
Maria melangkah menuju sofa lalu duduk bersandar menunggu Daniel. Beberapa saat lamanya yang ditunggu belum datang Maria mengambil remote tv lalu menyalakannya. Meski matanya melihat ke arah tv tapi pikirannya melayang entah kemana. Pertemuannya tadi dengan Adi mengurai kembali kenangan saat masih menjadi kekasih Adi. Kadang ia tersenyum sendiri melihat dirinya diperebutkan oleh dua orang yang dekat dan mencintai dirinya. Meski ia memilih Adi sebagai kekasihnya tapi ia merasa bersalah pada Daniel. Sebab karena dirinya persahabatan mereka sempat renggang. Tapi kebesaran hati Daniel membuat persahabatan mereka kembali lagi seperti semula.
Daniel terlalu baik padanya selalu sabar mendengar keluh kesahnya. Dia selalu memberi nasihat bila Adi dan Maria sedang bertengkar. Dan saat Maria sakit pun dialah orang yang pertama tahu lebih dulu. Terlebih lagi beberapa waktu lalu Daniel menolongnya memberi tumpangan untuk ia tinggal di rumah kontrakannya. Memilih mengalah dan tinggal di ruko juga memberi Maria pekerjaan. Daniel memang sahabat terbaik bagi Maria dan Adi.
Maria menghela nafas perlahan menghilangkan sesak di dadanya. Meski kini hubungannya dan Adi sudah berakhir Maria masih ragu menjalin hubungan lagi dengan orang lain. Bukan karena kecewa tapi karena dia tidak punya siapa-siapa lagi di sini. Orangtuanya sudah lama meninggal dan orang terdekatnya yaitu bibinya memilih pulang bersama suaminya ke kampung. Sementara saat ini hanya Daniel yang menjadi teman dekatnya.
Maria melihat ke arah pintu tetapi Daniel tak kunjung datang. Maria menguap karena sudah mengantuk. Akhirnya ia memejamkan matanya, tidur.
Sementara itu Adi melangkah mencari sahabatnya. Adi melihat Daniel ada di mobil lalu mendekati mobil itu. Tok tok tok Adi mengetuk kaca mobil Daniel. Mendengar kaca mobilnya diketuk dari luar Daniel membuka matanya dan melihat sahabatnya ada di sana. Daniel membuka kaca mobilnya lalu menyuruh sahabatnya itu untuk masuk ke mobil.
Sebelum masuk ke mobil Adi sempat menelpon istrinya bahwa ia akan pulang malam karena akan ke rumah Daniel. Adi membuka pintu lalu duduk di sebelah Daniel. Daniel melajukan mobilnya menuju jalan raya. Daniel sudah tahu kalau sahabatnya itu mencarinya pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengannya. Daniel melajukan mobilnya ke mall pusat kota. Setelah memarkirkan mobilnya keduanya berjalan ke cafe dalam mall itu.
Setelah Adi dan Daniel duduk di cafe langganannya lalu memesan minuman. Adi memesan kopi hitam kesukaannya dan Daniel coffe latte.
" Sejak kapan suka kopi? " tanya Adi.
" Sejak sekarang " sahut Daniel santai.
" Ck " Adi berdecak sebal.
Daniel mengambil sebungkus rokok dari saku bajunya. Diambilnya sebatang lalu menyalakan pematik api. Adi mengikuti sahabatnya mengambil satu batang bernikotin itu lalu menyalakan pematik apinya. Menghisapnya lalu mengeluarkannya dari lubang hidungnya.
" Ada apa " tanya Daniel.
" Hei, harusnya aku yang tanya ada apa denganmu. Bisa dijelaskan " Adi menatap lekat sahabatnya.
" Biasa aja kali " seru Daniel melirik Adi.
Adi kembali menghisap batang nikotin itu menunggu sahabatnya itu cerita. Lalu Daniel menceritakan pertemuannya dengan Maria di halte bus sampai akhirnya Maria tinggal di rumahnya.
" Sepertinya aku ketinggalan berita nih " kata Adi tersenyum simpul.
__ADS_1
Aish, menyebalkan Daniel mematikan batang nikotin itu. Lalu menyesap kopi latte nya.
" Kalau suka lamar aja keburu diambil orang " kata Adi pada sahabatnya.
" Nggak semudah itu " sahut Daniel kemudian.
" Apalagi " kata Adi.
