
Pemuda itu memasukkan jepit rambut itu ke balik jubahnya, berlari ke arah perpustakaan umum, dan melihat-lihat kitab untuk pendekar di ranah mahir awal. pemuda itu mencari kitab yang tidak ada di perpustakaan umum itu, namun ada di perpustakaan pribadi nya, pemuda itu ingin sekali memberikan hadiah berkesan kepada Wu Xiang Yu, dan sebagai jalan untuk nya membuka pembicaraan.
Setelah semua nya berjalan lancar, Xu Guang Zhou kini memiliki sebuah kitab di tangan nya, dan sudah saat nya pemuda itu memberikan hadiah ke Wu Xiang Yu. Dan hampir satu bulan Xu Guang Zhou mencari kesempatan untuk berbicara dengan Wu Xiang Yu namun tidak pernah ada kesempatan sendirian, wanita itu selalu saja bersama beberapa teman wanita atau pria di sekeliling nya, Xu Guang Zhou tidak seperti Wang Kai yang begitu percaya diri menghadapi wanita meski dalam keramaian sekalipun, membuat pemuda itu selalu mengurungkan niat nya untuk berbicara.
Saat Xu Guang Zhou lelah mengejar kesempatan, maka kesempatan itu akhirnya mendatangi pemuda yang tubuh nya kini terlihat gagah itu, dan kedua insan itu akhirnya bertemu di perpustakaan umum.
Xu Guang Zhou hanya bisa terdiam, dada nya terasa sesak, dan begitu ingin meninggalkan perpustakaan itu karena malu, tapi di sisi lain begitu senang melihat wanita itu menghampiri nya. Wu Xiang Yu yang hari itu mengenakan jubah tertutup karena udara begitu dingin, meski hanya memperlihatkan leher jenjang dan ujung jemari nya saja, namun pakaian itu tidak dapat menyembunyikan bokong menonjol dari wanita yang sudah dewasa itu.
"Adik Xu? apa kau mendengar ku?" ucap Wu Xiang Yu sedikit kencang, kening nya berkerut karena pemuda itu begitu lama membatu.
"iya..." Xu Guang Zhou sedikit tersentak membuat Wu Xiang Yu sedikit mundur.
"aahhh... nona Wu maafkan aku, tadi aku sedang berpikir," ucap Xu Guang Zhou yang sudah tidak memiliki kata-kata lain lagi, semua latihan percakapan nya yang sudah di rencanakan nya agar terlihat begitu alami menguap tanpa bekas.
"berpikir? oohhh... baiklah," ucap Wu Xiang Yu berpura-pura mengerti maksud ucapan Xu Guang Zhou dan ingin meninggalkan pemuda itu.
Xu Guang Zhou memejamkan matanya, dan mengutuki kebodohan nya, dan mengatur nafasnya pelan-pelan.
"Tunggu nona Wu, aku hanya ingin memberikan kitab ini untuk mu," ucap Xu Guang Zhou bersorak karena akhirnya mampu membuka pembicaraan, sambil menyerahkan sebuah kitab.
Wu Xiang Yu menatap kitab yang disodorkan oleh Xu Guang Zhou, dan menatap pemuda itu dalam-dalam, membuat wajah Xu Guang Zhou kembali tegang pikiran nya menjadi kosong.
"kitab?" adik Xu di perpustakaan ini ada begitu banyak kitab, kenapa kau begitu repot?" ucap Wu Xiang Yu sambil mengerutkan keningnya seperti berpikir maksud tersembunyi dari pemuda itu.
"Tapi baiklah, karena ini pemberian mu, aku akan menerima nya, terima kasih," ucap Wu Xiang Yu.
Pikiran Xu Guang Zhou yang sudah kosong, tidak ada kata yang dapat keluar dari bibir agar wanita itu berbincang dengan nya, pemuda itu hanya mengangguk, sambil menatap goyangan alami dari bagian belakang wanita itu saat melangkah meninggalkan nya.
