
Ini adalah taruhan terakhir Zhi Yuan, namun pemuda itu seperti membiarkan lawannya untuk menang, pemuda itu mulai menghitung dan mengetahui kartu dari lawan mereka, dan sangat yakin akan kartu milik menang, pemuda itu mulai memegang paha Liu Bing Yan membuat tubuh wanita itu sedikit bergetar, dan berpura-pura menahan tangan nakal Zhi Yuan.
"Nyonya kau membawa keberuntungan padaku," ucap Zhi Yuan membanting kartu nya, dan kali itu Zhi Yuan menang.
Liu Bing Yan tertawa, membuat pangeran Qing Fan begitu geram.
"Baiklah... aku sudah menghibur mu, meski aku belum puas aku harus duduk ke tempat ku kembali," ucap Liu Bing Yan.
"Tunggu Nyonya, kau akan kembali kepada mereka jika mereka mampu mengalahkan ku, seorang laki-laki harus memenangkan pertempuran untuk mendapat wanita nya," ucap Zhi Yuan membuat beberapa pria di meja itu kesal, namun Liu Bing Yan terlihat begitu senang menjadi pusat perebutan.
"Pangeran bagaimana ini? aahhhh..." tanya Liu Bing Yan berpura-pura tidak suka, dan sedikit terpekik saat tubuhnya di tarik dan kini benar-benar duduk di pangkuan Zhi Yuan, namun membelakangi pemuda itu.
"Bocah kurang ajar lepaskan wanita itu," ucap pria gagah yang berdiri di belakang pangeran Qing Fan.
Namun pangeran Qing Fan mengangkat jemarinya, membuat pemuda itu mundur kembali, sambil menatap dalam-dalam mata Zhi Yuan.
"Tenanglah teman Kasim ku, ucapan nya benar, laki-laki memang harus seperti itu," ucap pangeran Qing Fan, membuat pemuda gagah itu begitu marah karena di permalukan di depan umum.
Ucapan pangeran Qing membuat semua teka-teki malam itu terjawab, Li Zhen Chan menutup wajahnya ingin sekali dirinya pergi dari tempat itu namun masih ingin meyakinkan jika wanita bertopeng itu adalah istri muda nya.
"Bagaimana seorang Kasim bisa tidur dengan adik Hua," batin nya.
Pembagi kartu mulai membagikan kartu, tangan kanan Zhi Yuan kembali bereaksi, mengelus benda Liu Bing Yan membuat wanita itu menggigit bibirnya, semua orang tahu apa yang di lakukan Zhi Yuan di bawah meja dari melihat ekspresi Liu Bing Yan, namun membiarkan saja karena hal seperti itu merupakan hal kecil di tempat itu.
Wajah Liu Bing Yan masih menatap permainan kartu itu, namun konsentrasi sudah hancur,
"aahhhhsss... tangan nya begitu pintar, dan aku sudah begitu basah," batin Liu Bing Yan
Dan kali ini wanita itu yang menggantikan Zhi Yuan memegang kartu nya, dan juga melakukan taruhan, tangan kiri Liu Bing Yan mencari benda panas di bawahnya milik nya, dan mengelus nya dari balik pakaian Zhi Yuan dan dengan seperti begitu pintar wanita itu sudah mampu membebaskan benda itu.
Dadanya seperti berhenti saat memegang benda besar itu, gairah nya sudah tidak mampu di bendung lagi, dan Liu Bing Yan mulai menempelkan serta menggesek pelan milik nya di sepanjang benda itu, membuat nya sesekali bergetar karena getaran benda itu. namun gerakan wanita itu begitu pelan agar tidak terlihat oleh semua orang.
__ADS_1
"aku tidak pernah bertemu benda besar seperti ini, aaahhh... aku begitu menginginkan nya, aku sudah tidak bisa berpikir lagi," batin Liu Bing Yan,
"aahhhsss.. seperti nya kartu ku tidak terlalu bagus, aku hanya bertaruh 100 koin saja," ucap Liu Bing Yan dengan suara sedikit bergetar karena nafas nya begitu memburu, dan kembali menggigit bibir bawahnya, dan ingin duduk di pangkuan Zhi Yuan lebih lama sehingga bertaruh sedikit saja.
Cairan nya sudah begitu banyak, dan membasahi milik Zhi Yuan, tangan kirinya meminggirkan pakaian dalam nya dan mulai menekan ujung besar itu agar bisa menyentuh bibir celah nya.
Kartu kembali di buka, kemenangan kembali di dapat oleh Zhi Yuan, membuat Liu Bing Yan bersorak dan mengangkat sedikit bokong nya, dan tangan kirinya memposisikan benda itu dan mulai duduk begitu perlahan.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya kencang, untuk menahan desahannya, saat merasakan ujung benda itu mulai memasuki nya, jemarinya meremas kartu begitu erat, dan begitu perlahan bagian bawah nya bergerak begitu lembut dan membuat benda itu mulai masuk dengan perlahan.
"aahhh... benda ini benar-benar nikmat, dan aku mencintainya," batin Liu Bing Yan yang sudah tidak dapat menahan denyutan di milik nya.
