
Melihat putranya sudah datang bu Rina berdiri. Bu Rina menggeser tubuhnya agar Adi bisa duduk di dekat ayahnya. Bu Rina duduk di sebelah kiri ayah Lukas.
" Ayah ... " Adi sedikit khawatir kenapa ayahnya mencari dirinya.
Meski hatinya sangat sedih melihat ayah Lukas terbaring tak berdaya. Lelaki yang disebut ayah oleh Adi ini tersenyum menatap putra satu-satunya.
" Nak, kamu sudah datang " ayah Lukas mengulas senyum.
" Iya yah " sahut Adi.
" Nak, dengarkan apa yang akan ayah katakan " ayah Lukas menghela nafas perlahan.
Adi menggenggam tangan tua ayah nya. Tangan yang dulu menggendongnya kini terkulai lemah. Tubuh gagahnya kini tidak bisa lagi menopang penyakitnya. Peralatan medis hanya membantu agar ayah Lukas tetap bertahan hidup lebih lama. Namun ayah Lukas memilih melepas alat bantu medis itu. Dokter pun tidak bisa berbuat banyak kalau itu permintaan dari pasien itu sendiri.
Ayah Lukas sudah memasrahkan hidupnya pada Tuhan. Ia sudah siap menjemput kematiannya dengan tangan terbuka. Namun sebelum itu terjadi ayah Lukas berbicara serius dengan putranya.
" Nak, waktu ayah tidak banyak. Ayah meminta dua hal saja dari kamu " ayah Lukas sedikit tersengal.
" Ayah, jangan ngomong kayak gitu. Ayah pasti sembuh. Aku ingin ayah menghadiri pesta pernikahan ku " kata Adi tergugu.
Ayah menggeleng lemah. Tinggal sedikit waktu yang tersisa ia ingin pergi dengan tenang.
" Dengarkan ayah, nak. Menikahlah dengan Shasha dan ayah serahkan perusahaan ini untuk mu " ayah menarik nafas pendek sebelum menghembuskannya secara perlahan.
Adi menggeleng permintaan ayahnya terlampau sulit untuk dikabulkan. Karena ia memiliki kekasih hati dan Adi sangat mencintai kekasihnya itu. Sementara tentang perusahaan Adi belum berminat untuk bergabung di perusahaan ayahnya. Adi belum mau menjadi presdir menggantikan ayahnya.
Sedangkan ayah Lukas hendak membalas budi baik Sam. Dengan menjodohkan Adi dengan Shasha. Dan bila Adi yang memimpin perusahaan akan semakin maju dengan bantuan Sam. Jadi ia bisa tenang meninggalkan dunia ini tanpa rasa khawatir lagi akan nasib anak dan istrinya kelak.
" Tidak yah. Aku akan tetap menikah tapi dengan kekasih ku " kata Adi.
Adi menolak permintaan ayahnya. Tidak, tidak aku masih berharap Maria bisa ditemukan. Dan akan menetapkan hari pernikahan nya. Adi menunda pernikahan nya karena menunggu ayah Lukas sembuh.
Mendengar Adi menolak permintaan nya ayah Lukas menjadi sedih. Hal itu terlihat jelas di mata bu Rina. Bu Rina ikut sedih karena Adi tetap pada pendiriannya.
" Adi " panggil bu Rina.
" Iya bu " Adi beralih menatap ibu yang melahirkan nya.
" Nak, tidak baik membantah ayahmu. Lebih baik kamu turuti keinginan ayahmu " kata bu Rina lembut.
" Tapi bu ... " Adi hendak menyanggah omongan ibunya.
Namun suara ayah Lukas menghentikan perdebatan ibu dan anak itu.
" Sudah tidak apa-apa. Biarkan Adi menikah dengan gadis pilihan nya " kata ayah Lukas dengan suara yang makin lemah.
Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu ayah Lukas tersengal cukup lama. Membuat ibu Rina dan Adi menjadi panik. Keadaan ayah Lukas semakin memburuk. Adi memencet tombol nurse untuk meminta pertolongan.
Segera sesudah itu dokter dan seorang perawat masuk ke ruangan ayah Lukas. Dokter memeriksa ayah Lukas. Beberapa saat kemudian dokter menggeleng pelan. Bu Rina tampak sedih dan khawatir dengan suara bergetar bu Rina bertanya pada dokter.
" Gimana suami saya, dok " kata bu Rina cemas.
Dokter menghela nafas berat. Ia harus menyampaikan kabar tidak enak ini kepada keluarga pasien.
