
Bumi masih menatap tak percaya pada alat tes kehamilan yang menunjukan hasil positif. Dari arah bathub kamar mandinya, ia melangkah ke dekat pintu. Menyandarkan diri di sana seraya memegangi perut yang masih rata.
"Dek, gimana?" Akash mengetuk pintu tak sabaran, bahkan suaminya itu tak segan berkali-kali memutar pegangan pintu. Sampai risih Bumi mendengar suaranya.
Ketukan tak sabaran itu berubah jadi gedoran. "Dek, aku dobrak ya, kalau kamu nggak mau buka!" jelas itu ancaman yang akan jadi kenyataan bila Bumi tak segera membuka pintu.
Bumi menghirup udara dalam-dalam kemudian pelan-pelan ia embuskan. Ia berbalik, memutar pegangan pintu seraya menunduk. Suaminya sudah tak sabaran, tanpa aba-aba, Akash merebut testpack dari tangannya. Ia begitu girang saat mendapati hasilnya positif. Berkali-kali mengucap hamdallah dan menghadiahi kecupan di seluruh wajah istrinya yang justru sedang murung.
"Kamu kok sedih sih?" menyadari tak ada respon dari istrinya yang hanya menunduk bahkan tak menyahuti ucapan terima kasihnya.
"Kamu kenapa?" desak Akash. Tangannya meraih dagu Bumi tapi Bumi malah menepisnya.
"Aku malu kenapa secepat ini udah hamil lagi?" keluh Bumi seraya memalingkan pandangan. Menatap ke arah Ara yang masih tertidur pulas. Sementara dua jagoannya sudah sedari jam 04.00 tadi bangun.
"Kenapa malu? kan ada aku?" hibur Akash, kedua tangannya memegang bahu Bumi.
"Anak-anak baru setahun setengah masa' aku udah hamil lagi? Malu dong kak!" Bumi menggedikan bahunya dan berjalan menuju tempat tidur, duduk di tepiannya.
Akash mengikutinya, dia duduk di samping Bumi. Tak menyerah untuk membujuk sang istri. Ia merangkul bahu Bumi, berusaha membuatnya nyaman.
"Apa yang membuat kamu malu?" setelah dirasa istrinya cukup tenang, Akash kembali bertanya.
"Malu aja, nanti orang pikir kita itu nggak ada kerjaan lain apa selain bikin anak!" tegas Bumi hampir membuat Akash tertawa, namun ia tahan karena tak ingin menyinggung perasaannya.
"Kamu terlalu memikirkan apa yang belum tentu akan terjadi," ujar Akash dengan sura lembut.
"Enggak," elak Bumi, suaranya meninggi. "Aku tuh ... ah pokoknya aku malu, kak!" Kali ini menoleh pada Akash dengan tatapan sendu.
__ADS_1
Akash tersenyum, bagaimana bisa istrinya ini memupuk prasangka pada suatu yang belum tentu akan terjadi? Akash menarik bahu Bumi, ia paksa agar kepala istrinya itu bersandar di dadanya.
"Bersyukurlah, Sayang. Mungkin banyak di luar sana orang-orang yang kesulitan untuk hamil. Bahkan melakukan banyak cara agar dapat hamil," tutur Akash sedikit membuat Bumi kembali memungut rasa percaya dirinya yang sudah berjatuhan akibat perasaan malunya.
"Nanti kalau orang-orang ngomongin aku gimana?" lagi-lagi prasangka itu masih saja ada pada dirinya.
"Ya biarkan saja, mereka kan punya mulut. Bebas mau bicara apa saja," sahut Akash. Tangannya mengusap-usap pipi Bumi, hanya ingin memastikan bahwa istrinya tidak sedang menangis.
"Memang orang-orang mana sih yang kamu takutkan akan membicarakanmu?" ucapan Akash membuat Bumi tersadar. Iya, orang-orang mana? dia sendiri jarang keluar rumah. Interaksinya hanya dengan beberapa pegawai dan pengunjung kafe. Dengan Celin dan kawan-kawannya.
"Jadi aku harus bahagia dengan kehamilan ini?" Bumi meminta saran suaminya.
"Kamu nggak bahagia kembali menjadi wanita yang istimewa? nggak bahagia dengan pahala jihad yang akan kamu dapatkan? saat salatmu berkali-kali lipat Allah gandakan pahalanya? saat kamu dikelilingi malaikat yang berdzikir untukmu? kamu lupa?" cecar Akash membuat Bumi merasa bersalah telah memupuk prasangka yang berlebihan.
Bumi mengucap istighfar berkali-kali seraya memegangi dadanya. Merutuki kebodohannya, mengumpat diri sendiri yang begitu pandai berprasangka.