Pangeran Qing Fan berdiri,
"Saat kita berjudi kita harus tahu lawan, aturan, taruhan dan kapan harus berhenti," ucap pangeran itu, yang begitu fokus untuk memenangkan perjudian itu dan tidak mengetahui jika dua insan di depan nya sudah begitu jauh dari pikiran nya.
"Aku akan mencari udara segar sebentar, bibi Liu aku akan menunggu mu di kamar ku, kau hanya boleh mencium nya saja," ucap pangeran Qing Fan dan ke arah balkon di lantai empat.
"aahhhhsss... apa ini? aku akan keluar," gumam Liu Bing Yan dan menggerakkan tubuh maju mundur, dan sesaat kemudian bergetar hebat dengan tubuh bawah berkedut.
Sorakan kencang mulai terdengar saat di panggung pantai satu pertunjukan tarian di mulai, orang-orang mendekati pinggiran balkon yang menghadap ke lantai satu.
Untuk satu menit wanita itu terdiam dan melepaskan topeng setengah nya, Wanita itu berdiri dan bergerak begitu cepat kini pakaian dalam nya sudah di tangan nya, perlahan membalikkan badannya dan kini wanita itu sedang mengangkangi Zhi Yuan.
"Aku pernah bilang memiliki mata tajam, dan kau satu-satunya pria yang berbeda di mataku, Zhi Yuan," bisik Liu Bing Yan.
"Sekarang aku percaya Nyonya, baiklah... berhentilah bermain dengan bocah-bocah kecil itu, mulailah bermain dengan yang sebanding," bisik Zhi Yuan dan tangan nya mulai bermain di paha Liu Bing Yan.
"mmmmsss... hihihi biasanya para remaja seperti mu hanya bicara besar saja, begitu terjepit akan segera muntah, tapi kau begitu luar biasa, kau bahkan membuat ku keluar tanpa bergerak sedikit pun, tapi itu suatu keberuntungan saja karena aku sudah begitu terangsang sejak tadi," bisik Liu Bing Yan.
Pangeran Qing Fan terlihat gelisah, tampak di kejauhan kedua orang itu tidak terlihat,
__ADS_1
"Pangeran kemana mereka pergi?" tanya Xiao Wen.
"Sekali lagi kalian bicara, besok pagi penduduk akan menemukan kalian sebagai mayat," ucap pengeran Qing Fan tidak percaya jika Liu Bing Yan tidak mematuhi nya.
Ketiganya kembali masuk dan mencari kedua orang itu, tampak beberapa orang sudah dalam kondisi tidak berpakaian, di keremangan, nafas pangeran Qing Fan sedikit tenang karena kedua nya hanya duduk sambil tertawa melihat pertunjukan di panggung lantai satu, masih dengan pakaian lengkap meski wanita itu terlihat begitu senang mengangkangi Zhi Yuan.
"aahhh aku hampir berpikir yang tidak-tidak," gumam pemuda gagah itu.
Ketiganya ikut menonton pertunjukan di lantai satu dari balkon lantai empat, namun mata pangeran Qing Fan sedikit menyipitkan, dalam keremangan tampak wanita itu mendongak dengan kedua tangan menopang, tertekan di dada Zhi Yuan, dan gerakan bokong nya semakin terlihat seperti wanita itu tidak mampu lagi menyembunyikan permainan nya. Meski dalam keriuhan alunan musik di lantai satu namun telinga pangeran itu mampu mendengar.
"aahhh... ini ke empat kali aku keluar... aaakkkhhhhssss," suara Liu Bing Yan tersengal.
Mata pangeran Qing Fan semakin melebar saat tampak tubuh Liu Bing Yan berkedut-kedut sambil menutup bibir nya dan tidak lama wanita itu tertidur di bahu Zhi Yuan, dan di saat bersamaan pertunjukan itu selesai, semua orang berdiri dan bertepuk tangan. pangeran Qing Fan menyela orang-orang itu dan berhasil mencapai tempat kedua orang itu, namun hanya Liu Bing Yan yang tertidur di bangku itu tertidur penuh keringat di wajah nya, sambil tersenyum penuh kepuasan, tampak lantai basah karena cairan dari atas bangku yang diduduki oleh Liu Bing Yan.
"Bajingan," ucap pangeran Qing Fan dan berlari ke arah balkon mendorong beberapa penjaga dan pangeran itu melompat ke arah halaman rumah judi Fei dengan tehnik meringankan tubuh nya, di ikuti oleh kedua teman nya.
Ketiganya berlari menelusuri jalanan, dan sampai di sebuah jalan sempit dan buntu, pangeran Qing Fan mengambil sebuah topeng yang begitu di ingat nya adalah milik Zhi Yuan.
"Pemuda itu mengelabui kita, bagaimana bisa wanita itu tidak berhenti keluar," ucap Xiao Wen.
Pemuda gagah yang merupakan seorang Kasim itu juga terlihat begitu kesal
"Pangeran aku sudah mengatakan dari awal...
"zreebbbb...."
Dan sebuah pedang sudah menembus leher pemuda gagah itu , dan pedang itu adalah pedang milik pangeran Qing Fan
"Srresshhhhh...." dan tebasan berikut sudah memotong kepala Xiao Wen.
"Dari awal? dari awal aku sudah katakan jangan bicara lagi," ucap pangeran Qing Fan wajah terciprat noda darah, dan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
*****