Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
53


__ADS_3

"Buka pintunya!" perintah Akash yang tidak mendapat jawaban dari Bumi.


Bumi malah kembali masuk ke kamarnya, mengabaikan pria yang membawa bungkusan dan mengacung-acungkannya ke udara seolah memberi tahu dia membawa sesuatu untuknya.


Deringan panggilan dari ponsel mengganggu pendengarannya. Ingin mengabaikannya namun, benda pipih itu nyatanya tidak berhenti berdering. Bumi mengambil ponsel dari dalam lacinya. Lagi-lagi Nadia. Dengan malas Bumi menjawab panggilan itu. Bukan tidak suka pada Nadia, Dia hanya sedang kesal dengan Akash.


"Kak, bukain pintunya kata Kak Akash."


Suara di seberang sana begitu memekikan telinganya. Bumi tersenyum kecut, benar kan dugaannya gadis yang dilihat sekilas saja sudah menampakan bahwa memiliki nilai religi yang sangat tinggi itu menelponnya untuk meminta membukakan pintu.


"Nad, bilangin ke Kakakmu. Pulang aja sana, Aku nggak mau ada fitnah karena menerima tamu laki-laki saat rumah kosong." Bumi memberi alasan.


"Kak Akash bawa burger sama kopi kesukaan Kak Bumi,"


Bumi menggeram kesal, kenapa Nadia jadi ikut-ikutan keras kepala begitu?


"Bilang saja makan sendiri atau bisa dibawa pulang biar Mbak Nina yang makan. Udah ya, Nad. Assallamuallaikum."


Bumi memutus panggilan telpon bahkan saat Nadia belum menyelesaikan menjawab salamnya. Dibantingnya ponsel itu ke tengah kasur. Kenapa tidak rusak saja sekalian? begitu pikir Bumi. Dia kembali beranjak ke balkon mengendap, hendak mengintip keberadaan Akash. Namun, baru sampai di bibir pintu langkahnya terhenti demi mendengar deru mesin motor Akash yang meninggalkan rumahnya. Satu sisi perasaannya lega namun, di sisi lain sedikit kecewa.


"Jadi cuma segitu pengorbanannya?" Bumi tertawa untuk dirinya sendiri. Menepis pikirannya yang sempat berimajinasi tentang Akash yang tetap akan berdiam diri di teras rumah sampai Bumi membukakan pintu. Seperti drama-drama yang sering ia tonton. Wanita memang begitu, Dia sendiri yang menyuruhnya pergi namun saat benar-benar ditinggalkan malah kecewa.


****


Semalam hujan turun dengan derasnya. Bumi tidur membawa kegelisahan dalam dirinya. Berkali-kali berganti posisi tentu saja tanpa membuka mata. Jiwanya yang memang penakut seketika selalu menciut saat mendengar suara-suara aneh yang padahal ditimbulkan dari dedaunan yang bergesekan tertiup angin atau bahkan sekedar angin yang meniup lewat celah jendela membuat gordennya bergerak-gerak dan memberikan efek bayang-bayang pada dinding.


Akibatnya baru jam 03:00 Bumi dapat dengan benar melelapkan dirinya. Jiwa penakutnya sedikit luntur saat hujan mulai reda dan suara mengaji yang keluarkan dari tia mesjid di ujung perumahan mulai terdengar.


Shubuhnya hari itu kesiangan, pukul 05:21 Dia baru bangun, pontang panting mengambil wudhu dan dengan penuh penyesalan segera shalat. Mudah-mudahan malaikat masih berada di sekitarannya dan belum kembali ke langit, begitu katanya dalam hati.


Selesai shalat shubuh dengan penuh pemaksaan terhadap diri sendiri, Bumi dengan matanya yang lebih ingin kembali tertidur membaca surah Yasin. Ingat kata sang calon mertua yang gagal jadi mertua, membaca Yasin selepas shubuh salah satu faedahnya adalah menjadikan kita banyak dicintai oleh sesama manusia. Selebihnya Allah berikan perlindungan pada diri kita selama satu hari penuh. Yasin bisa jadi perisai diri kita. "Pantas saja Ummi banyak dicinta jemaah dan orang-orang di sekitarnya." Bumi bermonolog selepas melafadzak shadaqallahul adzim.


