
Suasana kafe Dini malam hari ini sangat ramai karena bertepatan dengan weekend. Banyak pasangan muda-mudi menghabiskan sepanjang malam minggu dengan orang terkasih. Ada juga yang datang sekedar duduk berkumpul bersama teman-teman mereka. Kumpul bareng sesama jomblo sesekali melirik pengunjung lainnya siapa tahu ada kaum hawa yang jomblo juga lalu bisa kenalan. Kalau jodoh bisa ke jenjang selanjutnya dan kalaupun tak jodoh namanya nasib he he he...
Meski konsep awal kafe diperuntukan hanya kalangan umum namun seiring berjalannya waktu kafe Dini didatangi tidak hanya oleh para kawula muda tapi juga anak kuliahan. Dan sebagian juga pegawai kantoran pas jam makan siang.
Suasana kafe yang sederhana dengan desain minimalis didominasi warna hijau daun warna kesukaan bos kafe ini yaitu Dini sesuai dengan nama kafe nya membuat orang yang berkunjung di tempat ini nyaman dan betah berlama-lama duduk di kafe Dini.
Shasha, Anita dan pegawai lainnya sibuk melayani pengunjung kafe termasuk Dini sang bos sekaligus pemilik kafe ikut terjun langsung. Walau Dini adalah bos mereka tapi dia bos yang ramah serta ringan tangan. Tak segan ia turun tangan membantu para pegawai menyiapkan pesanan. Sehingga membuat para pegawai menaruh kagum dan hormat padanya.
Tak berapa lama masuklah sebuah mobil ke halaman parkir kafe Dini. Seorang lelaki tampan keluar dari dalam mobil berjalan santai memasuki kafe.
Mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kafe. Ternyata semua kursi telah penuh tak ada tempat yang kosong. Mata lelaki itu menangkap sosok yang sangat dikasihinya. Lelaki itu seolah cuek ia tetap berjalan santai ke arah Shasha.
" Tuh ada yang datang," seru Anita berbisik pada Shasha.
" Siapa?" tanya Shasha yang sedang meracik pesanan salah satu pengunjung kafe.
" Penggemarmu siapa lagi," seru Anita masih berbisik ke telinga Shasha.
Lalu Shasha mengangkat kepalanya, ia melihat lelaki itu sedang berjalan ke arahnya. Kemudian duduk di kursi depan pantry.
" Sini aku saja kau temenin penggemarmu saja" bisik Anita mengambil alih pesanan dan berlalu meninggalkan Shasha.
" Ih apaan sih " gumam Shasha.
" Malam cantik " sapa lelaki bermata sipit itu sambil menarik kursi lalu mendudukinya.
Ya, laki-laki itu adalah Nathanael sengaja datang ke kafe untuk bertemu dengan Shasha. Siapa tahu dia melihat wanita pujaannya itu dan dugaannya tak salah wanita yang telah mencuri hatinya ada di sana.
" Ngapain ke sini" kata Shasha menatap heran pada Nathanael.
" Menemui mu" kata Nathanael menatap lekat pada Shasha.
" Kayak nggak ada kerjaan saja " membalas menatap lelaki tampan di depannya itu.
" Ada " jawab Nathanael santai.
Shasha mengerutkan dahinya masih menatap lelaki di depannya.
" Kerja ku saat ini memandang wajah cantik yang berdiri di depanku " Nathanael tersenyum tipis.
" Ish menyebalkan " seru Shasha memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Tak terasa pipi wanita cantik itu bersemu merah membuat Nathanael ingin menggodanya lagi.
" Kau suka kan dipuji lelaki tampan seperti ku " tersenyum simpul.
" Aku sudah bersuami " Shasha mengingatkan.
" Aku tahu tapi tidak ada yang larangan memuji istri orang kan " sahut Nathanael santai.
" Kamu ini dari dulu tidak berubah " kata Shasha.
Nathanael menatap Shasha dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya. Ya, dari dulu aku tidak berubah terutama hatiku ini masih tetap sama ketika pertama kali aku berjumpa denganmu. Saat itu aku jatuh cinta padamu sampai kini cinta ku padamu bukannya hilang tapi makin tumbuh subur. Nathanael hanya mampu berkata dalam hatinya. Dan tepukan di punggung tangannya menyadarkan nya.
" Hei mau minum apa " pelan suara Shasha masuk ke gendang telinganya.
Nathanael masih memandang ke arah Shasha kemudian beralih pandangannya mengitari ruangan kafe. Lalu kembali menatap wajah cantik di depannya.
" Kopi hitam saja " kata Nathanael.
" Sebentar aku buatkan" sahut Shasha lalu beranjak membuat kopi hitam untuk Nathanael.
Beberapa saat Shasha pun kembali dengan secangkir kopi hitam lalu diberikan Nathanael.
" Khusus hari ini gratis " seru Shasha sambil tertawa kecil. " Kalau besuk bayar " serunya lagi.
