
Siang itu waktu menunjuk jam makan siang. Laki-laki tampan bermata sipit yang tak lain adalah Daniel melangkah masuk ke kedai yang di tunjuk sepupunya itu. Daniel menghampiri sepupunya di sana sudah ada Shasha duduk di sebelah Nathanael.
" Hai sepupu sudah lama menunggu " seru Daniel tiba-tiba mengagetkan keduanya.
" Sialan kamu" umpat Nathanael pada sepupunya itu. Lalu keduanya berangkulan dan tertawa bersama.
Melepas kerinduan yang hampir empat tahun lamanya pada sepupunya itu. Meski Daniel suka menjahili Nathanael tapi sepupunya tak pernah marah.
" Gimana yang lagi rindu berat" bisik Daniel ke telinga sepupunya itu.
" Ah kau ini " Nathanael memukul pelan bahu sepupunya itu.
Tampak wajah Nathanael merona merah kelihatan nyata di kulitnya yang putih bersih. Nathanael menggeser kursi di sebelahnya untuk sepupunya duduk.
" Cie...cie..." seru Daniel menahan tawa melihat sepupunya gugup. Pipinya yang bersemu merah membuat Daniel ingin menggoda sepupunya lagi.
" Mau pesan apa " Nathanael mengalihkan pembicaraan.
Daniel mengurungkan untuk menggoda sepupunya lalu mengambil daftar menu dari tangan Shasha. Setelah memesan menu Daniel mengamati istri sahabatnya itu.
" Eh iya jadi bener kamu bekerja di sini" tanya Daniel pada Shasha istri sahabatnya itu.
Karena Daniel baru menyadari sedari tadi memperhatikan istri sahabatnya itu berpakaian sama seperti pegawai di kedai itu. Shasha pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah memesan menu makanan dan minuman keduanya berbincang sambil menunggu pesanan mereka datang. Shasha pun kembali ke belakang beberapa saat kemudian keluar membawa pesanan Dua laki-laki tampan itu. Dua laki-laki tampan itu menikmati hidangan yang mereka pesan. Setelah selesai menyantap makanan dan minumannya Daniel berpamitan pada sepupunya.
" Kau pulang jam berapa?" kata Nathanael melihat Daniel hendak pergi.
"Jam empat, kenapa?" seru Daniel mengerutkan alisnya.
" Aku nginep di rumahmu" kata Nathanael lagi. " Mana kuncinya?" seru Nathanael santai tak mengindahkan sepupunya yang menggerutu kesal padanya.
" Pulang sono ke rumah om dan tante rindu sama kamu" sahut Daniel berharap sepupunya mau menerima usulannya.
" Kapan-kapan" jawab Nathanael pendek.
" Kenapa lagi..." kata Daniel menatap selidik ke sepupunya. Yang di tanya hanya mengangkat bahunya.
Setelah Daniel pergi Nathanael lalu membayar pesanannya berniat berkeliling kota kelahirannya yang hampir empat tahun ditinggalkannya.
Sebenarnya Nathanael rindu pada rumahnya juga dengan kedua orangtuanya. Tapi rasa bencinya lebih besar dan mengalahkan segalanya. Ingin rasanya ia langsung pulang ke rumah orangtuanya itu tapi rasa sakit hati pada papanya memupus keinginannya untuk pulang ke rumah. Karena menurutnya papanya telah membohonginya selama ini. Dan juga papanya menekan dirinya untuk segera bertunangan dengan Jessica. Bayangan menyebalkan kembali menyeruak di pelupuk matanya. Ah, wanita itu lagi gerutunya dalam hati.
Huh, Nathanael mengacak-acak rambutnya dia bingung harus bagaimana untuk menghentikan perjodohannya dengan Jessica wanita pilihan papanya itu.
Nathanael melajukan mobilnya ke jalan raya. Dia hanya berputar-putar tak tentu arah hingga pada akhirnya ia menepikan mobilnya di taman kota. Lalu memejamkan matanya melupakan sejenak kegundahan hatinya.
Tak terasa hari menjelang malam ketika Nathanael pulang ke rumah kontrakan sepupunya. Sementara si empunya rumah sudah sedari tadi sampai di rumahnya.
__ADS_1
Daniel telah sampai di kontrakannya pintu masih tertutup rapat. Daniel pun mengetuk pintu rumahnya. Ditunggunya sebentar tak ada jawaban. Diketuknya lagi tak ada suara apa-apa dibalik pintu itu. Ketukan ketiga pun tak ada suara.
Sialan, umpat Daniel dalam hati ternyata anak itu belum pulang. Kenapa tadi kunci rumah kuberikan padanya, keluh Daniel. Kemana tuh anak sialan perginya jam segini belum nyampai juga, seru Daniel gemas pada sepupunya.
Sementara itu setelah menenangkan kegundahan hatinya Nathanael melajukan mobilnya ke kontrakan sepupunya. Mobil melaju pelan memasuki area kontrakan sepupunya.
Dari kejauhan Daniel berkacak pinggang kesal melihat sepupunya baru datang. Mobil Nathanael melintas hendak berbelok ke area kontrakan Daniel. Mobil terparkir di area parkir kontrakan Daniel.
Dan seseorang dengan santainya menertawakan sepupunya yang berdiri didepan rumahnya. Dengan raut muka tanpa dosa berlalu melewati sepupunya itu dan membuka pintu terus masuk menuju sofa. Merebahkan tubuhnya ke sofa membiarkan si tuan rumah berdiri mematung di depan rumah kontrakannya.
Daniel mengikuti masuk ke rumah sambil menepuk jidatnya haduh belum sehari sepupunya itu membuatnya gemas gimana kalau tiap hari. Oh, ya Tuhan singkirkan pengganggu itu dari sisiku, seru Daniel dalam hati.
Sedetik kemudian terdengar dengkuran halus dari arah sofa ternyata Nathanael telah tidur. Akhirnya Daniel merebahkan tubuhnya di kamarnya dan memejamkan matanya. Sedetik kemudian ia terlelap.
Hari menjelang malam Nathanael bangun menggeliatkan tubuhnya. Mengumpulkan kesadarannya menguap sebentar dan membuka matanya ternyata hari sudah gelap. Ia berdiri mencari saklar di dinding dan menyalakannya terdengar kriuk-kriuk oh itu suara perutnya berbunyi nyaring.
Dengan malas Nathanael menyeret tubuhnya pergi ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri ia keluar dari kamar mandi menuju dapur kecil milik sepupunya. Tangannya meraih lemari pendingin siapa tahu ada sesuatu yang bisa dimakan. Hah, tak ada apa-apa lalu mencarinya lagi siapa tahu ada yang bisa dimakan.
Hanya ada beberapa bungkus mie, tak apalah yang penting buat isi perut yang sudah berdemo sejak tadi. Lalu Nathanael mulai memasak mie setelah matang diambilnya mangkok. Kemudian menaruh mie kuah ke dalam mangkuk.
Menyantap mie kuah buatannya hingga habis tanpa sisa diambilnya air mineral di lemari pendingin meneguknya separo dikembalikan lagi ke tempatnya. Barulah ia beranjak menuju sofa menyalakan tv. Ia melihat ke sekeliling sepi, mana sepupunya itu. Ah, bodo amat. Hi...hi...hi... dasar Nathanael.
******************
__ADS_1