
Dua hari setelah pertunangan Xu Guang Zhou, guyuran salju semakin deras, musim dingin menuju puncak nya, merupakan terburuk selama satu dekade, tidak ada manusia yang keluar dari rumah hangat mereka, namun hawa dingin mematikan itu tidak mengendurkan niat seorang wanita melewati jalanan membeku yang tertutup salju. wajah suram begitu terpancar, mata nya yang sembab, dan sedikit bengkak menatap lurus ke depan ke sebuah gerbang di hadapan nya.
"Paviliun Dong Chu," batin wanita itu dan meraih gelang besi berbandul di depan pintu dan memukulkan nya cukup kencang.
Wanita hanya berdiri menunggu seperti membeku, seperti tidak peduli dengan salju yang sesekali menyapu sebagian rambut hingga menutupi sedikit wajah cantik nya yang sendu, sesekali uap putih keluar dari hidung yang menjadi kemerahan saat menghembuskan nafas nya.
Tidak lama dua orang sudah membuka gerbang itu, Zhi Yuan dan di belakang nya Kwan Lu menatap tamu mereka, dan berikut nya orang yang dipanggil paman Kwan itu mundur dan pergi membiarkan Zhi Yuan menyambut tamu nya itu seorang diri.
Keduanya membeku cukup lama, wanita tinggi itu hanya menatap sepatu Zhi Yuan, seperti sedang mengumpulkan semua kekuatan nya untuk bicara.
"Nona Wu, langit ini sudah mulai gelap sebaiknya anda pulang," ucap Zhi Yuan dan berniat menutup pintu gerbang itu.
Namun jemari lentik Wu Xiang Yu menahan nya, air mata nya kembali menetes.
"Tunggu!!! aku hanya ingin mengatakan beberapa kata saja, setelah itu aku tidak akan muncul lagi di depan mu selamanya," ucap Wu Xiang Yu dengan suara bergetar.
Zhi Yuan mengangguk, dan membiarkan pintu terbuka.
"Katakan!" ucap Zhi Yuan dingin.
"Aku sudah melihat perbuatan mu dengan nona Xiao Ling dua hari lalu, dan hingga saat ini aku tidak tidur, mencoba mencari pembenaran atas tindakan mu, agar aku mampu memaafkan mu, tapi tidak satu pun yang masuk dalam logika ku, jadi aku mendatangi mu untuk bertanya, kenapa kau melakukan perbuatan itu?" tanya Wu Xiang Yu.
Zhi Yuan menatap wajah Wu Xiang Yu yang terlihat begitu lelah dan kosong.
__ADS_1
"Nona Wu, aku senang kau sudah melihat semuanya, dan seperti itulah kenyataan nya, tidak ada yang aku sembunyikan lagi," ucap Zhi Yuan.
Wu Xiang Yu mengangkat wajahnya, menatap bergantian bola mata Zhi Yuan, bibir nya bergetar sesekali terbuka, memperlihatkan gigi samping dari wanita itu yang merapat, hawa pembunuh begitu pekat di sekeliling tubuh nya.
"Apa? aku tidak menyangka akan sesulit ini mencintai seorang pria, baiklah... mungkin ini adalah karma, aku sudah begitu banyak menolak setiap pria dalam hidup ku, demi perjodohan bodoh ini," ucap Wu Xiang Yu.
Zhi Yuan mengangguk dan menatap gelap malam di belakang Wu Xiang Yu,
"Ini memang perjodohan bodoh, Nona Wu kau sudah mengatakan semua, sekarang pergilah, aku tidak ingin melihat mu lagi," ucap Zhi Yuan.
Wu Xiang Yu mengepalkan tangan, harga dirinya sudah luluh lantak, dan kesabaran sudah habis,
"Ka-takan sekali lagi," ucap Wu Xiang Yu dengan bibir bergetar, dan air mata yang sudah tertelan kedalam nya.
