Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
84


__ADS_3

Spesial buat para pembaca tersayang. Semuanya dong tekan like dan komennya hehe


******


Kedatangan Bumi disambut suka cita oleh Sang Mama dan juga Uti. Hidangan makan siang lengkap dengan segelas besar es teh manis aroma melati sudah terhidang di meja makan.


"Waah aku kayak abis pulang wajib militer aja nih disambut begini!" seru Bumi saat melihat hidangan di meja makan.


"Ayo makan, cuci dulu tangannya!" titah Ayas yang diangguki Bumi.


Setelah melepas cardigannya Bumi segera menyesap es teh manisnya. Rasa manis dan dingin mengalir segar kedalam kerongkongan. Membuat Bumi tersenyum riang mengucap hamdallah.


"Bingung nih mau makan apa dulu," ujarnya melihat begitu banyak makanan.


"Makan nasi atau batagor?" tawar Ayas.


"Nasi aja deh, Mam." Jawab Bumi, menelan saliva demi melihat sup bakso dengan irisan daging sapi yang banyak. Asap masih mengepul, aroma bawang goreng dan daun seledri menyeruak memenuhi rongga hidungnya.


"Sayur sopnya dipisah?" tanya Mama. Bumi hanya mengangguk tak sabar menyantapnya.


"Jangan pedas-pedas, sewajarnya saja." Ucap Ayas mengingatkan saat Bumi hendak menyendokan sambal ke dalam sopnya.


"Iya, nanti kamu susah punya anak kalau terlalu sering makan pedas," ucap Uti.


"Masa sih? mitos tuh." Cibir Bumi.


Bibirnya segera menggumamkan do'a. Mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Benar saja, sup itu sangat nikmat. Tak ada percakapan selama makan siang berlangsung. Hanya suara sendok dan piring yang saling beradu.


Selesai makan, Bumi ikut merapikan meja. Makanan yang tersisa masih banyak. Bahkan batagor masih tak tersentuh.


"Ini makanan kalau nggak habis siapa yang mau makan, Mam?" tanya Bumi.


"Em, kamu mau nggak antarkan ke rumah Paman Yudis?"


"Mau aja sih, tapi Bumi istirahat bentar habis itu shalat ashar dulu."


"Ya sudah biar Mama rapikan makanannya,"


Setelahnya Bumi memasuki kamarnya yang kecil tapi nyaman. Bumi mulai mendudukan diri di tepi ranjang. Aroma khas pewangi pakaian tercium dari sprei yang Bumi usap. Mengajaknya untuk terbuai ke alam mimpi.


Bumi segera membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata. Tangisan dalam perjalanan tadi, semoga tangisan untuk terakhir kalinya. Jika harus menangis, semoga adalah tangisan bahagia.


*******


Setelah shalat ashar Bumi bersiap untuk mengantarkan makanan ke rumah Paman Yudis. Saat melaksanakan shalat ashar tadi, sejujurnya hatinya merindukan Akash.


Dia teringat kejadian saat awal-awal kedatangannya ke Jakarta, saat itu Bumi masih meninggalkan shalat. Akash menyuruhnya shalat ashar waktu itu, tapi Bumi menolaknya. Akash geram dibuatnya, sampai pada waktu itu Akash mengeluarkan sebuah hadist yang masih Bumi ingat sampai sekarang.


Suara Akash seperti kembali berujar di telinganya.


Dari Abdullah bin Umar ra., Rasulullah bersabda, “Orang yang kehilangan shalat Ashar bagaikan orang yang kehilangan keluarga dan harta kekayaannya.” (HR Bukhari).

__ADS_1


Bumi mengulas senyum tipis mengingatnya. Hatinya bergetar hebat hanya karena mengingatnya saja.


Ampuni Hamba Yaa Rabb, masih mencintai salah satu Hambamu yang telah beristri. Kuatkan hatiku Yaa Rabb, jangan palingkan Aku dari-Mu.


Sayup-sayup suara Ayas sudah memanggil namanya. Bumi menyampirkan tas rotan ke pundaknya, memasukan ponsel dan dompet ke dalamnya. Segera keluar kamar setelah mengenakan kembali cardigan dan sepatunya.


"Aduh cucu Uti ayu tenan iki," puji Uti seraya mencubit cuping hidung Bumi.


"Siapa dulu dong Utinya," seloroh Bumi seraya tertawa.


"Sudah siap?" tanya Ayas.


"Sudah, Mam."


"Bagus, ini makanannya."


Ayas menyerahkan rantang plastik bermerk tapelwel pada Bumi.


"Kamu diantar sama tukang ojeg, sudah nunggu di depan." Ujar Ayas.


Bumi segera menyalami Ayas dan Uti. Mengucap salam lalu mulai melenggang keluar. Sebelum keluar dari pintu Ayas sempat memberi tahu bahwa ojegnya sudah dibayar.


