Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
39


__ADS_3

Di sebuah kamar hotel bintang lima dengan fasilitas mewah Rere duduk di depan meja rias dengan rambut basah dan masih mengenakan handuk kimono. Sesekali Dia menoleh ke arah pintu, berharap seseorang yang Dia tunggu segera datang. Tatapannya pada cermin menangkap pantulan dirinya sendiri. Cantik dan sempurna, begitu gambaran dari seorang Andrea Kenanga. Terlahir dari sepasang suami istri gila kerja meski sudah banyak harta tak lantas menjadikan hidupnya bahagia.


Sedari kecil hidup dengan kemewahan namun irit dekapan. Orangtuanya memiliki beberapa perusahaan yang tersebar di kota-kota besar. Rere kecil seringkali ditinggal di rumah beserta pengasuh dan Nenek Karina yang sekarang mulai sakit-sakitan itu.


Sejak SMP memang sudah mengenal Guntur Rahadi dan merupakan cinta monyetnya. Tiga tahun bersama Guntur membuat hari-hari semasa putih birunya lebih berwarna. Sikap Rere yang arogan dan angkuh membuatnya sulit mendapatkan teman. Hanya Guntur seorang yang selalu bisa menerima kesombongannya.


Rere mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja rias. Mengusir rasa jenuh yang mulai melanda. Sudah beberapa hari ini Dia bersembunyi, tepatnya meninggalkan segala kehidupan rumitnya.


Siapa yang tahan jika terus-menerus dijadikan boneka oleh orangtua sendiri. Begitu pikiran Rere. Setelah tahu dijodohkan dengan Akash, separuh hatinya senang dan menerima. Namun, sikap acuh dan dingin Akash membuatnya merasa semakin terbuang. Bagaimana bisa Akash tidak tertarik dan menerima perjodohan ini?


Rere mwnyibak rambutnya yang sudah setengah kering. Beberapa hari ini Dia hidup semaunya. Tidak bekerja, tidak pulang ke rumah dan tidak ingin pula melihat Akash. Ponsel mahalnya sengaja Dia matikan, yang Dia lakukan hanya tidur, makan dan menunggu seseorang datang menemuinya.


Pintu diketuk membuat Rere sumringah membukanya. Kedatangan Guntur dengan senyum manisnya membuat rona pipinya memerah.


"Baru mandi?" tanya Guntur seraya mendudukan dirinya di tepi ranjang.


"Kamu lama sekali datangnya, Aku bosan tahu!" Rere segera ikut duduk di samping pria yang masih mengenakan seragam dokternya itu.


"Resiko jadi simpanan dokter!"


"Enak saja simpanan," teriak Rere seraya mencubit perut Guntur berkali-kali. Hingga pria itu mengaduh kesakitan dan minta ampun untuk tidak diserang lagi.


"Kita kawin lari saja?" Rere memberi usul yang jelas langsung ditolak Guntur.


"Jangan mengada-ada, ayok siap-siap. Kamu harus pulang!"

__ADS_1


Ucapan Guntur membuat Rere memberengut kesal. Dia tak ingin pulang, tak ingin bertemu orangtuanya. Selama ini selalu menuruti perintah kedua orangtuanya. Namun, apa yang Dia inginkan tak pernah sekalipun didengar apalagi diwujudkan. Mereka pikir hidup bergelimang harta dengan jabatan baik di perusahaan itu enak? Di pandang hormat bahkan ditakuti setiap karyawan itu bangga? Mungkin iya bagi sebagian orang. Tapi, tidak bagi Rere.


Dia pintar, cantik, wawasan luas dan penuh pesona. Tapi, apa pernah Dia merasa bahagia?


"Ayolah, Re. Nenek sudah menelponku berkali-kali. Jangan sampai orangtuamu marah." Sedikit memohon mungkin bisa membuat gadis keras kepala itu luluh.


Rere masih diam, malah memupuk air mata. Dia beranjak dengan menghentakan kaki. Dibukanya tali kimono tanpa merasa malu. Dilemparnya ke sembarang tempat, Guntur reflek membuang pandangannya dari tubuh yang hanya dibalut dalaman itu. Masih dengan wajah ditekuk Rere memakai bajunya dengan kaki yang terus dihentakkan.


