
Kini sudah menjadi kebiasaan Adi mengantar dan menjemput anak sahabat ibunya. Meski Adi kenal anak dari sahabat ibunya itu sejak kecil tapi dia risih berdekatan dengan gadis itu. Mungkin karena dia laki-laki dan anak sahabat ibunya itu perempuan. Seringkali Adi melindungi gadis kecil itu dari anak tetangga yang kadang suka usil atau sekedar ingin berkenalan. Yah mungkin cara Adi melindungi gadis itu berbeda dengan cara dia melindungi kakaknya. Hingga Adi menginjak remaja ia menjadi tidak tega membiarkan gadis itu sering ditinggal pergi oleh orangtuanya. Dan seringnya dititipkan ke rumah nya karena kesibukan kedua orangtuanya.
Kadang Adi sempat berpikir usaha apa yang membuat sahabat ibunya itu terlalu sibuk. Dan meninggalkan anaknya sendirian bersama art di rumah atau dititipkan di rumah nya.
Saat ini Adi duduk termenung di atas motornya. Adi bingung karena Daniel pulang lebih dulu karena ada keperluan. Sedang ia harus menjemput Shasha di sekolah nya. Lalu gimana dengan Maria, apa ia tega membiarkan kekasihnya pulang sendiri.
" Udah sana aku nggak pa pa pulang sendiri " sahut Maria.
" Enggak, aku tetap antar kamu " kekeh Adi.
Gadis berlesung pipit itu pun mengalah. Dia naik ke motor kekasihnya.
" Aku antar sampai pertigaan rumahmu ya nggak apa kan " kata Adi.
" Iya " sahut singkat Maria.
" Dih kok gitu sih " Adi melirik kaca spion motor nya.
Kekasihnya cemberut.
" Senyum dong " Adi meraih tangan Maria lalu menggenggamnya.
Maria tersenyum paksa.
" Nah gitu kan cantik " goda Adi.
" Gombal ih " Adi terkekeh.
Adi menjalankan motornya keluar dari gerbang sekolah. Adi mengantar Maria lebih dulu hingga sampai pertigaan rumah gadis itu.
Sementara di tempat lain.
Gadis berseragam SMP itu sudah keluar dari kelas nya. Ia menunggu anak sahabat mamanya yang akan menjemputnya. Lama menunggu anak sahabat mamanya itu tidak datang juga. Sampai teman-temannya sudah pulang semua dan sekolah pun sepi.
Shasha menundukkan kepalanya em kak Adi mana ya kok belum datang, gumam gadis berseragam SMP itu. Shasha menengok ke kiri dan kanan tidak ada temannya. Apa aku pesan taksi saja ya, gumam Shasha lalu merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Yah nggak ada Shasha tertunduk sedih. Gimana ini, gumam Shasha mulai resah.
Tanpa Shasha sadari dari jauh seseorang memperhatikannya sejak tadi. Pemuda tampan itu berjalan mendekati gadis berseragam SMP itu.
" Shasha " panggil pemuda itu.
" Eh, Nathan " sahut Shasha saat ia mendongak mendapati pemuda itu sudah berdiri di samping nya.
" Belum dijemput " tanya pemuda yang dipanggil Nathan oleh Shasha.
" Iya " Shasha mengangguk.
" Rumah mu di mana ? " tanya Nathan.
" Di kompleks perumahan elite " sahut Shasha.
" Mau aku antar pulang " tawar Nathan.
Shasha melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Sudah menunjuk angka tiga siang menjelang sore. Gadis berseragam SMP itu sejenak berpikir.
' Ayo aku antar pulang keburu sore " Nathanael atau Nathan menggandeng tangan gadis berseragam SMP itu.
__ADS_1
Sementara Shasha hanya mengikuti langkah kaki pemuda berseragam putih abu-abu itu.
" Kita nyeberang ke sana ya motorku ada di sana " kata Nathanael.
Shasha mengangguk.
Pemuda bernama Nathanael atau Nathan itu naik ke motor nya. Shasha naik ke motor pemuda tampan itu.
" Sudah " tanya Nathan.
" Sudah " sahut Shasha.
Pemuda tampan itu melirik sebentar ke kaca spion lalu tersenyum senang. Dan gadis itu juga membalas tersenyum hangat membuat pemuda berseragam putih abu-abu itu bersorak kegirangan.
Pemuda tampan itu menjalankan motornya dengan kecepatan sedang menuju jalan raya. Shasha merasa heran saat motor pemuda itu telah berbelok menuju kompleks perumahan elite. Belum hilang rasa herannya motor Nathanael sudah berhenti tepat di depan rumahnya.
" Ini rumah mu " tanya pemuda itu.
" Iya " sahut Shasha.
Shasha sekilas melihat ke dalam rumah. Sepi. Mama dan papanya belum pulang sedang pak Udin masih di kampung. Shasha menghela nafasnya seketika raut wajahnya berubah sendu.