"Nah, gitu dong. Ini baru Bunda yang hebat." Akash semakin erat mendekapnya. Dia kembali menghujani kecupan pada wajah sang istri.
"Terima kasih, Sayang." Ucapan Akash tak mendapat jawaban, namun ia tahu suasana hati istrinya sudah berangsur baik. Terbukti dari senyumnya yang disertai binar bahagia dari matanya.
***
Bada zuhur keluarga kecil itu memutuskan untuk kembali ke rumah. Beruntung kejadian kemarin saat Bumi marah dan meninggalkan rumah ummi, tidak ada yang menyadarinya. Ia dan suaminya terbebas dari cecaran pertanyaan keluarga.
Bahkan ibu sendiri yang datang tadi pagi tak menanyakan hal apa pun. Artinya, tak ada yang curiga dengan kejadian kemarin.
Dalam perjalanan, Aro kembali mengamuk saat mendapati ibu menggendong Ara. Padahal Bumi sudah membawa putranya itu untuk duduk di depan bersamanya. Bumi kira Aro tak akan menengok ke belakang.
__ADS_1
Ayas menyerahkan Ara pada Eli, sebab Lina sedang memangku Akhza. Namun, Aro tetap marah dengan mengibaskan tangan dan meronta hendak menyerang Ara.
"Mas, nggak boleh gini. Kasihan Neng Ara harus duduk sama siapa kalau semua orang ngga boleh gendong?" akhirnya Bumi terpaksa menyentak Aro yang sudah sulit ia tenangkan. Batita itu sedang duduk menghadap ke arah bundanya.
Tak ada yang berani menyahuti Bumi, bahkan suaminya yang sedang menyetir pun tak berani melirik.
"Mas Ar sama uti dan Neng Ara sama Bunda, iya begitu?" Bumi memberikan pilihan. Ia tahu putranya itu cerdas dan dapat menangkap apa yang sedang dibicarakannya.
Aro diam, ia memilih menenggelamkan wajahnya pada dada Bundanya. Tangannya melingkar pada perut sang bunda.
"Udah, bobok, ya! ... maafin Bunda," Bumi mengusap-usap kepala Aro. Akash meliriknya sekilas. Dia sudah membayangkan akan menjadi seperti apa nanti bila anaknya itu sudah besar? akankah tetap manja seperti itu pada bundanya?
Jalanan lengang membuat perjalanan lancar. Awan sudah menghitam saat mereka sampai di rumah. Kafe terlihat semakin ramai. Celin dan kawan-kawan seperti biasa sudah berkumpul di gazebo bawah. Gadis itu sempat menghampiri Bumi dan menanyakan Ara. Namun, Ara segera dibawa masuk oleh Akash. Padahal, Vanya ingin sekali melihat anaknya itu.
"Bilang ke Vanya, maaf," ujar Bumi, merasa tak enak karena Akash tak pernah mengizinkan Vanya menemui Ara.
"Iya, Kak. Aku ngerti kok," sahut Celin.
"Nanti aku bicara lagi sama Kakak, dia sedikit keras. Tapi, mungkin lama-lama bisa ngerti," papar Bumi lalu segera pamit ke dalam rumah. Banyak yang harus ia lakukan termasuk pergi ke bidan untuk segera mengetahui kebenaran tentang kehamilannya.
Celin kembali ke gazebo, bicara pada Vanya bahwa Ara sedang tidur. Walau Vanya tahu Celin sedang berbohong. Vanya sadar, Akash memang terlihat tak suka dengannya. Tapi, ia bersyukur juga sebab Ara begitu sangat disayang oleh keluarga Bumi.
Walau bagaimanapun, Vanya tetaplah seorang ibu. Ada segurat rindu pada hatinya untuk sang buah hati. Namun, cita-cita dan nama baiknya di hadapan keluarga lebih penting dari sekedar rindu itu.
Dia yang selama sembilan bulan menutupi kehamilannya dari pihak keluarga dan juga sekolah, tak mau sampai ketahuan jika kini sudah memiliki anak.
Ingat betul bagaimana cara Celin membantunya menutupi kehamilannya. Meski tidak satu sekolah, tiap hari Celin dan Nazhia selalu membantunya. Beruntung dengan perawakan tubuh kecil, tak ada yang mengira bahwa Vanya sedang hamil. Mereka hanya mengira bahwa berat badan Vanya naik. Bahkan saat melahirkan, mereka sedang libur kenaikan kelas. Waktu yang cukup bagi Vanya untuk memulihkan keadaan.
__ADS_1
Kedua orang tua yang selalu sibuk di toko, membuatnya semakin leluasa bergerak dan menutupi kesalahannya. Sejauh ini, semua masih aman. Tak ada yang tahu kecuali teman-temannya.