
Zhi Yuan hanya diam sesaat, matanya terpejam, dan perlahan melepas cadar nya sambil menarik napas dalam-dalam, tampak sedikit noda darah masih mengotori bibir hingga dagu nya, pemuda itu begitu kesal karena begitu tidak berkutik di hadapan wanita itu.
"Kenapa ada wanita arogan seperti itu, dan hari ini kau sudah merampas kematian yang begitu ku nanti kan, apa benar aku ingin bunuh diri? Yi'er maafkan aku, kau pasti begitu kecewa, tapi aku begitu merindukan kalian," gumam Zhi Yuan.
Zhi Yuan menatap pedang nya,
"Pedang kesedihan? nama yang sangat buruk," batin Zhi Yuan dan mendekati Hua Daiyan.
Pagi itu Hua Daiyan memeriksa nadi Zhi Yuan dengan tangan kirinya, beberapa bagian tubuh Zhi Yuan terbungkus kain menyerupai perban.
"Kau memiliki daya sembuh yang luar biasa, darah mu sangat berbeda dengan darah manusia pada umumnya, dan toleransi terhadap racun mu tinggi, aku pikir senjata rahasia dari para pembunuh itu mengandung racun mematikan, tapi tubuh mu seperti tidak terpengaruh, aku tidak tahu apa ini, tapi aku rasa ucapan wanita secantik Dewi itu benar," ucap Hua Daiyan.
Zhi Yuan mengingat darah nya sudah bercampur dengan darah Dewi Zhang Ziyi di saat-saat terakhir nya, membuat pemuda itu mengerutkan keningnya.
"Mungkin aku hanya beruntung, senjata itu tidak beracun," ucap Zhi Yuan.
"tidak beracun? apa di mata mu mereka terlihat seperti biksu? aahhh.... hahaha... baiklah, itu adalah dunia mu, aku dulu hanya seorang tabib, tidak begitu mengerti para petarung, tapi hingga usiaku saat ini tidak pernah melihat pemuda seusiamu mampu membunuh pendekar legenda, mungkin ada sesuatu yang tidak ingin kau bicarakan, sudah lah aku sangat mengerti," ucap Hua Daiyan.
Beberapa hari Zhi Yuan sudah terlihat sehat, luka-luka nya sudah memudar, pemuda itu sedikit belajar tentang ramuan dari Hua Daiyan tentang pengobatan dasar terhadap racun dan cara menangani meski tidak tahu racun dan penawar nya, bahkan Paman tua itu mengajarkan rahasia-rahasia yang begitu tinggi yang tidak tertulis dalam kitab, dan memberikan beberapa bubuk penyembuh luka yang sangat ampuh.
"aahhh... Yuan'er, aku sangat senang memberikan pengetahuan yang ku sembunyikan selama hidup, aku begitu takut jika pengetahuan ku ini akan mati bersama ku, dan kitab ini tidak ada yang menemukan nya, maka semua yang ku kerjakan akan sia-sia, sekarang aku sudah memberitahu padamu aku berharap kau bisa membantu orang dengan kemampuan yang aku wariskan, bacalah dengan hati karena tulisan tangan kiriku sangat buruk," ucap Hua Daiyan dan menyerahkan dua kitab yang cukup tebal.
Zhi Yuan menatap kitab pengobatan itu, dan memikirkan ucapan tentang bunuh diri dari wanita semalam, pemuda itu meyakinkan hidup nya, melepaskan semua beban masa lalunya dan semua dendam, dirinya memilih menjadi tabib di sebuah desa terpencil, dan tidak mencoba bunuh diri dengan mencari kultivator kuat untuk bertarung. Namun harapan pemuda itu hanya tinggal harapan, saat dendam itu sendiri yang mendatangi nya dan menyeret pemuda itu ke dalam putaran karma, dan itu dimulai saat iringan kereta kuda yang di kawal puluhan prajurit dan pelayan mendekati nya tempat nya.
