
Wanita itu hanya terdiam sesaat, sorot mata nya yang seperti sudah melewati begitu banyak pengalaman, menerawang melewati era jutaan tahun yang sudah dilalui nya.
"Dahulu di alam ini tumbuh sebuah teratai yang begitu besar, akar nya menyentuh neraka, dan bunga nya memuliakan surga, dan dia adalah Teratai Emas, semua bahagia dengan teratai ini, naga neraka menghisap akar bunga membuat nya kuat dan kekar, daun nya memberikan kesuburan di setiap kehidupan di alam tengah, dan bunga nya memanjakan naga langit, sampai suatu ketika, keserakahan menguasai masing-masing naga, yang menginginkan hal atas teratai itu seutuhnya, mereka bertarung di alam tengah, dan menghancurkan setiap kehidupan di bumi, membuat Sang Suci turun tangan. Dan aku terlahir menjadi Dewi Teratai Emas, dengan nama Dewi Zhang Ziyi, namun aku melakukan kesalahan, meski tubuh ku tidak seindah Dewi mimpi, namun kecantikan ku tidak tertandingi, membuat ku sombong, tanpa sadar aku menertawakan seorang Dewa suci yang berpenampilan buruk, dan Dewa itu mengutuk ku terlempar di alam tengah memberiku ilusi mahluk mengerikan dengan luka busuk tidak tersembuhkan, aku akan kembali ke alam langit saat luka ku ini sembuh, dan kau adalah pemilik jiwa murni yang menyembuhkan ku, seiring waktu berkat ramuan mu, ilusi mengerikan itu mulai samar, dan aku kembali ke wujud semula, mulai saat itu aku menutup seluruh tubuh ku," cerita Dewi Zhang Ziyi berhenti.
"Aku memiliki jiwa murni?" gumam Zhi Yuan.
Dewi Zhang Ziyi tersenyum, menatap dalam-dalam Zhi Yuan.
"Benar, awalnya aku berpikir jika jiwa murni di miliki oleh salah satu Biksu suci di Kuil Teratai Emas, tapi tidak, jiwa murni hanya terdapat pada bayi, mereka tidak terikat pada apapun, benci, cinta dan hal manusiawi lain nya, bahkan para Biksu di tempat ini masih terikat kepada kebenaran, mereka mengejar kemuliaan untuk mendapat tempat yang dianggap mereka suci kelak," ucapan Dewi Zhang terhenti.
"krooowwwkkk....." terdengar suara dari lambung Zhi Yuan, membuat Dewi Zhang Ziyi membuang wajah nya sambil tersenyum tipis.
"Tetua itu bukan aku," ucap Zhi Yuan begitu cepat, dengan wajah bersemu merah, rasa malu membuat perih di dua huruf segel nya.
"Jika bukan kau, artinya suara itu dari perut ku bukan? apa saat ini kau sedang menuduh ku?" tanya Dewi Zhang.
__ADS_1
"Te-tua aku... aku tidak..." ucapan Zhi Yuan terhenti saat Dewi Zhang tertawa kecil, barisan gigi kecil panjang yang putih dan bersih membuat senyum itu membius Zhi Yuan.
"hihi.... aku tidak akan bertengkar dengan mu karena masalah ini Yuan'er, baiklah... seperti nya kau bosan, bagaimana jika kita mencari tempat makan, ratusan ribu tahun aku tidak pernah benar-benar makan," ucap Dewi Zhang.
Dewi Zhang Ziyi berdiri, untuk mengenakan jubahnya, tubuhnya terlihat begitu tinggi pakaian depan nya terlihat ketat, dua gunung nya seperti tertekan, membuat nya sedikit menonjol ke atas dan terlihat menjadi semakin besar, bahu nya yang kecil tertarik kebelakang, pinggang nya begitu ramping melengkung ke depan dan pinggul yang lebar membuat Zhi Yuan kembali merasakan perih di kedua huruf suci nya.
Dewi Zhang Ziyi sedikit mengerutkan keningnya menatap penampilan,
"Petir di tubuh nya bereaksi? apa pemuda ini sedang terang*sang melihat tubuhku?" batin Dewi Zhang Ziyi sedikit kesal, dan merapikan jubah nya agar lebih tertutup.
"Makan lah Yuan'er," ucap Dewi Zhang.
"Baik," ucap Zhi Yuan dan mulai makan seperti orang kelaparan, pipinya menggelembung di penuhi makanan, bahkan terlihat ujung sayuran di luar bibir nya karena penuh.
Dewi Zhang hanya mendengus sambil menghembuskan nafas panjang nya.
__ADS_1
"Apa kau tidak pernah belajar tentang etika saat makan?" Dewi Zhang memejamkan matanya seperti mengucap hal yang salah.
"Sudah lah, kau tidak diciptakan untuk hal-hal mengesankan seperti itu," ucap Dewi Zhang Ziyi.
Zhi Yuan menghentikan makannya, dan menelan semua makanan di bibirnya,
"Tetua... anda selalu mengatakan aku diciptakan, apa maksudnya? apa Tetua mengetahui sesuatu tentang asal-usul ku?" tanya Zhi Yuan
Dewi Zhang memiringkan sedikit tubuhnya dan menopang dagu dengan tangan kirinya, tangan kanannya memainkan potong daging dengan sumpit, dan meletakkan nya di mangkuk Zhi Yuan.
"Melihat semua yang kau miliki, aku sangat yakin kau berasal dari klan Munzhi, dan aku juga yakin orang yang memberikan cincin saat kau lahir akan datang, itupun jika dia masih hidup. Dua huruf di bawah mata mu itu sebenarnya itu bukan huruf dari klan Munzhi, tetapi itu simbol suci dari ajaran kuno, namun hanya klan mu yang bisa menggunakan nya. Dua puluh satu itu arti dua simbol itu, bicara tentang dua puluh satu, aku teringat dengan tingkatan tertinggi dan termulia yang bisa di capai, dan seorang dewa dengan jenggot panjang penguasa pagoda bertingkat dua puluh satu, aku tidak tahu apa ini ada hubungan nya, tapi yang jelas simbol itu sangat kuat dan dalam masalah mu di gunakan sebagai segel nafas, klan mu mungkin menyebut nya dengan segel hati, segel itu akan menahan hampir semua perasaan berlebihan, saat kau takut, benci, cinta, atau hal sejenisnya, segel itu akan bereaksi membuat mu kehilangan rasa itu, segel itu mulai ada saat kau di dalam kandungan, dan segel itu menghilang bersamaan dengan nafas mu, tidak ada manusia yang bisa mengangkat segel itu, mungkin hanya teman ku Dewa formasi yang mampu," ucap Dewi Zhang.
"Pagoda bertingkat dua puluh satu?" ucap Zhi Yuan mengikuti ucapan Dewi Zhang Ziyi.
"Tidak ada pagoda setinggi itu di seluruh alam, meski bisa dibuat, tetapi hanya Dewa itu yang boleh menggunakan nya," ucap Dewi Zhang Ziyi, wanita itu mengangkat alis nya seperti menunggu pertanyaan selanjutnya, namun hingga acara makan itu selesai tidak ada pertanyaan keluar dari mulut Zhi Yuan.
__ADS_1