Kasur dan teman-temannya itu seolah mengajaknya kembali merajut mimpi. Tapi, Bumi menepuk-nepuk pipinya sendiri dan kembali bermonolog, lagi-lagi.

__ADS_1


"Tidur lagi hanya akan melanjutkan mimpi, mending kalau indah. Lebih baik bangun buat mengejar tukang bubur ayam di depan komplek misalnya. Enak kan, campur pakai telur puyuh dan usus beserta ati ampela."


Bumi menyambar handuk yang tersampir begitu saja di meja rias, bekas sore kemarin mandi. Perilaku joroknya memang susah berubah. Lebih tepatnya tidak berusaha diubah.


Di dalam kamar mandi setelah melewati perdebatan dengan dirinya sendiri, akhirnya Dia hanya menggosok gigi dan mencuci wajah dengan facial foam merek halal yang selalu Dia beli saat promo sedang berlangsung. Lumayan potongan harganya bisa sampai Rp. 7.000. Bisa untuk beli bakso malang tinggal tambah Rp. 3.000.


Bukan tanpa alasan Dia tak jadi mandi, sebab Sang Uti selalu melarangnya mandi jika malam tidurnya hanya sebentar. Nanti bisa masuk angin, begitu kata Uti. Entah mitos atau fakta atau malah hanya sekedar gosip. Tapi memang benar adanya. Pernah suatu kali Bumi menonton drama korea hingga pukul 02:00, Dia kembali bangun saat pukul 05:00 tapi bukan untuk sholat shubuh, sebab saat itu Dia masih di bawah pengaruh setan menyesatkan. Melainkan, akan mengantar Uti ke pasar. Sebelum pergi ke pasar Bumi terlebih dahulu mandi dan hal itu malah membuat Uti menggerutu sepanjang hari. Sebab, benar saja tubuh Bumi demam tinggi disertai muntah berkali-kali saat kembalinya dari pasar.


Mulai saat itu Bumi tidak pernah mandi jika hanya tidur sebentar pada malam harinya. Dia hanya akan mencuci ala kadarnya bagian tubuh yang sekiranya dapat mengeluarkan bau tak sedap. Parfum solusi keduanya.


Setelah mencuci beberapa bagian tubuh, bukan mandi. Bumi mengganti pakaiannya, tentu saja termasuk dalamannya. Dia sudah lengkap berpakaian. Mengenakan joger berwarna navy dengan kaus gombrong berwarna putih bergambar mario bross juga lengkap dengan jaket yang memiliki saku di bagian kanan kirinya. Dia masukan dompet ke saku kanan dan ponsel ke saku kiri.


Tapi, tunggu. Dia melupakan sesuatu. Tadi saat mencuci apa yang seharusnya dicuci dan menggosok apa yang seharusnya digosok. Dia lupa tidak buang air kecil. Itu artinya? Ah, shit. Dia mengumpat dalam hati tapi kemudian memukul bibirnya sendiri dan bergumam istighfar.


Langkah awal Dia kembali membuka jaketnya dan melemparnya sembarang ke atas meja rias. Masuk ke kamar mandi setelah mengambil dua lembar tisu pada kotaknya untuk mengelap sesuatu yang basah nanti.


Selesai kegiatannya yang sempat dilupakan itu Bumi segera keluar kamar dan melupakan sesuatu. Apa yang Dia lupa? tentu saja Dia tak ingat, namanya saja lupa.


Bumi membuka pintu, aman tidak ada hantu tanpa kepala yang semalaman Dia pikirkan sehingga membuatnya kesulitan tidur. Bumi mulai melangkah dan menutup kembali pintu. Tapi, tunggu sebentar. Ujung matanya menangkap sosok hitam-hitam sedang duduk seperti melakukan tahiyat akhir pada bagian shalat. Bumi memicingkan mata, diputarnya pelan tubuhnya dan sosok itu tertangkap oleh kedua kornea matanya.


Si jangkung bermata bulat dengan rahang tegas itu sedang menghadap kiblat, tanpa koko namun sarung hitam dan kaos hitam lengan pendeknya selalu saja mempesona saat dipandang.


