
Kelompok perampok yang berjumlah tidak lebih dari lima belas orang itu begitu terkejut, dan dengan secepat kilat bersiap bertarung dengan senjata masing-masing.
Sementara di atas pohon orang yang di panggil Paman Yang mengurungkan niat untuk pergi, pria itu sedikit mengerutkan keningnya sambil mengelus jenggotnya yang hitam.
"Tapak Suci, tunggu sebentar, mungkin kita bisa melakukan sesuatu dari sini," batin orang yang dipanggil paman Yang itu, sambil menatap kedua bocah di samping nya yang terlihat begitu terkejut dengan peristiwa berdarah yang mungkin baru pertama kali mereka saksikan.
"Kalian berdua harus mengikuti semua perkataan paman kali ini, jangan membatah apapun yang paman ucapkan," ucap Paman Yang, matanya masih melihat kejadian itu seperti begitu tertarik sangat berbeda dari sebelumnya.
Biksu itu memasukkan tangan kanannya kedalam lengan jubah dan dengan cepat mengeluarkan nya lagi, tiga butiran bola kecil sudah di jepit oleh ke empat ujung jarinya, dan menghempaskan ke arah kelompok itu, butir bola kecil yang terbuat dari batu hitam itu menembus tubuh para perampok itu, dan dalam sekali serangan lebih dari setengah kelompok perampok itu telah terbunuh, dan sisa nya mencoba melarikan diri, namun biksu tua itu tidak membiarkan nya, dan dengan cepat melepaskan butiran bola kecil lainnya kearah para perampok yang mencoba melarikan diri itu.
Hanya dua orang yang berhasil lolos dari lemparan Biksu tua itu, namun orang yang dipanggil paman Yang sudah melesat dan membantai keduanya.
Dan kini orang yang dipanggil paman Yang itu sudah di hadapan Biksu tua itu di ikuti oleh kedua teman kecil nya.
"Membunuh seorang pendekar ahli hanya dengan satu pukulan? Hormat ku Biksu Besar Luo, hanya Biksu Besar Luo yang memiliki energi qi murni sebesar itu di Kuil Suci Teratai Emas," ucap orang yang dipanggil paman Yang itu.
Biksu tua itu menyatukan ke empat jari dari tangan kirinya di depan dadanya sambil membungkuk.
"Oh... pengamatan tuan sangat baik, bahkan mengetahui dengan jelas tingkatan seorang pendekar hanya dengan melihat beberapa serangan saja, sangat luar biasa, hanya tetua kedua si mata pedang dari sekte Pedang Langit yang memiliki kemampuan seperti ini, saudara Yang Yu Feng senang bertemu dengan anda," ucap Biksu Besar Luo, sambil mengangguk.
Yang Yu Feng menyatukan kedua tinjunya dan membungkuk membalas hormat dari biksu tua itu,
__ADS_1
"Anda terlalu memujiku Biksu Besar," ucap Yang Yu Feng
Yang Yu Feng menghempaskan lengan jubah nya yang lebar dan menyatukan kedua tangannya di belakang punggungnya, dan melangkah mendekati kedua teman kecil nya.
"Mulai saat ini kalian berdua berteman lah dengan bocah itu," ucap Yang Yu Feng pelan.
Xu Guang Zhou dan Xiao Ling yang berjanji mematuhi semua ucapan Yang Yu Feng hanya mengangguk, kedua nya mendekati bocah budak itu, dan dengan cepat bocah kecil itu berlutut, dan kedua tangannya memegang lutut nya yang menyentuh tanah, seperti yang selalu dilakukan nya jika bertemu anak majikan nya.
Yang Yu Feng mendekati Biksu Besar Luo dan menatap kearah tiga anak kecil yang saling menegur.
"Biksu besar apa yang akan kau lakukan dengan bocah malang itu? tanya Yang Yu Feng.
"Aaahhh.... sayang sekali, sangat di sayangkan, aku datang sedikit terlambat tapi ini sudah terjadi, sengaja atau tidak disengaja tangan anak kecil itu sudah dinodai darah," ucapan Biksu Besar Luo terhenti sambil menggeleng sambil menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskan secara perlahan.
"Jadi, aku harus membawa nya ke kuil, untuk memurnikan jiwanya dari nafsu membunuh agar kelak tidak melakukan nya lagi, dan setelah nya aku akan mengantarnya mencari keluarganya atau kemanapun keinginan nya, karena di Kuil kami tidak menerima biksu di bawah umur 30 tahun, namun jika seandainya ingin tinggal di kuil, anak laki-laki ini bisa bekerja menjadi pelayan kecil, itupun jika dia menginginkan nya," ucap Biksu Besar Luo.
Yang Yu Feng menganggukkan kepalanya,
"Biksu Besar kali ini anda berbudi besar anda mengangkat seorang budak menjadi pelayan, bocah itu benar-benar beruntung, jika anda membutuhkan bantuan apapun, anda tidak perlu sungkan katakan saja," ucap Yang Yu Feng.
"Saudara Yang salah paham, di kuil kami tidak mengenal tingkatan sosial, semua orang sama, mereka datang ingin berdoa, ingin menjadi biksu, atau menjadi pelayan, akan di terima selagi memang di anggap perlu oleh pengurus kuil, aku tidak melakukan Budi apa-apa," ucap Biksu Besar Luo.
__ADS_1
Yang Yu Feng hanya mengangguk, menyetujui ucapan Biksu Besar Luo, kedua orang tua itu mendekati tiga bocah yang sudah mulai saling bicara itu.
Biksu Besar Luo membungkukkan sedikit badan nya mendekati bocah budak itu,
"katakan namamu saudara kecil, dan apa kau putera dari seorang bu-dak?" ucapan Biksu Besar Luo tiba-tiba terhenti dengan kening sedikit berkerut.
"tunggu sebentar," ucap Biksu Besar Luo lagi sambil memegang wajah penuh noda dan darah, Biksu tua itu memperhatikan sesuatu di pipi kiri bocah itu, mengusap beberapa kali noda di bawah mata kiri bocah itu, sehingga mulai jelas terdapat dua huruf kecil berbaris indah di sudut pipi kiri bocah itu. Wajah Biksu tua itu semakin terkejut dan dengan cepat memeriksa tengkuk, serta menekan dua jari nya di tulang bahu dan juga rusuk dari bocah budak itu.
Biksu Besar Luo menggeleng beberapa kali, membuat Yang Yu Feng menjadi penasaran.
"katakan siapa nama mu saudara kecil?" tanya Biksu Besar Luo.
"namaku Zhi Yuan," jawab bocah itu.
"Zhi Yuan?" Biksu Besar Luo menirukan ucapan bocah itu, sambil menggeleng tidak percaya.
"Biksu apa adakah yang salah? atau bocah itu terluka?" tanya Yang Yu Feng begitu penasaran.
Biksu Besar Luo menarik nafasnya dalam-dalam,
"Tentu saja tidak ada saudara Yang, hanya saja aku sedikit merasa rendah diri, di usia ku hampir 200 tahun, pengetahuan ku begitu dangkal, aku bahkan tidak mengenal huruf seperti ini, dan jenis tulang bocah ini adalah tulang Sutra," ucap Biksu Besar Luo, menggelengkan kepalanya penuh ketidakpercayaan
__ADS_1