Legenda Penjaga Gerbang Timur

Legenda Penjaga Gerbang Timur
Ch. 157 - Tetangga.


__ADS_3

Paviliun Chun Yan kediaman Penasehat Ming, wanita itu terlihat begitu gelisah dalam tidur nya.


Penasehat Ming duduk sambil berlutut di atas atap bangunan tertinggi, matanya hanya melihat lautan awan bergulung di bawah nya, cahaya matahari kemerahan muncul di salah satu sisi, wanita itu tidak mengetahui jika itu pagi atau sore.


"Aku dimana," batin Penasehat Ming.


Dan tiba-tiba matanya mampu menembus gulungan lautan awan itu, melihat kebawah dan terlihat sebuah Medan pertempuran, tampak seorang pemuda dengan darah di pipi nya, dua pedang di pinggang kiri nya, menatap tenang ke arah seorang pria tua yang mengenakan pakaian panglima perang yang begitu di kenali nya, dan pria Tua itu adalah adik nya sendiri, Ming Zhou yang memang merupakan seorang panglima perang tak tergantikan Klan Munzhi.


Dan mata sipit wanita itu kembali ke atap bangunan dan dua orang sudah di depannya, Penasehat Ming menatap kaki, kedua orang itu, yang memiliki tubuh begitu tinggi, dengan berpakaian hitam dan putih, pria berpakaian hitam menjulurkan jemari panjang dengan kuku yang begitu bersih ke arah nya.


Namun suara wanita tiba-tiba terdengar, dan suara itu begitu di kenal nya.


"Ming Lan, temanku... terimakasih sudah menjaga nya," ucap wanita berpakaian putih di belakang pria itu,


Meski pandangan Penasehat Ming masih samar namun dapat di pastikan wanita itu begitu cantik, bibir merah, rambut hitam yang panjang tergerai tersapu angin, menatap ke arah Penasehat Ming dengan begitu hangat.


Dada Penasehat Ming berdebar begitu kencang dan menangis sejadi-jadinya mengingat suara itu mirip sekali teman kecil nya, yaitu ibu Zhi Yuan.


"Ratu.... maafkan aku, aku tidak pantas menjadi teman mu, aku begitu menginginkan kematian putera teman ku sendiri, hanya demi kekuatan ku, aku sama sekali tidak pantas," teriak Penasehat Ming.


Penasehat Ming duduk terbangun dari tidurnya, air matanya tidak bisa di hentikan,


"Ratu....." ucap Penasehat Ming terisak-isak dengan suara serak, nafasnya tersengal, dan wanita itu memejamkan matanya mengatur nafasnya.

__ADS_1


.


"Mungkin tidak lama lagi kita akan berjumpa," suara Penasehat Ming, wajahnya terlihat basah oleh air mata dan keringat.


Wanita itu bangun dari tidur nya, melangkah mengenakan gaun tidur panjang yang begitu tipis hingga memperlihatkan semua milik sensitif dari wanita itu, tiga bola api muncul di jemari nya dan duduk di dekat sebuah jendela,


"Kenapa belakangan ini aku sering mimpi yang sama, aku tidak pernah makan apapun, Lu Muzhong tidak akan bisa masuk ke mimpi ku, apa ini ungkapan dari alam bersalah ku, atau aku melihat masa depan? tidak kedua orang itu sudah mati, dan kemampuan ku belum kembali, mungkin kelak aku akan menyesali perbuatan ku karena telah melakukan ini pada putera teman ku," batin Penasehat Ming.


****


Sebulan sudah berlalu sejak peristiwa Ibu Suri bermalam di Paviliun bunga persik, Zhou Lu Zi tidak pernah menatap Zhi Yuan lagi saat ke istana Yangzheng, dan mengganti pria penghibur nya setiap berkunjung, namun tidak pernah meminta pria penghibur dari Paviliun bunga persik.


Zhou Lu Zi juga kini menunjuk Wang Lee sebagai penghibur istimewa, dan acara pengangkatan nya akan dilaksanakan dalam dua bulan, seorang pria penghibur yang mengurus seluruh kegiatan istana Yangzheng, dan memungkinkan berbagi ranjang dengan Ibu Suri. Zhou Lu Zi seperti nya benar-benar sudah melupakan perasaan nya dengan Zhi Yuan, semua orang mulai bergosip tentang sering nya wanita itu mengumbar kemesraan di istana Yangzheng dengan Wang Lee, kini semua tindakan dari Zhou Lu Zi begitu di awasi, dan selalu menjadi berita hangat di kalangan petinggi istana.


