
Pagi hari di rumah sakit Shasha baru saja bangun dari tidurnya. Setelah selang infus telah dicopot dari tangannya tadi malam dan dokter membolehkan Shasha pulang. Shasha sedang berpikir dia akan pulang kemana setelah dari rumah sakit. Ia enggan untuk pulang ke rumah Adi suaminya.
Selagi Shasha berpikir masuklah Nathanael ke dalam ruangan. Lalu menghampiri Shasha dan duduk di kursi dekat ranjang.
" Pagi, gimana tidurnya? " tanya Nathanael.
" Nyenyak sekali " kata Shasha tersenyum.
" Kamu sendiri gimana apa nggak digigit nyamuk tidur di luar sana " Shasha balik bertanya.
" Nggak papa digigit nyamuk asal dekat dengan wanita secantik kamu " seru Nathanael lagi.
" Ish pagi-pagi sudah gombal " sahut Shasha sambil tertawa kecil.
Nathanael tersenyum senang melihat Shasha tertawa. Nathanael menatap Shasha tak berkedip ada kebahagiaan tersendiri yang terselip di hatinya manakala wanita di depannya ini tersenyum dan tertawa seperti saat ini. Bila wanita di depannya sedih ia pun turut merasakan kesedihan di hatinya.
Lamunan Nathanael terusik ketika seorang perawat datang membawa menu sarapan pagi buat Shasha. Lalu Nathanael membantu membawa nampan berisi makanan dan menaruhnya di atas meja. Nathanael mengambil makanan itu sepotong ayam goreng yang kelihatannya lezat sekali pada Shasha tapi Shasha menolaknya. Bau ayam goreng itu menyengat di hidung Shasha membuat perut Shasha mual. Karena tak tahan bau dari ayam goreng itu Shasha turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Lalu menumpahkan semua isi dalam perut yang hanya berupa cairan saja.
Huueeek... huuueeek....huueeek.
Nathanael yang panik mengikuti Shasha ke kamar mandi dan memijit tengkuk Shasha. Setelah mengeluarkan isi dalam perutnya Shasha membasuh mukanya. Shasha tampak pucat dan lemas sekali lalu Nathanael menuntun Shasha berjalan . Dan membaringkannya perlahan di ranjang.
" Kau tidak apa-apa " kata Nathanael khawatir.
Shasha menggeleng pelan.
" Jauhkan ayam goreng itu " seru Shasha masih menutup hidungnya.
Lalu Nathanael membungkus ayam goreng dengan tissu dan menjauhkannya dari Shasha.
" Kau harus makan " kata Nathanael lagi.
Nathanael khawatir karena melihat wajah Shasha yang masih pucat dan perutnya yang kosong belum terisi apapun. Shasha menggeleng lemah.
" Ya baiklah ini saja ya..." kata Nathanael lembut lalu memberikan potongan buah melon kepada Shasha.
__ADS_1
Kemudian Shasha memakannya.
Beberapa saat kemudian Dini sahabatnya datang membawa buah-buahan segar. Dan meletakkannya di atas meja.
" Gimana jadi pulang sekarang? " tanya Dini pada sahabatnya.
Dini melangkah ke sisi kanan ranjang Shasha lalu duduk di dekat sahabatnya itu. Nathanael duduk di sisi yang lain.
" Jadi tapi agak sore saja " kata Shasha sambil tersenyum.
" Ya sudah aku pulang dulu mau siap-siap kerja nanti sore aku jemput " kata Nathanael.
" Ish kau ini ngapain kerja ada bos di sini " Shasha menunjuk dengan dagunya ke arah Dini.
" Ah kau ini Din kebangetan masa Nathanael kau suruh kerja nggak liat semalaman nungguin aku " sungut Shasha pada sahabatnya.
" Eh aku nggak bilang gitu ya " seru Dini membela diri.
" Ya sudah kamu pulang saja istirahat ntar sore ke sini " sahut Shasha pada Nathanael.
Shasha menatap Dini.
" Punya sahabat tega banget kamu Din " seru Shasha pada sahabatnya.
" Nggak kok bercanda he he he ... kau boleh bebas hari ini tapi jangan lupa entar sore ke sini " kata Dini lagi.
" Siap bos " kata Nathanael menaruh tangan kanannya seperti sedang memberi hormat.
Shasha tertawa geli sementara Dini hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah Nathanael.
Setelah itu Nathanael pamit pulang meninggalkan kedua wanita cantik itu. Dini mengupas buah yang ia bawa lalu diberikan pada Shasha. Shasha memakan buah pemberian Dini sambil berbincang ringan.
" Sudah kau putuskan mau pulang ke mana " kata Dini pada Shasha sahabatnya.
" Ke rumahku lah " kata Shasha.
__ADS_1
" Orangtuamu gimana ? " tanya Dini.
" Tau lah " kata Shasha merenung.
Dini menatap sahabatnya itu merasa sedih dengan nasib pernikahan sahabatnya itu. Tapi ia sebagai sahabat hanya bisa berdoa untuk kebaikan mereka berdua. Mungkin ini yang terbaik bagi Shasha untuk saat ini dan akan tetap mendukung keputusan sahabatnya. Semoga Shasha bisa menjalani hari-harinya dengan tabah dan selalu dilimpahi kebahagiaan, doanya dalam hati.
Shasha sedang menelpon ke rumah orangtuanya yang mengangkat bi Ani art di rumahnya.
📞 " Bi Ani ya " kata Shasha.
📞 " Ya non ada apa non? " tanya bi Ani.
📞 " Apa papa dan mama dah pulang ? " tanya Shasha.
📞 " Belum non mungkin minggu depan baru pulang. Ada apa ya non? " tanya bi Ani.
📞 " Bersihin kamar aku ya bi " kata Shasha.
📞 " Emang ada apa non kok suruh bersihin " kata bi Ani bingung.
📞 " Udah dibersihin aja " lalu telpon ditutup Shasha.
" Beres " kata Shasha pada Dini sahabatnya.
Lalu kedua sahabat itu melanjutkan obrolan ringan disertai canda dan tawa dari keduanya. Obrolan mereka berhenti sejenak ketika dokter dan seorang perawat datang hendak memeriksa Shasha untuk yang terakhir kalinya. Memastikan bahwa Shasha sehat beserta bayi yang dikandungnya dan diperbolehkan pulang.
Tak banyak yang hendak dibawa pulang karena Shasha memang tidak membawa pakaian ganti. Dini membawakan pakaian ganti untuk Shasha karena tubuh mereka seukuran jadi Dini meminjamkan pakaiannya pada Shasha.
*****************
Ikuti kelanjutannya di Maafkan Aku, Istriku ....
Jangan lupa beri like, komen dan vote nya ya.
Terimakasih.
__ADS_1