
Sementara di tempat lain.
Steve baru saja tiba di rumahnya. Kebetulan hari ini sedikit pasien yang membutuhkan tenaganya. Sehingga ia bisa pulang ke rumah lebih awal dan hendak mengistirahatkan tubuhnya. Ketika ia hendak membuka handle pintu sebuah mobil memasuki halaman rumahnya. Ia mengerutkan dahinya melihat siapa yang malam- malam begini bertamu ke rumahnya.
Tak berapa lama keluarlah lelaki tampan dari mobil itu. Lelaki itu berdiri sebentar melihat dengan ekor matanya lalu tersenyum tipis. Kemudian berjalan mendekati Steve yang hendak masuk ke rumahnya.
" Rupanya seorang Xander yang datang ke rumahku yang kecil ini " kata Steve tersenyum mengejek.
" Cih, panggil saja seperti biasa kau memanggilku " seru Nathanael geram.
" Ha ha ha... " Steve tertawa.
Nathanael mendelik tak suka.
Nathanael berjalan melewati Steve lalu masuk ke dalam rumah Steve. Steve sekilas melihat sebuah bayangan dibalik pohon depan rumahnya. Lalu berjalan keluar pagar rumahnya menengok ke kiri dan kanan. Tidak ada yang mencurigakan, kemudian Steve kembali masuk rumahnya.
Nathanael duduk di sofa ruang tamu. Steve berjalan menuju meja makan meletakkan bungkusan yang ia bawa. Lalu melangkah ke lemari pendingin dan mengambil dua botol minuman soda dan membawanya ke ruang tamu. Steve memberikan minuman dingin itu ke Nathanael dan satu untuk dirinya sendiri. Steve duduk di sofa tunggal sambil meminum soda dingin itu.
" Kapan kau datang ? " tanya Steve.
" Beberapa bulan yang lalu "sahut Nathanael.
" Apa karena gadis itu " Steve. Nathanael menggeleng pelan.
" Bukan, mamaku yang berulang kali menyuruhku pulang " kata Nathanael.
" Dan kau...." Steve.
" Kau sudah tahu kan jawabannya " Nathanael.
Steve diam ia tak akan mendesak teman sekaligus sahabatnya itu untuk menjawab.
" Sekarang kau tinggal di mana " tanya Steve.
" Di tempat Daniel " kata Nathanael mengambil minuman soda lalu meminumnya.
" Sepupumu yang jomblo itu " Steve tertawa.
" Kau juga jomblo " Nathanael melempar bantal ke Steve.
Sialan, umpat Steve mengambil bantal yang dilempar ke arahnya. Nathanael tak menghiraukannya lalu berdiri melangkah menuju meja makan. Dilihatnya ada bungkusan di atas meja lalu membukanya. Ada kue yang kelihatannya enak untuk dimakan lalu ia mengambilnya sepotong dan memakannya. Lalu mengambil sepotong lagi membawanya ke depan.
" Hei itu punyaku aku belum mencicipinya " Steve merebut kue dari tangan Nathanael langsung memakannya.
__ADS_1
" Ih, pelit sekali " ucap Nathanael.
" Biarin " Steve. " Awas ya kalau kau ambil lagi "
" Emang kenapa... jangan-jangan dari pacarmu " Nathanael curiga.
" Cuma teman " Steve membenarkan duduknya.
" Curiga aku " Nathanael menatap Steve yang mulai salah tingkah. Steve mengusap tengkuknya.
" Apaan " Steve membuang muka.
Nathanael memandang Steve lekat meminta jawaban.
" Iya-iya aku jawab dia seorang perawat di tempat aku kerja. Tadi itu pemberian darinya " kata Steve akhirnya.
" Ha ha ha...kena kau padahal aku cuma menduga saja " sahut Nathanael.
Sebuah bantal sofa melayang di wajah tampan Nathanael. Tak sempat menghindar membuat hidungnya merah terasa sakit kena lemparan. Nathanael mengusap hidungnya pelan.
" Gimana kabar gadis itu " tanya Steve mengalihkan pembicaraan.
Panjang urusannya nanti kalau Nathanael mulai curiga dan bertanya macam-macam.
