Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
24


__ADS_3

Hening. Bumi melepaskan sendok dalam genggamannya. Sang Mama pamit membiarkan keduanya bicara empat mata saja.


"Aku tahu Kamu sedih, mata Kamu tidak bisa berbohong," ucap Akash.


"Aku sudah melampiaskan kesedihanku semalaman, Aku mau hari-hari berikutnya sudah melupakan semuanya."


Bumi melemparkan pandangan ke mana saja asal tidak bertukar pandang dengan lelaki yang duduk di hadapannya.


"Itu tidak adil!"


"Sudahlah Kak, jangan mempersulit keadaan. Kita masih bisa berteman."


"Kita saling mencintai, Kita bisa bersama!" seru Akash.


Bumi melipat bibirnya, pandangannya tertuju pada ikan hias yang Sang Mama taruh di aquarium kecil di sudut ruang makan. Rasanya ingin jadi ikan saja.


"Tidak semudah itu,"


"Mudah, asal Kita saling mencintai pasti bisa hidup bersama."


"Bukan hanya perkara Kita saling mencintai yang membuat Kita bisa bersama. Romeo dan Juliet saja yang saling mencintai tidak bisa hidup bersama dan memilih mengakhiri hidup," ucap Bumi melirik sebentar pada Akash. Tampan.


"Ya sudah gimana kalau kita melakukan hal sama seperti Romeo dan Juliet?" usul Akash asal.


Bumi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Perkara cinta memang terkadang membuat seseorang menjadi bodoh.


"Lebih baik Kakak pulang, sudah tidak ada yang perlu dibicarakan. Kita harus saling melepaskan. Terimakasih."


Bumi menggeser kursi yang Dia duduki lalu beranjak meninggalkan ruang makan menuju kamarnya. Tidak peduli pada Akash yang memanggilnya berkali-kali.


"Jangan buat Bumi bingung, Kash. Turuti saja keinginan keluargamu. Mama yakin jika Kalian ditakdirkan bersama ada cara lain yang sudah Allah siapkan agar Kalian bersatu," Ayas kembali setelah Bumi meninggalkan Akash.


"Maafkan Saya, Mam. Saya terlalu egois dan memaksa Bumi bertahan. Kalau begitu Saya permisi."


Setelah mengucap salam Akash meninggalkan rumah itu. Dalam pikirannya Dia ingin menemui Rere dan membuat kesepakatan. Jika perlu Dia akan berlutut agar Rere mau membatalkan pernikahan ini.


*****


Rencana awal ingin menemui Rere saat itu juga Akash urungkan. Dia paham betul Rere bukanlah orang yang bisa diajak bicara saat jam kerja. Akash harus lebih bersabar menunggu hingga sore hari.


Dia kembali ke restoran, menyapa para pekerja lalu akhirnya masuk ke ruang pribadinya. Di samping restorannya pembangunan rumah hunian sudah rampung sehari yang lalu. Rumah sederhana yang Dia impikan untuk ditinggali bersama Bumi.


Akash membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang. Matanya menerawang ke langit-langit. Kisah hidupnya nyaris sempurna andai menikahi Bumi semudah membalikkan telapan tangan.


Diraihnya ponsel dalam saku celana hitamnya. Mengetik sebuah pesan dan mengirimnya pada kontak yang dinamai Bukan Jodoh Gue


/Re, Gue perlu ngobrol/


Pesan langsung dibaca, sang penerima mulai mengetik balasan.


/Nanti malam Aku ke restoran bareng anak-anak/


Setelah sekilas membaca pesan Bukan Jodoh Gue nya Akash memilih memejamkan mata. Membawa segala kekecewaannya terhadap Sang Kakak yang begitu ngotot menjodohkannya.


****


Setelah kejadian di pasar malam itu hubungan Aldric dan Rere semakin intens. Aldric nyatanya bisa selalu membuay Rere tertawa walau hanya berbalas pesan. Seperti biasa saat jam istirahat kerja Rere selalu mengajak Laut, Aldric dan Damar untuk makan bersama di ruangannya. Pada dasarnya Rere adalah teman yang baik dan royal. Dia hanya tidak memiliki kehangatan dalam keluarga. Kedua orangtuanya memiliki usaha di mana-mana. Sehingga Rere kecil hanya tumbuh ditemani oleh sang pengasuh dan Sang Nenek.


