
Pandangan wanita itu seperti kosong, mulai mengenang masa-masa sulit nya.
"Aku berpura-pura lupa ingatan, agar ayah menceritakan semuanya, setelah mengetahui semuanya aku belajar siang malam, aku menolak menjadi tabib istana, hanya dengan satu tujuan, karena menunggu hari ini, dimana pagi ini Penasehat Ming mendatangi ku, dan besok pagi aku akan datang ke istana untuk mengambil suami ku dari tangan Penasehat Ming, bahkan aku sempat berpikir jika kau sudah meninggal aku baru mendapatkan kesempatan menukar mu, aku akan rela menukar jasad mu dengan kemampuan ku," ucap Hua Mulan, dan menceritakan tentang Penasehat Ming yang mendatangi nya.
Tapi bagaimana dengan teman satu pekerjaan yang menyatu itu? dia bisa membantu mu meringankan pekerjaan mu, atau berbagi beban karena satu bidang pekerjaan," ucap Zhi Yuan.
Hua Mulan mengangkat kepalanya dari pangkuan Zhi Yuan, menatap wajah suami nya dengan kening berkerut tidak mengerti ucapan suami nya, dan mulai mengingat rayuan tabib muda Li.
"aahhhhh.... hihihi..... jadi itu sebabnya kau seperti merestui hubungan kami? hemmm... apa kau cemburu?" tanya Hua Mulan menutup bibirnya yang tidak bisa berhenti tertawa, menatap mata Zhi Yuan dengan alis sedikit terangkat.
"iya aku begitu cemburu, karena kau tidak akan bisa membagi beban pekerjaan dengan ku," ucap Zhi Yuan.
"hihihi... Zhi Yuan, aku menjadi seorang tabib bukan karena aku menyukai nya, atau uang, tapi semua karena kau, hanya kau. Tetua Zhou Zhiping sudah menyerahkan padaku semua kekayaan mu, aku tidak kekurangan uang lagi, setelah mendapatkan mu, aku akan hanya menjadi istri mu dan merawat mu, mencoba apapun agar kau bisa bertahan sedikit lebih lama, meski hanya sehari itu akan sangat berharga bagiku, jadi buang lah rasa cemburu itu, tabib muda itu tidak layak untuk tangisan ku setiap malam sambil belajar selama dua tahun ini, hanya kenangan dan putera kita yang selalu menyemangati ku, membuat ku tidak pernah berhenti," ucap Hua Mulan.
Zhi Yuan mengangguk dan meremas tangan Hua Mulan,
"maafkan aku sudah meragukan mu, dan sudah membuat mu begitu bekerja keras," ucap Zhi Yuan.
Hua Mulan menenggelamkan kepalanya di dada Zhi Yuan, dan sambil berusaha menatap wajah suami nya itu.
"Katakan berapa sisa umur mu?" tanya Hua Mulan yang seperti sudah tegar.
"Mungkin 4 bulan lagi," ucap Zhi Yuan.
Hua Mulan mengangguk, mencoba menahan pukulan yang begitu kencang di dadanya.
"Itu lebih dari cukup, kau bisa memberikan ku seorang Puteri, dan kali ini lakukan dengan benar, kita sudah memiliki dua putera, yang mungkin saja sama bodoh nya, dan kau jangan khawatir saat kau... kau meninggalkan kami, kami semua akan sangat siap melepaskan kepergian mu, kami akan tetap hidup dengan kenangan kita," ucap Hua Mulan mengambil anak laki-laki itu dan menidurkannya di sebuah ruangan.
Hua Mulan menarik pergelangan tangan Zhi Yuan dan membawa nya ke arah ruang tidur nya, keduanya berciuman begitu hebat sambil berdiri, Hua Mulan mendorong tubuh Zhi Yuan hingga terduduk, dan wanita itu naik kepangkuan pemuda itu.
__ADS_1
Mata sendu nya menatap mata Zhi Yuan,
"Jangan terkejut, aku seorang tabib hebat saat ini, dan banyak mempelajari hal-hal seperti ini, dan sekarang sudah waktunya aku melatih nya langsung, dan sudah terlambat untuk mu memohon pengampunan ku," bisik Hua Mulan.
Keduanya kembali berciuman, nafas Hua Mulan semakin memburu saat bibir Zhi Yuan bermain di lehernya dan semakin kebawah, begitu juga dengan jemari nya begitu lembut masuk ke pakaian atas dan menyentuh gunung indah yang sudah begitu kencang, membuat wanita itu bergetar,
"aahhh..., suami aku sudah tahan, aku begitu merindukan ini selama dua tahun, aku ingin merasakan nya dengan cepat sekarang," ucap Hua Mulan yang sudah begitu basah, dan tanpa bermain lebih lama, benda besar berurat itu sudah mulai tertelan oleh milik Hua Mulan yang hanya melepaskan sedikit pakaian nya.
"aaahhh.... sssstttt......" desa.. han Hua Mulan terdengar sedikit bergetar, seperti begitu menikmati detik-detik benda itu memasuki nya,
"diamkan sebentar," bisik Hua Mulan yang merasa begitu sesak namun terasa begitu gatal, dan perlahan bergerak dari atas dengan mata sendu dan bibir terbuka, desa... han terdengar setiap hembusan nafasnya.