Guntur kembali tenang setelah melihat Rere sudah memakai baju dan berdiri di meja riasnya. Menghapus air mata yang sempat berderai tanpa suara. Disapukan tipis-tipis bedak iti hingga membuat wajahnya terlampau cantik. Sesekali menghela nafas, bisa apa jika sudah orangtuanya yang memberi titah?


******


Hari beranjak sore dan Bumi masih menunggui Akash yang mulai sudah turun demamnya. Bumi sampai harus pergi sendiri ke apotik untuk membeli obat karena demam Akash semakin tinggo. Nadia sendiri malah pulang sedari dhuhur tadi.


Bumi hanya bisa menebak-nebak tanpa tahu kepastiannya. Dia kembali ke kamar setelah berbincang sedikit dengan karyawan. Akash masih tertidur dengan kompres di dahinya. Bumi segera mengambil handuk kecil itu dan memeriksa suhu tubuh Akash dengan menempelkan punggung tangannya di dahi, pipi dan leher Akash. Sudah tidak sepanas tadi, bahkan mulai normal.


Dia pandang wajah pucat itu lekat-lekat. Tampan. Bumi lalu meraba wajahnya sendiri dan mulai mengingat Rere. Rere dan Akash memang sangat cocok di pandang dalam segi apapun. Bisa dibayangkan akan seperti apa tampang putra putri Mereka suatu saat nanti.


Bumi dengan pelan menggerakkan telunjuknya mengikuti pola alis Akash yang tebal dan rapi. Telunjuknya menyusuri hidung mancung yang mulus tanpa komedo. Bumi juga mengusap-usap bulu mata lentik itu sambil tertawa sendiri. Saat ingin mengusap bulu mata yang sebelahnya, pergelangan tangan Bumi ditangkap oleh Akash. Rupanya sentuhan kecil itu membuat Akash merasa terganggu. Bola mata bulat itu terbuka sempurna. Bumi ingin menarik tangannya yang di pegang oleh Akash, namun tenaga pria itu lebih besar.


"Lepas Kak, sakit tahu!" Bumi menarik tangannya yang masih dicengkram. Akash tentu saja tidak mengindahkan titah Bumi. Dia malah semakin kuat memegangi tangan itu dengan senyum tipis .


"Kak lepaskan, Aku teriak nih biar digrebeg sama karyawanmu."


"Ide bagus, sekalian minta digrebeg pak Rt biar dinikahkan." Akash malah menggoda Bumi dan tertawa.

__ADS_1


"Aku nangis ya kalau nggak dilepas, serius sakit lho Kak." Bumi mulai berkaca-kaca. Akash panik melihatnya. Dia segera melepaskan pergelangan tangan Bumi, takut kaca pada bola mata Bumi pecah.


"Serius sakit?" tanya Akash melirik pergelangan tangan Bumi yang merah.


"Iya, lihat ini sampai merah. Kakak tuh ahlinya hanya membuatku sakit."


Sudah dibuat agar tidak pecah, tapi tetap saja pecah. Bukan hanya tangan yang sakit tapi hatinya juga. Sakit menerima kenyataan bahwa cintanya tidak bisa bersama. Sakit mengihklaskan pria yang dicinta yang namanya sudah tercetak di surat undangan bersama wanita lain.


"Maaf, Bumi. Aku...."


"Nggak apa-apa Kak, Aku yang terlalu mendramatisir keadaan." Bumi memotong kalimat Akash. Dia beranjak dari tempat tidur seraya mengusap air matanya.


"Aku pulang ya, Kak?"


"Jangan, nanti saja. Nanti Aku antar."


"Kamu masih sakit. Lebih baik istirahat yang banyak. Jadi pengantin itu harus sehat." Bumi mencoba mencairkan suasana dengan menggoda Akash. Akash tidak menjawab hanya menggeleng. Pengantin? geli sekali mendengarnya.


"Kita masih bisa jadi adik kakak, kan?" Bumi memberikan usulan.


"Nggak bisa," ucap Akash ikut beranjak. Badannya sudah terasa lebih baik namun lengket.


"Kenapa?"


"Adik kakak tuh nggak bisa bikin anak, nggak enak. Jangan dulu pulang, tunggu Aku selesai mandi." Akash menjentikan jarinya lalu pergi ke kamar mandi meninggalkan Bumi dalam kebisuan dan hati yang porak poranda. Dia kembali menjatuhkan tubuh di tepi ranjang. Memegangi dadanya yang terus berdebar.

__ADS_1


__ADS_2