Nathanael tak bosan menatap wanita di depannya lalu tersenyum dia merasa ada kupu-kupu yang berterbangan di samping kiri kanan kepalanya. Ia merasa bahagia meski cuma sebuah tawa kecil dari wanita yang dikasihinya. Cukuplah mengobati kerinduan yang selama ini terpendam.
" Aku hanya bercanda " kata Nathanael tak enak.
" Serius aku yang traktir karena hari ini pertama kali aku kerja sampai malam" kata Shasha.
" Terimakasih, lain kali aku yang traktir " kata Nathanael.
Shasha hanya tersenyum tak menanggapi ucapan Nathanael.
Nathanael menundukkan kepalanya sambil mengaduk pelan kopi hitamnya. Menyesap kopi hitam buatan Shasha sambil menatap lekat wanita cantik itu. Lalu ia meletakkan kembali cangkir nya di meja, menghela nafas pelan.
Apa dia tahu apa yang dilakukan suaminya di luar sana, Nathanael menatap iba pada Shasha. Semoga hubunganmu dengan suamimu baik-baik saja. Meski Nathanael menyukai Shasha tapi ia tak rela seseorang melukai hatinya termasuk suaminya. Kalau saja wanita itu tahu suaminya keluyuran di luar sana dan pergi bersama wanita lain. Betapa hancur hati Shasha bila melihat itu semua. Meski Nathanael ragu tentang yang barusan dilihatnya. Tapi bila itu benar ia tak bisa membayangkan kesedihan wanita yang dicintainya itu.
Flashback on.
Sore itu Nathanael dan Daniel sepupunya pergi ke mall di pusat kota. Mencari makanan buat pengisi perut yang lapar itulah tujuan mereka ke mall sekalian jalan-jalan cuci mata. Maklum mereka berdua masih jomblo akut meski tampang keduanya tampan tapi belum laku-laku ha ha ha.
__ADS_1
Ketika Nathanael dan Daniel masuk ke sebuah restoran keduanya tanpa sengaja melihat Adi dan Kinanti serta anaknya Mike sedang makan di restoran itu. Mereka tampak senang seperti keluarga kecil yang sedang bahagia.
Nathanael tampak terkejut tapi tidak dengan Daniel. Daniel menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya yang belum berubah juga.
Sementara Nathanael mengepalkan tangannya dan berniat mendekati Adi. Tapi Daniel memberi kode pada Nathanael untuk tidak mengganggu mereka. Itu urusan mereka kita tidak perlu ikut campur, kata Daniel pada Nathanael.
Lalu keduanya mencari tempat duduk karena perut mereka berbunyi nyaring minta segera diisi. Keduanya lalu duduk agak jauh dan memesan makanan.
Flashback off.
" Hai...hai..." seru Shasha mengibaskan tangannya di muka Nathanael.
Seketika Nathanael tersadar dari lamunan dan sedetik kemudian tersenyum dan melupakan sejenak bayangan suami Shasha yang sempat mengganggu pikirannya.
" Ehm, aku pengangguran sekarang " kata Nathanael.
" Apa kau mau kerja " tanya Shasha.
" Ya kalau ada " sahut Nathanael cepat.
" Beneran mau tapi gajinya kecil " kata Shasha.
" Nggak masalah " jawab Nathanael.
" Kebetulan bos ku membutuhkan pegawai kau mau kerja di sini " kata Shasha.
" Mau dong " sahut Nathanael semangat.
" Beneran kau mau " kata Shasha lagi.
" Ya " sahut Nathanael.
" Sebentar aku ngomong sama bos ku dulu " seru Shasha lalu berlalu meninggalkan Nathanael pergi ke ruang bos sekaligus sahabatnya.
Setelah masuk ke ruangan bos nya Shasha dan Dini keluar bersama menemui Nathanael. Shasha mengenalkan Nathanael pada Dini lalu Dini berdiskusi sebentar dengan Nathanael. Akhirnya Dini menerima Nathanael sebagai pegawai baru di kafe nya.
Waktu menunjuk pukul 9 malam Shasha pamit pada Dini untuk pulang. Ketika Shasha hendak pulang ditahan oleh Nathanael, ia berniat mengantarkan Shasha. Semula Shasha menolak tapi karena sudah malam dan ini pertama kali Shasha pulang malam akhirnya Shasha pun setuju. Apalagi Dini juga membujuknya untuk menerima tawaran Nathanael karena khawatir pada sahabatnya itu.
Shasha pulang diantar oleh Nathanael setelah sebelumnya memasukkan motor maticnya di garasi. Letaknya di sebelah kafe karena Dini pun tidur di kafe ini juga. Tapi di ruang atas kafe, bangunan yang di beli Dini terdiri dari dua lantai. Lantai satu dijadikan kafe dan di sebelahnya ada ruang terpisah tembok untuk menaruh mobil Dini. Sementara Dini tidur di lantai atas dengan ditemani seorang pegawai wanita karena pegawai itu rumahnya jauh di luar kota.
****************
__ADS_1