"Kita nanti malam ke restoran calon suami Gue," ucap Rere setelah makan siang Mereka selesai.


"Masih aja ngangep Dia calon suami?" tanya Aldric. Entahlah hatinya terasa sakit mendengar kata calon suami dari mulut Rere.


"Gue paling nggak suka membagi milik Gue, apalagi itu cuma satu-satunya."


Laut sedikit kegerahan mendengar kalimat Rere. Bagaimanapun Bumi adalah adiknya, walaupun sudah hampir merusak pernikahan sahabatnya itu.


"Gue udah peringatkan Bumi, Koq. Lo tinggal yakinin aja Akash buat ngejauhin Bumi." Laut meyakinkan Rere agar tidak perlu takut.


"Ok, Gue percaya sama Lo. Kita berlima sahabatan udah dari SMA. Gue nggak mau persahabatan Kita rusak gara-gara hal sepele." Ucap Rere tersenyum penuh arti.


Tidak ada yang menjawab, Mereka sudah paham sifat Rere yang selalu ingin di atas angin. Selain karena cantik dan royal Rere punya apalagi? Sahabatnya hanya Mereka berempat. Tidak pernah memiliki teman sesama wanita. Karena hanya ingin menjadi yang paling cantik, itu alasannya.


Bumi kembali masuk di shift dua minggu ini. Matanya sudah tidak sembab dengan senyum tipis menghias wajahya. Langkah dari kaki yang terbalut sepatu sneaker putih itu amat ringan. Berjalan menapakii paving block perumahan. Menyapa satpam yang sedang berjaga di pos pintu masuk.


Siang itu matahari sedang terik, Bumi menutupi kepala dengan tas ranselnya saat menunggu angkot. Beruntung hanya beberapa menit angkot yang ditunggu sudah datang. Duduk di kursi depan selalu jadi tujuan utamanya.


Setelah pertemuan dengan Akash tadi pagi, Bumi memilih untuk melepaskan kiblat cintanya itu. Dia sudah berdamai dengan hatinya. Tidak akan terlalu memaksakan untuk melupakan. Biarkan waktu yang akan menjadi sebaik-baiknya penawar luka saat ini.

__ADS_1


Tiba di rumah sakit Dia bertemu dengan Nenek yang tempo hari sempat Dia ajak nonton drama Korea bersama. Sang Nenek baru saja turun dari mobil. Kursi rodanya didorong seorang perawat pribadi memakai seragam khusus. Seragamnya lucu, persis seperti yang ada di telenovela Rosalinda jaman dulu.


"Assallamualaikum, Nek."


Sang Nenek menyipitkan matanya, berusaha mengingat Bumi.


"Gadis Korea?"


Bumi tertawa lalu mencium punggung tangan Sang Nenek dan memeluknya sebentar.


"Namaku Bumi, Aku senang bisa bertemu dengan Nenek."


Sang Nenek tertawa. Menepuk-nepuk pipi Bumi yang berjongkok di hadapannya.


"Nenek mau chek up? mau ke lantai berapa? Ayok ke dalam bersama?" kebiasaan Bumi adalah menodong seseorang dengan berbagai pertanyaan.


Bumi berjalan beriringan dengan sang perawat yang mendorong kursi roda Nenek yang baru diketahui bernama Karina saat Bumi sekilas membaca kartu berobat yang dipegang sang perawat.


Bumi dan Nenek Karina berpisah di lantai 2. Sebelum pamit Bumi sempat dikenalkan dengan dokter Guntur. Ternyata benar wajahnya mirip sekali dengan pemain drama korea manusia rubah itu. Bumi tak sempat mengobrol hanya saling sapa dan menyebutkan nama.


Tugas menjadi perawat selalu dikerjakan dengan riang dan tulus oleh Bumi. Dia tak segan mengajak bergurau setiap pasien dan memberikan motivasi. Seperti kali ini, sebetulnya shiftnya sudah berakhir. Tapi, anak seorang pasien anak kecil yang terus merajuk tidak ingin minum obat karena Ibunya tidak ada.


Pasien itu bernama Qila. Gadis cantik berusia delapan tahun dengan gigi ompong. Rambut hitamnya yang panjang dikepang dua dengan poni tipis di depan. Dia yang hanya dijaga oleh Sang Nenek menangis histeris menanyakan keberadaan Ibunya yang belum kembali bekerja.


