
Seminggu telah berlalu sejak Shasha bertemu tidak sengaja dengan sahabatnya. Siang ini ibu hamil itu sedang duduk santai di sofa dalam kamarnya. Beberapa saat terdengar ketukan di pintu.
Tok tok tok.
Siapa ya siang hari begini ada yang mengetuk pintu. Tidak mungkin mas Adi yang mengetuk pintu karena suaminya masih di kantor. Ibu dan Zane sedang istirahat di kamar sebelah. Mbak Tari juga sedang di kamar nya istirahat. Kalau mas Agus pasti sedang berjaga di pos.
Ketukan pintu terdengar lagi kali ini agak keras.
" Non Shasha " terdengar suara mas Agus dari luar.
" Ya sebentar " ibu hamil itu bangkit berjalan pelan mendekati pintu.
Ceklek.
Pintu terbuka dari dalam.
" Ada apa mas Agus " tanya ibu hamil yang tubuhnya bertambah subur ini.
" Maaf non mengganggu di luar ada seorang wanita yang ingin bertemu non Shasha " beritahu mas Agus.
" Siapa ya " tanya Shasha heran.
Kenapa siang hari begini ada tamu, gumam Shasha.
" Tidak tahu non kata wanita itu dia sahabat non " kata mas Agus.
Oh ya mungkin itu Dini, Shasha baru ingat kalau dia baru saja bertemu sahabatnya seminggu yang lalu.
" Jadi gimana non apa benar wanita itu sahabat nya non " tanya mas Agus yang melihat istri tuannya hanya diam saja.
" Ah iya mas Agus dia memang sahabatku suruh langsung masuk ke ruang keluarga ya " jawab Shasha.
" Baik non " mas Agus kembali ke depan.
Shasha melangkah menuju ruang keluarga menunggu sahabatnya. Sosok wanita cantik dengan rambut yang sedikit panjang menutupi pundak itu mendekat ke arahnya. Senyum mengembang di bibir wanita cantik itu saat melihat sahabatnya yang baru seminggu yang lalu bertemu. Dan tak lupa sosok di sebelahnya yang sangat dikenal oleh Shasha.
Keduanya melangkah mendekati ibu hamil itu. Setelah bersalaman dan saling berangkulan dengan sahabatnya keduanya duduk di sofa.
Shasha menelisik sahabatnya membuat wanita di depannya sedikit gugup. Lelaki di samping nya menggenggam tangan kekasihnya lalu mengangguk pelan.
" Begini Sha, kedatangan kita ke sini ingin mengundang kamu dan suamimu untuk menghadiri pernikahan kita " wanita itu menghela nafas sejenak lalu melirik orang di sebelah nya.
" Dim, apa benar yang aku dengar barusan kalian akan menikah " Shasha memandang keduanya bergantian.
" Iya Sha kita akan menikah minggu depan dan ini undangan nya " si lelaki yang menjawab kemudian menyerahkan sebuah undangan pada ibu hamil itu.
Ya yang datang ke rumah siang itu Dini, sahabat Shasha. Dan yang duduk di sebelah nya Dimas yang menjadi calon suami Dini.
Shasha menerima undangan pernikahan dari sahabatnya lalu membacanya.
" Selamat ya Din akhirnya apa yang kau harapkan menjadi kenyataan " ucap tulus Shasha.
Dini mengangguk sambil tersenyum bahagia.
" Dan kau Dim jaga sahabatku ini buat dia bahagia dan jangan sampai sahabat ku ini menangis karena dirimu " peringat Shasha.
" Itu pasti ya kan sayang " jawab Dimas sambil mengusap lembut punggung tangan kekasihnya.
" Iya a " sahut Dini pelan.
" Ya sudah mesra-mesraan nya di tempat lain saja sekarang kalian pulang sana " usir Shasha.
Ck Dini berdecak sebal pada sahabatnya.
__ADS_1
" Ngusir nih ceritanya " Dini cemberut.
" Mataku sakit ngeliat kalian seperti itu " jujur Shasha.
" Emangnya dulu mataku nggak sakit liat kamu dan suamimu bahkan lebih parah dari kita, iya kan a " sahut Dini cepat.
Lelaki di samping Dini hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.
Dini dan Dimas pamit pada Shasha. Bukan sebab diusir tuan rumah tapi lebih karena masih banyak yang diurus oleh keduanya. Maklum saja kedua orang tua Dini dan Dimas berada di luar kota. Sementara keduanya sibuk mengurus segala sesuatu yang menyangkut persiapan pernikahan mereka.
Setelah Dini dan kekasihnya pergi Shasha kembali ke kamarnya. Ia meletakkan undangan dari sahabatnya di meja rias. Shasha melangkah menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana.
Perusahaan Nugroho.
Selesai pertemuan dengan klien nya Adi bergegas masuk ke ruangan nya. Diikuti asisten nya yang berjalan di belakang bosnya itu. Chris duduk di sofa sambil memeriksa ulang hasil dari pertemuan yang sangat menguras tenaga dan pikiran itu. Adi menghempaskan tubuhnya ke kursi kerjanya melonggarkan dasinya. Adi menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya. Adi menghela nafas nya pertemuan tadi berlangsung cukup lama. Hampir dua jam lamanya yang pada akhirnya kliennya setuju untuk bekerja sama dengan perusahaan nya.
Setelah sedikit rileks Adi melirik ke arah Chris. Sepupunya itu masih sibuk dengan berkas di tangannya.
" Apa ada jadwal berikutnya " Adi membenarkan letak duduknya.
