
Pria sepuh itu mendekati keduanya namun matanya tidak lepas dari wajah Zhi Yuan,
"Nyonya, maafkan sikap ku tadi, tapi apa dia benar-benar putera anda, dan berapa usianya?" tanya Pria sepuh itu.
Mata Hua Mulan terbelalak, menatap sesaat ke arah Zhi Yuan dan kembali ke pria sepuh itu dengan tatapan marah karena tidak mengizinkan dirinya mengobati gadis kecil itu.
"Itu tidak penting Tetua, tapi aku lebih mengkhawatirkan nyawa cucu anda," ucap Hua Mulan
"bruggggg...." tubuh pelayan itu terjatuh dan tak sadarkan diri.
beberapa pengawal pria sepuh itu mendekati pelayan wanita itu,
"Jangan ada yang menyentuh nya!!" teriak Hua Mulan membuat pengawal itu tidak berani terlalu dekat.
Hua Mulan sedikit berlari, dan berlutut di dekat pelayan itu, dua jarinya membuka sedikit kerah leher dari pelayan itu, tampak dua bisul kemerahan bergerak-gerak dan akarnya yang ungu sudah menjalar hingga dada wanita itu.
Pria sepuh itu juga melihat nya, dengan kening berkerut, beberapa pengawal itu terlihat bergidik,
"Ini kutukan.... kutukan!!" teriak salah satu pengawal itu dan berlari.
Hua Mulan terlihat begitu kesal melihat pengawal yang berlari itu, dan wanita itu mengambil bungkusan kain yang di bawa Zhi Yuan dan mulai memilah-milah beberapa herbal.
"Nyonya apa kau yakin bisa menyembuhkan nya?" tanya Pria sepuh itu.
"tidak jika di tempat ini, aku membutuhkan beberapa alat, apakah wanita ini tinggal di dekat sini?" tanya Hua Mulan.
"hindari menyentuh daerah leher, jika kutil itu pecah maka nyawanya tidak akan selamat, dan yang terkena cairan bisul itu akan tertular," ucap Hua Mulan, dan beberapa pengawal dari pria sepuh itu mulai mengangkat pelayan wanita itu.
Mereka sudah berada di kediaman pria sepuh itu, semua orang memanggil nya dengan sebutan Tetua Zhou,
"Putera ku carilah beberapa lembar daun wansui Besi," ucap Hua Mulan dan tidak lama Zhi Yuan sudah kembali dengan daun itu karena semua herbal ada di dalam cincin nya.
__ADS_1
"Aku sudah selesai meracik nya, masaklah hingga matang," ucap Hua Mulan, dan mengambil daun Wansui Besi dari tangan Zhi Yuan.
Namun beberapa orang berwajah sangar memasuki kediaman Tetua Zhou, dan pria tua itu menyambut nya.
"Tabib Yin lama tidak berjumpa," ucap Tetua Zhou.
"hahaha.... saudara Zhou, aku dengar kau tiba hari ini, maafkan aku... menantu dan anak mu tidak berhasil aku selamat kan, kutukan itu sangat mematikan, aku dengar pelayan di tempat ini juga terkena kutukan yang sama," ucap tabib Yin yang lebih terlihat seperti Ketua penjahat karena perawakan yang besar, dan tampak mengerikan.
"Kau benar tabib Yin, tapi ada seorang tabib wanita yang mencoba membantu nya," ucap Tetua Zhou.
Mata tabib Yin terbelalak,
"Apa?? saudara Zhou, aku mengerti kau kecewa karena aku tidak berhasil menyembuhkan putera dan menantu mu, tapi aku tidak menyangka kau tidak memberi muka pada ku seperti ini," ucap tabib Yin begitu marah.
Tetua Zhou masih terlihat tenang,
"Tidak perlu tersinggung tabib Yin, jika kau ingin, kau boleh mengobati pelayan itu juga," ucap Tetua Zhou.
Tabib Yin masuk ke ruangan yang di pergunakan untuk mengobati pelayan itu dan melihat Hua Mulan sedang memegang daun Wansui Besi, membuat tabib Yin tersenyum meremehkan nya.
"aahhh... baiklah saudara Zhou, kita lihat apa tabib wanita ini bisa menyembuhkan pelayan mu ini, kita lihat saja!" ucap Tabib Yin matanya tidak berkedip menatap kecantikan Hua Mulan.
