
Dini berlari mengejar sahabatnya sampai ke pintu mall dan menahan tangan sahabatnya itu. Dini melihat wajah pucat sahabatnya karena kelihatan habis menangis. Dini langsung memeluk sahabatnya dan mengusap punggung Shasha.
Setelah dirasa sudah mereda Dini mengajak Shasha ke mobilnya. Ketika sampai di tempat parkir Dini membukakan pintu mobil buat Shasha sahabatnya. Setelah Shasha masuk lalu menutup pintu mobil dan berjalan memutar. Membuka pintu dan dan duduk di belakang kemudi.
Lalu Dini menjalankan mobilnya keluar dari mall. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Dini melihat sekilas sahabatnya sangat bersedih. Dini diam saja membiarkan sahabatnya menumpahkan segala kesedihannya. Mungkin dengan menangis hatinya bisa sedikit lega. Menangis lah Sha mungkin dengan begitu kamu bisa meluapkan sakit hatimu. Kesedihanmu. Beberapa saat terdiam akhirnya Shasha berkata lirih.
" Ke rumahmu ya Din" kata Shasha kemudian. Dini menganggukkan kepalanya dan melajukan mobilnya ke rumahnya.
Mobil berhenti di depan rumah Dini. Setelah membuka pintu mobil Dini mengambil kunci rumah dan membukanya. Keduanya masuk ke dalam rumah lalu menuju sofa. Shasha duduk dan menyandarkan kepalanya. Shasha memejamkan matanya, ingatannya kembali ke pertemuan yang membuat hatinya porak-poranda. Tak terasa aliran bening kembali membasahi pipinya tanpa bisa ia cegah.
Dini pergi ke dapur dan mengambil segelas air putih lalu berjalan mendekati sahabatnya. Mengulurkan minuman ke Shasha.
" Minumlah" Dini memberikan pada Shasha. Sahabatnya menerima lalu meminumnya hingga habis. Dini mengambil gelas dari tangan Shasha meletakkannya di meja.
Setelah agak tenang Shasha berusaha mengatakan pada Dini. Tapi Dini menyuruh sahabatnya itu tenang dan tak perlu memikirkan kesedihannya lagi.
"Sudahlah lebih baik kamu istirahat dulu" Dini menyuruh sahabatnya. Shasha pun mengangguk.
Dini membiarkan sahabatnya untuk istirahat. Shasha merebahkan tubuhnya dan berusaha memejamkan matanya. Lalu Dini menyelimuti sahabatnya dan pergi keluar dari kamarnya.
Tak menyangka mengajak sahabatnya untuk pergi ke mall membuat sahabatnya harus melihat perselingkuhan suaminya dengan wanita lain. Istri mana sih yang dengan suka rela menerima suaminya itu selingkuh.
Ah, kasihan Shasha biar bagaimanapun juga Shasha adalah sahabatnya suka dan duka telah mereka lewati bersama. Dini tak ingin melihat sahabatnya bersedih. Dia akan menghibur sahabatnya itu agar tidak berlarut dalam kesedihan.
Hari hampir larut malam ketika Shasha terjaga dari tidurnya. Lama sekali dia tidur ketika membuka mata ia melihat ke sekeliling. Ini bukan kamarnya dan ia memindai kembali kejadian yang baru saja dialami. Kembali air matanya tumpah membasahi pipi mulusnya.
__ADS_1
Ia merenung berkelana dalam angannya merenda hari-harinya bersama Adi suaminya. Awal mula pernikahan dirinya dan Adi karena dijodohkan orangtuanya. Ia menerimanya karena mencintai Adi teman masa kecilnya. Semua memang tidak mudah sampai saat ini pun ia belum tahu perasaan Adi pada dirinya. Yang pasti ia sangat mencintai suaminya itu.
Sementara suaminya mencintai wanita itu. Wanita yang selalu ada di mimpinya di setiap malamnya di kala suaminya bergumam tanpa sadar. Apa yang harus ia lakukan saat pikirannya menerawang jauh sahabatnya Dini membuyarkan lamunannya.
****************************
Sementara di tempat lain lelaki itu setelah mengantar kekasihnya segera memacu mobilnya menuju rumahnya. Berharap setelah sampai di rumah ia akan meminta maaf pada istrinya dan akan menjelaskan pada istrinya.
