
Seiring waktu yang berjalan tak terasa sudah dua bulan lamanya Adi menjadi asisten Ricko. Dan persiapan dia kembali ke perusahaan warisan orangtuanya tinggal menghitung hari saja.
Saat ini Adi dan Chris sedang duduk di ruang keluarga membicarakan Adi yang akan menggantikan paman Dom sebagai presdir.
" Kapan kakak akan resign " tanya Chris.
" Belum tahu tapi kakak sudah menyiapkan surat pengunduran diri " kata Adi.
" Apa kakak sudah siap dengan jabatan baru ini " Chris berharap.
Adi mengangguk.
" Aku akan berusaha keras memajukan perusahaan yang telah ayah dan paman Dom pimpin. Dan aku meminta bantuan mu Chris untuk mendampingiku nantinya ' sahut Adi.
" Jangan khawatir kak, aku pasti membantu kakak " kata Chris.
" Terimakasih Chris " ucap Adi tulus.
Selanjutnya Adi dan Chris terlibat perbincangan serius sampai menjelang malam. Kemudian Chris pamit ke kamar karena mengantuk. Diikuti Adi yang kembali ke kamarnya dan tidur.
Pagi harinya Adi sudah siap untuk berangkat bekerja. Setelah sarapan pagi Adi pamit pada bu Rina lalu Adi dan Shasha berjalan beriringan ke depan rumah dengan baby Zaneta dalam dekapan tangan Adi. Adi mencium pipi gembul baby Zaneta tak lupa Adi mencium kening Shasha. Adi memberikan baby Zaneta pada istrinya.
" Hai cantiknya papa, ikut mama dulu ya " Adi mencium pipi gembul baby Zaneta lagi.
" Mas nanti terlambat lho " ingat Shasha.
" Jadi malas kerja nih pengin di rumah sama si cantik " Adi tertawa kecil.
" Sudah sana kerja cari uang yang banyak buat baby Zane " mendorong tubuh Adi pelan sambil tersenyum.
" Cari uang buat baby Zane saja kamu tidak mau hm " meraih pinggang istrinya.
" Ah, malu mas dilihatin mas Agus tuh " seru Shasha.
" Biarin " Adi mengecup sekilas bibir Shasha dan bergegas menuju mobilnya.
Shasha menggerutu tapi senang dengan perlakuan Adi.
" Huh, lihat sayang kelakuan papamu bikin mama makin sayang saja " adu Shasha pada baby Zaneta.
Baby Zaneta menanggapi ucapan Shasha dengan bergumam tak jelas khas bayi.
Adi melajukan mobilnya menuju perusahaan Nusa grup.
Adi telah sampai di ruangannya duduk bersandar sambil memikirkan untuk bicara pada Ricko. Setelah beberapa saat berpikir Adi bangkit melangkah keluar menuju ruangan presdir Ricko.
Seperti biasa Adi menyapa ramah sekretaris Renata sebelum masuk ke ruangan presdir Ricko. Sekretaris cantik itu membalas sapaan Adi dengan membungkukkan badan.
Renata menatap Adi tak berkedip sampai bayangannya hilang dibalik pintu bertuliskan presdir. Hingga seseorang menepuk bahunya membuatnya tersadar dan menoleh.
__ADS_1
" Kakak " seru Renata saat menyadari siapa yang berdiri di depannya.
" Kau suka dengannya " tanya lelaki muda yang dipanggil kakak oleh Renata.
Renata mengangguk ragu.
" Oh ternyata adikku sudah besar rupanya " jawab lelaki muda itu.
" Ish kakak ini oh ya kak, kenapa kakak kemari bukannya kakak di kota x " tanya Renata.
" Kakak ada perlu dengan bos mu, sudah ya kakak masuk dulu nanti dilanjut lagi " lelaki muda itu lalu masuk ke ruangan presdir.
Di ruangan presdir Ricko.
