*******
Di tempat fitting baju dua orang Ibu yang sebentar lagi akan menjadi sepasang besan terlihat bahagia melihat anak-anak Mereka sangat serasi saat mencocokkan pakaian pengantinnya.
"Sudah pas ya, Kak. Nggak perlu diet. Istirahatnya dibanyakin Dr. Biar fresh." ucap sang desaigner saat membantu Ayesha melepas gaun pengantinnya.
"Kak, sebenarnya Aku ingin memakai hijab saat di pelaminan nanti. Ini bajunya sudah cocok kan kalau dipadukan dengan hijab?"
__ADS_1
Ayesha beberapa hari ini berfikir ingin menggunakan hijab saja. Foto pernikahannya akan dipasang seumur hidup dan Dia tidak ingin saat anak-anaknya melihat nanti dalam keadaan tidak memakai hijab.
"Bisa banget, Say. Tenang saja, bisa diatur." Jawab sang desaigner membuat senyum Ayesha merekah.
"Sayang, Kamu yakin akan mengenakan hijab saat resepsi nanti?" tanya Laut meyakinkan dirinya sendiri.
"Bukan saat resepsi saja, tapi selamanya!" seru Ayesha yang tentu saja ditanggapi oleh Laut dengan mengucap Hamdallah.
"Terimakasih sudah mau memperlancar tanggung jawabku."
"Iya, sama-sama. Do'a kan istiqomah." Ayesha mengaminkan ucapannya barusan dalam hati.
Laut mengiring tangan calon istrinya pada Sang Mama dan calon mertua yang sedang duduk di sofa menunggui Mereka.
"Tan, Mam. Ayesha mau berhijab. Do'a kan istiqomah ya." Ucapan Laut membuat dua wanita itu reflek memelum Ayesha.
"Aamiin, jangan pernah lelah untuk terus belajar." Ucap Sang Ibu
"Dan memperbaiki diri," tambah Mama Ayas.
Ayesha mengangguk, senang karena begitu banyak dukungan dari semuanya.
'Semoga Bumi juga bisa segera mendapat hidayah-Mu Yaa Rabb.' Ayas berkata dalam hati.
Bumi memang belum menyinggung soal menutup hijab. Dia sedang berupaya terus memperbaiki shalatnya. Pengajianpun masih rutin Dia ikuti. Ayas hanya perlu bersabar dan mendo'akan agar putrinya segera memiliki keinginan untuk menutup aurat.
Setelah semua urusan pakaian selesai Mereka pergi meninggalkan butik itu. Laut terlebih dahulu mengantarkan Ayesha dan Ibunya pulang.
"Mam, Aku kasihan dengan Bumi. Merasa gagal membuatnya bahagia karena tidak bisa bersama-sama dengan Akash," ucap langit saat Ayesha dan Ibunga sudah diantar pulang.
"Iya, Mama juga kadang merasa sedih. Tapi, kekuatan orangtua Rere dan Bang Ilham itu sulit dikalahkan. Dalam dunia bisnis kadang pernikahan dibutuhkan untuk memperkuat tujuan mereka."
"Mama jangan putus do'akan terus Bumi dan Akash." Laut sesekali melirik Sang Mama.
"Kasihan Rere juga ya, Mereka menjadi korbannya." Ayas menatap para pedagang yang ramai di pinggir jalan. Membuat laju kendaraan semakin lambat karena tidak leluasa bergerak.
"Padahal Rere aslinya baik, Mam. Dia memberiku uang tunai 30 juta sebagai kado pernikahan." Laut mulai bercerita tentang hal itu.
"Lumayan besar itu, Kamu gunakan untuk apa uangnga? seserahan kan sudah?" Mama menyelidik karena takut anaknya akan pergi dari rumah setelah menikah.
"Mau Aku berikan pada Bumi, Mama mau?" goda Laut.
"Mama hanya ingin terus berdekatan denganmu, melihat cucu setiap hari," Sang Mama menatap penuh harap.
"Laut pasti selalu berada di samping Mama, Kita akan selalu bersama!" seru Akash membuat Sang Mama bernafas lega. Di akhir hidupnya Dia hanya ingin selalu berkumpul dengan anak-anaknya yang tercinta.
'Semoga Bumi juga mendapatkan kebahagiaan bersama yang dicintainya.' sebuah do'a dalam hati untuk putri tersayangnya.
__ADS_1