
Tidak beberapa lama Tetua Zhang membuka matanya, ada sesuatu yang mengganjal di dada dari sosok itu,
"Setelah ini aku yang bertanggung jawab atas lahirnya seorang pembantai, tapi lebih baik aku yang melakukannya daripada orang lain, karena aku masih bisa mengontrol nya," batin Tetua Zhang.
"Yuan 'er, sekarang kau sudah mampu menyerap energi qi di sekitar mu, ada banyak jenis energi qi murni di sekitar mu, pusatkan ke Dantian mu, kau memiliki Dantian seimbang kau bisa menyerap energi Yin ataupun Yang, dan aku yakin kelak kau akan bisa mengendalikan dua elemen yang bertolak belakang, dan untuk energi mulia dari bunga teratai Emas, energi itu tidak bisa tersimpan di Dantian mu, energi itu jika terserap akan bergerak ke seluruh tulang, membuatnya menjadi keras, dan kelebihan nya saat tulang mu mampu menyerap energi mulia ini, secara otomatis akan memperindah kulit mu, itu sebabnya tulang Sutra biasanya untuk bangsa elf wanita saja," ucap Tetua Zhang.
Zhi Yuan hanya mengangguk dan masih menutup matanya, tubuh nya merasakan hawa hangat memasuki tubuhnya dari beberapa titik Meridian nya, bocah itu mulai menyerap energi berbentuk uap keemasan yang keluar dari bunga teratai Emas di telaga di dekat Kuil tua itu.
Matahari mulai tenggelam, dan saat malam bunga-bunga baru mulai bermekaran, dan energi murni yang di keluarkan semakin besar dan puncaknya saat dini hari Energi murni itu sudah menyelimuti seluruh tulang dari Zhi Yuan.
"Yuan 'er jangan di teruskan, ini sudah lebih dari cukup untuk saat ini," ucap Tetua Zhang yang terus menjaga Zhi Yuan karena ini pertama kali nya menyerap energi qi.
Zhi Yuan akhirnya selesai menyerap energi dari bunga teratai Emas, dan energi qi murni lain nya, namun hanya setetes energi Yin yang mengisi Dantian nya, seluruh tubuh nya terasa begitu sakit dan membengkak, dan kulit nya memerah.
"aakkkhhhh, Tetua tubuh ku terasa gatal dan begitu sakit," jerit Zhi Yuan, tangan nya terkepal erat mencoba menahan sakit di sekujur tubuh nya.
Untuk pertama kali nya Zhi Yuan begitu kesakitan, bocah itu tidak pernah merintih saat tubuh penuh lebam berkelahi dengan Liu Fang,
"Sekarang cobalah beristirahat Yuan 'er, aku tahu seluruh daging yang melekat di tulang mu membengkak dan sakit, itu karena tulang mu mulai di tempa, lemaskan saja dan jangan di tahan," ucap Tetua Zhang.
Zhi Yuan hanya mengangguk, mengikuti semua ucapan Tetua Zhang, dan tidak beberapa lama bocah itupun telah tertidur.
Pagi sebelum langit terang Zhi Yuan sudah terbangun tenggorokan terasa begitu kering dan juga perut nya sangat lapar karena dari kemarin pagi belum memakan apapun, tampak hampir seluruh pakaiannya nya basah oleh keringat semalam, bocah itu mulai berdiri dan berjalan dengan tertatih-tatih menuju ke arah dapur Kuil.
__ADS_1
****
Sudah hampir tiga bulan Zhi Yuan tidak pernah keluar tempat Tetua Zhang, remaja itu bahkan tidur di dekat Tetua Zhang saat istirahat, pemuda itu juga tidak pernah datang ke Sekte karena tubuh nya selalu sulit di gerakan sehabis melakukan penempaan, dan kini Dantian sudah terisi energi qi murni tidak kurang dari 20 tetes, dan sudah di ranah alam menengah tingkat tiga, dan tulang nya sudah di tingkat tulang sutra perak, hanya saja kali ini sebelum melakukan penempaan tulang, dirinya selalu menyiapkan makanan yang cukup banyak karena setiap selesai melakukan penempaan, perut nya akan menjadi begitu lapar.
