
Memasuki musim dingin salju turun dengan intensitas sedang, membuat tumpukan putih di atap rumah dan halaman tidak terlalu tebal, kesibukan di rumah pengobatan terlihat lengang, hanya ada beberapa orang yang datang untuk sekedar mencari kepentingan mereka.
Kemarahan Hua Mulan berlangsung cukup lama, wanita itu terlihat dingin dengan Zhi Yuan karena menggeleng saat di tawari istri ketiga oleh Hua Daiyan, namun sudut matanya tidak pernah lepas dari pemuda itu.
"cih... apa hebatnya dia? bocah itu sama sekali tidak pernah melirik ku, aahhh... menyebalkan, awas kau bocah, kita lihat saja sampai kapan kau tidak melirik ke arahku," batin Hua Mulan dan melempar beberapa bungkusan herbal, sambil menatap penampilan nya.
Hua Mulan memutuskan merubah penampilan nya, wanita itu bahkan berusaha membesarkan dada nya namun sayangnya tidak berhasil, dada nya tetap seukuran semula hanya menjadi kencang seperti seorang gadis dan lebih terangkat serta begitu menantang. Hua Mulan selalu mengawasi Zhi Yuan dan selalu mencari perhatian saat ada wanita yang datang ke rumah obatnya.
Di sisi lain dengan kedatangan Hua Daiyan, tempat Hua Mulan semakin ramai, dengan pengalaman nya sebagai tabib Kaisar puluhan tahun membuat nya begitu mudah menangani orang-orang yang datang berobat.
Berbeda dengan Li Buya, pemuda itu seperti mencoba menjauhkan Zhi Yuan dengan Hua Mulan, dan berusaha membuat Zhi Yuan sibuk membantu nya untuk mengajarinya tehnik berkultivasi dan tehnik bertarung, dan semakin lama kemampuan pemuda itu terlihat begitu signifikan karena Zhi Yuan begitu tahu cara menyederhanakan semua tehnik yang sulit.
Hua Mulan tampak begitu bahagia melihat keluarga nya begitu riang, semua terlihat berjalan dengan baik membuat perasaan nya begitu lega, bahkan air matanya keluar saat melihat Zhi Yuan dan Li Buya begitu akur saat memasak ramuan herbal untuk kemajuan kultivasi Li Buya.
"Dia ayah terbaik untuk cucuku," ucap Hua Daiyan yang sudah di dekat Hua Mulan, dan wanita itu tanpa sadar mengangguk, dan mulai sadar.
"Ayah? se-jak kapan kau di sana?" tanya Hua Mulan sedikit gugup sambil mengusap air mata agar tidak terlihat oleh ayah nya.
"Saat air mata keluar untuk seseorang, itu artinya kau mencintai orang itu," ucap Hua Daiyan dan melangkah pelan dengan bantuan kedua tongkat nya.
Tetapi semua orang tidak ada yang tahu isi hati Li Buya yang sebenarnya, Pemuda itu terlihat berbeda saat berduaan dengan Zhi Yuan, sorot mata pemuda manja itu menyimpan suatu kekesalan kepada Zhi Yuan.
Hua Mulan mulai terlihat semakin berubah, dengan uang yang berhasil terkumpul dirinya mulai membeli beberapa pakaian indah dan sedikit perhiasan, meski hanya mengenakan anting serta gelang saja sudah membuat nya terlihat kembali begitu berkelas dan sangat cantik, bahkan kini senyuman menjadi berbeda, saat beberapa kali memergoki Zhi Yuan mencuri pandang ke tubuh nya.
Dan saat Hua Daiyan sibuk dengan alat tulis nya Hua Mulan sudah duduk di hadapannya, dengan wajah begitu serius.
__ADS_1
"Ayah... aku sudah memikirkan ini begitu lama, dan aku tidak mampu melawan hatiku lagi," ucap Hua Mulan dan terlihat sedikit bingung harus bicara apa lagi.
Hua Daiyan mengerti arah pembicaraan Puteri nya,
"Apa kau sudah yakin mencintai nya?" tanya Hua Daiyan menghentikan kegiatan menulis resep ramuan.
Hua Mulan menatap cincin di telunjuk untuk sesaat dan menarik nafasnya dalam-dalam.
"Aku sudah dewasa, dapat membedakan cinta, kagum, obsesi, dan empati ayah, aku tidak mencintai karena dia hebat, tampan, kasihan, atau kebaikan nya padaku, tapi saat ini aku ingin membagi sisa hidupku dengan nya ayah," ucap Hua Mulan.
Hua Daiyan mengangguk, suara tua nya mulai terdengar,
"Tapi, bagaimana dengan pemuda itu?" tanya Hua Daiyan.