"Cukup!!! cukup Tuan Zhi Yuan, aku akan pergi, meski ini keinginan mendiang kedua orang tua ku, aku tidak perduli lagi," ucap Wu Xiang Yu, dan berbalik memunggungi Zhi Yuan.
Namun tiba-tiba angin bergemuruh, seperti angin tornado menyapu salju jalanan membuat terbang berputar di sekitaran tempat itu.
"Berlutut!!! dan minta maaf," terdengar suara serak menggema di udara, tidak ada yang tahu dari mana asal suara itu, dan seperti orang bodoh Zhi Yuan sudah berlutut tanpa sedikitpun penolakan.
"Tetua Zhang," ucap Zhi Yuan menatap ke arah Wu Xiang Yu yang kini sudah berhadapan dengan Tetua Zhang.
Sesosok berkerudung sudah berdiri di hadapan Wu Xiang Yu yang bersiap pergi.
__ADS_1
"Tetua Zhang? " guman Wu Xiang Yu sudut matanya mengarah ke Zhi Yuan di belakang nya, yang sudah berlutut.
"Nona tunggu sebentar, biarkan bocah kurang ajar itu meminta maaf padamu terlebih dahulu," ucap Tetua Zhang.
Wu Xiang Yu menggeleng sambil memejamkan matanya pelan, setetes air mata muncul lagi dari sudut mata wanita itu, dan meluncur ketanah tanpa menyentuh pipi nya.
"Tidak perlu Tetua, aku mohon diri," ucap Wu Xiang Yu memberi hormat pada sosok berkerudung itu.
"hemmm.... Dewi Phoenix Api, kau mewarisi kecantikan nya, percaya diri, keras kepala, egois, mungkin kau juga mewarisi kesombongan nya, hehehe.... masuk lah penjaga Dewi api, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Tetua Zhang membuat wajah Wu Xiang Yu terkejut.
"Ba-bagimana Tetua bisa tahu?" tanya Wu Xiang Yu begitu penasaran siapa sebenarnya Tetua Zhang.
"Hehehe, silakan masuk, dan kau bocah kurang ajar, tidak seharusnya kau memperlakukan seorang wanita yang datang di depan rumah mu dengan cara seperti itu, tahu kah kau?dengan dia mendatangi mu, sebenarnya wanita itu membuang harga diri mereka hanya demi dirimu, apa kau seberharga itu? pikirkanlah!!! tetap berlutut di luar sampai nona ini memaafkan mu, dan renungkan semua kesalahan mu," ucap Tetua Zhang dan mendekati Wu Xiang Yu.
"Nona ikut lah dengan ku," ucap Tetua Zhang melewati Wu Xiang Yu dan juga melewati Zhi Yuan yang masih berlutut.
Wu Xiang Yu menatap langit gelap Salju masih turun deras, wanita itu melepaskan jubah nya dan menutupi kepala Zhi Yuan. Sudut mata Tetua Zhang menuju arah Zhi Yuan, menghentikan langkah nya sesaat.
"Meski sudah begitu disakiti, wanita itu masih peduli dengan keadaan Zhi Yuan, aahh cinta memang selalu sulit untuk di tebak," batin Tetua Zhang, yang mendengar sedikit perbincangan sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Aku belum memaafkan mu," bisik wanita itu dan sedikit mendorong tubuh berlutut Zhi Yuan dengan pinggul lebarnya membuat pemuda itu sedikit tersungkur dengan wajah sedikit kesal
"Aku akan menghajar pinggul itu," gumam Zhi Yuan pelan, namun wajah nya kearah lain seperti menghitung jumlah salju yang turun, namun Wu Xiang Yu mendengar nya, membuat wanita itu mendekati nya lagi.
__ADS_1
"Coba saja! kita lihat, seberapa kuat dirimu?" bisik Wu Xiang Yu, bibir sensual nya menyentuh telinga Zhi Yuan.