Tidak beberapa jauh dari nya seorang pria tampan berusia sekitar 38 tahun yang merupakan seorang Tetua muda paling populer di kalangan gadis-gadis di Sekte Pedang Langit mendekati Wu Xiang Yu, keduanya terlihat begitu akrab, terdengar suara tawa kecil dari wanita itu, mereka terlihat begitu serasi meski Wu Xiang Yu terlihat sedikit lebih tinggi dari Tetua muda itu.
"Nona besar Wu, kau menguasai elemen api, kenapa meminjam tehnik air," terdengar suara laki-laki itu, dan hanya di jawab oleh tawa cekikikan dari Wu Xiang Yu.
__ADS_1
Malam itu Xu Guang Zhou tidak bisa memejamkan matanya dan ingin sekali menenggelamkan tubuh di sungai karena begitu malu.
"Aku benar-benar bodoh, aku bahkan tidak mengetahui jika Wu Xiang Yu pengendali elemen api seperti ku, tetapi Tetua muda Fei, bagaimana keduanya begitu terkenal? mereka seperti tercipta untuk saling melengkapi, aahhh... ini sangat menyakitkan, tapi bagaimana Nona Wu begitu berbeda saat di sungai itu? wanita itu seperti begitu menggoda ku saat itu, ini membuat ku gila," batin Xu Guang Zhou bergolak ke segala penjuru, dan memukuli dinding di tempat tidur nya.
Musim dingin berlalu, semua kembali seperti semula, lima Sekte sahabat sudah kembali ke tempat mereka, Xu Guang Zhou kembali melewati hari-hari dengan berlatih keras sebagai murid istimewa agar dapat melupakan mimpi nya bersama Wu Xiang Yu, namun sayangnya tidak sehari pun pemuda itu bisa melupakan keindahan wajah Wu Xiang Yu.
****
Berbekal sebuah pedang usang pemberian Tetua Zhang kini Zhi Yuan sudah berada di ranah pendekar menengah tingkat tujuh, menguasai tehnik dasar dari kitab pedang kabut darah, dan tehnik meringankan tubuh peri pemetik salju level satu, langit mulai gelap seorang pelayan muda seumuran Zhi Yuan datang membawa surat dari Wu Huaran dengan sedikit berlari, Zhi Yuan tidak pernah membaca surat itu dan membuang nya, ini bukan pertama kalinya dirinya menerima surat dari Wu Huaran.
Bukit teratai Emas tempat dimana Kuil Suci berdiri, merupakan bukit tertinggi yang dikelilingi oleh bukit kecil lainnya yang juga terjal, jarak antara bukit-bukit itu menciptakan lembah-lembah yang tertutup salju, dan ditumbuhi sedikit pepohonan.
Sekitar dua puluh pria dengan mengenakan cadar melesat dari pepohonan yang tumbuh di sisi tebing menuju Kuil Suci, mereka adalah orang-orang dari kelompok serigala lapar.
"Kakak apa tugas kita kali ini?" tanya salah seorang bertanya kepada seseorang yang berlari paling depan.
"Mata-mata kita di Kuil Suci mengatakan jika sebuah rahasia berada di bagian paling belakang Kuil Suci itu, tidak ada yang diizinkan memasuki nya kecuali Biksu senior dan pelayan di bawah 15 tahun ke tempat itu, jadi kita harus mengetahui apa yang mereka sembunyikan itu saja," ucap orang terdepan itu.
"Hormat Tetua," ucap Zhi Yuan.
"ikut dengan ku," ucap Tetua Zhang melangkah pelan menuju pinggir tembok pembatas sebelah kiri Kuil.
Tampak pemandangan di sangat indah, sinar lembut matahari sore hanya menyinari kuil suci sedangkan di bagian bawah bukit sudah mulai gelap.
"Apa kau akan mengikuti bimbingan dari Biksu Besar Luo? hari ini kau tidak akan ke tempat itu, aku memberikan tugas khusus untuk mu, beberapa orang sudah memasuki daerah terlarang di belakang bukit puncak teratai ini, mereka semua kultivator di ranah atas dan mahir, tugas mu adalah tidak membiarkan siapapun masuk ke wilayah ini," ucap Tetua Zhang.