Nathanael melihat dari spion motornya gadis di belakang motor nya tak juga turun. Pemuda itu mengeryit saat melihat wajah gadis berseragam SMP itu yang bersedih.
" Hei kenapa wajah mu kusut " suara pemuda itu membuat Shasha berjingkat kaget.
" Mama dan papa aku belum pulang " jujur Shasha.
Sebuah ide muncul di kepala pemuda tampan itu.
" Serius " tanya Shasha.
Pemuda tampan itu mengangguk.
" Mau tidak " tanya pemuda tampan itu.
" Mau " jawab Shasha.
Oh my God tidak pernah terbayangkan oleh Nathanael sebelumnya gadis berseragam SMP itu mau diajak ke taman kompleks. Dengan senang hati Nathanael melajukan motornya ke taman kompleks perumahan elite. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di taman dekat rumah Shasha.
" Kita duduk di sana yuk " Shasha mengangguk.
Keduanya berjalan beriringan ke taman yang tidak begitu ramai. Hanya ada anak-anak sekitar kompleks yang sedang bermain sepakbola.
" Eh kata kamu tadi mama dan papa kamu belum pulang emangnya ke mana beliau " tanya Nathanael saat keduanya duduk di bangku taman.
" Ke luar kota " jawab Shasha.
" Berapa lama " tanya pemuda tampan itu.
" Nggak tau pastinya kadang satu minggu kadang sebulan bisa juga lebih " sahut Shasha menerawang ke depan.
" Sedih " tanya Nathanael.
" Ya tentu saja sedih tapi aku ngerti kok mama dan papa bekerja buat mencukupi kebutuhan anaknya " kata Shasha tersenyum.
__ADS_1
" Lalu kakak mu " tanya Nathanael.
" Yang mana " Shasha balik tanya.
" Itu yang suka jemput kamu " tanya Nathanael.
" Oh itu anak sahabat mamaku. Sering aku dijemput sama kak Adi kalau mama dan papa tidak ada di rumah " jelas Shasha.
Gadis itu sepertinya nyaman saja berbicara dengan Nathanael yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu. Sementara pemuda tampan itu mendengarkan sambil sesekali melirik gadis di sampingnya. Shasha dan Nathanael asyik ngobrol hingga tak terasa sudah satu jam lamanya keduanya ada di taman kompleks.
Sampai sebuah suara memanggil nama gadis berseragam SMP itu.
" Shasha " teriak pemuda berkulit sawo matang itu.
Pemuda berkulit sawo matang itu melangkah cepat menghampiri Shasha dan Nathanael. Seketika Shasha berdiri lalu menoleh ke arah suara yang amat dikenalnya. Pemuda di samping Shasha ikut berdiri.
" Kak Adi " gumam Shasha.
Pemuda berkulit sawo matang itu tampak marah sekaligus khawatir melihat Shasha tidak ada di sekolah nya. Karena dia diberi tugas oleh ibunya untuk menjemput anak sahabat ibunya. Sedangkan dia tidak mendapati gadis berseragam SMP itu di sekolah nya tadi. Salah dia juga yang mengantar kekasihnya dulu baru menjemput gadis itu. Membuat gadis itu lama menunggu dirinya. Tapi yang lebih membuat Adi marah adalah gadis itu duduk di taman dengan pemuda yang tidak dikenalnya.
" Bukan nya pulang ke rumah malah di sini pacaran " Adi menatap tajam pada Shasha dan Nathanael.
" Dia teman aku kak dan kita tidak pacaran " jelas Shasha.
" Oh gitu ya kalau dia mau menculik mu gimana " tuduh pemuda berkulit sawo matang itu.
" Dia bukan ... " suara Shasha terpotong.
" Maaf aku hanya ngobrol dengan Shasha bukan menculiknya " Nathanael balik menatap tajam ke arah Adi.
" Siapa yang ngajak kamu bicara " kata Adi ketus.
Nathanael tersulut emosi nya lalu hendak maju tapi tangan nya dicekal oleh Shasha.
" Sudah kamu pulang saja " lirih suara Shasha.
Nathanael menoleh ke arah Shasha. Entah mengapa pemuda tampan itu menurut lalu mengangguk pelan. Nathanael berlalu dari taman menuju motornya.
" Sudah aku bilang jangan bicara dengan orang yang tidak dikenal " kata Adi.
" Aku kenal dia kak dia temanku " sahut Shasha.
" Masih membantah " Adi kesal.
" Maaf " kata Shasha akhirnya.
Adi menghela nafasnya menghilangkan marah yang sudah diujung kepalanya. Dia juga merasa lega karena sudah menemukan gadis itu. Jadi dia terbebas dari omelan ibunya.
**************
Sudah up.
Dukung karya ini dengan memberi like, komen dan vote nya ya.
Jangan lupa mampir di karyaku yang lain SELINGKUH.
__ADS_1
Terimakasih ... ❤️❤️❤️