"Nyonya tabib bagaimana jika kita bertaruh, jika aku berhasil menyembuhkan pelayan itu paviliun obat ku akan ku serahkan padamu, tapi jika gagal kau menjadi istriku," ucap tabib Yin.
Hua Mulan masih sibuk dengan daun Wansui Besi di tangan nya,
"Aku bukan penjudi, dan aku tidak akan bertaruh apapun, aku sangat sibuk sebaiknya Tuan keluar," ucap Hua Mulan tanpa menatap ke arah tabib Yin, membuat pria besar itu begitu marah.
Tetua Zhou sedikit maju,
"Saudara Yin, ini adalah kediaman ku sebaiknya kau tidak kelewatan, Nyonya tabib ini adalah tamu ku, dan kau harus menghargai nya," ucap Tetua Zhou begitu tegas dengan tatapan serius.
__ADS_1
Tabib Yin menarik nafas nya dalam-dalam, dan menghembuskan perlahan.
"Baiklah.... aku mengerti, jadi aku akan menyaksikan saja bagaimana tabib wanita akan menangani kutukan ini," ucap tabib Yin.
"Daun Wansui Besi akan membuat nya tenang saja, dan besok pelayan itu akan mati," ucap tabib Yin terkekeh.
Hua Mulan tidak memperdulikan ucap tabib itu, dan melepaskan urat-urat dari daun itu dan menumbuk hanya daging daun nya saja, dan perlahan mengoleskan pada tiga bisul di leher pelayan itu, dan tidak lama bisul itu mulai bergerak, urat-urat keunguan itu berubah berwarna hitam dan melebar hingga ke wajahnya, mata wanita pelayan itu terbuka dan berwarna merah, bibir pelayan itu berubah menjadi hitam dan terbuka lebar, dan mulai berteriak kesakitan, dua pengawal Tetua Zhou memegangi pelayan wanita itu, membuat tabib Yin tertawa,
"Apa yang terjadi harus pelayan itu akan tertidur dan besok bisul itu akan pecah?' batin tabib Yin, tapi melihat pengobatan itu begitu kacau membuat nya senang.
"aahhh... aku pikir besok, tapi sayang nya pelayan itu akan mati sekarang," ucap tabib Yin
Tetua Zhou sedikit panik mendekati Hua Mulan,
Hua Mulan terlihat berkeringat namun wajahnya masih tenang, dan beberapa saat pelayan itu berhenti meronta dan tubuh nya terlihat kaku, begitu pun kutil itu terlihat berwarna hitam terbakar, dan wanita itu tidur menyamping.
"Sudah berakhir... hahaha... aku akan pergi, seharusnya kau terkena masalah Nyonya menyebabkan seseorang meninggal, tapi bagaimana pun juga pelayan itu akan tetap mati, " ucap tabib Yin dan bersiap keluar dari ruangan itu.
"sudah waktunya," gumam Hua Mulan dan mengeluarkan sebuah pisau kecil yang terlihat begitu tajam.
Hua Mulan mulai mengarahkan pisau kecil nya ke arah bisul itu, keringat di keningnya bercucuran karena belum pernah melakukan nya, hanya pernah melihat ayah dulu, dan mengingat kejadian saat itu, meskipun ayah seorang tabib hebat namun dia juga tidak berhasil mengeluarkan bisul itu karena begitu sulit dan membuat nya pecah, itu adalah kegagalan tabib Hua Daiyan dahulu.
Wanita itu beberapa kali menelan ludah, ujung pisau itu terlihat bergetar,
"Tabib wanita kau jangan gegabah, pecah sedikit saja pelayan itu pasti mati," teriak tabib Yin membuat Hua Mulan memejamkan mata nya, otot di leher kurus nya seperti tertarik karena marah.
"Jika kau tidak bisa diam, sebaiknya keluar saja, bukankah kau sendiri mengatakan jika wanita ini pasti akan mati? jangan ada yang berisik!" ucap Hua Mulan dan mulai berkonsentrasi lagi kepada ujung pisau nya.
Tetua Zhou juga ikut berkeringat melihat pisau wanita itu bergetar, dan beberapa orang menutup hidung mereka agar suara nafas mereka tidak menggangu konsentrasi Hua Mulan.
"Nyonya tabib apa kau yakin?" tanya Tetua Zhou.
__ADS_1
Hua Mulan mengangguk, namun meletakkan pisau nya untuk mengelap keringat di telapak tangan nya.
"Biar aku saja," ucap Zhi Yuan.