
Mobil Adi berhenti di depan restoran sesuai alamat yang diberikan Daniel padanya. Adi melihat alamat di kartu nama dan mencocokkan dengan yang ia lihat. Memang benar ini alamatnya, gumam Adi. Lalu Adi membelokkan mobilnya dan berhenti di halaman parkir restoran milik Nathanael.
Adi keluar dari mobil melangkah masuk ke restoran. Suasana di restoran pagi menjelang siang itu tidak begitu ramai. Hanya beberapa orang pengunjung yang sedang duduk ngobrol sambil menikmati makanan pesanan mereka.
Adi duduk di kursi kosong tak jauh dari tempatnya berdiri. Seorang pelayan restoran mendekatinya lalu bertanya pada Adi. Pelayan itu salah satu pegawai Nathanael berjalan ke ruangan Leo. Beberapa saat Leo keluar menemui Adi lalu Leo membawa Adi menuju ruangan Nathanael.
Tok tok tok.
" Masuk. "
Leo masuk lebih dulu sementara Adi mengikuti dari belakang.
" Xander, ada yang ingin bertemu denganmu " kata Leo pada laki-laki yang sedang memeriksa berkas-berkas di mejanya.
Adi menatap orang di sampingnya dan beralih ke laki-laki yang dipanggil Xander itu. Apa benar orang yang duduk di depannya ini tuan muda Xander pewaris Alexander grup bukannya dia itu Nathanael, gumam Adi. Lalu kenapa orang di sebelahnya ini memanggil Nathanael dengan nama Xander. Siapa Nathanael sebenarnya, Adi sedang bergelut dengan pikirannya.
Mendengar namanya dipanggil, Nathanael mendongak dan melihat ke arah suara yang memanggilnya. Nathanael melihat sahabatnya dan suami Shasha berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Nathanael bangkit berdiri menyalami suami Shasha. Lalu menyilakan tamunya duduk sementara Leo keluar ruangan sahabatnya.
Keduanya duduk di sofa ruangan Nathanael. Adi mengedarkan pandangannya di ruangan yang tidak begitu luas itu. Kemudian beralih menatap laki-laki yang telah menolong istrinya itu.
" Ada yang bisa saya bantu pak Adi ? " tanya Nathanael.
" Begini pak Xander ... " ucapan Adi terhenti.
" Panggil Nathan saja atau Nathanael " Nathanael tersenyum ramah.
__ADS_1
" Panggil saya Adi saja tidak usah pakai pak " kata Adi tersenyum canggung.
Nathanael mengangguk.
" Ada yang bisa saya bantu, Adi " Nathanael mengulang pertanyaan nya.
" Nathan ... sebelumnya saya minta maaf kalau sikap saya selama ini buruk sama kamu " Adi melihat laki-laki di hadapannya ini.
Nathanael melampirkan senyum ramahnya.
" Aku sudah melupakannya tidak masalah bagiku dan sudah memaafkan mu " Nathanael masih dengan senyum ramahnya.
" Terimakasih " Adi ikut tersenyum.
" Sama-sama " kata Nathanael.
" Dan saya mengucapkan terimakasih karena sudah menolong istri saya " kata Adi.
" Sudah sewajarnya sebagai manusia kita saling tolong menolong. Kebetulan kejadian itu ada di lingkungan restoran saya jadi saya turut bertanggungjawab terhadap keselamatan mereka " kata Nathanael.
" Yang lebih penting dari semua itu saya ke sini mau meminta tolong tentang rekaman cctv itu ... " Adi berhenti sejenak. " Bolehkah saya meminjamnya untuk bukti " lanjut Adi.
" Tunggu sebentar " Nathanael berdiri melangkah menuju mejanya.
Menarik laci mejanya dan mengambil amplop coklat yang berisi rekaman cctv saat Shasha terjatuh. Adi mengikuti pergerakan laki-laki bertinggi 170 cm itu dan tak sengaja melihat bingkai foto yang ada di atas meja kerja laki-laki itu.
__ADS_1
Ada gemuruh di dadanya saat melihat foto istrinya ada di meja kerja laki-laki itu. Sedapat mungkin ia meredam gejolak di dadanya dan bersikap biasa di hadapan Nathanael.
Saat Nathanael berbalik ia melirik suami Shasha itu dan tersenyum tipis. Nathanael kembali duduk lalu menyerahkan amplop coklat itu pada Adi.
" Semua bukti ada di sini " Adi menerima amplop itu.
" Terimakasih " kata Adi.
" Kalau masih ada yang diperlukan aku siap membantu " kata Nathanael.
" Sekali lagi terimakasih " Adi menjabat tangan Nathanael.
Nathanael membalas jabatan tangan suami Shasha itu. Kemudian Adi berpamitan pada Nathanael. Kedua laki-laki itu bangkit berdiri Nathanael membuka pintu untuk tamunya. Adi melangkah keluar dari ruangan Nathanael dan masuk ke mobilnya. Melajukan mobilnya keluar dari restoran Nathanael.
Nathanael menutup pintu ruangannya melangkah menuju meja kerjanya dan menghempaskan tubuhnya ke kursi. Mengambil bingkai foto di atas meja kerjanya memindai wajah cantik dalam foto itu. Aku harus bisa melupakanmu meskipun itu sulit bahkan teramat sulit bagiku, gumam Nathanael. Lalu meletakkan bingkai foto itu ke laci mejanya. Menyandarkan dagunya dengan kedua tangannya yang bertautan. Memejamkan matanya sejenak, mulai saat ini aku akan membuka hati ini untuk orang lain, gumamnya sambil tersenyum getir.
Nathanael kembali menyibukkan dirinya dengan berkas-berkas di atas meja kerjanya. Hingga waktu beranjak sore dia masih sibuk dengan kertas-kertas berharganya itu.
******************
Semoga suka dengan ceritanya, ikuti kelanjutannya di Maafkan Aku, Istriku...
Kisah cinta Nathanael ada di novelku yang berjudul Perjalanan Cinta Nathanael ya. Sudah episode 18.
Jangan lupa beri like, komen dan vote nya.
__ADS_1
Oke, terimakasih.