
"Jangaaaan," geram Bumi.
"Kenapa jangan? nggak boleh pelit dong," sahut Akash.
"Nanti malam aku minta antar ke toko perlengkapan babby lagi," rengek Bumi membuat Akash tertawa.
Padahal bulan lalu mereka sudah belanja beberapa perlengkapan bayi. Namun Akash tidak bisa bila menolak keinginan istrinya itu.
"Besok kan mau senam hamil, aku sekalian mau beli baju lagi. Baju aku udah nggak ada yang muat." Ungkapnya malu-malu.
Berat badannya naik drastis. Selama hamil Bumi memang tidak begitu mengalami mual muntah yang hebat. Dia hanya mengalaminya di awal-awal kehamilan. Nafsu makannya justru bertambah. Bahkan saat periksa seminggu yang lalu, dokter menyarankan agar dirinya mengurangi mengkonsumsi karbohidrat dan gula.
"Aku pengen makan pecel di warung tenda juga," pinta Bumi langsung mendapat tolakan dari Akash.
"Kalau itu aku nggak setuju," Akash kembali berjongkok di hadapannya. "Ingat kata dokter, kan? ini demi kalian juga." Bujuknya seraya menciumi perut buncit itu. Janin di dalamnya langsung merespon. Membuat Akash tertawa dan menggelitiki perut istrinya di bagian kiri. Janinnya mengikuti ke mana Akash menggerakan jarinya.
"Tuh dedeknya protes, mau makan nasi pecel katanya." Sungut Bumi memukul bahu depan suaminya.
"Jangan, Sayang. Nanti aku saja yang buatkan di rumah. Kita nggak tahu minyak yang dipakai itu masih baru atau bukan?" Akash memberikan penawaran.
"Tapi sambalnya harus enak!" ancam Bumi.
"Kapan sih masakanku nggak enak?" desak Akash membuat Bumi sekonyong-konyong menangkup kedua pipi putih bersih itu.
"Kamu terbaik, Kak. Terima kasih buat semuanya, aku sayang sama kamu."
"Hanya terima kasih?"
"Ah ujung-ujungnya pasti kesitu," Bumi dengan kasarnya melepaskan wajah suaminya seraya berdecak kesal.
"Nanti kalau sudah melahirkan aku puasanya lama, Sayang. Kamu nggak kasihan?" goda Akash seraya mengerlingkan mata.
Bumi beranjak meninggalkannya tanpa patahan kata. Entahlah, apa semua wanita seperti itu bila digoda oleh suaminya?
Akash hanya terkekeh melihat tubuh istrinya yang masuk ke dalam rumah, dia senang sekali jika Bumi sudah marah seperti itu.
"Kenapa dia?" Ayas yang sudah memanen hasil tanaman putrinya menghampiri Akash.
__ADS_1
"Biasa, merajuk." Sahut Akash membuat Ayas tertawa.
Keduanya masuk ke dalam rumah. Sementara Celin dan kawan-kawannya masih asyik bertukar pikiran seraya mengerjakan tugas sekolah mereka.
Untuk Celin terkadang Bumi menggratiskan pesanannya. Walaupun kadang Celin sendiri sering menolak. Dia bilang kalau hanya beli minuman dan kentang goreng uangnya masih cukup.
Dia melakukan semua itu karena merasa menemukan tempat yang cocok saja. Selain itu juga karena sosok Bumi yang bisa dijadikan panutan. Tidak tahu saja mereka bagaimana Bumi di masa lalu.
Tapi, seburuk apapun masa lalu seseorang. Bukankah tidak menutup kemungkinan untuk menjadi muslim yang lebih baik? Seperti halnya kupu-kupu yang indah, sebelum menjadi makhluk yang sedap dipandang mata, kupu-kupu pernah menjadi ulat dan kepompong yang terkadang dipandang menjijikan.
***
Ayas menolak ikut saat Bumi mengajaknya untuk pergi ke toko perlengkapan bayi. Sebelum berangkat keduanya sepakat mampir ke rumah Pak Rt.
"Nggak enak soalnya tadi siang udah janji," begitu kata Akash saat Bumi protes.
Keduanya turun di depan sebuah rumah sederhana tanpa pagar. Cat dindingnya sudah mengelupas di mana-mana. Bahkan pintu rumahnya saja sudah lapuk dimakan usia. Bolong sana sini dimakan rayap.
"Terima kasih, ya, Bang Akash. Semoga rezekinya terus berlimpah." Ungkap Pak Rt.
