Maafkan Aku, Istriku...

Maafkan Aku, Istriku...
Bab 35 Rumah Sakit


__ADS_3

Mobil berhenti di sebuah rumah sakit lalu laki-laki itu membawa Shasha ke ruang UGD. Dan meletakkan tubuh Shasha di brankar rumah sakit seorang dokter wanita sedang memeriksa Shasha dan perawat ada di sebelahnya.


Laki-laki itu tampak cemas melihat Shasha pingsan. Pandangannya menatap tubuh mungil yang terbaring tak berdaya itu. la merasa bersalah meninggalkannya untuk menerima panggilan telpon dari mamanya. Laki-laki itu adalah Nathanael yang membawa Shasha ke rumah sakit.


Saat Nathanael selesai dengan panggilan telpon dari mamanya Nathanael masuk ke dalam restoran. Ketika hendak masuk ia melihat Shasha sedang berbicara dengan suaminya lalu pergi. Nathanael mengejar Shasha sampai pintu depan mall. Tapi Shasha terus saja berjalan dan tidak melihat ke sekelilingnya. Nathanael mengikuti Shasha dengan mobilnya. Saat melihat tubuh Shasha limbung Nathanael keluar dari mobil lalu menopangnya dari belakang dan membawanya ke mobil.


Selesai memeriksa Shasha dokter wanita itu menanyakan keluarga pasien. Nathanael mendekat ke arah Shasha yang terbaring hendak menanyakan keadaan Shasha. Dokter wanita itu tersenyum pada Nathanael.


" Anda suaminya ? " tanya dokter wanita itu.


Nathanael bingung mau jawab apa kemudian tersenyum sambil mengusap tengkuknya.


Dokter wanita itu tersenyum.


" Selamat ya pak istrinya sedang hamil usia kandungannya empat minggu " kata dokter wanita itu memberitahu.


Nathanael nampak terkejut mendengarnya. Sedetik kemudian ia tersenyum canggung menanggapi perkataan dari dokter wanita itu. Benaknya berkecamuk dengan berbagai pikiran yang membuat kepalanya berdenyut.


" Maaf pak, tapi pasien mesti dirawat beberapa hari karena kondisinya sangat lemah. Diusahakan untuk tidak stres, kelelahan, juga menjaga asupan gizinya " dokter wanita itu menjelaskan lagi.


Kebetulan dokter yang menangani Shasha adalah dokter kandungan. Setelah menjelaskan pada Nathanael dokter wanita itu pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


Nathanael hanya mengangguk saja lalu mengikuti perawat yang memindahkan Shasha di ruang perawatan. Di sinilah sekarang Nathanael duduk di ruang perawatan menatap sedih pada Shasha. Haruskah ia pergi meninggalkan Shasha sendiri terbaring di rumah sakit. Atau menghubungi suaminya. Ya, suaminya kenapa tidak kepikiran menghubungi suaminya saja. Itu kan tanggungjawab dia.


Saat Nathanael hendak menghubungi suami Shasha ia baru ingat kalau tak mempunyai nomor suami Shasha. Gimana ini, keluh Nathanael dalam hati. Nomor Anita dan Dini bos sekaligus sahabatnya Shasha saja tidak punya. Lalu harus telpon siapa, Nathanael mencoba berpikir lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi sepupunya Daniel.


Ketika Nathanael hendak menghubungi Daniel, Shasha mulai sadar. Perlahan Shasha membuka matanya mengitari pandangan yang menurutnya asing. Ini bukan kamarnya lalu pandangannya tertuju pada Nathanael.


" Nathan..." lirih suara Shasha membuat Nathanael beralih ke suara yang memanggilnya.


" Gimana ada yang sakit " tanya Nathanael menatap Shasha.


" Sedikit pusing " sahut Shasha.


" Kau pasti senang mendengar kabar baik ini " kata Nathanael.


" Kau hamil " kata Nathanael.


Shasha terkejut dan tak percaya dengan ucapan Nathanael. Ia menatap Nathanael lalu laki-laki itu mengangguk meyakinkannya. Haruskah Shasha senang atau sedih mendengar kabar bahagia yang telah lama ia nantikan bersama dengan suaminya.


Melihat suaminya ia teringat kembali kejadian tadi yang membuat hatinya hancur seketika. Baru saja ia dan suaminya berbaikan kini hubungan itu kembali terkoyak. kejadian itu terulang lagi suaminya menyakitinya. Sampai kapan ia akan bertahan dan memaafkan suaminya. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi.


" Istirahatlah aku akan menghubungi suamimu. Berapa nomornya ? " tanya Nathanael.

__ADS_1


" Tidak perlu " kata Shasha menahan air matanya yang sebentar lagi akan jatuh.


Shasha menoleh ke arah lain menghindari tatapan Nathanael.


Nathanael menatap bingung ke arah Shasha. Setelah Shasha bisa menguasai dirinya lalu berbicara pada Nathanael untuk menghubungi Dini sahabatnya. Lalu Shasha memberikan nomor Dini pada Nathanael. Kemudian Nathanael menghubungi Dini dan mengatakan pada sahabat Shasha itu bahwa sekarang Shasha ada di rumah sakit.


" Baiklah aku akan pergi sebentar nanti aku kembali lagi. Tak apa-apa kan aku tinggal " kata Nathanael akhirnya.


" Pergilah aku tak apa-apa dan terimakasih " sahut Shasha.


" Hai jangan sedih gitu dong senyum " kata Nathanael lagi.


" Iya-iya sudah sana pergi " seru Shasha tersenyum menahan sesak di dadanya.


Melihat Shasha tersenyum membuat Nathanael lega. Setelah pamit pada Shasha lalu Nathanael pergi meninggalkan rumah sakit tempat Shasha dirawat.


Mobil Nathanael melaju di jalan sore menjelang malam ke rumah kontrakan sepupunya.


********************


Ikuti kelanjutannya di Maafkan Aku, Istriku....

__ADS_1


Beri like, komen dan vote nya ya.


Terimakasih.


__ADS_2