
Hampir satu minggu Maria menginap di rumah kontrakan Daniel. Sementara Daniel memilih tinggal di ruko yang ia jadikan kantor sekaligus tempat usahanya. Letak kantornya di lantai bawah dan lantai atas rencananya buat tempat tinggal. Karena Daniel berencana pindah dari rumah kontrakannya ke ruko. Sementara tempat usahanya yang dulu sudah ia jual buat menutupi kekurangan biaya perbaikan armada dan menggaji karyawannya.
Daniel terpaksa menjual armadanya untuk mengurangi pembengkakan biaya. Karena banyaknya utang papanya yang dibebankan padanya. Dan terpaksa ia harus mem PHK kan karyawannya sehingga banyak membutuhkan dana untuk pesangon mereka. Sementara papanya seolah tak mau tahu dan memilih tinggal dengan mama tirinya. Tinggallah Daniel sendiri mengelola usaha papanya itu. Untung saja ada sahabatnya dan sepupunya yang membantu sehingga usahanya kini mulai bangkit kembali.
Saat ini Daniel sedang istirahat siang di lantai atas. Setelah makan siang Daniel memilih berada di lantai atas sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Di lantai atas ruko itu hanya ada karpet tebal yang Daniel jadikan alas tidur. Satu sofa, ada dapur kecil disebelahnya lemari pendingin juga kamar mandi. Ada lemari kecil untuk tempat baju-bajunya. Tidak ada tv yang ada hanya sebuah kipas angin yang menempel di dinding.
Daniel merebahkan tubuhnya di sofa memejamkan matanya walau tidak tidur. Pikirannya berkelana merenungi nasib yang seolah tak bersahabat dengannya termasuk kisah cintanya. Ia tidak ingin terbebani dengan perasaannya. Meski saat ini usianya sudah tak muda lagi. Tapi apa hendak dikata usahanya baru saja dirintis belum mengalami banyak kemajuan. Sehingga Daniel mencoba realistis dan memfokuskan diri untuk kemajuan usahanya.
Tapi apakah ia bisa berkompromi dengan perasaannya. Sekelebat bayangan itu mengganggu pikirannya beberapa hari terakhir ini. Apakah ia mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Kalau tidak sekarang keburu orang itu pergi menjauh darinya. Dan untuk mencarinya lagi mungkin butuh waktu yang tidak sebentar.
Saat ia sedang berpikir seseorang mengetuk pintu dari luar.
Tok.
Tok.
Tok.
Belum sempat Daniel bangkit sosok yang akhir-akhir ini mengganggu tidurnya muncul dari balik pintu. Sosok seorang wanita berlesung pipit itu tersenyum lalu mendekat ke arah Daniel. Jantung Daniel berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia mencoba memperbaiki duduknya dan tersenyum untuk menghilangkan kegugupannya.
" Maaf mengganggu tidurmu " kata wanita itu yang tak lain adalah Maria.
" Em, ada apa " tanya Daniel mengusap tengkuknya untuk mengurangi kegugupannya.
__ADS_1
Daniel seakan lupa bahwa tadi pagi telah berkata pada Maria akan mengantar ke tempat sepupu Maria selepas dari kantor.
Tadi pagi Maria mengatakan pada Daniel akan pergi ke rumah sepupunya setelah itu ia akan mencari kerja. Daniel menyuruh Maria untuk menunggunya. Karena Daniel berjanji akan mengantar Maria ke tempat sepupunya itu.
Daniel memberi beberapa lembar uang kepada Maria untuk membeli kebutuhan dapur yang sudah habis karena Daniel belum sempat membelinya.
Saat hendak pergi Maria sempat bertanya dimana tempat kerja Daniel. Lalu Daniel memberikan alamat kantornya. Dan disinilah Maria berada setelah berbelanja kebutuhan dapur Maria berniat menemui Daniel di tempat kerjanya.
" Aku akan ke tempat sepupuku " kata Maria setelah duduk disebelah Daniel.
" Tunggu sebentar " lalu Daniel bangkit menuju kamar mandi.
Ada rasa kecewa terpancar diraut wajahnya. Tapi apalah daya dia bukan siapa-siapa nya Maria. Selesai membasuh mukanya Daniel keluar dari kamar mandi. Lalu keduanya turun ke lantai bawah.
Saat sampai dilantai bawah dan hendak mengambil kunci mobil tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Dan muncullah mbak Wina dengan tergesa.
" Ada apa? " tanya Daniel lalu duduk di kursinya.
" Saya mau minta ijin untuk cuti pulang kampung karena ibu saya sakit " kata mbak Wina takut.
" Apa ada yang menggantikan mu " mbak Wina menggeleng.
Daniel mengusap dahinya kasar usahanya baru saja mulai berjalan lancar. Kenapa ia harus dihadapkan pada situasi yang tidak mengenakkan ini. Tiga pegawai yang membantunya ini saja masih kurang. Lalu kalau mbak Wina cuti tentu akan kewalahan menghadapi calon penumpang yang hendak memesan tiket yang akan pergi ke tempat tujuan mereka. Terlebih lagi ini menjelang akhir tahun tentu banyak orang yang akan bepergian untuk wisata atau untuk pulang ke kampung halamannya. Dan sudah dipastikan mereka membutuhkan jasanya untuk mengantar mereka.
Dengan berat hati Daniel akhirnya memberi cuti pada mbak Wina. Daniel menopang dagunya dengan kedua tangannya setelah mbak Wina berlalu dari hadapannya. Dia memikirkan bagaimana mencari pengganti mbak Wina secepatnya. Daniel melupakan sosok disebelahnya yang sedari tadi memperhatikan dia berbicara dengan pegawainya.
__ADS_1
Perlahan Maria duduk di sofa sebelah kursi Daniel. Memperhatikan lelaki yang selalu ada saat dia membutuhkan pertolongan.
" Aku mau bekerja menggantikan mbak yang tadi " kata Maria. Daniel menoleh kearah Maria.
" Serius " kata Daniel tak percaya. Maria mengangguk.
" Terimakasih " sahut Daniel tersenyum senang.
" Jadi ke tempat sepupumu " tanya Daniel menatap wanita cantik disampingnya itu. Maria menggeleng.
" Apa aku boleh tinggal di rumah mu " tanya Maria.
" Boleh saja kamu tinggal disana aku akan tinggal di sini dilantai atas " sahut Daniel.
" Ya sudah ayo aku akan masak buat makan malam " ajak Maria. Daniel mengangguk.
Lalu menyuruh Maria untuk menunggu sebentar karena ia akan membereskan kertas- kertas yang berada di atas mejanya.
Kemudian keduanya keluar dari ruangan Daniel. Saat sudah diluar ruangannya Daniel berbicara pada pegawainya lalu pergi bersama Maria masuk ke mobilnya.
*************
Masih ada beberapa bab untuk Adi bertemu dengan Maria kembali. Bagaimana perasaan Adi saat bertemu Maria bersama sahabatnya Daniel.
Ikuti kisah selanjutnya di Maafkan Aku, Istriku ...
__ADS_1
Terimakasih buat semuanya....
Jangan lupa like dan komennya ya juga vote nya....