Ricko sedang serius memeriksa berkas di mejanya. Seperti biasa Adi masuk tanpa mengetuk pintu dan duduk di depan meja kerja Ricko. Beberapa saat kemudian Ricko menghentikan pekerjaannya dan beralih pada seseorang yang mengganggu konsentrasinya. Ricko menatap ke depan di sana Adi berdiam diri tak biasanya dia duduk di depan meja Ricko. Biasanya Adi duduk di sofa tapi kali ini Adi hendak menyampaikan sesuatu pada bos sekaligus teman kuliahnya itu.
" Ada apa " tanya Ricko.
Adi tidak menjawab dia menyodorkan amplop coklat pada Ricko.
" Apa ini " Ricko mengambil amplop itu.
Ricko membuka amplop itu dan membacanya. Ricko menyadari cepat atau lambat Adi akan resign dari perusahaan ini. Tapi Ricko belum punya pengganti Adi. Sementara Rudy belum memberi kabar apapun sampai saat ini.
Ricko masih termenung memikirkan pengganti Adi. Saat itu pintu diketuk dari luar.
Tok tok tok.
Muncullah lelaki muda masuk ke ruangan presdir Ricko.
" Wah, panjang umur rupanya yang dinanti sudah datang " sindir Ricko.
" Maaf pak presdir ada kendala saat sampai di sini ponsel saya hilang " lelaki muda itu menunduk sambil meminta maaf.
" Ah sudahlah Rud yang penting sekarang kau ada di sini. Lalu bagaimana yang di sana " tanya Ricko.
" Aman terkendali pak presdir semua berjalan sesuai rencana dan orang yang melakukan penggelapan dana perusahaan sudah diamankan " kata lelaki itu yang tak lain Rudy asisten Ricko terdahulu.
" Kerja bagus dan mulai besuk kau kembali di sini " kata Ricko.
" Tapi pak ... " Rudy menatap Ricko.
" Apa " tanya Ricko.
" Selain itu saya ... " Rudy ragu.
" Katakan " seru Ricko.
" Saya mau ijin cuti pak " kata Rudy.
__ADS_1
" Tidak bisa " tolak Ricko.
Rudy menatap presdir Ricko memelas.
Aish anak ini membuatku tak tega saja, gumam Ricko.
" Berapa lama " Rudy mengembangkan senyumnya.
" Seminggu pak " jawab Rudy.
" Tiga hari " kata Ricko.
" Pak ... " Ricko menghela nafas perlahan.
" Ya.... apa alasannya " tanya Ricko.
" Saya mau menikah pak " Rudy menunduk.
" Ha ha ha kenapa tidak dari tadi kau katakan " Ricko menertawakan asistennya itu.
".Bapak juga dari tadi bertanya terus " sungut Rudy.
" Hai, aku ini atasanmu wajar kalau aku tanya seperti itu " elak Ricko.
Aish pak Ricko ini bikin jantungan saja, gumam Rudy mengelus dadanya.
" Ya sudah sana " usir Ricko.
" Terimakasih pak " Rudy membungkukkan badan.
Lalu bergegas keluar dari ruangan presdir Ricko sebelum atasannya itu berubah pikiran.
Adi tersenyum melihat tingkah presdir Ricko yang menurutnya lucu.
" Ngapain senyum-senyum " seru Ricko pada Adi.
" Gimana " Adi mengalihkan pembicaraan.
" Maksudmu " Ricko mengerutkan dahinya.
Adi menunjuk amplop yang dipegang oleh Ricko. Ricko baru menyadari kalau belum memberi jawaban pada Adi.
" Kau dengar tadi Rudy minta cuti seminggu jadi tunggu sampai Rudy selesai cuti " jawab Ricko.
Adi mengangguk setuju lalu Adi beranjak dari ruangan presdir Ricko dan kembali ke ruangannya.
*****************
Okey, semoga masih setia dengan kisah selanjutnya karena babak baru akan segera dimulai.
__ADS_1
Silahkan beri like dan komennya....
Terimakasih...