Maafkan Aku, Istriku...

Maafkan Aku, Istriku...
Bab 77 Perbincangan Ibu Dan Anak


__ADS_3

Adi melajukan mobil menuju rumah peninggalan ayahnya yang telah lama ditinggalkan. Setelah sampai di depan pintu pagar Adi membunyikan klakson mobil. Beberapa saat keluarlah seseorang dari dalam rumah lalu membuka pintu pagar. Mobil pun memasuki halaman rumah. Lalu Adi membuka pintu mobil untuk ibunya. Setelah itu Adi dan ibunya masuk ke dalam rumah.


Sebelum masuk Adi sempat berbicara pada Agus yang menjaga rumahnya. Kemudian melangkah masuk dan duduk di sofa ruang keluarga. Di sana sudah ada bu Rina yang duduk sambil melihat rumah yang telah lama ia tinggalkan. Tak banyak berubah rumah peninggalan suaminya itu. Hanya ada sebagian catnya buram karena belum direnovasi tapi masih layak untuk ditinggali.


" Maaf bu, Adi belum bisa merenovasi rumah ayah " kata Adi.


" Tidak apa-apa nak ini masih bagus dan masih bisa untuk tempat tinggal. Apa ada yang mengurusnya " tanya bu Rina.


" Ada bu tadi mas Agus adiknya pak Slamet bersama istrinya mbak Tari yang menjaga sekaligus bersih- bersih di rumah ini " jelas Adi.


Dari belakang mbak Tari datang membawa minuman dan makanan ringan. Lalu meletakkan di atas meja.


" Silakan di minum bu, den Adi " kata mbak Tari.


" Eh tunggu dulu sini duduk dulu kita ngobrol sebentar " kata bu Rina.


Mbak Tari duduk menghadap bu Rina. Obrolan ringan di antara sesama wanita pada umumnya. Sementara Adi hanya mendengarkan saja ibu dan mbak Tari bercerita. Mbak Tari berumur 35 tahun sementara mas Agus berumur 40 tahun. Keduanya tidak mempunyai anak saat di kampung keduanya hanya seorang buruh tani. Saat Adi membutuhkan orang untuk bersih-bersih rumah dan menjaga rumahnya pak Slamet mengajukan adiknya Agus untuk menjaganya. Karena pak Slamet sudah tidak mampu lagi untuk mengurus sebab faktor usia.


Setelah ngobrol cukup lama mbak Tari undur diri ke belakang dan menyiapkan bahan makanan untuk dimasak buat makan malam.


Bu Rina masuk ke kamarnya dan mulai membersihkan diri. Setelah itu keluar melihat Mbak Tari yang sedang masak di dapur. Sementara Adi melihat kamarnya dan naik ke ranjang. Sebentar kemudian dia terlelap tidur ketika bangun hari sudah gelap. Adi bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mengambil baju yang ia tinggalkan di lemari pakaian. Meski sudah lama tapi masih bisa dipakai.


Lalu Adi keluar kamar menuju meja makan. Di sana sudah ada ibu Rina duduk menunggunya.

__ADS_1


" Sini nak kita makan dulu " kata bu Rina.


" Kenapa ibu tidak makan dulu " kata Adi.


" Ibu ingin makan bersama anak ibu seperti dulu " kata bu Rina.


Lalu ibu dan anak itu makan bersama mengenang saat dulu masih tinggal di rumah ini sebelum ibunya ke kampung membantu usaha pamannya. Selesai makan keduanya masih berada di ruang makan.


" Adi... " kata ibu Rina menatap anaknya.


" Ada apa bu ' kata Adi.


" Kedatangan ibu ke sini sebenarnya ingin mengajakmu pergi menengok pamanmu, adik ayahmu " kata bu Rina memberitahu.


" Pamanmu tidak apa-apa tapi ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu. Ini mengenai usaha ayahmu karena kamu anak laki-laki ibu. Sementara ibu tidak mungkin berharap pada kakakmu karena dia perempuan dan sudah ikut dengan suaminya. Bagaimana nak " kata ibu Rina.


" Kapan bu " kata Adi.


" Terserah kamu saja tapi lebih baik bicarakan dulu dengan istrimu " kata bu Rina.


" Ya bu em apa ada yang lain bu " kata Adi lagi.


" Tidak nak " kata bu Rina.

__ADS_1


" Ibu akan berapa hari di sini " tanya Adi.


" Masih beberapa hari lagi ibu akan tinggal di sini. Ke rumah pamanmu juga tidak perlu lama hanya sehari saja. Kita berangkat pagi sorenya sudah balik lagi setelah urusannya selesai " kata bu Rina.


" Baik bu setelah Adi bicara dengan Shasha, Adi akan mengajukan cuti " kata Adi kemudian.


Setelah perbincangan dengan ibunya Adi pamit pulang. Kemudian bu Rina masuk ke kamar untuk istirahat. Adi melajukan mobilnya ke jalan raya keluar dari komplek perumahan elite itu. Hatinya saat ini bingung sejak perbincangannya tadi dengan ibunya. Apa yang dikatakan pamannya nanti Adi sudah bisa menebaknya. Pamannya akan menyerahkan tanggungjawab perusahaan kepadanya. Karena dia anak laki-laki dari ayahnya.


Yang membuatnya bingung adalah ia harus meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil besar untuk pergi ke tempat pamannya. Meski cuma sehari rasanya tak sanggup Adi berjauhan dengan istrinya. Walau di rumah ada art yang menjaganya tapi rasa khawatir itu tetap ada.


Adi memijat pelipisnya dengan jemarinya menghilangkan keresahan yang tiba-tiba menyergapnya. Adi menepikan mobilnya dan mengambil benda pipih dari saku bajunya. Menekan nomor lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Beberapa kali memencet nomor yang sama hanya suara operator yang menjawabnya. Shit! kemana ini orang ditelpon nggak diangkat, umpat Adi pada sahabatnya. Apa aku langsung saja ke sana ya, batin Adi lagi. Lalu Adi menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya kembali ke jalan raya.


***************


Kemana ya kira-kira Adi mau pergi malam hari lagi. Ada yang tahu ....


Ikuti kelanjutannya di Maafkan Aku, Istriku....


Beri like, komen dan vote nya ya agar author tetap semangat berkarya.


Jangan lupa mampir di karya author yang lain yaitu Perjalanan Cinta Nathanael.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2