Zhi Yuan sedang menyalakan api di bawah tungku obat nya,
"Kakek....," teriakan dari seorang pemuda berusia 18 tahun ke arah Hua Daiyan dan Zhi Yuan yang sedang duduk sambil menunggu ramuan matang. Hua Daiyan terlihat begitu senang memperkenalkan cucu nya Li Buya dengan Zhi Yuan, mereka terlihat seumuran, meski tubuh Li Buya jauh lebih pendek.
Beberapa kereta kuda yang di kawal puluhan kultivator ahli, juga sudah berada tidak jauh dari tempat mereka. Hua Daiyan menatap ke arah pemuda itu sambil tersenyum lembut. dan seorang wanita cantik turun dari kereta kuda itu di ikuti oleh beberapa pelayan wanita nya, dan dua pemuda berusia 20 tahunan turun dari kereta kuda lain nya.
Hanya wanita itu yang mendekati Hua Daiyan, sedangkan rombongan lain nya masuk ke rumah kecil di dekat gubuk itu, beberapa pengawal dan pelayan mendirikan tenda untuk mereka tidur, karena rumah kecil itu tidak akan cukup menampung banyak pengawal, dan pelayan.
__ADS_1
"Paman Hua lama tidak berjumpa," ucap wanita itu hanya sekedar berbasa-basi.
Bahkan wanita itu terlihat biasa saja mendengar tentang kematian istri Hua Daiyan, yang sangat berbeda dari Pemuda berusia 18 tahun itu yang terus menangis di makam nenek nya itu, meski berusia 18 tahun tapi Li Buya begitu di manja oleh wanita itu membuat nya menjadi pemuda sedikit manja.
Wanita cantik itu mendekati Zhi Yuan yang sedang memasak ramuan, dan menatap nya begitu dalam, Liu Bing Yan memiliki wajah keibuan, bibir kecil tipis, mata lebar yang tajam dan rambut panjang yang indah, dada besar, dan pinggang ramping, serta paha besar dan panjang membuat terlihat begitu panas di mata lelaki.
"Siapa kau?" tanya wanita itu, dan menyilangkan kedua lengan nya di bawah gunung besar nya.
"Aku Zhi Yuan, murid dari tabib Hua," ucap Zhi Yuan, memberi hormat.
"Aku memiliki mata yang tajam jika menyangkut lawan jenis, dan kau memiliki wajah terindah dari semua orang yang pernah aku temui, sayang wajah tampan kadang berbanding terbalik dengan kemampuan membahagiakan wanita, dan aku sering membuktikan nya," ucap wanita itu dan meninggalkan Zhi Yuan yang tidak mengerti dengan ucapan wanita itu.
Malam itu Li Buya dan Zhi Yuan dan Hua Daiyan, makan bersama di gubuk pengasingan Hua Daiyan, dan wanita cantik dan teman nya itu makan di rumah kecil yang terlihat cukup mewah itu.
Setelah Hua Daiyan tidur, keduanya duduk Zhi Yuan meneguk isi guci nya, menawarkan pada Li Buya namun pemuda itu menolak nya.
"Kau memiliki pedang? tanya Li Buya dan mendekati pedang panjang Zhi Yuan begitu penasaran.
"apa kau menyukai nya?" tanya Zhi Yuan.
"ini indah, awalnya aku tidak menyangka kau seorang petarung, melihat tubuh mu ramping dan tanpa otot aku pikir kau hanya seorang calon tabib," ucap Li Buya.
Terlihat dua pemuda itu dan Liu Bing Yan keluar dari rumah kecil nya dan berjalan-jalan di sekitar tenda pengawal tidak jauh dari rumah itu, rahang Li Buya tampak bergerak terlihat sekali jika wajah nya begitu marah, ekspresi Li Buya membuat Zhi Yuan ikut menoleh ke arah ketiga orang itu.
"Dia adalah ibu muda ku, dan pemuda berpakaian putih itu adalah pangeran Qing Fan, dan yang sedikit pendek itu adalah Xiao Wen, keduanya teman ku di akademi Kekaisaran," ucap Li Buya.
Zhi Yuan mengangguk, namun Li Buya terus berbicara seperti ingin mengeluarkan kemarahan nya, pemuda itu begitu terbuka meski baru mengenal Zhi Yuan.