Gerakan Hua Mulan semakin lancar bersamaan dengan buih sedikit kental membaluri milik Zhi Yuan yang terlihat begitu kokoh,
"suami... kali ini aku tidak akan bertahan lebih lama, ini begitu nikmat," rancau Hua Mulan wajahnya mendongak di penuhi keringat sangat menikmati permainan nya.
"aahhh... suami.... suami.... a-ku akan keluar," bisik Hua Mulan nafas nya mulai tersengal,
Hua Mulan melepaskan tautan mereka dan kembali mengejang di ranjang nya, dan kini Zhi Yuan mengambil alih tubuh wanita itu dan tampak Hua Mulan terlihat begitu bersemangat dan sangat energik.
"aahhhh... a-ku akan keluar lagi, suami hari ini aku harus membuat pil pencegah kehamilan, karena jika kali ini jadi, maka kita akan memiliki tiga putera, aahhh... sedikit lagi," ucap Hua Mulan sambil menutup bibirnya dengan jemari karena suara nya sudah seperti berteriak.
di luar ruangan tempat pasangan itu beradu kenikmatan basah, dua pria tua terlihat duduk berhadapan dan melihat sepatu milik laki-laki berada di luar ruangan itu.
Zhou Zhiping menatap sahabat nya lekat-lekat, mendengar ******* Hua Mulan yang terdengar sedikit menjerit, di ruang tidurnya.
"saudara ku, aku tidak akan melupakan persahabatan kita, tapi jika aku bertahan di tempat ini aku seperti mengkhianati majikan ku, seperti pesan Tuan ku, aku akan meninggalkan nyonya jika sudah memiliki pendamping, aku akan berpamitan untuk terakhir kalinya pada Nyonya, semua harta tuan,sudah aku serahkan padanya," ucap Zhou Zhiping begitu serius.
Hua Daiyan mengangguk,
__ADS_1
"Aku sangat mengerti perasaan mu, pergilah saudaraku, jika usiaku panjang aku pasti akan mengunjungi mu," ucap Hua Daiyan memberikan hormat nya.
Hua Mulan keluar ruang tidur nya dengan langkah begitu pelan, wanita itu sedikit menggeleng sambil mengusap keringat yang sudah membasahi pakaian nya,
"Dantian putih ini begitu hebat, bocah itu hampir memakan ku hidup-hidup, aku masih mampu beberapa jam lagi, aku sangat beruntung," ucap Hua Mulan.
"Suami bisakah kau mengganti matras basah i-tu..." ucap Hua Mulan terhenti saat mendapati dua orang tua yang terlihat begitu marah dan kecewa menatap nya.
"apa kau benar-benar Puteriku, aku sangat kecewa, menantuku sedang berjuang menjadi pelayan agar kau bisa bahagia, tapi saat dia belum benar-benar pergi kau sudah melakukan...." ucapan Hua Daiyan terpotong oleh suara Hua Mulan.
"ayah tolong hentikan... dan perkenalkan saja suami baruku," ucap Hua Mulan dengan dua tangan terlipat di bawah dada nya seperti begitu marah dengan ayah nya yang awalnya menyembunyikan semua rahasia nya.
Zhi Yuan keluar, dan membungkuk di depan Hua Daiyan,
"hormat ku, ayah mertua, Tetua Zhou," ucap Zhi Yuan, berusaha merapikan pakaian nya, menatap marah ke arah Hua Mulan, karena begitu kasar kepada ayah nya.
Tampak Hua Daiyan terbelalak dan Zhou Zhiping berlutut dengan cucuran air mata.
"Bagaimana ayah? apa kau setuju? aku mengenal nya tadi pagi, bahkan aku tidak begitu mengingat nama pemuda ini," ucap Hua Mulan kesal.
"Ayah tolong sampaikan ke rumah pengobatan jika hari aku keluar ibukota, dan sampaikan permintaan maaf ku pada tabib muda Li karena menolak lamaran nya, dan katakan juga aku tidak akan menemui nya lagi," ucap Hua Mulan
Hua Daiyan mengangguk,
"tentu saja Puteri ku, tentu saja, sekarang pergilah," ucap Hua Daiyan, yang melihat Puteri nya sudah menarik tangan Zhi Yuan yang mencoba melawan wanita yang memaksa untuk membawanya kembali ke ruang tidurnya.
"Menantu ku aku begitu bahagia kau datang, pergilah temani istri mu," ucap Hua Daiyan membuat Zhi Yuan membungkuk dan pasrah di tarik oleh Hua Mulan.
Kedua orang tua itu tertawa, saling menatap dengan hampir berpelukan, karena begitu bahagia.
__ADS_1
"Saudara Hua sebaiknya kita menjauh dari ruangan ini, dan aku akan membeli minuman yang banyak, kali ini kau akan tidak mengelak lagi," ucap Zhou Zhiping, terlihat begitu bahagia.
"oohhhh... itu sudah jelas saudara Zhou.... jangan lupa daging, undang teman-teman kita, dan jangan biarkan berhenti jika belum mabuk, ini hari yang begitu menggembirakan," ucap Hua Daiyan menggoyangkan telunjuk nya dengan suara bergetar.