
Suka nggak sih sama ceritanya? makasih banyak sih yang udah mampir baca. Komen dan votenya sih pengen banget sebenarnya, tapi Aku nggak maksa karena kutahu cerita yang kubuat receh banget. Udah pada mau baca juga Alhamdullillah banget.
******
Di bawah sinar lampu kristal baju dan rambut Rere tampak berkilau. Di ruang tamu rumahnya Dia duduk bersama Akash dan kedua orangtuanya. Untuk pertama kalinya Akash bersikap manis pada Rere. Setelah bicara ke sana kemari dan menanyakan bisnis Akash yang tentu saja semakin berkembang pesat, kedua orangtua itu pamit ke kamar. Menyisakan Akash dan Rere serta dua cangkir teh manis aroma melati.
"Udah nggak usah pura-pura, Gue tahu koq Lo akting aja kan depan orang tua Gue?" ucap Rere setelah memastikan orang tuanya benar-benar masuk ke dalam kamar.
"Nggak ada Gue pura-pura," jawab Akash seraya menyilangkan kedua kakinya.
"Lo tuh kenapa ganteng banget sih?"
Akash tidak menjawab, Dia hanya memalingkan wajahnya seraya mendelik.
"Nggak usah geer juga, Gue udah nggak suka sama Lo," ucap Rere yang langsung mendapat tatapan tajam dari Akash.
"Atau Lo yang udah mulai suka sama Gue?" tebak Rere seraya mendekatkan wajahnya ke hadapan Akash. Akash segera mendorong dahi Rere dengan telunjuknya.
"Gue lagi berusaha mengenal Lo dengan baik aja. Dan ternyata Lo nggak seburuk yang Gue kira."
"Orang tua Gue ngancem Loe lewat Laut?" selidik Rere dan hanya dijawab Akash dengan menautkan kedua alisnya.
"Cinta banget Lo sama Bumi?" baru akan dijawab Akash, Rere malah mengacungkan telunjuknya ke udara.
"Nggak usah dijawab Gue udah tahu."
Setelah bicara beberapa hal yang lebih banyak didominasi oleh Rere seputar masa lalu mereka, Akash akhirnya undur diri dari rumah calon istrinya itu. Rere mengantar Akash hingga ke halaman depan dan baru masuk kembali setelah Akash membawa motornya keluar gerbang rumahnya yang segera ditutup kembali oleh satpam
******
__ADS_1
Pagi sekali Bumi sudah mengetuk pintu kamar Kakaknya. Kepala sang Kaka menyembul dengan tatapan kesal.
"Masih pagi, dek. Baru aja beres shubuh."
Alih-alih menjawab Bumi malah menerobos masuk ke dalam dan menghampiri Ayesha yang masih bergemul di bawah selimut.
"Kak, punya pembalut nggak?" tanya Bumi yang tahu Ayesha sebenarnya tidak tidur.
"Ada, itu di laci meja rias." Ayesha mendudukan dirinya, wajahnya tetap cantik meski baru saja bangun tidur.
"Aku minta ya, punyaku habis."
Bumi segera menuju meja rias dan membuka laci lalu mengambil satu di antara banyak pembalut yang berada di sana. Baru saja membalikan badan dan hendak mengucap terimakasih pada Ayesha, matanya menangkap sosok Laut yang sedang mencium pipi istrinya.
"Ya Allah Kak, tahan dikit sampe Aku keluar kamar bisa kali?"
Laut hanya tersenyum sedangkan Ayesha sudah merona malu.
"Malu tahu sama adikmu," ucap Ayesha seraya mendorong dada suaminya lalu beranjak dari duduknya. Laut hanya menghela nafas, padahal tadi itu belum kena.
****
"Aawww...." pekik Bumi membuat Ayesha yang sedang memasangkan dasi suaminya berlarian menuju sumber suara. Bumi mengaduh seraya meniupi telapak tangannya yang terkena cipratan minyak panas.
"Kenapa Dek?" Ayesha panik. Laut yang terpaksa harus memakai sendiri dasinya ikut mendatangi Bumi.
"Kena minyak panas Kak, Aku mau goreng ayam." Bumi memperlihatkan telapak tangannya yang merah dan penuh minyak.
