
Adi mengantar ibu Rina ke kamar tamu agar ibunya bisa istirahat setelah perjalanan jauh. Setelah itu keduanya masuk ke kamar istirahat sambil menunggu makan siang.Tak berapa lama pintu diketuk dari luar.
Tok.
Tok.
Tok.
Adi bergegas membuka pintu dilihatnya pak Udin yang ada di depan pintu kamar.
" Ada apa pak Udin " tanya Adi.
" Maaf den mengganggu ada kiriman paket " kata pak Udin.
" Paket ... dari siapa " tanya Adi.
" Tidak tahu den paketnya ada diluar " sahut pak Udin.
" Kenapa tidak dibawa masuk " tanya Adi.
" Paketnya besar den saya tidak kuat membawanya " kata pak Udin.
" Baiklah sebentar " seru Adi kemudian.
Adi hendak pergi keluar kamar tapi Shasha menghentikan langkahnya.
" Ada apa mas " tanya Shasha.
" Ada kiriman paket " kata Adi.
" Dari siapa " Shasha melihat suaminya.
" Tidak tahu ayo kita lihat sama-sama " ajak Adi.
Lalu Adi menggandeng tangan Shasha keluar melihat paket misterius itu. Setelah sampai di teras keduanya terkejut melihat paket yang besar terbungkus rapi di depan rumah. Lalu Adi meneliti paket itu siapa tahu ada nama pengirimnya. Di sana hanya ada alamat rumah ini tidak ada yang lain. Apa ibu yang mengirimnya ya atau mungkin mertuanya.
Lalu Adi menyuruh pak Udin untuk membantu membuka paket itu. Ternyata paket itu berisi box bayi dan sebuah bungkusan yang masih terbungkus rapi di dalamnya. Setelah dibuka bungkusan itu berisi beberapa baju bayi lengkap dengan peralatan makannya juga.
" Apa mas yang membelinya " tanya Shasha.
" Tidak mas tidak membelinya kita kan baru berencana minggu depan baru akan belanja " kata Adi.
" Ya sudah nanti kita tanya sama ibu " sahut Shasha.
Adi dan pak Udin membawa box bayi itu masuk ke dalam rumah. Dan meletakkan box bayi itu di ruang keluarga. Bi Ani yang melihat bertanya pada nona nya.
__ADS_1
" Box bayi nya cantik sekali non yang membeli " tanya bi Ani.
" Nggak bi nggak tahu juga siapa yang pesan mungkin ibu atau mama " kata Shasha.
" Oh ya non mau makan sekarang biar bibi yang siapkan " kata bi Ani.
" Iya bi " kata Shasha.
Shasha berjalan mendekati suaminya yang duduk di ruang keluarga. Lalu Shasha duduk di sebelah suaminya.
" Mas makan siang sudah siap aku mau ke kamar ibu dulu " kata Shasha.
" Biar mas saja " Adi bangkit melangkah ke kamar ibu Rina.
Tok. tok. tok
Pintu terbuka dari dalam lalu Adi mengajak ibu untuk makan siang. Lalu ibu Rina dan Adi menuju meja makan di sana sudah ada Shasha yang membantu bi Ani menata makanan di meja makan.
" Sayang nanti kamu kecapaian biar bibi saja ya " kata Adi menuntun istrinya untuk duduk.
" Aku cuma membantu sedikit semua ini bibi yang menyiapkan " kata Shasha.
Ibu Rina yang melihat hanya tersenyum saja. Ternyata anaknya sekarang telah banyak berubah. Lebih menyayangi istrinya semoga saja semuanya berakhir dengan kebahagiaan.
Lalu ketiganya makan siang bersama. Seperti yang sudah-sudah Adi menyuapi istrinya lalu bergantian dengan Shasha yang menyuapi suaminya. Mulanya ibu Rina terkejut tapi selebihnya tersenyum melihat kemesraan anak dan menantunya. Ada kebahagiaan yang terpancar di wajah wanita paruh baya itu.
" Ibu, apa ibu yang mengirim paket " tanya Adi yang sejak tadi penasaran dengan datangnya paket tanpa pengirim.
" Paket apa nak " tanya ibu Rina heran.