"Waah sedang hamil? kok nggak terlihat?" celetuk Pak Rt membuat Bumi dan Akash tersenyum.
"Sebesar ini masa nggak terlihat, Pak?" tunjuk Bumi pada perutnya sendiri.
"Mungkin karena pakai baju dan kerudung besar jadi nggak terlihat." Pak Rt berargumen atas penilaiannya sendiri.
"Istri saya sedang hamil delapan bulan, Pak. Minta do'anya ya," tutur Akash kembali mengulang perkataannya.
"InsyaAllah, Bang Akash orang baik. Pasti selalu mendapat kemudahan." Papar Pak Rt dan diaamiini oleh Bumi dan Akash.
Selesai urusan dengan Pak Rt Akash segera pamit sebab tak ingin terlalu malam saat pulang nanti. Istrinya itu jika belanja kadang lupa waktu. Terlebih ini adalah kehamilan pertama. Membuat Bumi bersemangat menyiapkan segala sesuatunya.
Bumi sengaja memilih malam hari sebagai waktu belanjanya sebab tak ingin terlalu kepanasan. Akhir-akhir ini tubuhnya sering kegerahan. Sudah susah tidur, serba salah pula dalam mengambil posisi berbaring yang nyaman.
Masuk ke sebuah toko besar dengan peralatan bayi yang lengkap, mata Bumi langsung tertarik pada sepasang sneaker lucu untuk ukuran Babby new born.
"Ini lucu, ya, Kak?" Bumi kegirangan sendiri menemukan sneaker berwarna putih itu.
__ADS_1
"Jangan warna putih, nanti cepat kotor." Sahut Akash tak setuju.
"Memangnya dedek mau ke mana sampai bisa kotor, ini itu ukuran 0 sampai 6 bulan," decak Bumi memutar bola mata. Emosinya sering naik turun, tak bisa salah sedikit langsung naik darah.
"Aku kan cuma kasih saran, nanti kalau aku bilang terserah kamu marah." Cicit Akash seraya mengambil sebuah kacamata kecil berwarna hitam. "Nih beli ini buat nanti Dedek berjemur," ujar Akash dan langsung ditanggapi riang oleh Bumi.
"Oh iya, untung kamu ingatkan. Aku belum beli kacamata." Bumi segera memilih dua buah kacamata untuk bayinya nanti. Kekesalannya yang tadi menguap begitu saja.
"Belinya empat, boleh?" pinta Bumi.
"Boleh, sepuluh juga boleh." Seloroh Akash membuat Bumi mencibir.
Diamatinya dua buah kacamata berbeda model itu. Setelah menimang beberapa saat akhirnya empat buah kacamata masuk ke dalam keranjang.
"Sepatunya gimana?"
"Kata Kakak jangan yang putih, cari warna lain."
Akash tersenyun, baru kali ini Bumi mendengarkan perkataannya. Keduanya berjalan menuju rak lain. Kali ini mata Bumi tertarik pada perlengkapan makan. Dia menunjuk sebuah peralatan berwarna biru yang dikemas dalam kardus berwarna senada.
"Aku mau yang itu, Kak." Tunjuknya seraya menuju rak yang ia maksud.
Belum sempat ia menggapainya, tangan Akash terlebih dahulu mengambil dan memindahkannya ke rak yang paling atas. Alhasil Bumi kesulitan mengambilnya kembali.
"Kakak, ih. Aku susah ngambilnya," geramnya seraya menghentakkan kaki.
"Aku ambilkan, tapi ada syaratnga." Akash memberi penawaran.
"Iya, iya. Ambilkan dulu!" titah Bumi seraya menunjuk pada barang yang tadi ingin ia ambil. "Ambil dua, Kak!" cicitnya saat Akash hanya mengambilkannya satu. Akas terkekeh dan kembali mengambil satu kotak lagi.
"Janji ya bayarannya malam ini," pinta Akash sebelum benda itu ia masukkan ke dalam keranjang.
"Iya, Kak. Nggak ada puasnya kamu tuh." Cibir Bumi memutar bola mata kesal.
"Nggak akan puaslah, apalagi sekarang kamu...." Akash melirik ke bagian dada tubuh Bumi.
"Kakaaak, iih. Dasar mesum!" pekiknya kemudian menghadiahi Akash dengan pukulan di lengannya lalu berlalu meninggalkannya membawa rasa kesal akibat terus menerus digoda suaminya itu.
__ADS_1