Dengan perasaan tak menentu seperti maling yang ketangkep aparat. Adi menuju ke rumahnya, berpikir Shasha sudah sampai di rumah. Adi membuka pintu suasana kelihatan sepi. Adi membuka pintu kamar tak ada Shasha di sana. Lalu ia menuju dapur, ruang tengah, teras belakang tak dijumpai istrinya.
Adi mengusap wajahnya kasar, di mana kamu Sha batin Adi cemas. Adi keluar rumah masuk ke mobilnya dan pergi mencari Shasha istrinya.
Adi melajukan mobilnya ke jalan raya. Ia mengarahkan mobilnya ke rumah Daniel sahabatnya. Hendak minta tolong pada sahabatnya itu.
Mobil berhenti di kontrakan Daniel. Adi turun dari mobil berjalan ke kontrakan Daniel mengetuk pintu.Terdengar suara dari dalam rumah kontrakan. Beberapa saat pintu terbuka dengan wajah malas menyuruh Adi masuk. Kelihatan kalau tuan rumah sedang mengantuk dan baru saja memejamkan matanya. Sesekali ia menguap menahan kantuk. Adi langsung mengatakan maksud kedatangannya ke rumah Daniel.
" Ikut aku" pinta Adi masih berdiri.
" Aku ngantuk" Daniel duduk lalu menguap.
" Shasha hilang" berjalan mendekat ke sofa.
" Kok bisa" Daniel membulatkan matanya.
Seketika ia tak mengantuk lagi.
__ADS_1
" Sekarang bantu aku mencarinya" menarik tangan Daniel untuk bangun berdiri.
Lalu Adi keluar dari kontrakan Daniel menuju mobil. Daniel bergegas mengikuti Adi dari belakang tak lupa mengunci pintu rumahnya.
Dalam berkendara lalu Adi menceritakan kepada Daniel saat ia makan siang bersama Maria, ternyata Shasha juga sedang ada di sana dan melihatnya. Lalu Shasha pergi begitu saja membuat Adi panik dan menyusul pulang ke rumah.
" Ku pikir dia pulang ke rumah, tapi dia gak ada"
" Sudah kau tanyakan pada temannya atau orang tuanya.
Adi tak mengenal teman-teman istrinya. Kalau bertanya pada orang tua Shasha urusannya bisa panjang. Maka dari itu Adi tak ke rumah mertuanya.
Lelah mencari tak tentu arah akhirnya mobil Adi hanya berputar di sekitar taman kota saja. Adi menepikan mobilnya di pinggir jalan dekat taman kota. Mematikan mesin mobilnya lalu menyandarkan tubuhnya.
Daniel melihat sahabatnya ikut sedih tapi tak bisa menyalahkan Shasha yang pergi dari rumah.
" Kau ini sudah punya istri yang cantik dan baik masih saja cari wanita lain" kata Daniel menatap ke depan. Melihat lalu-lalang kendaraan yang mulai jarang karena hari sudah larut malam.
" Iya aku salah" Adi menghela nafas berat.
" Apa yang kau harapkan dari Maria" tanya Daniel menoleh ke arah Adi. " Cinta?" tanya Daniel sukses membuat Adi menatap sahabatnya itu.
Daniel menghela nafas perlahan lalu mulai bercerita.
" Dulu aku mencintai Maria tapi ketika kulihat Maria lebih memilihmu ketimbang aku, aku memilih mundur. Sekarang sudah ada Shasha seharusnya kau lebih serius menjalani pernikahanmu. Cinta tak tak harus memiliki. Membiarkannya bahagia dengan orang lain itu lebih baik dari pada kau mengikatnya. Ada hati yang terluka karena tindakanmu yaitu hati istrimu" penjelasan Daniel panjang lebar menyadarkan Adi.
__ADS_1
Dan yang lebih mengejutkan Adi pengakuan sahabatnya itu yang baru ia ketahui bahwa selama ini Daniel mencintai Maria.
Adi tak ingin egois ia ingin sahabatnya juga bahagia. Dan melepas Maria untuk Daniel. Dan kini ia fokus pada pernikahannya berusaha menyakinkan Shasha untuk memaafkan dirinya.