" Aku tahu maksudku yang ketemu di rumah sakit waktu itu..." Steve menatap Nathanael.
" Shasha maksudnya " kata Nathanael memainkan ponselnya.
" Bukan sekedar teman kan " masih menatap Nathanael lekat. " Apa dia gadis yang kau ceritakan waktu itu."
Nathanael menghela nafas pelan menghilangkan sesak di dadanya. Betapa susahnya melupakan orang yang kita cintai tapi mengaggap kita sebagai sahabat saja. Menyakitkan bukan. Empat tahun telah berlalu tapi rasa itu tidak pernah musnah tapi semakin tumbuh subur di sini di hati ini. Rasa cinta yang tak akan bisa ia miliki karena sudah memilih orang lain sebagai pelabuhan terakhirnya.
" Ya, dia gadis yang ku ceritakan padamu waktu itu. Aku sangat mencintainya tapi dia lebih mencintai orang yang kini menjadi suaminya. Saat itu dia sedang bertengkar dengan suaminya dan aku mendapati dia dalam kondisi lemah dan membawanya ke rumah sakit lalu bertemu denganmu " kata Nathanael sendu.
Steve hanya diam mendengarkan keluhan dari sahabatnya. Menatap sahabatnya yang kini banyak berubah. Tidak seperti Nathanael empat tahun yang lalu. Yang sering balap motor dan suka berkelahi. Dan masih banyak kekacauan lainnya yang dilakukannya. Sejak mengenal gadis yang bernama Shasha perlahan kebiasaan buruk itu berubah. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari kota ini untuk melupakan gadis itu. Tidak hanya itu hubungan dengan papanya mempengaruhi sebab perginya dia juga.
Nathanael memejamkan matanya memindai pertemuannya tadi dengan Shasha. Mungkin itu pertemuan terakhirnya dengan gadis itu setelah ini ia akan memulai kehidupan yang baru sama sekali baru baginya.
" Lebih baik kau lupakan gadis itu tidak baik mengejar wanita bersuami " kata Steve.
" Sudah malam aku mau tidur " seru Nathanael merebahkan tubuhnya di sofa panjang ruang tamu.
" Aish, aku ngomong kau dengar tidak " seru Steve melirik Nathanael yang memejamkan matanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi ponsel Nathaniel. Nathanael mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja. Setelah berbicara sebentar Nathanael menaruh kembali ponselnya.
" Siapa " tanya Steve.
" Leo " kata Nathanael.
" Apa ada yang penting " tanya Steve.
" Tidak ada besuk aku akan ke sana " kata Nathanael.
" Kau belum cerita gimana kabar Leo sekarang " kata Steve.
Nathanael yang hendak tidur menggeser tubuhnya.
" Selama aku pergi ke kota T dia yang mengelola restoran milikku " kata Nathanael.
" Mungkin sekarang aku akan mengelola restoran itu. "
" Wow sudah jadi bos sekarang " seru Steve.
" Bos apaan hanya restoran kecil bukan perusahaan besar " kata Nathanael.
" Oke, selamat ya " kata Steve.
Nathanael berdecak sebal.
" Sudahlah aku mau tidur ' Nathanael merebahkan tubuhnya lalu memejamkan matanya.
Hah, sudah tidur rupanya kebiasaan dari dulu nggak berubah. Dia pikir dia siapa dasar Xander jelek semaunya sendiri, menyebalkan maki Steve.
" Aku tahu kau sedang mengomel sudah sana tidur aku numpang nginep malam ini " kata Nathanael masih memejamkan mata.
Huh kayak peramal saja dia tahu apa yang aku pikirkan. Ah, sudahlah aku juga sudah mengantuk. Steve melangkah ke kamarnya naik ke atas ranjang tempat favoritnya setelah seharian bekerja di rumah sakit. Sungguh amat melelahkan memeriksa ibu hamil akibat ulah suami mereka. Ya, karena itulah tugasnya sebagai dokter kandungan, he he he.
*********************
Maaf baru up. 🙏🙏🙏
Semoga masih setia dengan ceritaku ini.
Mohon like dan komennya ya.
Terimakasih.
__ADS_1