Legenda Penjaga Gerbang Timur

Legenda Penjaga Gerbang Timur
Ch. 138 - Impian yang terkubur


__ADS_3

"Apa? ini tidak mungkin?" dengan cepat memegang jemarinya, kepalanya menggeleng dan melihat ayah nya dan Tetua Zhou yang terlihat mata keduanya memerah, wanita itu menghampiri Hua Daiyan dan menariknya dan membawa duduk di balai luar di halaman.


"Ayah tolong periksa nadi ku!" ucap Hua Mulan.


Hua Daiyan menggelengkan kepalanya,


"Puteri ku aku sedang tidak ingin bermain saat ini, aku begitu lelah, beri tahu pekerja jika tabib hari ini sedang keluar," ucap Hua Daiyan.


"Ayah.... aku mohon, aku sedang tidak bermain-main," teriak Hua Mulan seperti histeris.


Hua Daiyan dan Tetua Zhou saling menatap melihat tingkah aneh Puteri nya, dan secara perlahan tangan keriput itu mulai memegang nadi Puteri nya, pria tua itu menggeleng dan kembali memeriksa dengan lebih teliti.


bibir pria tua itu terbuka, Tetua Zhou tampak menelan ludah nya yang seperti tersangkut di tenggorokan nya.


"Puteri.... kau mengandung, meski denyut nya begitu lemah," ucap Hua Daiyan.


semua orang di tempat itu kembali mengeluarkan air mata mereka, Tetua Zhou Zhiping menggeleng, menengadah wajah agar air matanya tidak terlihat.


Hua Mulan mengusap bibir kering nya dengan lidah nya seperti tidak percaya ucapan ayah nya, matanya terpejam dan seperti berdoa begitu dalam.


"Ayah.... kami akan memiliki seorang puteri yang lucu," gumam Hua Mulan dengan bibir bergetar.


"Ten-tu Puteri ku, kita semua akan merayakan nya, benarkan saudara Zhou?" ucap Hua Daiyan.


Malam itu mereka semua merayakan kehamilan Hua Mulan, wanita itu tidak pernah berhenti tersenyum, dan tidak makan sama sekali, hanya minum ramuan untuk kesehatan kandungan nya saja.


"blaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrr....." suara petir tiba-tiba menggelar tidak lama hujan mulai mengguyur kediaman sederhana itu, mereka Manarik balai luas itu dan meletakkan di serambi rumah mereka, mereka mulai duduk menikmati suasana hujan sambil menyantap hidangan panas. tingkah janggal dari kedua orang tua itu sedikit terabaikan dari perhatian Hua Mulan yang terlalu bahagia dengan perut nya, namun itu tidak berlangsung lama wanita itu akhirnya tersadar.


"Ayah... beberapa hari ini kau terlihat sedikit berbeda," ucap Hua Mulan dan sudut matanya juga menatap Tetua Zhou yang terlihat lebih banyak melayang kemana-mana. Hua Daiyan sedikit terkejut dan menyembunyikan cahaya di tangan nya.


"Aahhh... tidak, aku hanya sedikit lelah saja, saat ini menantu sedang berkultivasi dan beberapa hari yang lalu menitipkan sesuatu untuk mu," ucap Hua Daiyan dan memperlihatkan cahaya putih di telapak tangan nya.

__ADS_1


Hua Mulan memerhatikan benda bercahaya itu dalam-dalam.


"Ayah... apa itu seperti yang aku pikirkan?" tanya Hua Mulan.


Hua Daiyan mengangguk, namun wajah Hua Mulan terlihat begitu tegang, banyak sekali dalam pikirannya, dan tidak bisa mengeluarkan nya satu-persatu.


"Tidak... tunggu ayah, jika itu Dantian putih milik ku, hanya satu orang yang memiliki nya, dan ada kemungkinannya ingatan ku kembali ke usia 14 tahun saat Dantian itu di ambil, dan.... " suara Hua mulai terhenti beberapa saat.


wanita itu menelan ludah nya dan kembali bicara,


"dan aku bisa melupakan kenangan terakhir ku, aku tidak mau, tidakkk... dulu aku pernah menginginkan nya, namun tidak saat ini, aku sudah memiliki segalanya bersama suami ku, aku tidak akan pernah menginginkan benda itu lagi, jauhkan dari ku!!!" teriak Hua Mulan, berdiri dan sedikit mundur menjauhi Dantian di tangan Hua Daiyan.


Dan mulai berpikir bagaimana Zhi Yuan bisa mendapatkan Dantian putih yang sebelumnya di ambil ibu suri.


"Deni dewa... Apa yang sebenarnya terjadi? istana, ibu suri, mereka bukan orang yang bisa di temui oleh seorang pejabat senior sekalipun. Ini benar-benar tidak masuk akal, suami ku bukan orang yang bisa berbicara dengan orang-orang tinggi seperti itu, ayah tolong katakan apa yang sedang terjadi, aku istrinya dan aku yang paling berhak tahu," teriak Hua Mulan seperti orang gila.


Hua Daiyan hanya menggeleng, mata tua nya kembali berair,


Hua Mulan mengangguk karena mengetahui hal itu juga, dan mulai menenangkan pikiran nya, sambil memegang perut nya dan kembali duduk.


"Puteri ku Dantian putih ini bisa membantu mu menjaga kandungan mu, terimalah," ucap Hua Daiyan.


"Tidak ayah... bagaimana jika aku melupakan suamiku, bagaimana jika ingatan indah kami hilang, aku tidak mau menukar apapun untuk kedua hal itu," ucap Hua Mulan.


"tapi Puteri ku bagaimana dengan kandungan mu? bukankah itu sangat penting untuk kalian berdua," ucap Hua Daiyan.