Chris mendongak melihat bosnya.
" Tidak ada pak " Chris merapikan berkasnya.
Chris segera bangkit berdiri.
" Apa masih ada yang bapak butuhkan " sekilas Chris melihat bosnya.
" Tidak ada kau boleh pergi " Adi merapikan dasinya dan berdiri hendak pergi.
Chris memperhatikan sepupunya itu ia memilih diam dan tidak banyak bertanya. Dalam hatinya heran mendapati sepupunya yang pastinya setelah ini akan pulang ke rumah. Meski jam pulang kantor masih setengah jam lagi.
Chris masih berdiri di tempatnya.
" Iya pak " Adi melirik sepupunya.
" Besuk kau saja yang bertemu dengan klien yang tadi " Adi melangkah menuju pintu dan keluar dari ruangan nya.
Chris menggeleng pelan. Huh kenapa pekerjaan yang rumit selalu dilimpahkan padanya. Seperti rumitnya kisah cintanya dengan gadis yang kini menjadi sekretaris sepupunya itu.
Kenapa tidak ditangani sendiri, gumam Chris. Chris menghela nafasnya kemudian melangkah lesu keluar dari ruangan bosnya dan menuju ruangan nya sendiri.
Adi telah masuk ke mobilnya dan menjalankan mobilnya pulang ke rumah. Dia memilih pulang ke rumah karena sudah tidak fokus bekerja. Sampai di rumah Adi segera berjalan masuk ke kamar. Dia melewati ruang keluarga di sana ada si cantik Zane bersama suster Anna.
Adi mempekerjakan suster Anna untuk mengasuh Zane. Karena putrinya kini semakin lincah saja membuat nenek dan mbak Tari kewalahan. Dan hari ini hari pertama bagi suster Anna mengasuh si cantik Zane.
Adi mendekati putrinya dan di sebelahnya ada suster Anna yang sedang menjaga Zane.
" Zane " panggil Adi.
Batita cantik itu melihat ke arah suara yang memanggil nya. Saat melihat papanya sudah pulang Zane langsung berlari menghampiri papa Adi. Kedua tangan batita cantik itu terangkat ke atas sepertinya minta digendong oleh papanya.
" Tidak Zane papa baru pulang sama mbak Anna dulu ya " Adi menghentikan langkah batita cantik itu.
Batita cantik itu cemberut.
" Mbak Anna " Adi melihat pengasuh Zane.
" Ya pak " mbak Anna segera berdiri dan menunduk.
" Apa dia rewel " Adi melihat ke arah putrinya.
" Tidak pak dia tidak rewel " sahut mbak Anna.
__ADS_1
Adi mengangguk dan bergegas ke kamar.
" Papa " panggil si cantik Zane.
" Sama mbak dulu ya papa mau mandi dulu " Adi lalu masuk ke kamar hendak membersihkan diri.
Mbak Anna mendekati batita cantik itu dan menggendong nya.
" Ayo main lagi " batita cantik itu menggeleng.
" Papa " batita cantik itu mengucek matanya.
" Papa Zane lagi mandi habis itu baru main sama Zane " mbak Anna duduk di sofa sambil memangku Zane.
Batita cantik itu kembali ceria ketika mendengar perkataan mbak Anna bahwa papanya akan bermain bersama nya. Zane lalu turun dari pangkuan mbak Anna lalu berlari ke kamar orangtuanya.
" Zane sini jangan lari " batita itu tetap lari.
Mbak Anna segera menggendong Zane setelah bisa meraih tubuh batita cantik itu.
Di dalam kamar Adi melihat istrinya sedang tidur. Adi melangkah mendekati ranjang lalu mencium kening kening istrinya. Shasha mengerjapkan matanya dan melihat siapa yang mengganggu tidurnya. Saat didapati suaminya sudah duduk di tepi ranjang Shasha sedikit heran.
" Mas sudah pulang " Shasha berusaha duduk dibantu suaminya.
" Iya sayang " Adi mengangguk.
" Masih sore ini " Shasha menatap suaminya.
" Iya masih sore ingin cepat pulang ke rumah dan melihat mu sayang " Adi tersenyum hangat.
Shasha masih menatap suaminya.
" Tidak ada yang lain " Adi bangkit melonggarkan dasinya dan menaruh jas nya.
" Ada " Adi melirik sekilas istrinya.
" Apa " Shasha melihat ke arah suaminya.
" Melihat suster Anna " jawab jujur Adi.
" Ada apa dengan suster itu " ibu hamil yang satu ini sedikit curiga.
Adi berbalik dan mendekati istrinya.
" Jangan curiga dulu sayang mas melihat apa dia bekerja dengan baik dan Zane nyaman bersama suster Anna " jelas Adi.
" Oh itu aku kira ... " Shasha menghentikan ucapannya.
" Sayang mengira apa " Adi mengeryit heran.
" Aku kira mas mau bertemu suster Anna dia kan cantik " sahut ibu hamil itu.
Adi menatap istrinya lalu menggeleng pelan. Ah bisa-bisanya istrinya berpikir seperti itu. Adi mengacak rambut istrinya dan mencubit pelan hidung istrinya. Pikiran ibu hamil itu bawaannya curiga saja, gumam Adi.
Adi memilih pergi ke kamar mandi dan meninggalkan ibu hamil itu yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
***********
Up lagi.
Semoga suka dengan ceritanya jangan lupa untuk memberi like, komen dan vote nya ya.
Mampir di karyaku yang lain yaitu Perjalanan Cinta Nathanael.
__ADS_1
Terimakasih ...❤️❤️❤️