' Itu bu, paket box bayi yang di ruang keluarga tadi " sahut Shasha.
" Ibu tidak mengirim paket apa pun " sahut bu Rina.
" Mungkin papa dan mama yang kirim " kata Adi kemudian.
" Siapa pun yang mengirimnya kita patut bersyukur itu rejeki dari Tuhan " kata Bu Rina selanjutnya.
' Ya kita mesti mengucapkan terimakasih pada siapapun yang mengirimkan paket ini pada kita ya kan mas " lanjut Shasha.
" Ya sayang terus gimana dengan rencana kita mau beli perlengkapan baby kita " kata Adi.
" Ya kita tetap membelinya mas " sahut Shasha semangat.
" Ya tapi tidak sekarang tetap seperti rencana awal minggu depan ya sayang " kata Adi meminta persetujuan. Shasha mengangguk.
__ADS_1
" Adi " kata bu Rina menghentikan percakapan sepasang suami istri itu.
" Ya bu " sahut Adi menoleh ke arah ibunya.
" Antar ibu ke rumah " kata bu Rina.
" Ibu tidak menginap di sini saja " kata Shasha pada mertuanya.
" Nanti kalau kamu sudah melahirkan ibu pasti menginap di sini. Sekarang ibu mau melihat rumah yang telah lama ibu tinggalkan " kata bu Rina tersenyum.
Shasha mengangguk pasrah beranjak meninggalkan meja makan untuk mengantar mertuanya sampai pintu depan. Adi mengambil kunci mobil dan berjalan mengikuti dua wanita yang sangat dikasihinya itu.
Shasha mencium punggung tangan mertuanya dan bu Rina merangkul menantunya. Setelah itu melangkah masuk ke mobil. Adi membuka pintu mobil untuk ibunya. Adi menghampiri istrinya mencium kening istrinya dan mengelus perut istrinya lalu melangkah masuk ke mobil. Dan melajukan mobilnya pergi ke rumahnya yang telah lama ditinggalkannya untuk mengantar ibunya.
Di tempat lain di gedung lantai dua seseorang sedang berdiri menatap keluar dari jendela kaca. Menikmati pemandangan siang hari yang tidak banyak dipadati oleh kendaraan. Suasana jalanan di hari minggu siang yang lengang sama seperti suasana hatinya yang sepi. Menyesap minuman soda di tangannya sebentar lalu melangkah duduk di sofa.
" Gimana sudah kau kirim paketnya ' tanya lelaki bermata sipit itu.
" Sudah " sahut lelaki yang sedang asyik dengan ponselnya.
Lelaki itu menghela nafas perlahan lalu memandang ke layar ponselnya. Di sana ada gambar seorang gadis berseragam SMA di wallpaper nya. Semoga kamu senang dengan hadiah yang ku kirim. Sebentar lagi kamu akan melahirkan semoga kau bahagia menantikan kelahirannya bersama suami yang mencintaimu.
" Sepertinya kamu masih peduli padanya " kata lelaki itu memandang iba pada sahabatnya.
" Peduli sebagai sahabat " sahut lelaki bermata sipit itu mengelak.
" Ya ya ya tapi aku tidak percaya " sahut temannya itu. " Ayolah sobat kau harus move on dia sudah punya suami. Pikirkan itu apa kamu mau sama Eli dia juga cantik " menggerakkan kedua alisnya naik turun menggoda sahabatnya.
" Aish, bocil " lelaki bermata sipit itu mendesah pelan.
Ha ha ha temannya menertawakan. Lelaki bermata sipit itu melempar bantal ke arah temannya.
" Biar bocil tapi dia juga cantik dan lagi... " temannya diam tidak melanjutkan kata-katanya.
Lelaki bermata sipit itu menatap tajam ke arah teman sekaligus sahabatnya itu. Sambil berdiri dan berjalan menjauhi sahabatnya dia berkata.
" Dia mirip Shasha " temannya berlari meninggalkan sahabatnya sambil tertawa.
************
Hayo siapa yang mengirim paket kepada Shasha coba.....
Hem mau tahu kelanjutannya ikuti terus kisahnya di Maafkan Aku, Istriku...
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya.
__ADS_1
Terimakasih.