
Penasehat Ming terlihat berpakaian lain kali ini, tidak ada mahkota apapun di kepalanya, hanya perhiasan sederhana menghiasi rambutnya, sebuah jubah berwarna gelap membuat nya memancarkan aura elegan dari semua sudut. wanita itu menarik nafasnya dalam-dalam dan meraba dinding tebing yang terjal, beberapa berlian sebesar tahi lalat di punggung nya mulai bercahaya dan terhubung satu sama lain membentuk beberapa pola rasi bintang.
Batu-batu itu seperti merapat satu sama lain, mengeluarkan debu dari celah-celah nya, dari jauh terlihat gerakan batu membentuk sebuah gerbang setinggi empat meter, dan beberapa simbol muncul salah satu nya mirip simbol di sudut pipi Zhi Yuan.
prakkkkk....
praakkkk
praakkkk....
Terdengar seperti suara bebatuan yang remuk,
Dan dinding batu terjal itu terlihat seperti di lapisi air dan wanita itu masuk, dan tidak beberapa lama air itu lenyap dan kembali seperti sebelum menjadi dinding batu terjal.
Penasehat Ming berdiri di sebuah jalan selebar empat meter yang membelah sebuah desa kecil, jalan itu terlihat begitu bersih dan jalan itu begitu lurus, tampak di ujung jauh jalan itu berbelok dan berliku-liku menuju sebuah bukit kecil, dan di atas bukit itu terdapat sebuah istana, dan di belakang nya berdiri dengan megah sebuah pagoda begitu besar dan memiliki dua puluh satu tingkat.
Penasehat Ming menelan ludah nya menatap pagoda itu beberapa prajurit yang berjaga di depan gerbang itu membungkuk ke arah nya.
"Ini sudah begitu lama, jika ada orang tanpa takdir maka orang itu berasal dari tempat ini," batin Penasehat Ming dan melangkah pelan menikmati suasana pedesaan yang begitu lengang, hanya beberapa orang terlihat melakukan rutinitas nya.
beberapa prajurit dari istana itu mengantar Penasehat Ming ke halaman belakang istana itu, dan wanita itu berlutut menyentuhkan kening nya di lantai bata. Seorang pria tampan sedang menyulam sebuah kain duduk di sebuah gazebo beratap indah dan di hadapan nya hamparan ladang padi yang terlihat hijau dan berpetak-petak.
Beberapa wanita cantik dengan wajah begitu tegang menyisir rambutnya panjang berwarna perak dari pria itu, dan mengikat nya begitu hati-hati, tidak ada yang tahu pasti berapa usianya, namun tubuh dan wajahnya menunjukkan usia sekitar 25 tahun, dan pria itu menghentikan sulaman nya, dan menatap ke arah penasehat Ming dengan mata setengah terpejam dan tersenyum begitu riang seperti seorang bocah kecil.
"Bibi Ming, kau sudah datang," ucap pria itu dengan suara riang.
"Yang Mulia.... semoga panjang umur," ucap Penasehat Ming suara basah nya terdengar seperti begitu tertekan.
Jemari pria berambut perak itu bergerak seperti isyarat dan para wanita itu menuangkan teh ke cawan yang ada di meja pemuda itu, pemuda itu mulai memainkan kecapi yang ada di depan nya.
"Yang Mulia? apa bibi yakin?" tanya pemuda itu sambil memainkan kecapi.
Penasehat Ming menganggukkan kepalanya sambil terpejam, wajah riang remaja itu berubah menjadi begitu dingin dan mengerikan.
ilustrasi penguasa klan Munzhi.
"Traannnggggg..." suara senar kecapi di petik secara bersamaan membuat Penasehat Ming begitu terkejut, dan sebuah gelombang energi begitu besar dan melesat ke arah pintu gerbang menuju pagoda bertingkat dua puluh satu itu,
Lantai batu bata hancur menjadi puing kecil, berhamburan berputar mengikuti energi itu menuju gerbang terbuat dari batu tua, namun energi besar itu begitu menyentuh gerbang tua itu langsung lenyap bahkan rumput kering di gerbang itu tidak bergoyang sedikit pun juga, namun sesaat setelah energi besar itu hilang, sebuah batu bata terlepas karena terinjak seekor burung.
__ADS_1
"Jika aku penguasa dari tempat ini, bagaimana bisa kekuatan ku tidak mampu menyentuh gerbang reot itu?" ucap pemuda itu
Penasehat wanita itu berlutut tidak berani menatap wajah pria berambut perak itu.
"Yang Mulia... aku mohon jangan, tempat itu tidak bisa di sentuh oleh dewa sekalipun," ucap Penasehat Ming.
Pria berambut perak itu menghentikan permainan kecapi nya dan turun dari balai di gazebo itu dan berdiri mendekati penasehat Ming,
"Berdirilah bibi Ming, apa ada kabar dari adik bungsuku?" tanya pria berambut perak itu.
"Yang Mulia... bukankah dedengkot tua sudah membunuh nya sejak di lahir kan dulu," ucap Penasehat Ming, dan masih berlutut.
