Legenda Penjaga Gerbang Timur

Legenda Penjaga Gerbang Timur
Ch. 30 - Pemilik Tulang Sutra Emas.


__ADS_3

"Tetua tidak perlu cemas aku akan berlatih giat, aku tidak akan memikirkan wanita," ucap Zhi Yuan, yang memang tidak pernah memikirkan wanita.


Tetua Zhang hanya mengangguk sambil membatin.


"bocah bodoh... itu yang aku cemas kan, jika bocah ini tidak memiliki cinta maka dia akan menjadi pembunuh berdarah dingin, rasa cinta bukanlah barang yang bisa di berikan begitu saja, ini bukan bidang ku tapi harus ku coba, tenyata menghangat hati yang dingin adalah pekerjaan yang hal begitu sulit," batin Tetua Zhang seperti mulai putus asa.


"baiklah Yuan'er, penempaan tulang mu akan ke tulang sutra emas, sekarang buka semua pakaian dan serap seluruh hawa mulia dari bunga teratai emas ini," ucap Tetua Zhang, dan melambaikan tangan nya yang tertutupi lengan jubah yang lebar dan tebal.


Dan hal luar biasa terjadi, pohon bunga teratai itu seperti merespon lambaian tangan Tetua Zhang, pohon-pohon itu menggeliat secara bersamaan, dan perlahan kuncup-kuncup bunga mulai muncul dan bermekaran, membuat telaga itu terlihat begitu indah dipenuhi bunga teratai yang mekar.


Zhi Yuan mulai mengerutkan keningnya, tidak menyangka ada sosok yang mampu mengendalikan tumbuhan, kultivator pada umumnya hanya mengendalikan elemen, bukan benda hidup, pemuda itu mengingat ucapan Tetua Zhang yang akan menceritakan kelak mahluk apa dirinya.


"mahluk apa sebenarnya Tetua Zhang," batin Zhi Yuan,


"Yuan'er.... cepatlah!" ujar Tetua itu dengan nada sedikit meninggi.


Zhi Yuan dengan cepat melakukan semua perintah Tetua Zhang, melepaskan seluruh pakaiannya, namun tangannya menutupi milik pribadi nya. Tetua Zhang mengangguk beberapa kali, melihat wajah Zhi Yuan yang tertunduk.


"hemm... bagus kau masih memiliki rasa malu," batin Tetua Zhang.


"Singkirkan tangan mu dari milik mu itu, dan mulai duduk bersila seperti biasa," ucap Tetua Zhang.


Zhi Yuan melakukan perintah Tetua Zhang, sosok berkerudung itu sekilas melihat milik Zhi Yuan sesaat dan mengalihkan pandangan ke arah telaga yang di penuhi ribuan bunga teratai Emas.

__ADS_1


"Kau memiliki benda yang membuat iri setia lelaki rupanya," gumam Tetua Zhang.


Tetua Zhang memejamkan mata nya, angin berhembus kencang membuat lonceng-lonceng kecil berdenting bersahutan, mendung tebal kehitaman mulai menyelimuti bukit tertinggi di perbukitan teratai itu, seperti badai besar akan tiba sesaat lagi, telapak tangan Tetua Zhang mengeluarkan energi berbentuk bola kecil berwarna bening yang di dalam nya terdapat jutaan sambaran petir, membuat bola kecil itu tampak berkilau-kilau.


"Maafkan aku Yuan'er, jika kau hanya membunuh pria bersenjata aku tidak akan mencampuri nya, tapi dengan semua yang kau miliki, aku khawatir kau nantinya akan tega membunuh wanita tanpa senjata, atau bahkan kau tidak akan peduli itu anak-anak, jadi mungkin birahi akan sedikit memalingkan mu dari semua itu, dan akan membuat mu membutuhkan wanita, aku sangat berharap kau bisa mencintai wanita untuk sedikit menghangatkan hatimu itu, aahhh.... aku tidak tahu tindakan ku benar atau tidak kali ini," batin Tetua Zhang.


"Ini adalah sebagian kecil petir yang ku miliki, aku akan memberikan padamu," ucap Tetua Zhang.


Bola kecil itu perlahan berpindah dan masuk ke tubuh Zhi Yuan, dan energi petir itu berhenti di perut bagian bawah nya, dan semakin lama energi itu terserap oleh milik pribadi dari Zhi Yuan, membuat nya semakin menebal, dan terlihat bengkak, serta berurat.