"Tetua aku sudah memiliki energi qi murni, apa sekarang aku boleh menggunakan cincin ku?" ucap Zhi Yuan, setelah selesai menyiapkan ramuan untuk Tetua Zhang.
Tetua Zhang mengangguk menatap ramuan di hadapan nya.
"Cincin? tentu saja, itu adalah milik mu, tapi mungkin kau akan kecewa, karena di dalamnya tidak ada tumpukan emas seperti yang kau harapkan," ucap Tetua Zhang.
"Tidak apa Tetua, aku tidak berpikir ke sana, mungkin aku bisa menyimpan upah ku sebagai pelayan di cincin itu," ucap Zhi Yuan.
"Aku senang mendengar nya, kau memang bukan orang serakah, baiklah gunakan energi qi murni mu, dan berkonsentrasi lah dengan cincin mu, maka cincin itu tidak akan pernah pergi dari jarimu, selama darah mu masih mengalir di tubuh mu," ucap Tetua Zhang.
Zhi Yuan kembali berkonsentrasi dan mulai dapat melihat isi dari cincin nya, terdapat tumpukan pakaian, kristal dengan berbagai warna, dan sebuah kitab tebal, yang terlihat begitu lusuh.
Zhi Yuan berkonsentrasi dengan kitab itu dan tangan kanannya bergeser ke kanan, kitab itu sudah berada di hadapan nya, Zhi Yuan begitu senang dengan kemampuan yang sama sekali tidak pernah terlintas dipikiran nya.
Tetua Zhang menarik nafas dalam-dalam,
"Yuan 'er, kau jangan pernah melakukan hal itu di depan orang lain, jika kau sampai diketahui memiliki cincin ruang, mulai saat itu juga kau akan benar -benar di buru seperti binatang, apa aku paham?" ucap Tetua Zhang.
Zhi Yuan menatap Tetua Zhang dan mengangguk dengan serius, dan kini Zhi Yuan duduk di bangku kecil dan meletakkan kitab lusuh itu di atas meja batu.
__ADS_1
Tetua Zhang tidak jadi meminum ramuan nya, matanya menatap lekat -lekat kitab yang kini berada di meja batu di hadapan Zhi Yuan.
Tetua Zhang memainkan kuku panjang nya yang hitam,
"Sudah aku tebak, itu adalah kitab yang lengkap untuk seorang pembantai, jiwa murni nya akan mengesampingkan segala rasa, tidak kemarahan, takut, benci, cinta, atau apapun yang mampu membutakan nya dalam pertarungan, tangan nya tidak akan pernah gemetar sedikit pun, karena tidak ada yang bisa menggetarkan jantung nya, akan sangat sulit mencari lawan untuk menghentikan nya kelak, aku harus melakukan sesuatu," perang batin Tetua Zhang kembali berkecamuk.
"Yuan 'er, bagaimana jika aku akan meminta Biksu Besar Luo membimbing mu tentang dasar-dasar Budi pekerti?" ucap Tetua Zhang.
"Tetua Zhang aku tidak berniat menjadi Biksu," ucap Zhi Yuan.
"haha... tentu saja tidak Yuan 'er, kau tidak meminta mu menjadi biksu, aku hanya ingin kau menjadi orang yang berbakti kelak," ucap Tetua Zhang.
Zhi Yuan hanya mengangguk, dan pemuda itu beberapa kali mengusap sampul dari kitab itu, dan mulai membuka nya seperti sudah terbiasa dengan kitab itu.
"Dia berhasil membuka nya, seperti nya kitab itu memang milik nya," batin Tetua Zhang dan terus mengamati gerakan bocah 13 tahun itu.
Kening Zhi Yuan berkerut, kepalanya menggeleng dan seperti orang yang putus harapan, memutar posisi kitab nya beberapa kali, dan terakhir matanya beralih ke arah Tetua Zhang, membuat sudut bibir Tetua Zhang melengkung ke atas.
"Tetua aku tidak bisa membaca huruf-huruf ini," ucap Zhi Yuan.
Tetua Zhang mengangguk,
"ini akan memakan waktu lama karena kau sedikit bodoh dalam hal seperti ini, huruf dan bahasa dari kitab itu berbeda, hanya beberapa kata saja yang sama dengan bahasa kita saat ini," ucap Tetua Zhang yang masih memainkan mangkuk ramuan nya.
__ADS_1