Pria berambut perak itu mengepalkan tangan nya,
"Jika saja kau bukan bibi favoritku mungkin kau sudah mati saat ini, aku dengar istana Giok sudah memiliki penerus nya saat ini?" tanya pria berambut perak itu.
Penasehat Ming hanya mengangguk,
"Itu benar Yang Mulia," ucap Penasehat Ming.
"Dan aku juga dengar jika dia begitu cantik, bahkan yang tercantik dari semua pendahulu nya," ucap Pria berambut perak itu.
Wajah Penasehat Ming menjadi pucat pasi menebak arah pembicaraan pria itu.
Pria berambut perak itu hanya tersenyum, jika pagoda itu itu tidak ku sentuh, mungkin aku sedikit terhibur jika menyentuh wanita tercantik itu," ucap pria berambut perak itu.
"Yang Mu-lia..." ucapan Penasehat Ming terhenti.
"Sudahlah bibi Ming aku tahu jawaban mu, ini akan merusak tatanan keharmonisan, baiklah... kau tidak hanya ingin mengunjungi ku saja bukan? pergilah," ucap pria tampan itu.
****
Penasehat Ming sudah berada di sebuah halaman rumah sangat sederhana, seorang pria begitu tua duduk menatap petani yang merawat tanaman padi, Penasehat Ming memberi salam kepada pria tua itu.
"Lama tidak berjumpa," ucap Penasehat Ming, namun pria itu hanya terdiam dan masih menatap para petani itu.
"Ini seperti melepaskan anak singa di antara gerombolan anjing hutan," ucap pria tua itu mengelus jenggot panjang nya.
"Hahaha... Ming Lan lihat lah petani itu mereka merawat nya dengan begitu baik, tapi padi itu akan tetap berwarna hijau meski sudah di panen selama puluhan tahun, aku sudah memandang nya selama hampir 60 tahun tanpa berkedip," ucap Tetua itu.
"Adik Zhou, aku tidak datang untuk padi-padi bodoh mu itu, dan berhenti memanggil namaku! kau lebih kecil dariku," ucap Penasehat Ming begitu putus asa akan tekanan yang di terima nya dari semua orang belakangan ini, dan sedikit kesal di panggil namanya oleh pria yang usia sebenarnya lebih kecil dari nya meski hanya berbeda beberapa tahun.
__ADS_1
"Kau terlihat begitu cantik dan muda, meski usiaku lebih muda tapi aku terlihat seperti kakek mu, jadi biasakanlah," ucap Tetua Zhou Ming.
"Cukup, aku masih ingat bocah nakal yang selalu mencoba membakar rambut ku dulu," ucap Penasehat Ming.
"Hahaha... aahhh Ming Lan, kau masih saja mengingat nya," pria tua itu menarik nafasnya dalam-dalam namun wajahnya tidak bergerak sama sekali, dan kembali bicara.
"tapi... apa kau benar-benar menginginkan kemampuan meramal mu itu?" tanya Zhou Ming, dan tidak menatap Penasehat Ming.
"Tentu saja, aku terlahir sebagai seorang peramal," ucap Penasehat Ming.
"Ini sangat membingungkan, karena sekarang kau begitu menginginkan nya, tetapi kelak kau akan begitu ingin melepaskan nya," ucap Zhou Ming.
Penasehat Ming menatap lekat-lekat wajah adik nya, dan bicara dengan pelan dan penuh tekanan.
"Hentikan!!! berhenti membaca masa depan ku!" teriak Penasehat Ming dan dengan cepat mengeluarkan energi pelindung di sekitar tubuh nya.
"Kau terlihat marah, jika kau ingin bertemu dengan manusia tanpa takdir bukan disini," ucap Tetua Zhou Ming.
"Dimana aku bisa menemui nya?" tanya Penasehat Ming.
"hahaha... orang yang tidak memiliki takdir, tidak akan bisa kita temui dengan meramal, karena dia tidak di takdir berada di suatu tempat yang pasti," ucap Tetua Zhou Ming.
Penasehat Ming mengeretakkan giginya hilang kesabarannya,
"Dedengkot tua kau jangan berputar-putar," teriak Penasehat Ming.
"Ming Lan apa kau melihat petani berpakaian merah itu?" tanya Zhou Ming.
Penasehat Ming menggeleng, membuat Tetua Zhou Ming tersenyum.
"Tentu saja tidak, karena mata mu hanya melihat padi yang menutupi nya, tutup matamu dan gunakan hidung mu, maka kau akan bisa mencium aroma nya, hidung mu bisa mengantar mu menemukan dengan tepat dimana orang berbaju merah itu berada," ucap Tetua Zhou Ming.
Penasehat Ming memainkan bola matanya,
"Aku mengerti, aku akan pergi," ucap Penasehat Ming
pria itu masih tidak memindahkan matanya dari para petani itu sedetik pun, dan hanya mengangguk
"Kakak ku begitu bodoh karena memang tidak ada petani berbaju merah itu, aahhhh.... ini seperti melepaskan anak singa di gerombolan anjing hutan," ucap Zhou Ming
__ADS_1
ilustrasi Zhou Ming, atau dedengkot tua ( ini seperti melepaskan anak singa di gerombolan anjing hutan,Ch 1")