Legenda Penjaga Gerbang Timur

Legenda Penjaga Gerbang Timur
Ch. 80 Hua Mulan


__ADS_3

Aahhhhsss.... pangeran kau? pemuda jelek itu memasukkan nya," ucap Liu Bing Yan meronta tidak terima, namun desa* han sesekali terdengar setiap pemuda itu melesakkan milik nya secara penuh ke milik Liu Bing Yan.


"aahhh... Bibi Bing akhirnya benda ku dapat merasakan milik mu," ucap Xiao Wen yang mulai mengerakkan bokongnya begitu pelan dan dalam seperti ingin begitu menikmati nya


Xiao Wen memejamkan matanya begitu menikmati permainan otot dari celah Liu Bing Yan.


"Bibi Bing, ini sangat nikmat," ucap Xiao Wen, wajah lebar nya terlihat begitu menikmati.


Di sisi lain Li Buya yang berpura-pura tertidur menangis dalam hati nya perasaan nya begitu hancur mengetahui jika wanita yang begitu baik padanya memiliki sifat liar dan tanpa peduli perasaan nya yang selama ini mereka jalin.


Tampak kedua Pemuda itu menggilir Liu Bing Yan, dan wanita itu seperti begitu menikmati nya, bahkan saat para pemuda itu menghinanya semakin membuat Liu Bing Yan bergai *rah.


Semakin malam ketiga nya semakin liar, dan menyeret Liu Bing Yan ke ranjang nya, dan nafas tersengal, dan tirai yang bergoyang menjadi mimpi buruk dari Li Buya. setelah beberapa jam wanita itu mengenakan kembali pakaiannya dan keluar menuju kamar nya sendiri.


***


Pagi itu semua orang sudah bersiap menuju ibukota, Hua Daiyan mendekati Zhi Yuan,


"Anak muda, ingat lah benda itu sangat berbahaya, jika berkenan tolong jaga Puteri ku, itupun jika kau masih di ibukota, aku tahu kematian adalah takdir, tapi aku sangat berharap jika Puteri ku memiliki umur yang panjang," ucap Hua Daiyan.


ucapan Hua Daiyan membuat Zhi Yuan bingung,

__ADS_1


"Paman jika kau berpikir demikian kenapa memberikan kematian pada Puteri mu sendiri dengan mengirim benda ini padanya?" tanya Zhi Yuan.


Hua Daiyan tersenyum, tampak guratan tua di pipi nya semakin terlihat.


"Takdir, dia di takdirkan memiliki benda ini, aku tidak akan menghalangi takdir seseorang meski dia Puteri ku sendiri, Zhi Yuan... siulan seorang bocah bisa menimbulkan ****** beliung, tidak ada yang bisa menduga," ucap Hua Daiyan.


Zhi Yuan hanya mengangguk meski tidak begitu mengerti pepatah yang di ucapkan oleh pria tua itu.


Tampak wajah Li Buya begitu terpukul, rasa benci kepada ketiga orang itu sudah memuncak, dan saat siang rombongan itu sudah meninggalkan gubuk pengasingan Hua Daiyan, dua orang pelayan di perintahkan untuk tetap di gubuk itu, mengurus keperluan pria tua itu.


Iringan kereta kuda itu berjalan pelan, karena beberapa pelayan dan pengawal harus berjalan mengikuti kereta kuda itu, begitu juga dengan Zhi Yuan, dan kali ini Li Buya juga menemani pemuda itu berjalan.


Setelah perjalanan dua hari iringan kereta kuda itu sudah memasuki ibukota, kedua pemuda itu terlihat begitu senang karena sudah mendapatkan keinginan mereka, dan berpisah sambil tertawa riang. sisa pengawal itu memasuki sebuah gerbang megah kediaman keluarga Li, mereka memasuki jalan selebar tiga meter, di kanan dan kiri terlihat bangunan-bangunan besar dan kereta itu berhenti di bangunan induk yang lebih mirip dengan istana.


***


Di sisi lain di kediaman keluarga Li.


Dua orang wanita saling menatap dengan sorot mata begitu dingin, keduanya duduk berhadapan di lantai beralas matras hangat dan di pisahkan oleh sebuah meja berkaki pendek. dua buah kitab berapa di atas nya, dan tangan wanita yang lebih muda memegang kitab-kitab itu seperti benda begitu berharga.


"Plaaakkkk....," sebuah tamparan di wajah wanita yang lebih muda.

__ADS_1


"ibu?" ucap wanita lebih muda itu namun wajahnya terlihat tabah, tidak ada gurat kesedihan sedikit pun terlihat.


"Kau, wanita sial, gara-gara kau putera ku begitu menderita, karena kesialan mu dia diberhentikan dari jabatannya, kenapa kau harus masuk ke keluarga kami? lihat lah madu mu Bing Yan dia berusaha keras agar puteraku bisa kembali menjadi pejabat," ucap wanita tua terlihat begitu benci dengan wanita yang baru saja ditampar nya.


"Suka atau tidak, aku tetap istri tertua dari putera mu, dan aku tidak akan membiarkan surat kepemilikan kediaman keluarga ini di ambil oleh putera mu untuk berjudi," ucap wanita lebih muda itu.


"hahaha.... istri tertua? dengar semasih ada aku, kau tidak memiliki hak apapun di rumah ini, kau hanya menantu tidak berbakti, putera ku meminta surat-surat ini untuk kepentingan keluarga ini, apa kau pikir putera ku hanya orang bodoh? dulu dia adalah pejabat tata negara terbaik di Kekaisaran Qing ini," ucap wanita tua itu dan mengambil beberapa kitab di atas meja berkaki pendek di depan mereka, dan berdiri ingin meninggalkan ruangan itu.


Wanita lebih muda itu mencoba memegang kaki wanita tua itu agar tidak membawa kitab-kitab itu tapi wanita tua itu tidak menghentikan langkah nya.


"Pergilah.... aku lebih senang kau melupakan keluarga ini, kau adalah daging busuk bagi keluarga ini," ucap wanita tua itu dan mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dari jubah nya dan menjatuhkan nya di lantai.


"Itu adalah racun terbaik, tidak akan menyakitkan, dan akan membuat mu tertidur tanpa membuat mu terbangun lagi, aku akan mengadakan upacara pemakaman terbaik untuk mu, kau akan menjadi menantu terhormat untuk selamanya, bukan kah itu yang sangat kau impikan, menjadi menantu terbaik keluarga Li," ucap wanita tua itu dan meninggalkan Hua Mulan.


Mata Hua Mulan terbelalak, tangan nya bergetar tidak percaya apa yang di dengar nya, dan mengambil bungkusan kain kecil itu, namun tidak ada sedikit pun tanda-tanda air mata yang akan keluar dari mata indah nya, seperti nya wanita itu tidak memiliki air mata lagi, dan sebuah panggilan membuyarkan lamunannya.


"Ibu? apa yang terjadi?" ucap Li Buya dan sedikit berlari mendekati ibunya yang sedang merangkak di lantai.


Hua Mulan dengan cepat memasukkan racun itu ke saku jubahnya, dan ingin memeluk putera nya, namun wanita itu mengurungkan niat nya dan dengan cepat merubah ekspresi wajahnya menjadi begitu dingin.


__ADS_1


ilustrasi Hua Mulan, Puteri Hua Daiyan. (wanita besi, air mata lebih menakutkan dari sebilah pedang di leher)


*****


__ADS_2