Maafkan Aku, Istriku...

Maafkan Aku, Istriku...
Bab 43 Pertengkaran


__ADS_3

Laki-laki bermata sipit itu membuka pintu mobilnya. Berjalan mendekati pintu dan mengetuknya.


Tok tok tok.


Terdengar dari dalam rumah langkah seseorang mendekat ke arah pintu. Lalu pintu pun terbuka seorang wanita cantik muncul menyambut kedatangan laki-laki itu. Setelah berbincang sebentar keduanya masuk ke dalam rumah. Wanita cantik yang sedikit berisi itu menuntun tamunya ke ruang makan karena hari menjelang makan siang. Wanita cantik itu adalah Shasha menyilakan tamunya duduk dan dia sendiri ikutan duduk.


" Aku bawa oleh-oleh untukmu " kata laki-laki bermata sipit itu yang tak lain Nathanael. Mengulurkan bungkusan di tangannya.


" Apa itu ? " kata shasha penasaran.


" Tentunya yang ibu hamil suka " katanya lagi. Shasha menerima bungkusan yang bersampul kantong plastik lalu membukanya.


" Darimana ibu hamil suka ini? " tanya Shasha mengambil sepotong lalu memasukannya ke mulut.


" Aku baca di internet lalu teringat kamu " kata Nathanael lagi.


" Ah kau baik sekali terimakasih ya " sahut Shasha berbinar. " Oh, ya tentunya kamu lapar kebetulan bibi masak banyak hari ini kamu makan siang saja di sini."


" Em, tidak aku cuma sebentar kok " tolak Nathanael.


" Ayolah ini sebagai ucapan terimakasih aku lho nggak ada penolakan " seru Shasha tak mau dibantah.


" Ok, sering- seringlah seperti ini dapat makanan gratis " kata Nathanael tertawa kecil.


" Kalau kau mau nggak papa " seru Shasha tersenyum.


" Bercanda " kata Nathanael tertawa. Shasha ikut tertawa.


Tanpa sungkan karena sudah diijinkan oleh si empunya rumah Nathanael bergegas mengambil piring. Dan mengisi piringnya dengan nasi beserta lauk kemudian menyantapnya. Sementara Shasha menikmati rujak pemberian Nathanael.


" Kalau dapat makanan gratis tiap hari uang makan ku bisa buat beli sesuatu " ucap Nathanael setelah selesai bersantap.

__ADS_1


" Apaan " kata Shasha.


" Rumah misalnya " kata Nathanael santai.


" Mana bisa " sahut Shasha.


" Nunggu lima atau sepuluh tahun lagi " kelakar Nathanael.


Ha ha ha Shasha pun tertawa. Nathanael yang melihat Shasha tertawa ikutan tertawa. Obrolan ringan di antara keduanya pun bergulir sampai akhirnya Nathanael berpamitan pulang.


Sampai depan pintu rumah Shasha tiba-tiba Nathanael membungkukkan badannya. Membuat Shasha terkejut dengan tingkah Nathanael itu.


" Gimana yang di dalam sini apa dia baik- baik saja " kata Nathanael mengarah ke perut Shasha.


" I- iya dia baik-baik saja " kata shasha gugup.


" Jangan menyusahkan mama mu ya " kata Nathanael berbicara pada bayi di perut Shasha. Membuat Shasha terharu dibuatnya.


Semua pergerakan Nathanael itu tak lepas dari tatapan tajam seseorang yang sedari tadi menunggu di dalam mobil. Siapa lagi kalau bukan Adi yang menahan marah karena Nathanael menemui istrinya.


Setelah mobil Nathanael pergi Adi bergegas keluar dari mobil melangkah masuk ke rumah yang pintunya hampir tertutup itu. Shasha menoleh ketika namanya disebut oleh seseorang. Seseorang yang tidak ingin shasha jumpai saat ini muncul tanpa ia duga.


Adi menarik tangan Shasha hingga tubuhnya berbalik menghadap suaminya. Adi membuang egonya lalu meminta maaf pada Shasha sambil berlutut. Untuk sesaat Shasha hanya bisa diam dan terpaku di tempatnya berdiri. Sekelebat bayangan tiba-tiba muncul di benaknya membuat ia menepiskan tangan Adi.


" Aku benar-benar minta maaf ku mohon pulanglah " pinta Adi memelas.


" Maaf, begitu mudahnya mas meminta maaf setelah apa yang mas lakukan itu sangat menyakiti hatiku " kata Shasha meledak karena emosi yang tertahan lama.


" Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi ku mohon pulang ya " pinta Adi meraih tangan Shasha.


" Aku tidak mau pulang " kata Shasha tegas.

__ADS_1


" Kenapa? " tanya Adi menatap istrinya.


" Apa perlu ku jelaskan lagi " kata Shasha geram.


" Apa karena Nathanael " satu kata terlintas di benak Adi.


" Kalau ya kenapa? " tantang Shasha.


" Jadi benar agar kamu bisa bebas bertemu dengan laki-laki itu " tuduh Adi.


" Ya, puas kamu " seru Shasha menahan sesak di dada.


Tuduhan Adi terhadap Shasha menambah runyam hubungan pernikahan mereka. Bukankah Adi datang untuk meminta maaf dan membujuk Shasha untuk kembali padanya. Apakah Adi tidak berpikir jernih dengan perbuatannya yang menyakiti Shasha. Saat ini yang terlintas di benak Adi adalah kecemburuannya semata ketika istrinya didekati oleh lelaki lain. Cemburu yang membuat amarahnya meledak seketika. Tangannya mengepal dan membenturkannya di dinding. Membuat Shasha bergidik ngeri melihat kemarahan suaminya yang baru pertama kalinya ia lihat.


Adi berlalu meninggalkan Shasha membawa kemarahan yang memuncak. Sementara Shasha terduduk lemas menahan sakit di bawah perutnya. Shasha meraih ponselnya yang ada di kantong bajunya menghubungi sahabatnya.


" Bi bibi tolong bi " seru Shasha pada bi Ani art di rumahnya.


Bi Ani bergegas mendekati nona nya. Bi Ani dari tadi di belakang tidak berani keluar. Hanya menjadi penonton pertengkaran nona dan suaminya. Setelah suami nona nya pergi barulah bi Ani keluar. Di saat yang bersamaan bi Ani mendengar nona nya menjerit minta tolong bi Ani keluar dengan sangat paniknya.


" Aduh non gimana ini " seru bi Ani.


" Tolong bi telpon nomor ini " kata Shasha menyerahkan ponselnya.


Lalu bi Ani menghubungi nomor yang tertera di layar ponsel nona nya. Menghubungi seseorang setelah terhubung bi Ani menceritakan keadaan nona nya lalu mematikan sambungan telponnya.


**************


Ikuti kelanjutannya di Maafkan Aku, Istriku ...


Jangan lupa beri like, komen dan vote nya ya.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2