Bumi berinisiatif untuk membujuk Qila, bahkan dokter Guntur sampai ikut turun tangan. Bumi membiarkan Ayesha dan Lila pulang terlebih dahulu.


"Kita diminta ke restoran Akash oleh Laut," ucap Ayesha yang sebenarnya tidak setuju Bumi ikut campur mengurusi pasien di luar jam kerjanya.


Bumi tetap pada pendiriannya. Lagipula Dia sedang tidak ingin bertemu dengan Akash apalagi Rere. Bumi harus membuat batasan. Cepat atau lambat harua menjauh dari Akash. Ayesha dan Lila tidak berhasil membujuk Bumi, Mereka memilih pergi saja.


"Aduuh Qila sayang, Qila koq cantik sih?" Bumi berusaha membujuk Qila dengan mengusap kepalanya. Qila masih enggan menanggapi. Masih meraung sambil memeluk boneka teddy bearnya.


"Qila tadi itu Ibunya Qila telpon sama Aku, katanya nanti kalau datang ke sini mau bawa makanan kesukaan Qila. Tapi Qilanya harus minum obat ya?" pantang menyerah.


Qila masih menggeleng. Nenek Qila duduk di tepi ranjang tanpa berkata apa-apa memandang iba cucunya. Sementara dokter Guntur hanya tersenyum melihat Bumi yang terus membujuk.


"Qila, kalau Kita sakit itu kan makanan yang enak pun tidak ada rasanya. Jadi, Qila harus minum obat biar cepat sehat." Kali ini Bumi sampai menggerak-gerakkan tangannya.


Qila mulai merasa terhibur, selain bicaranya yang lembut Bumi juga memperagakan tangannya saat berbicara.


"Qila minum obat, ya?"


"Tapi obatnya pahit, Kak!"


Bumi sejenak berfikir, otak ganjennya tiba-tiba bereaksi.


"Qila lihat tidak dokter itu?" Bumi menunjuk pada dokter Guntur yang sedang berdiri dengan memasukkan kedua tangan dalam saku jas kerjanya. Dokter Guntur tersenyum memperlihatkan lesung di pipi kirinya.


Qila mengangguk dan melengkungkan senyum kecil di bibirnya.


"Dokternya tampan tidak?" tanya Bumi sedikit berbisik. Qila mengamati wajah dokter Guntur yang masih tersenyum dan sedang berjalan mendekati dirinya.


Qila mengangguk. Bumi membuang nafas lega, umpannya sudah ditangkap Qila.


"Qila minum obatnya sambil lihat wajah dokternya. Insha Allah tidak akan pahit," ucap Bumi segera menuangkan obat puyer pada sendok.


"Ayok, Qila minum obat disuapi Kakak perawat dan dokter temani Qila duduk ya?" Bumi mengkode dokter Guntur dengan kedipan mata agar segera duduk.


"Iya, Qila mau minum obat."


Akhirnya obat itu lolos masuk ditelan Qila. Walaupun protes karena pahit tapi dengan segera Bumi memberinya air minum untuk menetralisirnya.


Setelah bergurau sedikit dan membuat Qila tenang Bumi dan Dokter Guntur meninggalkan ruangan itu.


"Trik Kamu sebetulnya tidak pantas untuk anak sesusia Qila, tapi perlu diapresiasi."


Pujian meluncur dari Dokter Guntur untuk Bumi. Mereka sedang berjalan beriringan di koridor rumah sakit. Bumi hanya tertawa kecil. Hampir 30 menit Mereka merayu Qila yang merajuk.


"Saya traktir kopi di restoran seberang, jangan menolak!" ajakan bernada ancaman itu terpaksa diiyakan oleh Bumi. Tanpa berganti seragam, Bumi dan Dokter Guntur langsung menuju restoran.


*****


Sementara itu di ruang pribadinya, Akash dan Rere sedang berbincang serius.


"Pokoknya Gue mau Lo batalin pernikahan ini!"


"Aku nggak mau, Aku bisa dibunuh oleh orangtuaku jika melakukannya. Sudahlah, suatu saat Kita bisa saling mencintai. Bukalah sedikit hatimu," jawaban Rere membuat Akash semakin frustasi.

__ADS_1


"Tapi Gue...." belum sempat kalimatnya tuntas, Rere sudah memotong.


"Kamu nggak cinta sama Aku? itu bukan alasan Kash. Berhenti membuat keadaan semakin rumit!"


