
Pagi menjelang matahari baru muncul dengan sinar keemasannya. Sepasang suami istri itu telah rapi dengan pakaian santai nya berjalan keluar rumah. Pak Udin yang melihat majikannya berjalan ke arahnya menyapa ramah.
" Pagi den Adi dan non Shasha " sapa pak Udin.
" Pagi...bisa dibuka pintunya pak " kata Adi.
" Mau kemana den Adi " tanya pak Udin.
" Jalan-jalan sekitar komplek pak " kata Adi.
" Tunggu sebentar den " pak Udin bergegas membuka pintu gerbang.
Sepasang suami istri itu melangkah keluar pagar dengan bergandengan tangan. Pak Udin membungkukkan badan ketika majikannya itu melewati dirinya. Setelah itu menutup kembali pintu gerbang dan ia kembali ke pos jaga hendak menikmati secangkir kopi yang belum sempat diminumnya.
Adi berjalan pelan-pelan mengikuti langkah kaki istrinya. Di sepanjang jalan menuju taman Adi dan Shasha berpapasan dengan tetangga. Sesekali membalas sapaan mereka yang kebetulan lewat atau sekedar ngobrol menanyakan usia kandungan Shasha. Sampai di taman komplek suasana tidak begitu ramai karena bukan hari minggu. Para pedagang jajanan juga tidak sebanyak kalau pas hari minggu.
Sepasang suami istri itu memilih duduk di bangku taman sambil menikmati suasana pagi yang jarang sekali dinikmati sejak Shasha hamil besar. Adi melihat peluh membasahi wajah istrinya. Adi mengambil saputangan di kantong celananya lalu menyeka keringat yang ada di dahi Shasha.
" Capai " Adi menatap istrinya penuh cinta. Menyelipkan anakan rambut ke belakang telinga istrinya.
__ADS_1
" Sedikit " sahut Shasha mengelus perutnya.
" Gimana baby nya senang diajak jalan-jalan " sambil mengusap lembut perut istrinya. Shasha tersenyum.
Sungguh hal yang telah lama Shasha impikan. Saat-saat seperti ini suami yang telah menerima dan mencintai dirinya. Meski banyak rintangan menghadang di perjalanan pernikahan mereka. Pada akhirnya kekuatan cinta seorang istri kepada suaminya sanggup membawa suaminya ke dalam pelukannya. Puji syukur Shasha panjatkan kepada Tuhan karena memberi anugerah yang tak terkira. Suami yang mencintai nya juga sebentar lagi ada sosok yang amat dinanti. Yaitu seorang anak buah cintanya dengan Adi suaminya.
" Hei, ada apa sayang kenapa diam saja " Adi melihat ke arah istrinya dengan perasaan cemas.
Shasha tersadar dari lamunannya dan menatap suaminya. Lalu menggenggam tangan suaminya.
" Terimakasih mas " Shasha menatap suaminya terharu.
" Untuk semua yang mas berikan termasuk menjaga pernikahan kita " kata Shasha mulai berkaca-kaca.
" Sayang maafkan mas yang belum bisa memberikan kebahagiaan seperti yang kau inginkan " mengelus lembut pipi istrinya.
" Ini lebih dari cukup mas, mas mau menerima pernikahan ini dan menerima cintaku " Shasha menatap suaminya. Tak terasa bulir bening menetes di kedua pipi mulus Shasha.
" Kenapa pagi-pagi sudah sedih gini kasihan baby nya nanti ikutan sedih " Adi menghapus kedua pipi istrinya yang basah oleh air mata.
__ADS_1
" Eh iya ya kenapa jadi menangis sih " sahut Shasha tersenyum.
" Kalau gitu kita cari makan saja ya " kata Adi hendak bangkit berdiri tapi dicegah oleh Shasha.
" Mas mau kemana " tanya Shasha.
" Cari makanan ' kata Adi.
" Nggak usah mas kita pulang saja " sahut Shasha.
Adi mengerutkan dahinya tak mengerti. Mengapa istrinya mengajaknya pulang padahal kalau istrinya mengajak ke taman biasanya menginginkan sesuatu. Rengekan istrinya membuat Adi mengalah. Adi merogoh saku bajunya dan mengambil ponselnya. Adi menghubungi pak Udin untuk menjemputnya di taman komplek. Adi merasa kasihan pada istrinya kalau harus berjalan kaki untuk pulang ke rumah.
Setelah menunggu beberapa saat pak Udin datang. Lalu keduanya naik ke mobil di kursi penumpang. Mobil melaju meninggalkan taman komplek menuju rumah kediaman papa Sam.
**************
Maaf up nya sedikit ini sudah berusaha karena badan sudah agak enakan...🙏🙏
Semoga tidak bosan dengan ceritaku ini.
__ADS_1
Terimakasih......