Wang Lee kini tampak begitu bahagia, dengan kedudukan nya pemuda itu bisa mengatur pria penghibur dari Paviliun lain, untuk membantu nya dalam melayani ibu suri, meski sudah berkali-kali pria itu mempermalukan Zhi Yuan di hadapan banyak orang, namun seperti nya pria itu tidak pernah puas, kebencian nya sudah mengakar, dan melihat Zhou Lu Zi yang tidak pernah membela Zhi Yuan membuat Wang Lee mulai percaya jika Zhou Lu Zi sudah dalam genggaman nya.


"Apa yang sedang terjadi, bagaimana Dewi itu bisa menunjuk si kunyuk Wang Lee sebagai penghibur istimewa? Adik Zhi kenapa kau diam saja? Penghibur Wang selalu menghancurkan kita, dan dia juga memerintahkan aku untuk memanggil nya ayah, bukankah ini benar-benar tidak adil?" teriak Bai Fang, beberapa dayang menenangkan pemuda itu hingga langit gelap.


Zhi Yuan hanya duduk di ruangan nya, beberapa kitab tua tampak tidak di baca di atas mejanya, jemari panjang nya hanya menyentuh nadi di pergelangan nya, mata lelah nya yang kini memiliki kantung sedikit gelap, hanya menatap jendela yang terbuka, ke arah tempat minum nya bersama Zhou Lu Zi.


"Kami hanya orang sesaat yang bertemu di persimpangan, tidak ada penyesalan," gumam Zhi Yuan. memejamkan matanya setetes darah keluar dari pipinya, dan tiba-tiba pemuda itu tertidur, dan tubuhnya mengeluarkan sinar kehijauan.


Siang itu kabut tebal menyelimuti jalanan, salju mulai turun, Zhi Yuan sedang berada di depan sebuah kuil, pemuda itu menatap sekeliling orang-orang yang tidak ada di kenali nya, semua terlihat bahagia dengan keluarga mereka masing-masing.

__ADS_1


Dan mata Zhi Yuan membeku saat melihat seorang pria berusia 40 tahun yang terlihat bahagia dengan keluarga kecil nya, tangan kanan nya memegang payung besar, sedang tangan kirinya menggendong seorang gadis kecil yang sangat lucu, di sisi lain dari pria itu tampak seorang wanita bergelayut begitu manja di lengan kanan pria itu.


Zhi Yuan memejamkan matanya sesaat, angin berhembus menyapu ujung rambut Zhi Yuan yang di ikat di atas kepala nya, dan membuka matanya kembali keluarga itu kini sudah di depan nya, dan wanita itu begitu terkejut saat menatap Zhi Yuan, mata nya melebar dan melepaskan pelukannya di lengan pria itu.


"Ada apa adik Hua? apa pemuda ini menggangu mu? hei... bocah sebaiknya kau minggir, apa kau tidak melihat istriku sedang hamil," ucap Pria itu.


Zhi Yuan menatap Hua Mulan yang seperti membatu, dengan tangan mengelus perutnya yang besar.


"Sudahlah kakak Bao, tidak perlu marah," ucap Hua Mulan namun masih menatap Zhi Yuan.


"Adik apa kau mengenal nya?" tanya pria yang di panggil Kakak Bao itu mengerutkan keningnya ke arah Zhi Yuan.


"Aku seperti mengenal nya, dia mirip dengan tetangga ku di desa, dulu dia sering membantu ku saat keluarga ku begitu miskin, tapi sepertinya aku salah mengenali orang, sebaiknya kita pergi saja," ucap Hua Mulan, dan melewati Zhi Yuan.


Telinga Zhi Yuan seperti berdengung mendengar ucapan Hua Mulan,


"Tetangga?" gumam Zhi Yuan bibirnya tersenyum dengan satu sudut bibirnya, memperlihatkan giginya yang merapat.


Zhi Yuan mencabut pedang melengkung nya, dan berbalik menebaskan Pedang energi ke arah keluarga Hua Mulan tanpa menyisakan satupun dari ketiga orang itu.


"zreesstttt......"


"zreesstttt....."

__ADS_1


Darah menyembur dari tubuh ketiga orang yang berbahagia itu, dan tumbang tanpa nyawa.


"Keluarlah pengecut!!!!" teriak histeris dari Zhi Yuan yang lemas dengan berlutut, wajah mendongak menatap langit yang tidak berhenti menjatuhkan butiran salju, matanya kehijauan nya sedikit bercahaya, darah terlihat merembes begitu banyak dari dua simbol di sudut pipinya.


__ADS_2