"Coba dulu, telpon Orangtua Lo!" Akash tak mau kalah.


Rere mengalah, Dia segera melakukan panggilan pada orangtuanya. Lima kali berdering baru panggilannya dijawab.


Hallo, kenapa Re?


Pa, to the point nih. Aku mau membatalkan pernikahan ini.


Jangan gila Kamu! kalau masalahnya karena anak mantan supirnya keluarga Ummi, urua saja sendiri. Bukankah Kakaknya bekerja di perusahaan Kamu.


Tuutt


Panggilan dimatikan secara sepihak. Rere hanya mendengus kesal.


"Dengar sendiri kan? lagipula Orangtua Aku sedang di luar negeri. Pernikahan juga sekitar dua bulan lagi. Kamu masih bisa jika ingin bermain-main dulu dengan Bumi," ucap Rere meninggalkan Akash dan bergabung bersama teman-temannya.


Rere langsung duduk di sebelah Aldric, menenggak habis kopi dalam cangkir. Tenggorokkannya sangat sakit. Tak lama Akash menyusul, melihat satu-satu wajah temannya namun tak ada sosok Bumi di sana.


"Loe cari Bumi?" tanya Damar


Akash tak menjawab. Menarik kursi di sebelah Laut dan duduk menyilangkan kedua kakinya.


"Bumi masih tugas, tadi Aku sudah menyuruhnya menyusul." Ayesha memberikan penjelasan agar Akash bisa tahu tanpa harus bertanya.


Sementara itu Bumi dan Dokter Guntur sudah memasuki wilayah restoran. Atas kesepakatan bersama Mereka menuju lantai dua dan berjalan bersisian sambil mengobrol ringan dan sesekali tertawa.


"Ooh jadi Nenek itu namanya Karina, fans garis kerasnya Pak Dokter ya?" Bumi menggoda Dokter Guntur.


"Yang penting beliau senang". Jawab dokter Guntur.


Mereka tiba di lantai dua, menyapukan pandangan mencari tempat duduk kosong.


"Bumi!" teriak Ayesha melambaikan tangan. Bumi tersenyum lalu melangkah diikuti Dokter Guntur.


"Haii, semuanya" Bumi menyapa. Diikuti dokter Guntur yang tersenyum mengangguk.


"Kalian koq bisa barengan?" tanya Ayesha menyelidik.


Bumi tak menjawab hanya saling melempar pandang dengan dokter Guntur dan saling tertawa. Akash sangat kesal melihatnya. Lain dengan Rere, Dia merasa senang. Akhirnya Bumi bisa dekat dengan pria lain. Setelah mengenalkan Dokter Guntur pada teman-temannya, Bumi mengajak Dokter itu duduk di meja terpisah.


Bumi tidak ingin Dokter Guntur canggung. Benar saja, Dokter Guntur tidak keberatan saat Bumi mengajaknya ke meja lain.


"Kamu sering ke sini?" tanya Dokter Guntur.


"Jarang sih, kalau Dokter?" Bumi balik bertanya.


"Baru kali ini, Saya seringnya take away makan siang dari sini. Masakkannya enak," puji Dokter Guntur.


"Tapi mahal, ya dok?" Bumi sedikit memelankan suaranya. Dokter Guntur menyambutnya dengan tawa.


"Kamu kenal juga dengan Rere?" tanya Dokter Guntur, memandang sekilas Rere yang sedang tertawa di meja lain.


"Iya, Dia teman Kakak saya" Bumi ikut memandang sekilas.


"Tahu nggak Dia siapa?"


Bumi mengerutkan kening dan menggeleng.


"Dia itu cucu nya Nenek Karina!"


Sedikit kaget dengan ucapan Dokter Guntur.


"Pantas saja, ada sedikit kemiripan." gumam Bumi.


"Sama-sama angkuh ya?" tebak Dokter Guntur yang diangguki Bumi lalu keduanya tertawa.


"Dokter tega bicara seperti itu," ucap Bumi menghentikan tawanya.


"Tapi Kamu juga ikut tertawa, kan? Kita sama saja."


Keduanya kembali tertawa dan seorang pelayan datang membawa pesanan.


Sementara itu Akash yang terus memperhatikan gerak-gerik keduanya merasa sangat kesal. Rasanya sakit hati sekali melihat Bumi tertawa bersama orang lain.

__ADS_1


__ADS_2