Dalam gelap tidak jauh dari gubuk tempat beberapa orang berkumpul itu, Pemuda itu berdiri di bawah guyuran air hujan, sesekali cahaya petir menerangi wajahnya terlihat pucat merasakan kesepian dan kepedihan, malam tanpa kehangatan, menatap langit gelap, saat ini hanya pedang di pinggang menemani nya, bibir nya sedikit terbuka memperlihatkan gigi putih nya yang merapat, uap putih mengepul dari hidung nya yang memerah, perasaan berjuta pemikiran, logika tak berujung, bibir merah nya hanya berkata.


"Seperti itulah jalan sebuah pedang, dingin, cepat, dan tajam, dan pada akhirnya hanya meninggalkan luka penyesalan dan perih kesedihan." ucap Zhi Yuan, dan masuk dalam selimut kegelapan, disertai Sambaran petir mengiringi kepergian nya.


Mata Hua Mulan di kejauhan menangkap sekelebat bayangan dari cahaya petir wanita itu berlari ke halaman, namun tidak melihat siapapun lagi, wanita itu memejamkan matanya air matanya kembali keluar bercampur air hujan, angin menyapu wajahnya, hidung nya sedikit bergerak, dan dapat mencium harum tubuh dari pria yang selalu mengisi hatinya, dan wanita itu hanya mengangguk perih.

__ADS_1


Zhou Zhiping mengejar nya, sambil membawa payung untuk melindungi istri majikan nya dari guyuran hujan.


"Nyonya tidak ada siapapun, anda mungkin salah lihat," ucap Zhou Zhiping menunduk yang mengetahui jika Zhi Yuan beberapa saat yang lalu memperhatikan mereka.


"salah?" tanya wanita cantik itu, sudut mata Hua Mulan menatap sinis ke arah Zhou Zhiping, yang menunduk.


"Tetua, aku tidak akan salah dalam mengenali rumah ku sendiri, punggung nya adalah rumah ku untuk selamanya, aku tidak akan pernah salah," ucap Hua Mulan, bibir nya mulai sedikit bengkak dan memerah karena menangis.


"Suami?" gumam nya sambil memejamkan matanya.


"Apa ini yang kau inginkan? jika seperti itu baiklah, tapi aku juga memiliki cara," ucap Hua Mulan, dan mendekati Hua Daiyan.


"Ayah... aku menerima pemberian suamiku , tapi sebelum nya, aku akan menulis semua tentang kami, bahkan hal sekecil apapun harus aku tulis," ucap Hua Mulan dan melangkah perlahan masuk ke ruangan nya, dengan pakaian basah.


Semalaman wanita itu menulis dengan tangan bergetar, dua lentera di atas meja menemani nya, tampak tetesan air mata terjatuh di atas kertas itu membuat beberapa huruf menjadi kabur, berkali-kali wanita itu menangis sejadi-jadinya memikirkan saat pertama mereka bertemu, saling bertengkar saat mengobati racun nya, dan kebersamaan mereka sebagai suami istri yang terlalu singkat, dan pucuk kebahagiaan yang baru saja mekar di rahim nya.


"Zhi Yuan... hanya nama itu satu-satunya yang akan aku ingat saat terbangun nanti, ataupun saat aku terlahir lagi, hiks....." ucap Hua Mulan, sambil memejamkan matanya dalam-dalam dengan tubuh bergetar hebat.


"Dewa, tolong jaga ingatan ku, jika bukan karena Puteri kami, aku tidak akan menyentuh benda itu," batin Hua Mulan, menatap makanan yang sudah dingin yang di bawakan oleh Hua Daiyan semalam, wanita itu mengangguk dan mengambil memakan nya dengan cepat memasukkan nya kedalam bibirnya, pipinya menggelembung penuh makanan, kedua tangannya mengusap air mata yang seperti tidak bisa berhenti, tubuh nya terguncang seperti begitu kelelahan.


dua orang tua mengintip nya dari celah pintu depan wajah begitu sedih, melihat wanita itu memaksakan makan untuk kesehatan bayi di kandungan nya.


Di tempat lain, Zhi Yuan dengan tubuh basah berdiri di puncak atap paviliun Chun Yan, matanya terpejam, kedua tangannya terkait di belakang punggung nya, badai tidak mengerakkan sedikit pun tubuh mematung nya, dan pemuda itu mulai mempercayai semua ucapan Penasehat Ming,


"hiduplah dengan baik, lan'er," ucap Zhi Yuan begitu pelan, dan mulai mengubur mimpi nya, dan juga perasaan nya. saat sinar matahari pagi muncul menyinari wajahnya barulah mata tanpa ekspresi di bawah bulu mata lentik itu terbuka, tubuh pemuda itu melayang turun, perlahan kakinya menyentuh halaman paviliun Chun Yan, dan setengah berlutut bersiap menerima perintah dari tuan nya yang sedang duduk sambil memainkan tiga bola api di jemarinya.


"kau mengambil keputusan yang tepat, dan sepertinya sudah siap," ucap seorang wanita begitu cantik tersenyum sendu, pakaian nya tampak sedikit terbuka, menatap mata Zhi Yuan yang kini memiliki sorot begitu dingin tanpa belas kasihan.


*****


Ringkihan kuda terdengar bersahutan, puluhan Jendral senior mengenakan pakaian kebesaran mereka, dan lebih dari dua ribu pasukan berkuda beriringan mengawal tidak kurang dari 5 ribu orang, dan puluhan kereta kuda yang akan memasuki ibukota Kekaisaran Qing, tampak lambang kebesaran dari Kaisar kekaisaran Qing, dan istana Giok berkibar membuat setiap manusia, tidak peduli bangsawan atau budak harus berlutut saat berpapasan dengan iring-iringan itu.

__ADS_1


******


__ADS_2