Legenda Penjaga Gerbang Timur

Legenda Penjaga Gerbang Timur
Ch. 151 - Teriakan di Aula agung


__ADS_3

Namun kepala Zhi Yuan sudah terjatuh di bahu Zhou Lu Zi membuat wanita itu begitu marah, namun jemari seperti tanpa sadar serta begitu canggung mengelus kepala belakang Zhi Yuan, dan sedikit tersenyum.


"aku seperti tidak asing dengan perasaan hangat ini," batin Zhou Lu Zi membiarkan pemuda itu tidur di bahunya.


"Bocah tengik, urusan kita belum selesai," ucap Zhou Lu Zi lembut,


Meski ucapan wanita itu pelan namun membuat Zhi Yuan tersadar lagi, dan keduanya kembali minum, hingga tidak sadarkan diri.


Langit mulai membiru, tampak para pelayan kebersihan menyapu halaman di seluruh tempat, dan terjadi pemandangan aneh di dekat istana Yangzheng. semua pintu ke arah Paviliun bunga persik di tutup oleh ratusan pengawal elit, bahkan beberapa pemanah berkemampuan tinggi berada di atas atap, semua wajah terlihat begitu tegang, puluhan dayang berlutut tidak jauh dari sebuah gazebo yang terlihat begitu berantakan dengan sepasang manusia terlelap, jemari kaki kurus dan indah milik Zhou Lu Zi berada di wajah Zhi Yuan dan wanita itu memeluk salah satu kaki Zhi Yuan.


Bai Fang tidak berani keluar dari kediaman nya melihat banyaknya prajurit yang berjaga, namun kesemuanya memunggungi Gasebo tempat dua orang yang sedang tidak sadarkan diri itu. beberapa petinggi pelayan dapur beradu mulut dengan penjaga di gerbang Paviliun bunga persik.


"Kalian tidak akan bisa masuk," teriak pemimpin pengawal Ibu Suri yang memang memiliki pakaian militer yang berbeda dari pengawal elit lain nya.


dan tiba-tiba semua diam saat mantan Ibu Suri mendekati tempat itu.


"ada apa ini? kenapa semua pengawal Ibu Suri ada di sini? kalian seharusnya menjaga Paviliun Bulan tempat Yang Mulia ibu suri tidur...." ucapan mantan Ibu Suri terhenti mata nya sedikit melebar.


"a-pa Yang Mulia Ibu Suri tidur di Paviliun Bunga Persik?" batin mantan Ibu Suri itu, dan mendekati pimpinan pengawal yang hanya menunduk itu, tidak menjawab pertanyaan wanita itu.


Mantan Ibu Suri itu mengetahui betul situasi saat ini.

__ADS_1


"Kalian pelayan dapur kembali ke tempat kalian, dan kau pengawal, jangan sampai ada orang yang masuk ke tempat ini, termasuk Yang Mulia Kaisar," ucap mantan Ibu Suri itu dan pergi, namun setelah tidak jauh dari tempat itu mantan Ibu Suri berhenti dan sedikit berbisik pada dayang senior nya.


"Cari tahu apa yang terjadi di tempat itu, tanpa melewatkan apapun," ucap mantan Ibu Suri itu.


Terdengar sayup-sayup keributan di gerbang samping, membuat mata Zhou Lu Zi terbuka separuh meski masih begitu enggan, dengan setengah mengintip dari sela rambut yang acak-acakan, matanya menatap beberapa dayang yang terlihat kelelahan sedang berlutut tidak jauh darinya, raut wajah mereka begitu ketakutan karena tahu mereka adalah saksi mata kejadian semalam, dan kematian akan mengincar mereka jika salah bicara. dan wanita itu memperoleh kesadaran nya, bola matanya bergerak-gerak, dan melihat kaki nya di wajah Zhi Yuan.