Hua Daiyan tersenyum dan hanya mengangguk, pria tua itu memegang tangan Puteri seperti memberi dukungan.
Malam itu Hua Mulan terbangun saat mendengar dua pedang sedang beradu, wanita itu dengan pelan membuka sedikit celah di jendela ruangan nya mencoba mengintip apa yang sedang terjadi, dan wanita itu melihat dua remaja sedang bertarung, dan sangat tampak Li Buya menyerang dengan begitu bersungguh-sungguh, namun Zhi Yuan hanya menahan dengan tenang, dan tidak lama Zhi Yuan sudah menyarungkan pedang nya dan membiarkan Li Buya menyerang nya, namun tangan pemuda itu bergetar dan tidak melanjutkan pertarungan itu.
"Sudah cukup Li Buya, aku tidak akan melawan mu," ucap Zhi Yuan.
"Kenapa? kami sudah tahu kemampuan bertarung mu dari kakek, kau sudah membunuh seorang pendekar legenda, apa sekarang kau merendahkan ku? jika menginginkan ibuku sebaiknya langkahi mayat ku," teriak Li Buya dan melempar pedang nya.
"Seharusnya aku tidak harus menjelaskan apapun padamu, malam itu kami hanya terbawa suasana, meski aku memiliki perasaan padanya, tapi aku pemuda yang tahu diri, ibumu bukan wanita yang pantas untuk seorang anak budak seperti ku, dia harus mendapatkan laki-laki yang membawa nya menjadi percaya diri kembali seperti bangsawan tinggi, seseorang yang bisa di andalkan bukan menjadi kelemahan baginya, dan jika kami bersama, orang-orang kaya itu menggunakan aku sebagai alat untuk menekan ibumu, dan aku sangat tahu ibumu paling benci memiliki kelemahan di sekitarnya," ucap Zhi Yuan.
Hua Mulan yang mendengar ucapan Zhi Yuan, menggeleng namun tidak berani keluar,
__ADS_1
"Tidak Zhi Yuan, jangan bicara seperti itu, aku bukan wanita seperti itu lagi, bahkan un-tuk mu aku akan sangat bahagia hidup di gubuk ini seperti pertama kali kita datang, aku akan selalu bangga memiliki suami seperti mu, aku tidak akan pernah kembali ke tempat tinggi itu, kita akan menetap di rumah kita ini, hingga kita menua," gumam Hua Mulan,
Wanita itu tidak sanggup berdiri di salah satu pihak, kedua pemuda itu begitu berarti dalam hidup nya.
"Aaagggghhh... kalian berdua membuat ku jijik, aku tersenyum di depan kalian hanya demi ibuku, tapi hatiku begitu marah, kau sama saja dengan pangeran cabul itu" teriak Li Buya.
"Cukup Li Buya!!! kau tidak pantas menghina ibumu, ibumu sudah begitu menderita hanya untuk mu," Zhi Yuan mengehentikan sesaat teriakan nya, dan menarik nafasnya dalam-dalam, seperti tahu semua ucapan nya akan sia-sia bahkan memperburuk keadaan.
"Dan.... baiklah aku bisa memahami perasaan mu tidak rela jika ibumu dekat dengan lelaki selain ayah mu, katakan apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Zhi Yuan dengan nada rendah berbeda dengan di awal.
"Pergi!!!!" teriak Li Buya begitu cepat membuat Zhi Yuan terdiam.
Zhi Yuan kembali menarik nafas nya dalam-dalam, dan mengangguk perlahan.
"Baiklah Li Buya, aku akan pergi," ucap Zhi Yuan.
Zhi Yuan menengok ke arah ruangan Hua Mulan, dalam keremangan mata tajam nya mampu melihat Hua Mulan yang di penuh linangan air mata dengan menggeleng seperti tidak rela.
Zhi Yuan menelan ludahnya, jakun nya bergerak begitu terlihat, dan membungkuk seperti memberi hormat dan meninggalkan tempat itu.
'Aku akan kembali saat kalian, sudah siap menerima lencana itu,' batin Zhi Yuan dan menghilang dalam kegelapan.
Hua Mulan menutup bibir nya dengan kedua tangannya menahan tangisannya yang semakin kencang, kepalanya terus menggeleng, kakinya melangkah mencari tempat agar mampu melihat Zhi Yuan,telapak tangannya bergerak seperti tidak ingin pemuda itu pergi, namun tidak ada kata-kata yang mampu keluar dari bibir nya yang bergetar.
"Tidak.... ku mohon... jangan pergi, Zhi Yuan.... tidak aku mohon,' batin Hua Mulan terus menggeleng, menatap punggung Zhi Yuan yang menjauh dan menghilang.
__ADS_1