Perjalanan menuju rumah Yudis ternyata tidak lama. Cukup 15 menit sudah sampai. Bumi turun dari ojeg dan tak lupa mengucap terimakasih.


Kedatangannya langsung disambut Lili yang baru saja mengangkat jemuran.


"Assallamuallaikum, Bi."


"Di mana Paman?"


"Di belakang sedang memberi makan bebek." Jawab Lili, kemudian mengajak Bumi masuk ke dalam rumah sederhana namun sangat nyaman.


"Bi, ini ada titipan makan dari Mama." Bumi mengutarakan maksud kedatangannya.


"Wah, makasih loh. Bibi ke belakang sebentar."


"Paman Yudis di sebelah mana?" tanya Bumi membuat Lili urung melangkah.


"Di belakang, Bumi mau ke belakang? tapi kotor."


"Mau, Bumi bukan anak kecil yang kalau liat kotor malah dimainin, Bi." Ujar Bumi membuat Lili tertawa.


Jadilah keduanya ke halaman belakang rumah yang sangat luas. Di sanalah Yudis berternak bebeknya. Riuh sura bebek membuat suara Bumi yang memanggil Yudis tidak didengar olehnya.


Sementara Lili membuatkan minum, Bumi berinisiatif mendekati Yudis. Benar kata Lili, becek. Sneaker putih Bumi sangat kontras dengan warna tanah yang kecoklatan dan becek.


Bumi berlari-lari kecil di atas tanah becek itu, kakinya tidak hati-hati melangkah saat menginjak genangan air. Reflek badannya terjengkang. Namun, belum sempat jatuh sebuah tangan menopang pinggangnya. Membuat tubuh itu terlentang di atasnya.


Sepersekian detik netra Bumi bertemu dengan netra seorang pria yang baru saja menolongnya. Bumi ingat, dialah Hafidz.


Sigap Bumi menarik tubuhnya yang tadi ditangkap oleh Hafidz. Segera pura-pura merapikan hijab untuk menetralisir rasa malu bercampur kesal.

__ADS_1


"Maaf, tadi reflek lihat kamu mau jatuh." Ucap Hafidz seperti tahu bahwa Bumi sedang kesal.


"Hmm," hanya itu yang keluar dari bibir Bumi.


"Kamu ponakannya Mas Yudis kan?" tanya Hafidz.


"Bukan, saya tukang kredit." Jawab Bumi ketus.


"Masa tukang kredit penampilannya kayak...." Hafidz menggantung kalimatnya.


Diliriknya dengan ujung mata penampilan Bumi, Manis.


"Jaga tuh mata, kamu kan santri. Masa nggak tahu hukumnya menatap lawan jenis lama-lama itu haram dan termasuk zina." Ya itulah Bumi, ketus dan judes pada pria yang baru dikenalnya.


"Siapa yang natap?" Hafidz mengelak. Kan cuma melirik, ucapnya dalam hati.


"Bumi.... " pekik Yudis, merentangkan tangan hendak memeluk Bumi.


"Nggak mau peluk, itu jijik tangannya kotor." Tolak Bumi seraya bergidig. Yudis baru sadar kalau keadaan badannya sangat kotor. Terlebih tangannya yang penuh lumpur.


"Hahaha, Paman lupa. Ya sudah ayok ke dalam!" ajak Yudis diangguki Bumi.


Yudis berjalan terlebih dahulu, baru Bumi akan menyusul langkahnya dikagetkan oleh Hafidz yang tiba-tiba menginjak sepatu Bumi dengan sandal jepitnya.


"Kalau gini, jijik nggak?"


Bumi melihat ke arah sepatunya yang kini kotor terkena lumpur.


"Hafidz, nyebelin banget. Nggak jelas lo woy." Teriak Bumi menendang kaki Hafidz yang tertutup kain sarung.


"Jangan galak-galak, jangan benci sama Saya. Ingat, benci bisa jadi cinta." Kelakar Hafidz.


"Percaya diri banget sih?!"


"Kita kan udah saling kenal, tinggal saling sayang." Hafidz tak berhenti menggoda Bumi.


"Ih najis lo," Bumi geram dibuatnya.


"Eh iya dong, tak kenal maka tak sayang. Kalau udah kenal udah pasti sayang kan?" Seloroh Hafidz seraya berlari meninggalkan Bumi yang terus mengumpat.


"Sepatuku, oh no. Dasar santri edan."


Bumi terus mengumpat Hafidz, yang diumpat terus berlari sambil tertawa puas menggoda Bumi.


.


.


Maafkan banyak typo. Nanti sambil direvisi ya.


__ADS_1


Kebayang kan gimana sepatu putih dilumpurin sama Hafidz tuh keselnya gimana?


__ADS_2