" Maaf, bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan berkehendak lain yang tabah ya bu " kata dokter berat menyampaikan kabar buruk pada bu Rina.
Ibu Rina tercekat di tempat nya mendengar penjelasan dari dokter yang menangani ayah Lukas. Tubuh bu Rina seolah bagai kapas sangat ringan. Ia tidak mampu lagi menahan rasa sedihnya kehilangan belahan jiwanya. Dan pada akhirnya ia tumbang tidak mampu menopang tubuhnya. Bu Rina pingsan dalam dekapan Adi.
" Ayah ... " Adi menangisi ayahnya yang telah tiada.
Belum sempat Adi bertanya pada dokter ia dikejutkan dengan ibunya yang pingsan.
" Ibu uuu... " Adi memegang tubuh ibunya sehingga tidak sampai jatuh ke bawah.
Adi mengguncang tubuh bu Rina tapi sayang nya ibu dari Adi tidak bangun juga.
Beberapa perawat datang dan membantu memindahkan bu Rina ke ruang perawatan. Sementara beberapa perawat yang lain mengangkat tubuh ayah Lukas. Dan membawanya ke kamar jenazah.
Dengan berurai air mata Adi mengabari orang rumah. Martha kakak perempuan satu-satunya menjerit histeris setelah menerima kabar buruk dari rumah sakit.
" Mi, sadar mi. Mami jangan begini. Kasihan Ken, mi " Yakob berusaha menyadarkan istrinya.
Martha menangis sesenggukan.
" Ini salah mami yang tidak menurut apa kata ayah. Mami menyesal tidak bisa memenuhi keinginan ayah " Martha menangis menyalahkan dirinya.
Seolah kepergian ayahnya karena ia menolak keinginan ayahnya untuk mengelola perusahaan keluarga.
" Mami jangan menyalahkan diri mami. Ini semua sudah takdir Tuhan. Tuhan lebih sayang sama ayah, mi " hibur Yakob.
Setelah beberapa saat menangis Martha menatap suaminya.
__ADS_1
" Maafkan mami, pi " Martha merangkul suaminya.
" Ayo kita bersiap ke rumah sakit " kata Yakob.
" Gimana dengan Ken, pi " tanya Martha.
" Biar Ken sama bibi " Martha mengangguk.
Hari ini merupakan hari yang tersulit bagi bu Rina. Ia harus rela melepas belahan jiwanya yang sudah belasan tahun menemaninya. Ayah Lukas telah pergi untuk selama nya.
Adi mematung di pusara ayahnya. Ia merasa bersalah karena tidak dapat memenuhi permintaan ayahnya. Ia tidak tahu kalau itu permintaan terakhir dari ayahnya.
" Ayah, maafkan Adi yah " Adi mengusap batu nisan ayahnya.
Ia duduk termenung sambil terus memikirkan perkataan ayah Lukas beberapa waktu yang lalu. Rasa sesak memenuhi dadanya hatinya belum siap melepas kepergian sang ayah.
Adi tertunduk lesu di depan pusara ayahnya. Sebuah tepukan di pundak nya membuat ia menoleh. Di sebelah nya ada Yakob kakak iparnya. Sedang yang lain sudah pulang ke rumah.
" Ayah sudah bahagia di surga " Yakob berdiri sambil menatap angkasa.
" Bukan itu masalahnya, kak " kata Adi menunduk sedih.
Yakob menoleh ke adik iparnya. Adi menghela nafas panjang. Menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-parunya.
" Aku merasa bersalah pada ayah karena di saat terakhir nya sudah mengecewakan ayah " Adi berkaca-kaca.
Kesedihannya bukan semata karena kepergian ayahnya. Tapi Adi yang menolak permintaan terakhir ayahnya. Adi sungguh menyesal dengan ucapan nya yang membuat ayahnya kecewa.
" Kalau kamu ingin ayah tenang di surga penuhi saja keinginan ayah " saran Yakob.
Berat rasanya mengabulkan keinginan ayahnya. Adi berada di persimpangan jalan. Di satu sisi ia ingin berbakti pada ayahnya tapi di sisi lain ia mencintai kekasihnya.
Yakob melirik adik iparnya.
" Hari sudah gelap kasihan ibu di rumah " Yakob kemudian melangkah pergi.
Sekali lagi Adi menatap pusara ayahnya. Adi bangkit dengan langkah pelan ia pergi dari tempat peristirahatan terakhir ayahnya.
