Maafkan Aku, Istriku...

Maafkan Aku, Istriku...
Bab 90 Menjenguk Shasha # 2


__ADS_3

Setelah makan siang Nathanael kembali ke ruangannya. Menyelesaikan pekerjaan yang masih menumpuk di meja kerjanya. Waktu telah merambat sore Nathanael telah selesai dengan pekerjaannya. Akhirnya selesai juga Nathanael merentangkan tangannya yang terasa pegal. Lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


Beberapa saat kemudian pintu ruangannya diketuk dari luar.


Tok tok tok.


" Masuk. "


Sosok manis bak permen loly itu pun masuk dengan wajah cemberut.


" Sudah jam berapa ini, om " kata sosok manis itu.


Nathanael melihat jam dinding di ruangannya sudah menunjuk angka lima eh sudah sore rupanya.


" Jadi ngantar kan, om " katanya lagi.


" Tunggu sebentar " Nathanael membereskan berkas-berkas di atas meja.


Setelah menyimpan berkas-berkas itu dan mematikan laptopnya Nathanael bangkit berdiri keluar dari ruangannya. Gadis manis itu keluar lebih dulu dan menunggu di bawah tangga.


Selesai membersihkan diri Nathanael keluar dari kamar mandi. Memakai kaos lengan panjang warna putih dan celana jeans hitam, sepatu sneaker Nathanael melangkahkan kakinya menuruni tangga.


" Ayo " kata Nathanael saat sampai di bawah tangga.


" Astaga, om ngagetin saja " gadis manis itu mengelus dadanya.


Nathanael mengacak rambut gadis manis itu lalu melangkah keluar menuju mobilnya yang terparkir di depan restoran. Keduanya memasuki mobil, Nathanael melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Nathanael membelokkan mobilnya ke sebuah rumah sakit.


" Benar ini tempatnya " tanya Nathanael.


" Iya om saudara aku dirawat di sini " kata gadis manis yang tak lain Eli itu.


Eli keluar dari mobil lalu berjalan memasuki rumah sakit. Setelah bertanya pada resepsionis Eli mencari ruangan saudaranya yang di rawat di sana. Nathanael melangkah mengikuti Eli dari belakang. Setelah menemukan ruangan tempat saudaranya dirawat Eli pun masuk. Ini kan ruang rawat Shasha, Nathanael ragu untuk masuk ke dalam.


Saat menyadari Eli berjalan sendiri masuk ke ruang tempat saudaranya dirawat ia menoleh ke belakang. Ah, ngapain si om di situ kenapa tidak masuk hadeuh. Eli berbalik mendekati Nathanael lalu menarik tangannya. Nathanael menurut saja ketika tangannya ditarik Eli lalu keduanya melangkah masuk ke dalam. Nathanael terkejut saat melihat siapa yang terbaring di ranjang dan dipanggil kakak oleh Eli. Ada hubungan apa di antara mereka, Nathanael hanya diam sambil memandangi keduanya.


" Kakak " sapa Eli pada wanita cantik yang tidur setengah berbaring di ranjang.

__ADS_1


" Eh, Eli kapan datang ? " tanya wanita cantik itu.


" Baru saja gimana dengan kakak apa sudah sembuh " Eli melihat wanita cantik yang ia panggil kakak mengangguk.


" Maksud kakak kapan kau datang ke kota ini, kenapa tidak ngasih tau kakak " tanya wanita cantik itu.


" O itu he he sudah beberapa hari lalu " Eli cengengesan. " O ya kak kenalkan ini temanku " kata Eli mengenalkan Nathanael sebagai temannya.


Wanita cantik itu menoleh ke arah yang di tunjuk Eli.


" Nathan " serunya sambil tersenyum.


Nathanael mengangguk dan tersenyum.


" Kakak mengenalnya " tanya Eli heran.


" Tentu saja dia sahabat kakak " katanya lagi.


Terasa ngilu saat Nathanael mendengar kata sahabat terlontar dari bibir mungil wanita yang namanya masih bersemayam dihatinya itu. Meski kini ia juga menganggapnya sahabat tapi sangat sulit baginya menghilangkan rasa yang pernah ada.


" Gimana keadaanmu apa sudah sehat " Nathanael tersenyum menatap wanita yang kini telah ia anggap sebagai sahabatnya itu.


" Dimana suamimu " Nathanael melihat di ruangan itu hanya mereka bertiga.


" Sedang keluar " kata Shasha.


Nathanael dan Eli kemudian duduk di sebelah kiri ranjang. Nathanael ingin berbincang lebih lama tapi canggung dengan situasi saat ini dan banyak hal yang berputar di benaknya tentang Eli yang memanggil kakak pada Shasha.


Sedang Eli terpana melihat senyum Nathanael yang ditujukan pada kakaknya. Senyum yang baru pertama kali dilihat Eli teramat manis meski sesekali Eli melihat Nathanael tersenyum tapi tidak seperti tadi. Hingga tepukan di lengannya menyadarkannya.


" Gimana kabar Andrew " Shasha menepuk lengan Eli.


" Eh kak Andrew baik dia sudah menikah dan istrinya sedang hamil tiga bulan " jawab Eli.


Lalu ketiganya asyik berbincang ringan agak lama. Sampai Adi datang membawa kresek berisi makanan dan meletakkan di atas meja.


" Maaf, sudah lama " tanya Adi menyalami Nathanael dan Eli.

__ADS_1


" Baru dua puluh menit yang lalu " jawab Nathanael ramah.


" Eli kau di sini juga mana kakakmu " tanya Adi.


" Iya aku ke sini sama dia, kakak masih di kota T " kata Eli.


Adi mengerutkan dahinya menatap Eli dan Nathanael bergantian.


" Kau mengenalnya " tanya Adi pada Eli.


" Ya iyalah kak dia temannya kak Andrew, aku tinggal di rumahnya " sahut Eli.


" Kenapa tidak tinggal di tempat kakak " kali ini Shasha yang bertanya.


" Di rumah kakak sepi " kata Eli.


" Sekarang kan ada adik bayi pasti rame " kata Shasha.


" Hah masa main sama adik bayi nggak asyik " seru Eli.


" Ada papa dan mama kakak juga " kata Shasha.


Huh jadi tidak enak nih buat nolak, batin Eli. Eli tersenyum menanggapinya.


" Lain kali saja ya kak " kata Eli akhirnya.


Shasha pasrah dan tidak memaksa Eli untuk tinggal bersamanya. Ya, sejak dulu Eli dan kakaknya Andrew lebih suka tinggal di rumah mereka. Meski seringkali papa Sam membujuk keduanya untuk tinggal bersama tapi mereka memilih hidup berdua. Karena kedua orangtuanya sudah meninggal saat Andrew masih berseragam putih abu-abu. Dan Eli waktu itu masih di bangku SD.


Meski ada hal yang mengganjal di benak Adi tapi dia hanya diam dan menyimpannya dalam hati. Nathanael merasakan tatapan Adi yang penuh tanya yang ditujukan padanya. Tapi Nathanael mengabaikannya ia tetap tenang.


Setelah satu jam lamanya di sana akhirnya Eli dan Nathanael berpamitan pulang.


****************


Yang masih penasaran ikuti kelanjutan kisahnya di Maafkan Aku, Istriku....


Mampir juga di ceritaku yang lain Perjalanan Cinta Nathanael.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote nya ya...


Terimakasih.


__ADS_2