Zhi Yuan mengusap keringat di leher belakang nya dengan punggung tangannya, rambut sebahu yang diikat ekor kuda membuat penampilannya terlihat lebih dewasa dari usianya yang baru 14 tahun, pemuda itu mengangguk sekilas terpancar sedikit kesenangan yang tidak bisa dijelaskan di mata malas nya.
Tetua Zhang menatap dalam-dalam wajah Zhi Yuan dari balik kerudung nya,
"Tidak ada keraguan di matamu, jumlah mereka lebih dari 15 orang di ranah kultivator atas, bukankah ini seperti bunuh diri?" ucap Tetua Zhang yang mengetahui jika para penyusup itu masih cukup jauh.
__ADS_1
"Tetua, tebing belakang adalah tempat latihan ku setiap hari, aku mengenal tempat itu daripada penyusup ini, setidaknya aku akan membunuh dua dari mereka," ucap Zhi Yuan dan mulai mengikat pedang di telapak tangannya dengan selembar kain yang menyerupai selendang.
"Mungkin tiga, selama pedang ini tidak terlepas dari genggaman ku," ucap Zhi Yuan lagi dan bersiap berlari menuju tebing di belakang Kuil Suci.
"Berkelahi ataupun dikeroyok setiap hari di Sekte membuat nya sudah terbiasa menghadapi ancaman, secara mental bocah ini sudah siap, sekarang waktunya akan ujian yang sebenarnya," batin Tetua Zhang.
"Tunggu Yuan'er kenapa kau melakukan nya? padahal kau tahu sendiri kau akan mati jika pergi," tanya Tetua Zhang.
Zhi Yuan menatap kearah Tetua Zhang sambil tersenyum,
"Aku tidak tahu, tapi ini adalah perintah Tetua, di dunia ini aku hanya percaya kepada anda Tetua," ucap Zhi Yuan melompat ke atas tembok dan berlari menelusuri jalan setapak di pinggiran tebing curam.
"Bocah itu memilih berlari daripada menggunakan tehnik meringankan tubuhnya guna menghemat energi qi milik nya, seperti nya dia sudah mulai menghitung," gumam Tetua Zhang, yang berdiri tangan kirinya di belakang pinggang nya dan tangan kanannya memegang tongkat kayu.
Dan seorang Biksu tua sudah di dekat Tetua Zhang,
"Tetua, bagaimana anda membiarkan pemuda itu menjadi pembunuh?" tanya Biksu tua itu yang tidak lain adalah Biksu Besar Luo.
"Jika kau sendiri sudah tahu jawabannya, kenapa masih bertanya," ucap Tetua Zhang, yang seperti sudah mengetahui kedatangan Biksu Besar Luo sejak awal, matanya dibalik kerudung nya masih menatap pergerakan Zhi Yuan di lereng bukit yang mulai temaram.
Biksu Besar Luo menghembuskan nafas panjang nya,
"Dosa.... sungguh berdosa, hemmmm.... saat domba menawarkan perdamaian pada serigala yang haus darah, ini sungguh sia-sia, tapi Tetua... aku tahu anda sedikit ugal-ugalan tapi bukan kah ini berlebihan?" ucap Biksu Besar Luo.
"hahaha.... berlebihan? tidak Biksu kecil, singa tidak akan makan rumput, dan seekor singa akan menjadi penjaga yang handal saat kita meletakkan pada tempat yang benar, katakan Biksu kecil, bagaimana singa akan bertahan dalam dunia ganas jika kau mengurungnya hingga dewasa? singa itu akan lupa cara menangkap mangsa," ucap Tetua Zhang.
"Anda benar Tetua, memang tidak seharusnya semua mahluk memakan rumput, meski mustahil tapi aku masih percaya dengan keajaiban, apapun yang terjadi malam ini, terjadilah!! dan aku tidak ingin anak didik ku melewatkan bimbingan nya esok malam, pastikan anda menjaga bocah itu," ucap Biksu Besar Luo dan meninggalkan Kuil tua itu.
Tetua Zhang menatap kepergian Biksu Besar Luo,
"apa? ugal-ugalan? hah aku tidak percaya ini, apa Biksu tengik itu benar-benar tahu arti kata itu?" gumam Tetua Zhang dengan nada kesal.
__ADS_1