" Kau tahu kan papaku memberikan usahanya padaku dengan hutang yang menumpuk. Usahanya hampir bangkrut aku sudah menjual kantor lama dan sebagian armada untuk diberikan pada karyawan sebagai pesangon. Tambahan pinjaman darimu dan Nathanael juga. Kini aku hanya bisa membeli ruko kecil untuk kantorku sekarang. Dan menyewa lahan untuk tempat parkir armada ku. Sisanya ku belikan mobil itu pun mobil bekas " kata Daniel panjang kali lebar.
Adi mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan sahabatnya itu. Dia salut pada sahabatnya ini sejak dulu semasih remaja dia sudah mandiri. Karena perceraian orangtuanya Daniel memilih tinggal bersama mamanya. Mamanya yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan Daniel. Sampai mamanya meninggal dia tinggal sendirian dan menolak tinggal dengan papanya. Daniel bekerja serabutan sambil sekolah hingga tamat SMA. Setelah itu ia memilih bekerja mengumpulkan uang. Barulah setahun kemudian melanjutkan pendidikannya. Daniel kuliah sambil bekerja hingga lulus S1. Dia tinggal sendirian di rumah kontrakan yang ditempatinya sampai sekarang.
" Kamu sendiri ngapain ke rumah " tanya Daniel.
Adi menghela nafas perlahan menghilangkan kekhawatiran yang merayap di benaknya.
" Tadi pagi ibu datang ..." kata Adi.
Adi menceritakan ibunya yang datang dan mengajaknya menengok pamannya. Pertemuannya nanti dengan pamannya hendak membicarakan kelanjutan usaha ayahnya yang dipegang oleh pamannya itu. Dan sudah dapat dipastikan kalau Adi yang nantinya melanjutkan usaha ayahnya.
" Shasha " sahut Adi.
" Kenapa lagi " kata Daniel.
" Aku khawatir meninggalkannya sendirian di rumah " seru Adi.
" Kan ada pak Udin dan bi Ani " kata Daniel lagi.
" Kamu tidak lihat Shasha sedang hamil besar " Adi mematikan batang nikotin lalu menyesap kopi hitamnya.
" Telpon saja mertuamu bereskan " kata Daniel.
__ADS_1
" Mereka orang sibuk " kata Adi.
" Coba saja dulu " kata Daniel.
Adi mulai mencerna kata-kata sahabatnya itu. Mungkin ia akan menghubungi mertuanya seperti usulan sahabatnya itu. Semoga saja mertuanya bisa mengerti dan menjaga Shasha disaat ia akan menemui pamannya. Adi melihat jam di tangannya lalu bangkit berdiri. Setelah membayar pesanannya Adi mengajak Daniel pulang.
Kedua sahabat itu memasuki mobil dan mobil pun melaju di jalan raya menuju kontrakan Daniel. Daniel menepikan mobilnya di depan kontrakannya. Adi keluar dari mobil dan masuk ke mobilnya sendiri. Adi melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.
Setelah mobil Adi tak terlihat Daniel keluar dari mobilnya. Daniel melangkah menuju kontrakannya sampai di depan pintu lalu Daniel mengetuk pintu. Lama tidak ada sahutan dari dalam. Saat Daniel membuka pintu ternyata tidak dikunci. Kenapa ceroboh sekali sih, gerutu Daniel. Kemudian Daniel masuk ke rumah dilihatnya Maria tertidur di sofa dengan tv masih menyala.
Daniel duduk di sebelah Maria dan mengambil remote tv yang dipegang Maria. Lalu mematikan tv nya gerakan Daniel mengambil remote tv membuat Maria terbangun dari tidurnya. Maria mengerjapkan matanya perlahan dan terkejut melihat Daniel sudah ada di sebelahnya.
" Baru pulang " kata Maria.
" Iya " sahut Daniel pendek.
" Sudah malam apa mau kembali ke ruko " kata Maria.
Daniel melihat jam di dinding rumahnya ternyata sudah larut malam.
" Kamu tidur saja lagi biar aku kunci dari luar kalau kembali ke ruko " sahut Daniel.
Maria melihat Daniel sekilas lalu bangkit berdiri masuk ke kamar. Daniel menyandarkan tubuhnya di sofa memijat pelipisnya dengan jemarinya. Banyak hal yang ia pikirkan akhir-akhir ini membuat kepalanya berdenyut.
Hari menjelang dini hari kalau dia pulang ke ruko tinggal beberapa jam lagi sudah pagi. Akhirnya Daniel memutuskan untuk tidur saja. Karena sangat berbahaya bila berkendara dengan keadaan sakit kepala.
Daniel mengunci pintu lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Beberapa saat kemudian Daniel memejamkan matanya.
****************
Semoga suka dengan ceritaku ini. Jangan lupa mampir di karyaku yang lain yaitu Perjalanan Cinta Nathanael.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya.
Terimakasih.