Seminggu setelah berpulang nya ayah Lukas semua keluarga berkumpul di ruang keluarga. Yakob duduk memangku Kenneth di sebelahnya Martha, istrinya. Di samping Martha ada Adi. Bu Rina duduk di kursi tunggal.
Masih tersisa satu sofa panjang yang masih kosong. Tidak lama dari arah depan paman Dom masuk diikuti dari belakang , Chris. Putra satu-satunya paman Dom. Keduanya menempati sofa yang masih kosong itu.
" Malam, kakak ipar " sapa Dom.
" Langsung ke intinya saja. Ibu mengumpulkan kalian di sini ingin meminta saran dan pendapat tentang perusahaan. Ayah sudah tidak ada lagi dan kita harus mencari pengganti dari ayah untuk meneruskan kepemimpinan perusahaan " kata bu Rina dengan suara parau.
" Kakak ipar, aku ingin menyampaikan pesan terakhir dari kak Lukas " Dom bersuara lalu menatap satu persatu orang-orang yang berkumpul di ruangan itu.
Bu Rina mengangguk pelan. Karena apa yang akan disampaikan oleh adik iparnya itu sudah dikatakan oleh mendiang suaminya.
Setelah menyampaikan pesan terakhir dari kakaknya Dom menunjuk Adi untuk memimpin perusahaan. Namun Adi merasa belum siap untuk menggantikan ayahnya. Sementara Martha yang diberi penawaran berikutnya beralih menatap suaminya. Yakob sendiri memasrahkan saja pada keputusan istrinya. Tapi Martha lebih memilih tinggal bersama suaminya dan menolak tawaran itu.
Seketika suasana di ruang keluarga itu menjadi hening. Beberapa saat terdiam Yakob angkat bicara.
" Maaf ibu, menurut saya biar paman Dom yang memimpin perusahaan. Sambil menunggu Adi siap menggantikan ayah " saran Yakob.
Bu Rina menoleh ke arah Dom.
" Gimana Dom " tanya bu Rina.
" Bila kakak ipar mempercayakan perusahaan ini pada ku, aku bersedia. Tapi dengan satu syarat " paman Dom menyapu pandangannya ke sekeliling yang hadir.
Semua yang ada di ruangan itu menatap paman Dom.
" Syarat apa yang kau inginkan, Dom " tanya bu Rina.
" Setelah Adi siap menjadi pemimpin aku akan menyerahkan jabatan ini pada Adi " kata paman Dom.
" Gimana nak " tanya bu Rina pada Adi.
" Baiklah bu " jawab Adi.
Semua yang ada di ruangan itu bernafas lega. Satu masalah sudah selesai dibahas. Kini beralih ke masalah berikutnya. Yakni tentang perjodohan Adi dan Shasha.
" Kita sudah membahas hal ini sebelumnya. Gimana dengan kamu Adi " tanya ibu Rina.
" Maaf bu, Adi tetap akan menikah tapi dengan kekasih Adi " jawab Adi.
Adi tetap menolak menikah dengan Shasha. Baginya Shasha sudah seperti adiknya sendiri. Tetapi ia juga belum bisa memberi tahu pada keluarga nya kalau kekasihnya menghilang. Dan sampai saat ini ia terus berusaha mencari keberadaan kekasihnya itu.
Bu Rina menghela nafas berat. Ia sedikit kecewa dengan keputusan Adi. Pada akhirnya bu Rina menyetujui keinginan Adi. Tapi dengan syarat yang harus diterima oleh Adi.
__ADS_1
" Baiklah ibu akan merestui pernikahan kamu dengan kekasih mu. Besuk antar ibu menemui keluarga kekasihmu. Dan kita akan menentukan tanggal pernikahan nya " kata bu Rina.
Deg.
Adi mengusap tengkuknya. Ini di luar dugaannya ibunya setuju ia menikah dengan kekasihnya. Masalah nya sekarang adalah ia tidak tahu dimana Maria berada.
" Kenapa diam nak " bu Rina mengeryit heran.
" Em, begini bu Maria tidak di rumah " kata Adi lirih.
" Lalu kemana dia " kini Martha yang bertanya pada adiknya.
Adi tidak bisa menjawab. Membuat orang-orang di ruangan itu menatap Adi dengan berbagai pertanyaan.
" Nak, apa yang terjadi sesungguhnya. Kenapa kekasih mu tidak ada di rumah. Jelaskan pada kami yang ada di sini " paman Dom mewakili semua orang yang ada di ruangan itu.
