
Pria berpakaian pelayan yang sudah kehilangan tangan kanan nya itu, menggerakkan bola matanya seperti ingin bicara, namun darah mulai bercucuran dari leher dan bibirnya begitu deras, membuat semua orang menjerit di tempat itu.
"Hakkk.... hakkk...., preesss....., tiba-tiba gerimis darah menyembur kencang keluar semakin banyak dari leher nya dan pria itu roboh saat Zhi Yuan sudah begitu jauh dari pria itu.
Zhi Yuan mengambil lencana itu dari kepalan tangan kanan yang di potong nya tadi, dan setelah mendapatkan lencana itu, tangan kanan pria itu di lempar begitu saja, dan pemuda itu mendekati Hua Mulan yang hanya membeku seperti menahan sakit, tangan kanan nya berpegangan di tembok serta tangan kirinya memegang perut nya.
Wajah nya terlihat pucat, keringat dingin membanjiri wajahnya, bahkan warna bibir nya sudah mulai memutih, darah terus mengalir dari perut yang di tutup dengan tangan kirinya
Zhi Yuan menangkap wanita itu sebelum roboh, matanya menatap sekeliling, tidak ada satu orangpun di halaman luas kediaman keluarga Li itu.
"Nyonya bertahanlah," ucap Zhi Yuan
wanita itu mengangguk,
"Ke ruangan mu saja," ucap wanita itu sambil menekan perut nya, darah mengalir deras dari jemari wanita itu,
Ruangan khusus tamu yang di tempati Zhi Yuan berada paling luar dan sedikit tersembunyi karena tanaman hias yang tinggi, hanya dari halaman tengah ruangan itu dapat terlihat.
Ilustrasi Hua Mulan. (semua hanya ilusi yang memerankan sebuah pertunjukan, dan semesta akan memainkan nya tanpa sehelai keberpihakan)
__ADS_1
Zhi Yuan membaringkannya wanita itu di ranjang nya,
"Nyonya aku akan mencari pelayan untuk memanggil tabib terdekat," ucap Zhi Yuan, karena dirinya hanya sekali pernah melewati ibukota ini dan tidak tahu tabib terdekat.
Namun wanita itu memegang lengan Zhi Yuan,
"Tidak Zhi Yuan, pria itu sudah mengambil lencana ayahku," ucap Hua Mulan.
"Tenanglah Nyonya, aku sudah mendapatkannya lagi, sekarang biar aku memanggil pelayan," ucap Zhi Yuan, namun wanita itu kembali memegang lengan nya, tangan kirinya masih menutupi luka yang terus mengeluarkan darah nya.
"Tidak... aku tidak ingin terlihat lemah di depan orang-orang itu, pergilah.... bawa lencana itu jauh dari tempat ini, luka ini tidak terlalu dalam, aku tahu cara mengobati nya," ucap Hua Mulan, pakaian nya sudah basah karena keringat.
Wanita itu menurunkan sudut mata nya menatap luka menganga, dan terlihat di sekitar luka itu urat-urat bercabang keunguan bermunculan.
"Dari warna itu, ini racun yang sangat ganas," batin Hua Mulan yang berpikir tidak akan selamat, wajahnya mulai menunjukkan sedikit rasa ketakutan.
"Bertahan lah," ucap Zhi Yuan dan mengetahui jika dirinya mencari tabib semua akan terlambat, pemuda itu melesat keluar dan hanya beberapa menit sudah kembali ke ruangan itu,
Wanita membuka matanya, dan melihat Zhi Yuan sudah membawa peralatan dan lentera, agar ruangan nya lebih terang, Zhi Yuan mulai membersihkan luka wanita itu,
"Zhi Yuan apa yang kau lakukan? aku memiliki bakat ayah ku, dan aku tahu racun dari luka ini tidak mudah di obati, kau tidak akan bisa mengobatiku, carilah tabib di paviliun obat Guo, bawa kemari secara sembunyi-sembunyi, hakkksss.... ," bibir wanita itu terbuka saat Zhi Yuan melebarkan lukanya wanita itu dengan pisau kecil, menghisap seluruh racun nya, wanita itu mencoba menarik rambut Zhi Yuan agar berhenti namun pemuda itu bergeming dan tetap melakukan pekerjaan nya.
__ADS_1
"Cukup Zhi Yuan kau akan mati jika menghisap racun itu," ucap Hua Mulan, matanya menatap Zhi Yuan yang terus meludahkan darah yang bercampur racun, kedalam mangkuk besar.
"Totokan ku sudah menghentikan pendarahan nya, dan racun nya tidak menyebar, lagipula aku tidak tahu paviliun Guo," ucap Zhi Yuan dan terus menghisap racun dan sisa darah di luka itu.
Setelah luka itu bersih dari racun pemuda itu memasukkan bubuk pemberian Hua Daiyan ke luka itu, dan perlahan luka itu tertutup dengan mengeluarkan uap biru, wanita itu terlihat kelelahan dan tertidur, dan tidak sadarkan diri. Tengah malam wanita itu kembali sadar mata nya menatap luka yang sudah tertutup namun tampak mengerikan kulit di sekitar lukanya. wanita itu menatap sekeliling dan menemukan Zhi Yuan sedang duduk di dekat nya sambil membaca kitab.
"Nyonya kau sudah sadar?" tanya Zhi Yuan.
"Kenapa kau belum pergi? apa kau pikir aku akan berterimakasih dengan menyelamatkan hidup ku? cepat pergi aku tidak membutuhkan mu," ucap wanita itu.
Zhi Yuan menotok leher wanita itu membuat nya tidak bisa bicara,
"Itu jauh lebih baik, seseorang yang lebih arogan dari mu mengatakan padaku, jika kau tidak bisa berterimakasih setidaknya jangan menghina orang yang sudah mencoba menolong mu meskipun usaha mereka gagal," ucap Zhi Yuan.
"Sekarang diamlah, aku tidak tahu racun jenis apa ini, jadi agar tidak membahayakan nyawa anda, biarkan semut racun ini bekerja, biasanya orang akan menggunakan lintah racun, tapi aku tidak menemukan nya di paviliun obat, jadi aku mencari semut ini, meski tidak sehebat lintah, namun mahluk ini akan membantu," ucap Zhi Yuan dan mengeluarkan tiga ekor semut racun sebesar kelingking anak-anak, dari potongan sebuah bambu kecil, dan melepaskan totokan di leher wanita itu.
"Ini adalah tontonan yang aku tunggu, wanita keras kepala dan menyebalkan seperti anda akan meraung-raung kesakitan, kita lihat apa sakit mempu membuat wanita angkuh menjerit? dan berterimakasih padaku," ucap Zhi Yuan salah satu sudut bibirnya melengkung penuh kemenangan
"Apa, berterimakasih? Tidak akan," bisik wanita itu menatap kesal ke arah Zhi Yuan, wajah nya terlihat mengkilap karena keringat.
"haakkkk...." terdengar pekikan saat semut racun beraksi, bibir nya terbuka seperti meringis menahan sakit, sambil membelalakkan matanya ke arah Zhi Yuan.
__ADS_1