"Pangeran Qing Fan adalah kekasih dari adik tiriku Li Song Yun, Puteri kandung dari ibu muda ku," ucap Li Buya dan mengambil cawan bersih dan menyodorkan ke arah Zhi Yuan, dan pemuda itu menuangkan sedikit isi guci nya dengan kening berkerut sesaat, dan menggelengkan kepalanya seperti tidak peduli.
Li Buya meneguk dalam-dalam isi cawan nya,
__ADS_1
"Kenapa kau hanya diam?"tanya Li Buya.
"Tuan muda, aku tidak ingin masuk ke dalam urusan mu, ataupun urusan keluarga mu, meskipun mereka jahat tapi aku bukanlah kultivator pembela kebenaran seperti di dalam sastra yang anda pelajari," ucap Zhi Yuan.
"Kau benar, semua orang berhak menentukan pilihan mereka, aku mengerti kau mengutamakan keselamatan mu, dan berusaha menjauhi masalah, aku akan mengatasi masalah keluarga ku dengan tangan ku sendiri," ucap Li Buya.
Di samping tenda para pelayan itu, Liu Bing Yan terlihat duduk di sebuah meja menikmati udara malam.
"Bibi Bing, kau terlihat begitu menggoda malam ini?" ucap Xiao Wen, Membuat wanita yang masih mengairahkan meski sudah memiliki Puteri berusia 16 tahun itu tersenyum,
"Pangeran Qing Fan lihat, teman jelek mu itu terus menggoda ku, hemmm... tapi kau hanya diam saja, tidak menegur nya," ucap Liu Bing Yan menggoyang lengan pangeran Qing Fan.
"haha... bibi Bing, tapi ucapan teman ku ini sangat benar," ucap pangeran Qing Fan, membuat mata Liu Bing Yan melebar.
"Apa? pangeran Qing Fan jangan-jangan kau juga ingin menggoda ku? kau adalah kekasih Puteri ku, kau tidak boleh menggoda calon ibu mertua mu ini," ucap Liu Bing Yan dengan tawa genit nya.
Xiao Wen terlihat semakin agresif, karena wanita di hadapan nya terlihat sudah memberikan isyarat,
"Bibi Bing, aku bukan calon menantu mu, jadi bagaimana jika aku menggoda mu malam ini," ucap Xiao Wen dan memeluk wanita itu.
"aahhh.... apa yang kau lakukan lepaskan, lihat kau sangat jelek, aku tidak keberatan jika pangeran Qing Fan memeluk ku, tapi kau... aku tidak sudi... hahahah," tawa Liu Bing Yan namun hanya meronta lemah.
Xiao Wen mulai beraksi dan mengangkat sedikit bokong wanita itu agar duduk di pangkuan nya, namun wanita itu terus meronta hanya duduk sedikit di tepi pangkuan Xiao Wen, dan wanita itu merasakan benda yang sudah begitu tegang dari milik Xiao Wen.
Mendengar ucapan Liu Bing Yan seperti itu membuat pangeran Qing Fan ikut memeluk pinggang wanita itu, dari sebelah kanan, dan wanita itu kini di apit oleh dua lelaki muda.
"Pangeran Qing Fan sekarang kau sudah nakal, aku meminta kalian mengantar ku bukan untuk hal seperti ini," bisik wanita itu.
"Tapi bibi Bing, aku begitu menyukai mu, kau jauh lebih mendebarkan daripada adik Song Yu," bisik pangeran Qing Fan dan bibir nya mencium leher wanita itu membuat wanita itu tertawa dan dengan cepat berdiri melepaskan diri dari kedua pria yang terlihat sudah begitu tegang.
"hihihi.... kalian berdua sudah keterlaluan, terutama kau Xiao Wen, aku tahu apa yang kau lakukan barusan, benda itu cukup lumayan dan membuat ku sedikit penasaran, tapi jangan berharap terlalu tinggi, yang ada di dalam pikiran mu tidak akan terjadi," ucap Liu Bing Yan dan masuk ke ruangan di rumah kecil itu.
__ADS_1
***