Adi merasa bingung harus memulai dari mana menjelaskan nya. Setelah berpikir cukup lama akhirnya Adi memilih jujur pada keluarga nya.
" Bu, maafkan Adi. Adi mau bicara jujur pada ibu " Adi menghela nafasnya.
" , Kamu mau jujur soal apa, nak " tanya bu Rina.
Adi mengatur nafasnya beberapa kali ia mengusap wajahnya karena gugup. Lebih baik aku katakan saja sekarang, gumam Adi.
" Ini mengenai Maria yang tidak ada di rumah. Adi sudah bertanya pada bibirnya dan mencari Maria. Tapi Adi belum menemukan nya " jujur Adi.
" Apa kamu akan tetap melanjutkan pernikahan mu dengan kekasih mu itu " seru Martha.
Yakob menepuk punggung tangan istrinya.
" Tenang, mi dengerin dulu penjelasan Adi " kata Yakob.
" Pi " Yakob menggeleng memberi kode pada istrinya untuk diam.
Akhirnya Martha diam.
" Benar yang dikatakan oleh kakak mu. Sampai kapan kamu mencari kekasihmu itu " kata paman Dom.
" Sampai aku menemukan kekasihku, paman " sahut Adi.
" Berapa lama setahun dua tahun. Kamu tidak memikirkan ibu mu. Dan mengabaikan permintaan ayahmu " kata paman Dom.
Adi tidak mampu menjawab semua pertanyaan yang ditujukan padanya. Sedangkan dia sendiri juga kebingungan mencari kekasihnya.
" Sudah sudah tidak perlu diributkan lagi " bu Rina menengahi.
Semua orang perhatian nya tertuju pada bu Rina. Setelah menghela nafas panjang bu Rina mengambil keputusan.
" Ibu memberi waktu untuk mu nak. Selama sebulan ini bila kekasih mu belum ditemukan kamu harus bersedia menerima perjodohan ini " kata bu Rina lembut namun penuh ketegasan.
" Tapi bu " sela Adi.
Bu Rina tersenyum sambil menatap putra satu-satunya.
" Mendiang ayah sudah membicarakan perjodohan ini dengan paman Sam. Jadi tidak ada alasan lagi bagimu untuk memenuhi amanat dari ayah " kata bu Rina pelan dan tidak terbantahkan.
Adi menunduk lesu. Ia tidak bisa lagi membantah ucapan ibunya. Ia tidak ingin menjadi anak durhaka. Mau tidak mau Adi harus setuju dengan keputusan yang diambil oleh ibunya.
" Gimana nak " tanya bu Rina.
" Baiklah bu " kata Adi pasrah.
Setelah pembahasan selesai semua kembali ke kamar masing-masing. Demikian juga dengan Adi. Ia melangkah gontai menuju kamar nya.
Hampir satu bulan lamanya setelah pulang dari bekerja Adi mencari Maria. Namun sejauh itu ia tidak bisa menemukan kekasihnya. Hari sudah larut malam Adi menghentikan motornya ditepi jalan. Ia menatap ke depan di keramaian jalanan. Dan di taman kota ia melihat orang-orang yang sedang tertawa riang bersama keluarga atau pacar. Sedangkan ia sendirian tidak ada teman atau pacar yang menemani.
Berkali-kali Adi menghela nafasnya menghilangkan kegundahan hatinya. Sayang kamu dimana kenapa pergi lama sekali. Jangan sembunyi terlalu lama sebentar lagi kita akan menikah, gumam Adi menunduk lesu. Harus kemana lagi aku mencari mu sementara waktu yang diberikan ibu tinggal seminggu lagi.
Adi berdiri sambil mengacak-acak rambutnya. Ia sangat frustasi dengan perginya Maria. Apa aku harus menerima perjodohan ini, gumam Adi.
Waktu bergulir begitu cepat. Dan sampai batas waktu yang diberikan bu Rina telah habis. Namun kekasih Adi tidak bisa ditemukan. Akhirnya dengan berat hati Adi menerima perjodohan ini.
*************** End ****************
Terimakasih untuk semua pembaca yang setia membaca cerita recehan ku ini. Sekarang cerita Maafkan Aku, Istriku... sudah tamat. Dan bonusnya juga author sudah end ya.
Maaf sebelumnya bila ada kekurangan dalam penulisan nya. Semoga di kisah selanjutnya author bisa memperbaikinya.
Terimakasih banyak buat para penggemar dan pembaca sekalian.
Love you untuk kalian semua.
__ADS_1
Shaloom.