"Aku perasaan udah bangun, atau jangan-jangan malah udah mati karena ketakutan semalam. Kenapa ada malaikat tampan di sini. Woy, siapapun tolong bangunin Aku!" Bumi bergumam seraya memukul wajahnya, sakit. Mencabut bulu tangannya perih dan bahkan mengaduh "awwwww."


Si jangkung bersarung dan berkaos hitam. Kulit putih dari tangan yang bertambah manis dengan jam mahal bertali hitam itu reflek menoleh setelah melafalkan do'a yang ujungnya berbunyi maa ataikha ibadakhas soolihiin.


"Kenapa, Dek?" tanyanya penuh kekhawatiran.


Bumi diam, dia ingat saat ini sedang kesal pada si tampan yang mencuri hatinya itu. Dia mengabaikan rasa khawatir yang ditunjukan oleh raut wajah Akash.


"Kenapa, Dek?" Akash mengulang pertanyaannga, kali ini tangannya hendak menyentuh pundak Bumi namun segera Bumi menjauhkan tubuhnya.


"Kamu lihat Aku kayak lihat hantu sih?" Akash sedikit tersinggung dengan sikap Bumi.

__ADS_1


"Ngapain sih di sini?" tanya itu keluar dari mulut Bumi dengan nada ketus.


"Nemenin calon istri lah, kasihan sendirian di rumah. Pasti nggak bisa tidur. Mana semalaman hujan. Dia takut hantu kepala buntung soalnya," ucap Akash panjang lebar dan diakhiri tawa kecil.


Bumi mengepalkan tangannya, kesal pikirannya bisa ditebak oleh Akash. Kenapa Dia berfikir semalam Akash memang pulang. Kalau tahu ada Akash tidurnya tidak harus segelisah semalam kan?


"Ih itu mulut kalau bicara, calon istri Kamu itu Andrea bukan Bumi Hansa." Bumi mendengus kesal. Segera membalikkan badan dan berjalan menghentak-hentakan kaki membuka gembok pada gerbang.


"Mau ke mana?"


"Beli bubur," jawaban Bumi masih ketus. Sebelum membuka gerbangnya Bumi menyimpan kembali kunci ke dalam rumah. Diletakan begitu saja di atas kursi dengan cara melemparnya.


"Aku ikut, ya?" pinta Akash saat Bumi sudah kembalu ke hadapannya. Wajahnya masih dalam mode judes.


"Ikut tinggal jalan kaki kan?" Bumi menatap sinis pria yang justru senyum manis padanya.


Akash hanya menggeleng mengikuti langkah Bumi yang tergesa-gesa. Dia berusaha mensejajarkan langkah, namun Bumi sepertinya enggan berdekatan. Dia berlari kecil saat tiba-tiba Akash sudah ada di sampingnya. Akash kembali melebarkan langkahnya dan dengan kaki panjangnya sangat mudah menyusul lari kecil Bumi.


Keduanya terus seperti itu, kejar-kejaran hingga sampai pada tempat tujuan. Gerobak bubur yang masih nangkring membuat Bumi mengembangkan senyuman. Dia segera memesan bubur yang topingnya sudah sangat dihafal oleh sang penjual.


"Aku juga mau," ucap Akash memasang wajah memelas.


"Punya mulut kan? pesan sendiri!"


Bumi berlalu, mengambil kursi plastik berwarna merah yang bolong di tengahnya. Entah apa fungsi bolongan di tengah pada kursi tersebut. Bahu sang penjual yang memakai topi koboi dan sepatu boot itu naik turun seirama meracik bubur sang pemesan yang kala itu hanya ada Bumi dan Akash.


Akash melakukan hal yang sama seperti Bumi, duduk di kursi plastik itu.


"Jangan dekat-dekat!" teriak Bumi saat Akash akan mendudukan bokongnya. Reflek Dia kembali berdiri dan menggeser kursinya agak menjauh.


"Jangan galak-galak, nggak pantes!"


"Terus pantesnya gimana? Kamu juga kalau bicara suka nggak pantas. Bikin melayang hati orang sembarangan. Emang kayak gitu pantas?"

__ADS_1


__ADS_2