"Perih Kak, duuh...." Bumi meringis menahan panas dan perih. Laut segera menarik lengannya dan membawanya ke kran wastafel. Sepotong ayam yang sudah diungkep masih terendam minyak yang masih panas terlihat dari uap yang masih saja mengepul walau kompor telah dimatikan.
__ADS_1
"Lagian Kamu kenapa sih Dek, biasanya nggak seceroboh ini?" Laut terpaksa harus menggulung lengan kemejanga agar tak kena cipratan air.
Ayesha ikut mengusap-usap punggung Bumi memberi ketenangan. Bumi malah menangis. Selain rasa perih di tangannya, hatinya pun rasanya berdenyut.
"Barusan Aku lihat Kak Akash posting fhoto bareng Rere di feed Ig nya Kak."
Laut dan Ayesha tak menjawab hanya saling pandang. Sebenarnya Mereka sudah mengetahuinya lebih dulu. Bumi masih terisak, ternyata kucuran air tak sedikitpun menghilangkan panas di tangannya hilang.
"Udah deh, Kak. Panasnya juga nggak mau hilang. Nanti Bumi minta obat saja di rumah sakit." Bumi menarik tangannya yang sedari tadi dipegangi Laut. Tangisnya mulai mereda, Dia berjalan menuju kursi makan dan duduk di sana sambil meniupi telapak tangannya. Ayesha dan Laut menyusulnya walau bingung harua menghibur dengan cara apa.
Dalam foto yang diunggah Akash terlihat Akash dan Rere tersenyum lebar mengapit pengantin. Pengantin pria dalam foto tersebut terlihat sudah berumur sementara pengantin perempuan masih muda. Mungkin seusia Rere.
"Kakak hadir juga di pernikahan itu?" tanya Bumi sambil menunduk. Pasalnya Kakaknya juga mengunggah fotonua bersama pengantin tersebut pada story chatnya.
"Beliau rekan kerja Aku dan Rere, Namanya pak Riko dan istrinya Mika."
"Berarti kemarin pas Kakak jemput Kita itu baru pulang dari resepsi Mereka?"
"Iya, tapi Kakak sempet mampir ke restoran Akash bareng yang lain."
"Rere juga?"
Laut hanya mengangguk sebagai jawaban. Meski tahu betul untuk apa Akash menggugah foto dirinya bahkan membubuhkan emoticon love pada keterangannya. Laut sudah tahu kenapa Akash berbuat seperti ini. Akash ingin membuat Bumi kecewa dan perlahan membencinya. Akash terlalu takut jika karir Laut hancur jika dirinya masih bersikukuh mempertahankan perasaannya terhadap Bumi.
Situasinya kini sulit, bahkan bagi Laut sendiri. Dia tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan perasaan adiknya. Ancaman orang tua Rere terlalu bahaya.
Pagi itu acara sarapan hanya diisi dengan kebisuan di antara ketiganya. Laut memutuskan segera bersiap berangkat bekerja. Bumi masih di kursinya, telapak tangannya membengkak. Perih, kaku dan rasanya kebas. Beruntung yang terluka itu adalah tangan kirinya, Dia masih bisa melakukan aktifitas dengan tangan bagian kanan.
Sementara Ayesha mengantar Laut ke halaman rumah, Bumi kembali ke kamarnya. Kausnya yang putih terkena noda kuning dari ayam yang sampai sekarang masih dalam wajan terendam minyak. Urusan perut laparnya benar-benar terlupakan.
__ADS_1
Bumi kembali melihat foto yang menyesakkan dadanya itu. Akash memang tidak tersenyum, Dia memasang wajahnya datar. Bumi menggulirkan kembali ponselnya dan melihat galeri fotonya bersama Akash. Berbeda dengan foto tadi, foto Akash bersamanya selalu tersenyum walau tipis. Seketika perbedaan itu membuat Bumi menyimpulkan sesuatu yang membuatnya mengulas senyum. Dia menaruh ponselnya sembarangan di atas meja rias lalu berlalu ke kamar mandi. Dalam pikirannya hanya ingin menemui Akash dan meminta penjelasan.