"Apa yang sudah terjadi semalam," batin wanita itu mengangkat pelan kakinya dan bergerak sangat hati-hati mengambil semua pakaian dan perhiasan kebesaran nya, dan dalam sekejap sudah berdiri di dekat para dayang yang mulai panik memberi hormat sambil menangis,


"Yang Mulia, tolong ampuni kami, kami tidak melihat apapun," ucap dayang yang paling tua.


Zhou Lu Zi melebarkan matanya, sambil menaikkan telunjuk di depan bibirnya seperti isyarat agar para dayang itu terdiam, dan memerintahkan mengikuti nya ke Paviliun bulan.


Pagi itu balai agung menggelar pertemuan penting, tampak wajah para menteri sedikit bingung, dan semakin ketakutan karena wajah Zhou Lu Zi sangat berbeda dari biasanya, bahkan Kaisar juga ikut memperhatikan kelakuan aneh Ibu Suri nya.


Zhou Lu Zi menutupi sudut keningnya dengan jemarinya, sambil menutupi satu matanya dengan kantung mata bengkak dan kemerahan.


"Apa yang sudah ku lakukan? bocah kurang ajar itu, apa dia memelukku? tidak... kami hanya bicara sambil berpelukan," batin Zhou Lu Zi mengintip di celah pakaian nya melihat kedalam dua gunung nya yang begitu kencang, dan sebagian berbalut pakaian dalam nya.


"aahhh... sepertinya tidak terjadi yang serius," batin Zhou Lu Zi tersenyum, melihat warna putih tanpa bekas gigitan di dua kebanggaan nya itu.


Senyum dari Zhou Lu Zi membuat para menteri berhenti bicara, dan kembali mengulang paparan agar lebih jelas, karena tidak ada tanggapan apapun dari wanita itu.

__ADS_1


Dan tiba-tiba pikiran nya mulai mengingat saat dirinya menyelimuti Zhi Yuan dan pemuda itu memegang bawah telinga wanita itu, dan kedua nya saling berciuman cukup lama, sebelum akhirnya wanita itu terlelap di dada Zhi Yuan.


Zhou Lu Zi menutup bibirnya yang setengah terbuka, wajah nya menjadi pucat matanya terlihat kosong menatap marah ke arah menteri yang sedang menjelaskan rancangan kerjasama, membuat menteri itu terdiam dan menelan ludah nya.


"tidaaakkkk....." teriak Zhou Lu Zi sambil berdiri, membuat para menteri itu semua tiba-tiba berlutut dan membungkuk ketakutan.


"Ibu, apa ada yang tidak sesuai dengan rencana kita?" tanya Kaisar yang juga begitu terkejut.


Mata Zhou Lu Zi terpejam mengatur nafasnya pelan, jemarinya masih menyentuh bibirnya, dan mengangguk seperti begitu malu.


"Zhou Lu Zi kenapa kau melakukan hal yang memalukan leluhur mu, bahkan kau mengeluarkan lidah mu, aku masih bisa merasakan bibir nya," batin Zhou Lu Zi, memarahi dirinya sendiri.


Wanita itu mengusap wajahnya beberapa kali juga matanya berkedip beberapa kali, tersenyum dengan Gigi merapat.


"ehemmm.... ehemmm... Yang Mulia Kaisar, maafkan aku, hari ini seperti nya aku sedikit lelah, Yang Mulia bisakah anda melanjutkan nya tanpa kehadiran ku," ucap Ibu Suri dengan senyum begitu di paksakan.


Kaisar muda itu mengangguk,


"Baiklah... Ibu Suri kesehatan anda adalah yang terpenting, sebaiknya beristirahat lah," ucap Kaisar itu menatap Zhou Lu Zi, dan wajahnya kini ke arah para menteri yang masih berlutut, dan Kaisar itu berdiri.


"kita akan melanjutkan pertemuan ini saat ibu suri dalam kondisi yang sehat," ucap Kaisar, menatap seluruh menteri nya, dan tampak para menteri itu begitu lega, mereka bahkan bersorak saat keluar dari aula agung.

__ADS_1


__ADS_2