Di saat bersama seluruh energi mulia berwarna keemasan dari sepuluh ribu bunga teratai Emas itu, membalut tubuh Zhi Yuan, dan terserap kedalam tubuhnya, membuat seluruh tubuh pemuda itu bercahaya keemasan.


Zhi Yuan terlihat begitu kesakitan, tubuh telanjang nya terjatuh dilantai bata dan berguling-guling, Tetua Zhang memberikan totokan nya di dada dan beberapa titik vital lain nya, untuk meredakan rasa sakit yang di alami Zhi Yuan.


Tetua Zhang memeriksa setiap jam, dan memberikan totokan berkali-kali bahkan di bagian bawah perut dari Zhi Yuan.


Beberapa jam sudah berlalu, nafas Zhi Yuan sudah mulai teratur, namun matanya masih terpejam dengan posisi berbaring.


"Semua nya sudah selesai, memiliki tulang Sutra Emas saat usia 17 tahun, ini sebuah hal baru, tubuh nya akan sulit menua, dan sekarang tinggal mengujinya petir ku saja," gumam Tetua Zhang sambil menghembuskan nafas panjang nya.


****


Zhi Yuan tidak sadarkan diri selama dua hari, menjelang gelap barulah pemuda itu terbangun, kulit nya terlihat mengkilap karena seluruh tubuhnya basah oleh keringat, dan cairan kecoklatan, rambut sepunggung nya lengket dan lepek, matanya mulai fokus menatap sekeliling, tampak dirinya tertidur di atas ranjang di kelilingi tirai, dalam sebuah ruangan yang cukup nyaman, pemuda itu menggulung rambut nya di atas kepala, menyingkap tirai dan melangkahkan gontai di atas lantai yang terbuat dari kayu.

__ADS_1


"Aku dimana, bagaimana aku bisa disini? aku hanya teringat saat melakukan penempaan di halaman kuil tua," batin Zhi Yuan, yang mengingat jika Tetua Zhang mengatakan penempaan ke tulang Sutra Emas.


Pemuda itu mengambil selembar jubah, menutupi tubuhnya dan melangkahkan keluar ruangan itu, setelah melihat beberapa ruangan, akhirnya Zhi Yuan mendengar suara dari ruang utama, tampak Tetua Zhang sudah duduk bersila di sebuah ruangan utama rumah itu, beberapa peti berada di hadapan nya, dan seorang biksu senior yang di kenal Zhi Yuan juga duduk di hadapan sosok itu.


"Ini semua yang Tetua inginkan," ucap Biksu itu begitu santun.


Tetua Zhang hanya mengangguk,


"Sampaikan ucapan terimakasih ku pada Biksu kepala," ucap Tetua Zhang,


"Akan aku sampaikan Tetua, jika tidak ada hal lain, aku mohon diri," ucap Biksu tua itu dan meninggalkan ruang tamu itu.


"Yuan 'er, sekarang bersihkan dirimu dan berpakaian yang rapi, dan bergabunglah dengan ku di tempat ini setelah nya," ucap Tetua Zhang.


Zhi Yuan sedikit terkejut saat ketahuan sedang menguping, namun pemuda itu mengikuti perintah Tetua Zhang, dan setelah rapi Zhi Yuan sudah duduk di samping Tetua Zhang, kulit nya terlihat begitu bersih dan segar, bahkan hingga ruas kukunya yang panjang-panjang tampak mengkilap.


Meja berkaki pendek berbentuk lingkaran yang cukup luas sudah di siapkan di hadapan mereka, para pelayan datang dan menyiapkan makanan dan minuman.


Seorang pelayan pria yang tampak paling senior di tempat itu menuangkan teh ke cawan Tetua Zhang seperti sudah biasa melakukan nya, dan berbisik kepada Tetua Zhang.


Tetua Zhang hanya mengangguk,


"Persilakan mereka masuk, dan kalian jangan masuk ke rumah utama tanpa seizin ku," ucap Tetua Zhang suara nya masih seserak biasanya.

__ADS_1


Pelayan tua itu mengangguk dan memberi isyarat kepada bawahan nya agar secepatnya meninggalkan ruangan itu. dan setelah para pelayan pergi, beberapa wanita muda masuk ke ruangan itu, dengan pakaian sedikit terbuka, dan riasan wajah yang mencolok.


__ADS_2